Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 46



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Selamat malam atau tengah malam reader 😁


Seperti biasa author update 5 hari dalam seminggu sehari satu episode 😊


Masih episode khusus Alfa ya πŸ˜‰


Akhirnya jet yang kami naiki tiba juga di bandara markas cabang organisasi AZZA kota C negara A. Aku, ayah, bunda dan yang lain naik di jet pribadi khusus. Di dalam kabin pesawat kami memandang satu sama lain, pasalnya membangunkan tuan besar dan nyonya besar bagaimana? kalo nona muda Neira dan tuan muda Bintang tinggal di gendong saja.


Kami semua termasuk diriku menatap ayah dan bunda (Zafar dan Miya) tetapi mereka cuman diam dan tanpa pergerakan.


"ayah, bunda. bangunin nyonya Gava dan tuan Leo." pintaku agak memelas.


"gimana ya Fa? bukannya ayah sama bunda tidak mau bangunin masalahnya tuan Leo dan nona Ayya kalo tidur nyenyak ...." Ucap ayah tidak melanjutkan kata-katanya.


"Apa yah?" tanyaku penasaran.


Paman Kenan yang paham maksud ayah Zafar berjalan kearah tempat duduk nyonya besar dan tuan besar membuat kami semua menahan napas kecuali tuan Abyan dan tuan Darel yang hanya menampilkan wajah bingung sekaligus heran.


Paman Kenan menepuk pundak tuan besar beberapa kali membuat tuan besar mengerjapkan matanya.


"Sampai." serak tuan besar khas bangun tidur.


"Iya, tuan." angguk paman Kenan datar terkesan sopan.


"Kapan?"


"30 menit."


"Karim, Anita, Ben. Kamar." singkat tuan besar datar dan dingin sambil melirik kedua anaknya berada di gendongan paman Karim dan paman Ben.


Paman Karim, bibi Anita dan paman Ben tanpa sepatah katapun langsung berjalan kearah pintu keluar diikuti paman Ryker, paman Kenan, paman Athaya, aku, ayah, bunda, tuan Darel dan tuan Abyan yang hanya mengekor bak anak ayam dibelakang. Paman Hide dan paman Lucas tetap berada di dalam jet pribadi menunggu tuan besar dan nyonya besar.


Pintu bandara pribadi terbuka dimana bibi Vivi, bibi Lusi, bibi Nadira, bibi Maria, pasangan paman Fidel-bibi Sally dan bibi Hilda-paman Farzan melihat rombongan kami tanpa tuan besar, nyonya besar, paman Hide dan paman Lucas.


Kami semua langsung saja memeluk keluarga masing. Bibi Vivi bersama paman Kenan, bibi Lusi bersama paman Athaya, bibi Nadira bersama paman Arwan dan bibi Maria bersama paman Irsyad.


Aku, ayah dan bunda bersama paman Farzan dan bibi Hilda. Bibi Hilda langsung memeluk ayah dan bunda bergantian baru diriku berbeda dengan paman Farzan memeluk diriku terlebih dahulu.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya bibi Hilda cemas.


"Kami baik dan sehat, Lya." balas bunda.


"Syukurlah, gue cemas banget bang, kak. Saat kalian tiba-tiba saja kehilangan kontak. apalagi sama keponakan gue."


"Disana tidak ada sinyal sama sekali kecuali memakai peralatan khusus, bibi Lya." jelasku lembut.


Bibi Hilda dan paman Farzan memiliki 2 orang anak dan para sepupuku laki-laki. Lalu bibi Hilda melihat nona muda Neira dan tuan muda Bintang berada digendongan paman Karim dan paman Ben.


"Tuan Ben, tuan Karim, apa yang terjadi dengan tuan muda Bintang dan nona muda Neira?"


"Tuan muda dan nona muda tertidur nyonya Hilda." balas paman Karim datar.


"Terus dimana tuan Leo dan nona Ayya?" tanya bibi Hilda menatap pintu bandara markas.


"Biasalah, lya. Kamu tau sendiri bagaimana cara bangunin nona Ayya dari tuan Leo seperti biasa." balas ayah ambigu. Aku yang polos dan tidak mengerti maksud ayah lebih baik diam berbeda dengan bibi Hilda hanya menganggukkan kepalanya.


"Kita ke markas dan istirahat terlebih dahulu." Ucap paman Irsyad ke kami semua.


2 jam telah berlalu, ruangan rapat penuh dengan pasangan nyonya besar-tuan besar, ayah-bunda, para paman dan para bibi (Kenan-Vivi, Athaya-Lusi, Reiner-Hana, Irsyad-Maria, Fidel-Sally, Irwan-Nadira, Bobby, Ben, Anita, Ryker, Lucas, Hide dan Darius) serta aku, tuan muda Bintang, nona muda Neira, tuan Darel dan tuan Abyan, jangan lupakan si gadis bernama Zalfa.


