LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)

LOVE AND REVENGE (SPIN OFF)
ARC PREMAN PASAR



[“Mulai hari ini geng Naga Merah sudah tidak ada. Jika ada orang yang tahu tentang hari ini kalian semua akan mati!"]


(Pasar Mal Plaju, Palembang)


Hari sabtu adalah hari kerja, usaha yang aku rintis bersama keluarga menjadi besar dan terkenal hingga keluar kota.


Keripik Pisang Coklat dan Pempek Ikan Khas Palembang menjadi produk utama penjualan Toko Ferdi.


Satu tahun lalu aku meminta agar membuka usaha di rumah, lalu menitipkan ke pasar dan warung terdekat.


Tidak disangka dalam satu tahun bisa berkembang menjadi sebuah toko, memiliki pegawai, dan membantu perekonomian masyarakat sekitar.


Laba dari usaha Toko Ferdi pun lumayan besar, sedikit demi sedikit ayah memelihara ayam untuk dijual sementara ibu membuka usaha laundry.


Beruntung rumah kami luas, meski terlihat buruk dari luar jika orang di dalam bahagia semua akan baik.


“Sudah semua bu?” tanya ku ke ibu


Hari ini aku yang mendapat tugas untuk menemani ibu membeli bahan-bahan baku untuk keripik dan pempek.


“Sudah, ayo pulang”


Dua orang penjaga pasar dengan pakaian khas seperti preman membantu aku mengeluarkan sepeda motor.


Lalu mereka membawakan belanjaan kami ke atas motor.


Aku tahu siapa mereka, namun kami berpura-pura tidak tahu,


“Terima kasih, ini untuk kalian” ibu memberikan uang parkir dan terima kasih


Namun kedua orang itu menolak uang dari ibu dan melihat ku,


“Tidak apa kok bu, tidak perlu bayar. Kalau begitu kami permisi dulu”


Mereka pergi kembali ke pos, sebuah pondok pos jaga. Semua orang tahu mereka adalah preman pasar yang bertugas melindungi keamanan sekitar.


Beberapa tahun lalu geng preman ini sangat ditakuti oleh warga sekitar karena sering tawuran dan konflik dengan geng preman dari wilayah lain.


Geng “Naga Merah”, orang pasar sangat tahu nama itu sampai sekarang, ketua mereka Bang Naga Merah ditakuti oleh geng-geng preman lain.


Semua berubah satu tahun lalu ketika orang mengalahkan berbagai geng di wilayah itu, “Si Putih” orang dengan jubah putih, menggunakan topeng kucing untuk menutupi identitas.


Orang menyebut ia sebagai Si Putih, penguasa wilayah Palembang, karena ia menolong banyak orang bahkan mengalahkan semua geng-geng jahat.


Setelah itu geng-geng preman dan anak-anak nakal tidak lagi menunjukan kekerasan tawuran dan konflik karena takut dengan Si Putih.


“Mereka baik sekali lho kak, setiap kita belanja disini seperti dilayani terus. Malah tidak perlu bayar dibawakan pula belanjaannya”


(Markas Geng Naga Merah)


Markas besar preman terkenal berada di bekas pabrik besar yang ada di pinggir jalan Nagaswida. Wilayah yang harus menundukkan kepala untuk melewati.


Dua orang penjaga pasar kembali ke markas untuk menyetorkan uang, di dalam sana berisi 20 orang preman pasar yang garang.


“Kak, saya tadi melihat dia di pasar” kata salah seorang anak buah pasar bernama Lukman


“Dia?”


“Iya kak, dia ke pasar seperti biasa”


“Kalau begitu terus awasi dia, jangan terlalu dekat dengannya”


“Baik kak”


Anggota baru pun berbisik-bisik tentang pembicaraan ketua dan kakak-kakak mereka.


Tentu mereka tidak tahu siapa “dia”,


“Diam!”


Semua membeku, Bang Merah sebutannya karena warna rambutnya, ia dikenal oleh preman-preman lain dengan kemampuan bela diri di jalanan.


Anak dari si legenda preman Naga Merah kini mengambil alih geng ayahnya, namun sebenarnya bukan dia pemimpin asli.


“Kalian semua boleh pulang sekarang” anak buahnya pun membubarkan diri


“5 ketua besar akan rapat sekarang” ajak Merah pada ketua-ketua bidang lain


“Baik”


(Di luar Markas)


“Bang, sebenarnya siapa yang di omongi tadi?” tanya Raka sebagai anggota baru


“Dia? Tentu saja dia” jawab Lukman asal-asalan karena tidak ingin tahu juga


“Semakin sedikit kau tahu semakin bagus, kau masih baru disini jadi belajar dulu”


“Oke bang”


Teka teki mengenai pemimpin utama mereka yang tidak pernah terlihat lagi selama satu tahun sebentar lagi akan terbuka dengan adanya pertumpahan darah.


GENG NAGA MERAH....BERSAMBUNG