
Aku mengerti bahwa di dunia ini ada yang kuat dan ada yang lemah, namun bagiku sejak dulu aku selalu menjadi yang terkuat. Beberapa waktu lalu aku mengalami apa itu rasa takut, tentang bagaimana kekuatan tidak bisa dilihat dari luar saja.
Orang yang mengalahkan aku bahkan lebih kecil, tapi dia sangat kuat dan kejam. Aku tidak bisa berkutik dari orang itu, sampai sekarang tubuhku gemetar mengingat kejadian di atap gedung tua.
Orang kuat selalu menang, dan orang lemah di takdir kan kalah, itu adalah sebuah aturan. Sekarang aku mengerti apa arti dari kata kalah, bahkan saat ini kami orang tanpa pengaruh yang kuat langsung kalah oleh orang berpengaruh.
“Ini sungguh tidak masuk akal jika perusahaan besar menggunakan cara orang dalam” pikirku
“Sekarang kita harus bagaimana Kevin? Aku yakin kita tidak akan lulus disini”
“Kau benar, tapi kita tidak punya waktu lagi untuk mencari tempat magang lain. Waktu kita hanya sampai 2 bulan, kalau kita terlambat akan berdampak pada kelulusan”
“Ahhh, seharusnya kita cari cadangan dulu sebelumnya”
“Maaf ya, Kevin, Rey” Oppo tampak murung
“Oh tidak apa kok Po, ini bukan salahmu”
“Dan juga kau kenapa Kev? Belakangan ini melamun terus? Apa mungkin karena kejadian waktu itu?”
Kevin terdiam sejenak.
“Yaa, aku masih sedikit trauma tentang itu. Orang itu…aku…”
Belum selesai Kevin bicara, sesuatu membuat mulutnya berhenti, nafas dan tubuhnya pun sama. Kejutan tidak terduga dari pertemuan nya dengan orang yang membuatnya babak belur di atas gedung.
“I..itu…” Kevin menunjuk
Rey dan Oppo menoleh kea rah Kevin menunjuk,
“Kenapa Kev…”
Bagi Oppo mungkin tidak mengenal orang itu, tapi bagi Rey dia tahu bahwa orang itu sangat berbahaya dan kejam.
“I..itu…”
Seseorang yang dianggap sebagai Pemimpin Geng Naga Merah dan mengalahkan Kevin dengan mudah berserta tangan kanannya, Ferdi The Dragon. Ia berjalan dengan tenang melewati Kevin dan teman-temannya tanpa acuh.
“D..dia? Kenapa dia disini?” tanya Rey
“Ak..aku tidak tahu…” Kevin terbata-bata
“Kalian kenapa sih? Ada apa dengan anak tadi? Apa dia menganggu kalian? Hahaha tapi kan ada Kevin, jadi tidak masalah”
“Hei Oppo, jangan buat masalah dengan orang itu, dia itu sangat berbahaya”
Ketiga nya asik berargumen sampai tidak menyadari Ferdi kembali kearah mereka,
“Hei kalian, apakah tahu dimana toilet?”
Suara itu langsung membekukan suasana, Kevin dan Rey langsung memalingkan wajah agar tidak terlihat oleh Ferdi. Kevin dan Rey langsung gemetaran saat membalikan badan, mereka menutupi wajah dengan kedua tangan.
Nampak aneh tapi sepertinya aku pernah bertemu dengan mereka, oh benar mereka adalah orang yang berkelahi dengan geng naga merah. Dan satunya adalah orang yang berusaha menyakiti Gina, dan aku memukulnya.
“I..iya kak, k..kenapa ya?” Kevin menjawab dengan gagap
“Ada apa dengan kalian berdua? Kok aneh begitu?” Oppo kembali bertanya dengan polos
Kevin dan Rey langsung menarik Oppo dan mereka bertiga tampak berdiskusi,
“Hey Oppo, kau tahu kalau aku dan Kevin kembali dikalahkan bukan?” Rey bertanya pada Oppo
Oppo tahu mengenai kejadian gempar itu karena dia adalah salah satu penggemar Kevin, namun ia sedikit bingung dengan pertanyaan Rey.
“Iya, aku tahu”
“Itu orang nya…” Kevin menjawab dengan gemetaran
Oppo mulai memproses semuanya,
“O..orang itu yang mengalahkan kalian sampai babak belur?”
Keduanya mengangguk bersamaan, kini Oppo mulai ikut gemetar. Ketiga mulai menghadap kembali pada Ferdi dengan wajah pucat, sekarang Oppo tahu bahwa dia tidak boleh menyinggung orang di depannya.
“I..iya kak”
Aku melihat sepertinya mereka masih trauma dengan perlakuan ku kemarin dan tampak aku akan membuli mereka.
“Haa, kalian bisa tenang, aku tidak akan menyakiti kalian jika kalian tidak memulai masalah lebih dulu” ujarku
Meski aku sudah mengatakan itu mereka masih tetap tegang,
“I..iya kak, dan juga kami minta maaf atas kejadian kemarin”
“B..benar kak, kami kemarin hanya diperintahkan oleh orang-orang berjas”
“Aku tahu itu, selain itu masalah nya sudah selesai dan aku tahu kalian tidak bersalah”
Ya, saat itu organisasi pembunuh bayaran ‘Black Python’ juga ikut andil dalam hal ini dan membuat aku harus mengambil keputusan untuk memusnahkan mereka semua. Mereka sekarang hanya nama saja sekarang, dan Shadow mengamati situasi di Timur Tengah.
Untuk anak-anak SMA ini mereka hanya bidak yang tidak tahu sedang di manfaatkan, karena itu juga aku meminta Sanjaya agar menutup kasus ini dengan rapat.
“Tapi di masa depan berhentilah membuat masalah”
“B..baik kak!” ketiganya menjawab serentak
“Jadi, ngomong-ngomong apa kalian tahu dimana toilet?”
“Lho, Dek Ferdi, eh bukan, Pak Ferdi sedang apa anda disini?”
BERSAMBUNG....