Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 05



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Author Pov On


Saat hari suda menjelang sore, Alfa dan Neira di jemput Karim dengan sebuah mobil taksi menuju rumah sederhana.Β Karim, pengawal pribadi sekaligus sopir terus saja melihat kaca spion mobil taksi yang dibelakang ada dua buah mobil asing yang mengikuti mereka.


"Nona muda, dua mobil yang berada dibelakang kita, sejak tadi mengikuti."


Alfa mendengar hal itu melihat kaca spion dengan wajah tenang dan damai.


"Biarkan saja paman Karim. Dia bayi besar penguntit."


"Maksud anda?"


"Alfa, lo jelasin ke paman Karim. Gue lagi malas bahas si bayi besar penguntit itu." Ketus Neira.


Karim menatap Alfa dengan ekor matanya. Alfa menjelaskan pertemuan Darel dengan Neira di cafe Ardhias.


"Apa yang harus anda lakukan sekarang?"


"Entahlah, paman Karim. Aku juga gak tau." Jawab Neira menggelengkan kepalanya.


Sementara dibelakang mobil taksi, Darel terus saja menatap mobil yang ditumpangi Neira. Dia teringat 3 tahun yang lalu.


Flashback 3 tahun yang lalu


Disebuah hutan dekat markas cabang organisasi AZZA, Darel berlari kencang untuk menghindari segerombolan mafia penghianat.


Perut kanan Darel terluka akibat ditembak oleh salah satu mafia penghianat. Saat sedang berlari, tubuh Darel tiba-tiba ditarik oleh seorang gadis berusia 17an dengan rambut kuncir kuda dan pakaian tomboy.


Shut


Gadis berusia 17an itu menyuruh Darel diam. Seorang pemuda berusia 17an mengawasi situasi kondisi disekitar kita.


"Bagaimana?"


"Aman nona muda."


"Ayo kita bergerak. Alfa, bantu gue memapah nih orang." Titah gadis berusia 17an itu.


"Baik nona muda." Jawab pemuda 17an bernama Alfa.


"Siapa kalian? Saya mau dibawa kemana?" Tanya Darel lemah dan berusaha mempertahankan kesadarannya.


"Nanti dulu bicaranya tuan. Kami akan mengobati anda terlebih dahulu agar luka anda tertutup." Ucap gadis itu mutlak dengan nada datar dan dingin.


Tubuh Darel dibawa oleh sepasang remaja berusia 17an ke sebuah bangunan seperti mansion.


"Markas cabang organisasi AZZA." Batin Darel memindai sekitar.


"Nona muda Neira, tuan Alfa." Sapa salah satu penjaga di dekat pintu masuk. Bahkan beberapa pengawal memberi hormat kepada Neira dan Alfa.


"Gadis yang berpakaian tomboy ini seorang nona muda. Berarti dia bukan gadis sembarangan. Sedangkan pemuda ini juga sama bukan pemuda sembarangan." Batin Darel memahami situasi.


"Paman, aku minta tolong bisa panggilkan paman Irsyad." Sopan gadis itu yang dipanggil nona muda Neira.


"Baik, nona muda Neira." Angguk pengawal itu bergegas berlari ke arah Barat.


"Paman Darius, bantuin Neira. Tubuh tuan ini berat sekali. Alfa tidak akan kuat kalo sendirian." Ucap Neira agak kencang. Darius yang tidak jauh dari Neira dan Alfa bergegas membantu memapah Darel.


Tubuh Darel dibawa ke ruangan perawatan dan diletakkan di sebuah ranjang. Beberapa menit kemudian, Irsyad datang tergesa-gesa bersama dua orang perawat saat mendengar salah satu pengawal kalo Neira terluka bahkan tanpa ragu Irsyad menghubungi keluarga Oliver dan Sanjaya serta para ketua cabang organisasi AZZA.


"Nona muda kecil, anda tidak apa-apa?" Tanya Irsyad cemas dan khawatir sambil memutar tubuh Neira.


"Aku baik-baik saja paman. Kenapa paman khawatir?"


"Paman khawatir saat mendapat kabar bahwa nona muda kecil terluka."


"Siapa yang bilang paman?"


"Salah satu pengawal didekat pintu masuk."


Neira menepuk dahinya saat salah satu pengawal itu salah menyampaikan pesannya.


"Semoga paman Irsyad tidak memberitahukan ke paman dan bibi yang lain." Batin Neira berdoa.


"Bukan aku paman, tapi tuan itu." Neira menunjukkan Darel yang terbaring lemah.


"Dia siapa nona muda kecil?"


"Aku gak tau. Tuan itu seperti dikejar dengan segerombolan orang, paman." Neira menggelengkan kepalanya.


"Baiklah saya akan menutup lukanya sekaligus memeriksanya."


"Baiklah paman. Neira dan Alfa keluar dulu ya."


"Baik nona muda kecil."


"Jangan pergi, jangan tinggalkan Darel." Rengek Darel dengan air mata mengalir dipipinya.


