
Sebuah karpet merah sudah disiapkan, pegawai dengan jabatan tinggi menunggu di luar dengan berbaris seperti menunggu tamu penting.
Fadil juga terlihat disana menunggu kedatangan tamu penting itu,
“Dimana kakak? Ini sudah jam 11 siang, apa dia tidak jadi datang juga hari ini?” bisik Fadil
“Eh pak, apakah Pemilik Utama benar-benar akan datang hari ini?”
“Ya katanya sih begitu, tapi mungkin tidak jadi”
“Begitukah? Tapi saya sudah terbiasa dengan ini. Karena anda selalu bilang kalau pemilik utama ingin datang tapi tidak pernah datang”
“Yaa, kau benar sih, dan itu sudah terjadi sampai 3 tahun ya. Sepertinya kalian sudah terbiasa dengan ini”
“Jadi apa yang akan kita lakukan pak?” tanya Ujang
“Mungkin dia akan datang atau tidak datang, jadi kuserahkan sisa nya pada kalian, aku ingin kembali ke kantor” ujar Fadil menuju kantor
“Ehhh” jawab semua pegawai
Namun setelah 1 jam lebih lama menunggu tamu penting tidak datang, hal ini membuat pegawai kepanasan dan kelelahan.
“Haa, selalu saja membuat hal aneh”
“Benar sekali, kenapa juga kita selalu diwajibkan untuk berbaris menunggu owner utama. Bahkan sudah tiga tahun dan tetap saja dia tidak datang”
“Ya, aku juga sudah mulai muak. Kurasa lebih baik kita meminta agar hal ini tidak dilakukan lagi ke depannya”
Suara-suara dan kritik dari kontra pemimpin perusahaan saat ini terdengar di lantai bawah, hal ini membuat pekerja lain terpengaruh.
Namun ada beberapa pegawai yang setia karena sebuah pertolongan, meski begitu mereka tidak berani untuk mengadukan ini pada atasan.
Karyawan dan bawahan hanya bisa melakukan perintah atasan, itulah hukum disini, apalagi ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dan belakangan sudah menjadi parah.
“Lalu dalam masalah ini, bagaimana kalau kita demo saja. Kita juga tahu bahwa Pak Fadil dan Pak Ari hanyalah penerima wasiat dari pemilik Sriwijaya Company sebelumnya, jadi mereka tidak memiliki hubungan darah”
“Tunggu, apa maksudmu?”
“Ya, bagaimana kalau kita gusur saja kursi manajer”
Rencana dari karyawan lama perusahaan Sriwijaya Company yang sudah tidak sanggup menahan malu karena hanya menjadi anjing kantor dari anak kecil.
“Tuan Jhon juga sekarang tidak terlibat lagi dengan Sriwijaya Company bukan”
“Ting…” suara pintu terbuka
Seorang anak masuk ke dalam gedung, melewati orang-orang berjas yang sedang asik membuat rencana. Meski begitu ia memiliki telinga, dan itu membuat ia tidak bisa menutup lagi.
“Permisi mbak…” tanya Ferdi ke resepsionis
“Oh iya dek, apa ada yang bisa dibantu?”
Di lantai dasar terdapat 4 resepsionis yang memiliki tugas masing-masing, namun satu diantara mereka mengenal anak yang datang.
“Lho…”
“Sttt” isyaratku
“ Oh, Ferdi. Kamu kesini?” sapa kak Tysa
“Iya, aku ingin bertemu dengan Ari dan Fadil. Apa mereka ada?”
“Cuma ada Pak Shata saja hari ini, tapi sepertinya beliau sedang ada rapat dengan klien”
“Kalau begitu aku akan menunggu sampai dia selesai. Ngomong-ngomong ruangan mereka dimana?”
“Jika ruangan pak Shata berada di lantai 5, kau bisa menunggu disana”
“Tunggu dulu Tysa, siapa dia? Anak kecil?”
Tysa sepertinya marah ketika temannya mengejekku,
“Dia…”
“Saya cuma mau bertemu dengan Pak Shata”
“Apakah kau sudah punya janji dengannya?”
“Kak Ci, orang itu…”
“Diam Tysa, apa dia kenalan mu sampai langsung bisa menemui Pak Shata? Dengar ya, walau kau di masuk kan atas bantuan pak Shata tapi disini kau masih orang luar”
Kak Tysa sepertinya tidak bisa membalas, tentu saja aku tahu sedikit tentangnya. Dia adalah anak dari seorang buruh dan ibu rumah tangga biasa, namun karena suatu kejadian dia bertemu dengan Fadil di jalanan ia di masuk kan ke Sriwijaya Company.
Yah, walau aku juga pernah melakukan hal yang sama. Tapi setelah melihat lebih jauh aku merasa ada yang aneh dengan tempat ini.
“Saya sudah membuat janji kok dengan Pak Shata, jika boleh mbak bisa menghubungi beliau”
Kurasa aku akan bermain-main sedikit dengan perusahaan ini, sampai akar nya terlihat dengan jelas.
“Ya, keperluan nya apa sampai menemui Pak Shata?”
“Oh, saya di undang untuk makan bersama oleh Pak Fadil”
Resepsionis itu diam,
“Baiklah, tunggu saja di lantai 5, terima kasih ya dek”
Entah kenapa sikapnya berubah ketika aku berbohong akan makan bersama dengan Fadil.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Kak Tysa”
Aku berjalan menuju lift tetapi sebelum itu aku mendengar sesuatu yang tidak enak,
“Hei Tysa, kau kenal dengan anak tadi? Dia kenalan pak Fadil, wah beruntung sekali kau ya. Bisa kau kenalkan ke aku tidak?”
“Itu….”
BERSAMBUNG....