
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Neira Pov On
Aku dan Darel keluar dari kamar merah muda untuk bertegur sapa sama penghuni beberapa kamar di ruangan ini. Aku ingin sekali menghilang dari sini karena mendengar suara burung bersahutan di 3 kamar berbeda dengan warna biru, merah dan hijau.
"Bayi besar penguntit." Melasku menatap Darel. Darel yang ditatap hanya memandang bertanya.
"Ini baru dihari pertama, gue sudah mendengar suara burung." lanjutku pelan dan protes.
"Apa masalahnya Sugar? Kalo kamu aku bisa memuaskanmu." Vulgarnya menaik turunkan alis.
"Dasar bayi besar mesum bin stalker." Umpatku marah.
Darel memeluk pinggangku dan berbisik : "Ingat Sugar, kita disini jadi sepasang suami istri. Jadi aku hanya akan bermain bagian atasmu saja. Kalo bawah jika kita sudah sah."
Aku hanya melototkan matanya saat mendengar bisikan kemesumannya.
"Kita ke ruang santai, di sana pasti akan ada suami istri yang lain." Ajaknya merangkul pinggangku. Aku hanya menuruti saja toh agar peran kami terlihat natural layaknya suami istri.
Saat sampai di ruang santai, tiba-tiba saja Darel langsung menutup kedua mataku sepertinya dia melihat sesuatu yang sangat penting. Tetapi kedua telingaku menangkap suara burung bersahutan menandakan ada aktivitas pasutri yang lagi panas bin hot.
"Kita pergi dari sini sugar. Ada dua pasutri yang lagi hangat-hangatnya." Ucapnya memelukku seperti menyembunyikan kepalaku ke dada bidangnya.
Kami berjalan ke arah pintu belakang alias sebuah taman buatan membuat mataku termanjakan akan keindahan dan kesejukan taman buatan ini.
Aku dan Darel duduk di kursi panjang. Aku beberapa kali menghembus napas karena Darel, si bayi besar penguntit terus saja menatapku seperti singa yang siap menerkam mangsa.
"Sugar, seandainya kamu single. Aku pasti akan langsung melamarmu dan kita akan menjadi keluarga bahagia." Gombalnya.
"Huek ... gombalan lo basi banget sih bayi besar." Ucapku pura-pura muntah dan menggelengkan kepala.
"Aku serius sugar." Tegasnya.
"Serah lo lah." Ucapku menatap taman buatan itu.
Aku dan Darel lagi-lagi terdiam kembali. Hampir 10 menit, kami terdiam tiba-tiba saja.
"Ayok sugar. Kita ke gedung arah Selatan." Ajaknya sambil membantuku berdiri.
"Ngapain?"
"Mencari tahu tentang pulau ini."
Akupun mengiyakan saja ajakannya dan dengan modusnya dia merangkul pinganggku agar seperti pasutri lain.
"π€² Ya allah, Neira merasa berdosa ya Allah. Neira, udah nikah tapi si bayi besar suka sekali melakukan hal yang tidak boleh dilakukan π." Batinku berdoa.
Neira Pov Off
...ππππππ...
Darel Pov On
Baru saja keluar dari kamar merah muda, aku mendengar suara burung bersahutan di 3 kamar berbeda.
"Boy, tolong jangan diri dulu ya. Masih pendekatan ini. Kalo sudah nikah, ayok kita tempur." Batinku menahan gejolak yang berada di dalam diriku.
Akupun menatap Neira dimana dia menatapku dengan pandangan memelas.
"Bayi besar penguntit."
"Ini baru dihari pertama, gue sudah mendengar suara burung." Lanjutnya pelan dan protes.
Aku mendengar hal itu seketika ide jahil terlintas di otakku. "Apa masalahnya Sugar? Kalo kamu aku bisa memuaskanmu."
"Dasar bayi besar mesum bin stalker." Umpatnya marah.
Aku memeluk pinggangnya dan berbisik : "Ingat Sugar, kita disini jadi sepasang suami istri. Jadi aku hanya akan bermain bagian atasmu saja. Kalo bawah jika kita sudah sah." Di balas pelototan mata.
"Kita ke ruang santai, di sana pasti akan ada suami istri yang lain." Ajakku merangkul pinggangku.
Saat sampai di ruang santai, aku melihat pemandangan aktivitas hot bin panas dua pasutri lain lalu aku langsung menutup mata Neira agar tidak melihatnya.
"Kita pergi dari sini sugar. Ada dua pasutri yang lagi hangat-hangatnya." Ucapku memeluk tubuhnya kearah dada bidangku sekaligus menuntunnya.
Kami berjalan ke arah pintu belakang alias sebuah taman buatan membuat mata Neira dan aku termanjakan akan keindahan dan kesejukan taman buatan ini.
Kami duduk di kursi panjang. Aku lalu menatap Neira dengan pandangan singa yang siap menerkam mangsa. Neira beberapa kali menghembus napas.