"Tuan Darel menenggelamkan pulau itu?! nona muda Neira memutilasi tuan Saguna? Arwan bermain dengan si bos dan dua anak buahnya?" cerocos paman Fidel bak kereta api. Kami semua menganggukkan kepala tanda membenarkan.


"Wow ... Daebak." Ucap paman Fidel mengangkat dua jempolnya.


"Paman bobby." panggil nona muda Neira membuat kami semua menoleh ke arah nona muda Neira termasuk paman Bobby sendiri.


"Paman gak lagi nyuri rumput tetanggakan?" tanya nona muda Neira menaik-turunkan alis.


"Rumput tetangga? Saya gak nyuri, nona muda Neira." polos paman Bobby.


"Terus kalo gak nyuri kenapa ngobrol dengan bibi Nadira, apalagi tadi wajahnya menggoda lagi." timpal tuan muda Bintang.


Paman Arwan langsung menatap tajam paman Bobby dan menyuruh istrinya duduk dikursinya. Paman Bobby meneguk saliva kasar saat melihat tatapan tajam paman Arwan.


"Lo mau jadi pebinor?" sarkas paman Arwan diliputi amarah.


Pama Bobby pucat pasi dan menggelengkan kepala membuat nona muda Neira dan tuan muda Bintang terkekeh.


"Kalo loe gelengkan kepala kenapa loe bicara sama istri gue?"


"Cuman ngobrol aja kok." jawab paman bobby terbata-bata.


"Arwan, Bobby jangan bertengkar. Kalian berdua terkena kejahilan Neira dan Bintang." tegur nyonya besar menggelengkan kepala.


"Yaaaahhhh .... mama gak asyik." rengek kedua majikanku.


"Bagaimana dengan Zalfa, gadis berusia 14 tahun itu nyonya besar?" tanya paman Athaya datar.


"Bob, loe rawat dia ya. Lagipula anak didik loe kan banyak." pinta nyonya besar puppy eyes.


"Baik, nyonya besar. Serahkan saja kepada aike." balas paman Bobby mendayu.


"kok paman Bobby mah?" tanya tuan muda Bintang heran.


"Kalian emang tidak tau?" tanya nyonya besar balik membuat nona muda Neira dan tuan muda Bintang menggelengkan kepala. "nanti mama ceritain ya. Gak apa-apakan Bob?" lanjutnya lembut lalu bertanya ke paman Bobby.


"Saya tidak masalah nyonya besar." yakin paman Bobby.


"Tuan Darel, Tuan Abyan. Mau menginap disini apa mau pulang? Saya dan kedua anak saya akan ke mansion Oliver Sanjaya beberapa hari?" tanya nyonya besar beralih ke tuan Darel dan tuan Abyan.


"Baiklah, semuanya rapat hari ini selesai sampai disini, kita bubar." perintah nyonya besar membuat semuanya bangkit dan keluar dari ruangan rapat.


...🎞🎞🎞🎞🎞🎞...


Hari ketiga aku, nona muda Neira, tuan muda Bintang, Tuan Darel dan tuan Abyan tinggal selama beberapa hari di mansion OS bersama paman Ben, paman Karim dan Bibi Anita. Kami semua berada di lantai 3.


Kamarku, kamar nona muda Neira, kamar tuan muda Bintang bersebelahan satu lain alias kamar nona muda Neira berada ditengah kamarku dan tuan muda Bintang.


Malam ini aku berada di kamarku lantai 3, lagi asyiknya memainkan game dan bersantai ria, aku mendengar tangisan nona muda Neira di kamar sebelah membuatku dan tuan muda Bintang langsung mendobrak masuk.


BRAK


Pintu kamar nona muda Neira dibuka paksa, aku dan tuan muda Bintang masuk tanpa permisi. Tuan muda Bintang langsung memeriksa keadaan nona muda Neira berbeda denganku memeriksa balkon kamar dan seluruhnya.


"Aa, aa kenapa?" tanya tuan muda Bintang cemas, panik dan khawatir.


"Kalian kenapa?" tanya nona muda Neira balik dengan tampang polos.


"Seharusnya tangtang yang nanya kenapa? bukan aa nanya balik?" Ucap tuan muda Bintang agak kesal.


"Aa hanya ingat perkataan mama tentang paman Aily." sendu nona muda Neira.


"Apaan aa/nona muda?" tanya kami bersamaan sekaligus penasaran.


"Kamu ingat gak diruang rapat 3 hari yang lalu."


"Ingat. Tapi Aa jelasin aja ya jangan dipotong-potong tangtang dan bang Alfa sangat penasaran."