Neira, Alfa dan Irsyad saling pandang kemudian Alfa mendekati tubuh Darel tapi ditolak mentah-mentah dari Darel. "Bukan kamu tapi nona itu." Sambil menunjuk Neira.


Alfa dan Irsyad terbelalak apalagi dua perawat juga sama terbelalak.


"Merepotkan." Gumam Neira lalu berjalan ke ranjang Darel.


Darel merentangkan tangannya seperti minta dipeluk. Mau tidak mau, suka tidak suka Neira memeluk Darel.


"Paman, eksekusi." Perintah Neira ke Irsyad.


Irsyad menganggukkan kepalanya saja lalu dibantu dua perawat untuk menutup luka diperut Darel. Kepala Darel berada di gunung kembar Neira. Dia terus saja menggesekkan kepalanya di gunung kembar Neira.


"Empuk. Darel suka." Frontal Darel polos.


Neira mendengar ucapan frontal Darel langsung menggeplak punggung Darel sehingga membuat Darel mengaduh. Alfa dan Irsyad mendengar ucapan itu terdiam dan menulikan pendengaran mereka samahalnya dua perawat bahkan tertawa kecil.


"Dasar tuan mesum. Gue masih kecil. Usia gue masih 17 tahun." Sembur Neira.


"17 tahun, berarti 3 tahun lagi kamu akan jadi istri Darel." Ucap Darel tidak mau kalah.


Perdebatan Darel dan Neira memakan waktu hampir 30 menit. Bahkan Irsyad dan dua orang perawat sudah selesai menutup luka diperut Darel 15 menit yang lalu.


"Darel pengen susu. Darel haus." Rengeknya bak bayi.


"Bentar, nanti di berikan."


"Pake dot bayi ya." Polosnya.


Neira, Irsyad, Alfa dan dua orang perawat memandang Darel dengan tatapan melongo.


"Pake dot bayi?! Disini tidak ada dot bayi? Adanya gelas biasa?!" Pekik Neira.


"Pake dot bayi. Dot bayi. Dot bayi." Rengek Darel bak anak kecil.


Neira menatap Alfa dan Irsyad bergantian. Alfa dan Irsyad mau tidak mau menganggukkan kepala. Beberapa menit kemudian, botol dot bayi besar sudah disiapkan dengan susu rasa vanila.


Darel menerimanya bahkan sudah tertidur dipelukan Neira. "Bantuin gue, Alfa."


Alfa membantu membaringkan tubuh Darel bahkan mendengar suara gumaman Neira seperti protes. "Dasar bayi besar, seenak jidat klaim gue."


BRAK


Pintu ruangan perawatan di dobrak membuat Neira, Irsyad, Alfa dan dua orang perawat terperanjat kaget, datanglah pasangan Kenan-Vivi, Athaya-Lusi, Bob, Fidel, Hana dan Arwan.


"Paman, bibi ada apa kalian semua kesini?" Tanya Neira dengan wajah bingung dan heran.


Vivi dan Lusi berjalan kearah Neira sekaligus memeriksa keadaan Neira lalu bernapas lega. "Syukurlah."


"Bibi Vivi, bibi Lusi. Ada apa?" Tanya Neira sekali lagi.


"Kami kesini mendapat kabar bahwa anda terluka, nona muda kecil." Jawab Fidel terduduk lega.


"Hah?! Siapa yang memberitahukan hal ini paman?"


"Paman Irsyad."


"Ya allah." Melas Neira. "Bukan aku paman yang terluka tetapi si tuan ini yang terluka." Lanjutnya menunjuk Darel yang sudah terlelap dengan dot bayi besar dimulutnya.


Mereka semua menoleh melihat Darel dengan berbagai pandangan.


"Siapa laki-laki itu?"


"Namanya Darel."Β 


"Darel?"


"Iya, namanya Darel."


"Ketemu dimana?"


"Di hutan perbatasan saat aku dan Alfa sedang berlatih."


"Kenapa pake dot bayi?"


"Mana Neira tau. Tadi aja merengek bak anak kecil."


3 hari kemudian, Darel dinyatakan sudah sehat walaupun luka diperutnya belum kering. Darel dijemput oleh Abyan dan orang kepercayaan orangtuanya.


Darel menanyakan dimana Neira tetapi semua orang menutup mulut mereka rapat-rapat membuat Darel paham.


Flashback OFF.


"Tuan muda Darel !!!" Sapa Abyan agak keras membuat Darel tersadar dari lamunannya.


"Ada apa?"


"Nona muda Neira sudah sampai di rumahnya dengan selamat."


"Baik, kita ke mansion." Titah Darel tersenyum amat tipis.


Sopir yang bersama Darel dan Abyan melajukan mobilnya melewati rumah Neira yang dahulu.


"Sugar tunggulah. Kamu akan bercerai sama suami penghianatmu itu." Batin Darel bersmirk.


Author Pov OFF


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Akhirnya author bisa update pagi 😘...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...