"Sugar, seandainya kamu single. Aku pasti akan langsung melamarmu dan kita akan menjadi keluarga bahagia." Gombalku.
"Huek ... gombalan lo basi banget sih bayi besar." Ucapnya mau muntah dan menggelengkan kepala.
"Aku serius sugar." Tegasku.
"Serah lo lah." Ucapnya menatap taman buatan itu.
Kami lagi-lagi terdiam kembali. Aku mengambil ponsel dan meretas CCTV bangunan ini dan melihat aktivitas tidak biasa di gedung sebelah Selatan.
"Ayok sugar. Kita ke bangunan arah Selatan." Ajakku sambil membantunya berdiri.
"Ngapain?"
"Mencari tahu tentang pulau ini."
Dia mengiyakan saja ajakanku sekalian modus merangkul pinggangnya.
Darel Pov Off
...ππππππ...
Neira dan Darel baru saja tiba di gedung arah Selatan Pulau Tanpa Nama. Neira dan Darel berada dibalik tembok dan melihat aktivitas tidak biasa yaitu hampir 10 orang pria salah satunya "bos" dan beberapa gadis muda memasuki sebuah ruangan.
"Sugar, ayok kita masuk."
"Bagaimana caranya? Di setiap sudut ada CCTV?"
"Masalah CCTV sudah aku urus Sugar."
Darel dan Neira perlahan-lahan mendekati ruangan itu dan memasukinya. Baru saja memasuki ruangan itu, suara teriakan kesakitan dan suara burung bergema bersamaan membuat Darel dan Neira berjalan sedikit cepat dan melihat ada sebuah lemari kecil untuk bersembunyi.
Darel dan Neira melihat 2 orang gadis muda di cambuk dua orang pria dengan keadaan tubuh polos dan di kedua tangannya di gantung, di kedua paha 2 gadis itu mengalir darah segar bercampur air lain. Neira maupun Darel melihat hal itu menahan amarah.
"Bayi besar, mereka sungguh bukan manusia." Geram Neira menahan amarah.
"Ini baru bukti pertama di hari pertama, sugar. 2 hari lagi kita akan melihat ruangan lain yang tidak kalah mengerikannya." Ucap Darel mengepalkan kedua tangannya.
"Berarti kita harus berpencar?" Usul Neira.
"Tidak. Kita tidak akan berpencar." Tolak Darel halus.
"Kenapa?"
"Abyan, tuan Alfa, paman Karim, tuan Sarka juga sudah masuk ke gedung ini sugar. Mereka menyamar jadi salah satu anggota mereka." Jelas Darel.
Neira membelalak matanya tidak percaya karena terkejut mendengar penjelasan Darel.
"Jadi kita semua pisah berpasangan karena ini rencanamu." Tebak Neira. Darel menganggukkan kepala.
"Sugar, kita lihat apa yang terjadi sama 2 gadis muda itu." Ucap Darel membuat Neira menatap lagi kedepan.
2 gadis muda itu pingsan membuat sang bos murka, langsung saja membedah tubuh 2 gadis itu sampai tubuh mereka tidak utuh lagi. Neira melihat hal itu memeluk Darel bahkan tubuhnya bergetar hebat.
Darel mengusap punggung Neira agar Neira merasa aman dan nyaman. Hampir 30 menit, mereka berada di lemari kecil. Akhirnya ruangan itu kosong dan Darel mengangkat tubuh Neira ala bridal style dengan cara mengendap-endap.
Baru saja ingin ke kamar merah muda, salah satu pelayan menghampiri Darel dan Neira.
"Tuan Indra, nyonya Ala. Kalian darimana?" Tanya pelayan itu cemas.
"Ada apa?" Tanya Darel dingin dan datar.
"Saya tadi mendapat kabar dari ruang kendali bahwa cctv tiba-tiba rusak. Lalu saya ditugaskan oleh atasan saya untuk ke tempat ini. Dan menanyakan satu persatu pasutri disini tetapi kamar anda kosong. Anda dan istri anda dari mana?"
"Saya dan istri saya dari taman buatan belakang gedung ini. lalu ada sebuah gazebo jadi saya dan istri saya istirahat disana." Bohong Darel.
Pelayan itu melihat Neira yang memejamkan matanya bahkan ada tanda merah dileher Neira tersenyum penuh arti.
"Ternyata anda ganas juga tuan Indra, sampai nyonya Ala kelelahan." Sopannya berlalu.
Darel tersenyum tipis. Darel mengingat saat di dalam lemari, dia memberikan tanda ke leher Neira agar tidak dicurigai. Akhirnya Darel dan Neira memasuki kamar merah muda untuk istirahat.
...ππππππ...
...Neira disini berbeda dari Gava dan Resmi, author kasih pasangannya Darel karena Darel sangat berbahaya walaupun suka bawa botol dot bayi π€...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...