Nona muda Neira menjelaskan kisah masa lalu paman Bobby dengan sangat singkat, jelas dan padat membuat kami menutup boy masing-masing dengan kedua tangannya bahkan meneguk saliva kasar.


"Ya allah,,, berikanlah paman bobby jodoh agar di hari tua nanti ada temannya." batinku berdoa.


"Besok aa ke salon AB deh." Binar nona muda Neira.


"Ngapain?!"


"Ngajak jalan-jalanlah sebelum balik ke rumah suami."


"Bintang ikut. Abang Alfa ikut juga?"


"Ya."


Hanya aku kembar ke kamar berbeda dengan tuan muda Bintang mau tidur di kamar nona muda Neira.


Pagi harinya di ruang makan lantai 1. Aku, nona muda Neira dan tuan muda Bintang berserta penghuni mansion OS sedang sarapan.


"Nona muda, anda hari ini mau kemana?" tanya bibi Vivi lembut.


"Aku, Bintang dan Alfa hari ini mau ke salonnya paman Aily, bibi Vivi." jawab nona muda Neira ramah.


"Mau ngapain?" tanya bibi Lusi lembut.


"Mau ngajak paman Aily jalan-jalan bi. Kan paman Aily udah bantuin aa Neira selama jalani misi." ceria tuan muda Bintang.


"Kalian tidak bertiga kan?" tanya paman Kenan lembut sambil memastikan.


"Tidak paman Ken, kami akan bersama paman Karim, paman Ben dan bibi Anita." jawabku.


Setelah sarapan pagi usai kami bergegas ke mobil dimana yang jadi supir adalah paman Karim. Paman Ben disebelah kursi kemudi, Bibi Anita dan diriku di kursi belakang.


Perjalanan dari mansion OS ke salon AB tidak sampai sejam. Saat di depan salon, kedua majikanku keluar dari dalam mobil sedangkan aku, paman Karim, paman Ben dan bibi Anita menyusul dibelakang.


"Selamat datang nona muda, tuan muda. Selamat datang ke salon AB." sambut miss Curtina ~ Kurt atau Tina, manajer salon AB dengan mendayu.


"Miss Aily." singkat nona muda Neira datar dan dingin.


"Ada. Silahkan datang ke lantai 3 ruangan pemilik salon." Balas Miss Tina mendayu.


Kamipun naik ke lantai 3 menggunakan lift khusus. Saat sampai di lantai 3, kami memasuki ruangan pemilik salon dimana paman bobby sedang serius menata makeup dan rambut seorang model.


"Tina, please deh ~ jangan ganggu aike ~ bereksperimen ~ " protes paman bobby yang tidak melihat ke arah pintu masuk.


"Paman, ini aku dan Bintang, bukan miss Tina." protes nona muda manja.


Paman bobby menolehkan kepalanya seketika menjerit kesenangan dan heboh sambil memeluk kedua majikanku. "Kyaaaaaa .... nona muda Neira, tuan muda Bintang, kapan kalian datang ke salonnya paman."


"Paman sesak." Ucap mereka terbata-bata karena paman boy sangat kencang memeluk mereka.


"Maafkan paman Aily ya nona muda Neira, tuan muda Bintang." Ucap paman bobby melepaskan pelukan dari kedua majikanku dan memasang wajah bersalah.


"Tidak apa-apa paman. Paman memeluk kami artinya paman sayang kepada kami. Paman tidak pernah menganggap kami sebagai atasan tetapi sebagai keponakan." bijak nona muda Neira.


"hiks, aduh aike ~ terhura-hura." lebay paman bobby.


"Paman sibuk gak?" tanya nona muda Neira manja sambil bergelanjut dilengan kekar sebelah kiri paman bobby.


"Tidak, nona muda." gelengnya.


"Yeee, ikut kami ya." ajak nona muda Neira sambil puppy eyes.


"kemana?"


"jalan-jalan paman."


"Iya sudah deh. Sudah lama paman tidak jalan-jalan sama kalian terakhir waktu kalian masih kecil."


Kedua majikan bertos ria lalu mengapit lengan kanan dan kiri paman bobby sambil membawa ke lift khusus dengan senyum ceria dan bersemangat.


Di lantai dasar, paman bobby menyuruh miss Tina untuk menjaga salon AB karena paman Bobby akan pergi bersama kami jalan-jalan seharian hari ini.


Saat di depan salon, paman bobby duduk ditengah diapit tubuh kedua majikanku. Paman Ben yang mengemudi, paman Karim duduk di kursi sebelah kemudi, kursi paling belakang ada diriku dan bibi Anita lalu berangkat jalan-jalan.


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Jangan tanyakan sampai episode berapa part Alfa,,, 40 part author rangkum versi Alfa 🀣...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...