
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat malam atau tengah malam reader ππ
Kemaren author gak update karena author kelelahan jadi baru hari ini author bikinnya π
Akhirnya pesta pernikahan Neira dan Darel sudah selesai. Tetapi di depan kamar pengantin baru, Gava mengajak dua anak perempuannya dan dua anak menantunya untuk menguping.
"Aaauuuu ... sakit bayi besar ..."
"Maaf sugar. Maafkan aku ..."
"Makanya kalo mau lepasin pelan-pelan, sakit ini."
"iya, sugar iya ..."
"Hiks ... sakit ... hiks ... sakit bayi besar."
"Aaaa .... sssshhhhh .... sakit bayi besar..."
"Maafkan aku sugar. Maaf."
"Ya Allah,,, adik ipar kalian sungguh luar biasa ... baru aja beberapa jam yang lalu selesai sudah main aja." sahut Gava bergidik ngeri.
"Iya, mah. Mas Akbar aja gak pernah sekasar ini sama aku, lembut banget." Sahut Resmi membenarkan. Alana, Sekar dan Intan juga menganggukkan kepala.
"Bagaimana keadaanmu sugar, masih sakit?"
"Iya, masih sakit. Tapi ini gimana dong? Banyak banget lagi?"
"Ya sudah, pelan-pelan saja."
Gava, Alana, Sekar, Resmi dan Intan memasang wajah memerah karena mendengarkan kata PELAN-PELAN.
"Baby/Sayang. Kalian ngapain menguping pengantin baru." sahut seorang paruh baya bersama 4 orang pria tampan dan gagah menghampiri Gava bersama keempat wanita muda, seketika Gava dan keempat wanita muda itu hanya tersenyum.
"Baby." sahut Gava manja dan mendekati tubuh Leo, kedua tangan Gava berada di leher Leo.
Leo hanya mencium kening Gava, kalo bibir nanti setelah keempat anak mereka beserta pasangannya tidak ada. Keempat wanita muda itu mendatangi keempat pria tampan dan gagah.
"Sebaiknya kita semua pergi. Aku tidak mau mengganggu mamah dan papah yang lagi bucin." bisik Ceilo kepada yang lain. Mereka semua menganggukkan kepala.
"Mah, pah. Kami pergi ya." Ucap Alana mewakili saudara-saudarinya.
"Iya, kalo mau bikin adonan tanyakan pada para maid disini dimana kamar kedap suara." frontal Gava membuat keempat pasangan muda itu memasang wajah malu dan memerah.
Setelah keempat pasangan muda itu pergi. Leo langsung menyambar bibir Gava sekilas karena ucapan frontal istrinya.
"Kamu lagi ngapain hem?"
"Dengerin MP Neira dan Darel baby." Balas Gava membuat Leo mengenyitkan dahinya heran.
"Bukannya Neira kedatangan tamu baby?" tanya Leo.
Gava yang diberitahukan oleh Leo langsung membulatkan matanya.
"Jadi mereka ngapain dong baby? Masa iya Darel maksa istrinya? Rumah istrinyakan lagi banjir kotor." cerocos Gava panik dan cemas lalu menatap pintu kamar pengantin baru.
Leo langsung berjalan kearah pintu kamar pengantin baru.
Tok tok tok
Ceklek
Pintu kamar pengantin baru terbuka. Leo dan Gava melihat pakaian Neira dan Darel masih memakai pakaian pengantin tetapi Darel tanpa jas sedangkan Neira hanya memakai gaun pengantin tanpa makeup dan lain-lain.
"Mamah, papah ngapain di depan kamar kami?" tanya Neira heran.
"Kalian kok masih memakai pakaian pengantin?" tanya Gava balik sekaligus kaget.
"Hah?! Maksud mama apa? Kami emang masih memakai pakaian pengantin." jelas Neira.
"Mama kalian menguping baby girl." sahut Leo watados.
Neira dan Darel saling pandang kemudian membulatkan matanya.
"Mama, ngapain nguping?" todong Neira.
"Mama kira kalian sudah ngelakuin bikin adonan." balas Gava santai.
"Hah?!" Kaget Neira dan Darel.
"Mah, bukannya Neira banjir ya. Lagipula Neira unboxingnya nanti saat bulan madu." jujur Darel polos membuat Neira menutup wajahnya malu berbeda dengan Gava dan Leo tersenyum manis.
"maunya 12 sih mah." jawab Darel polos membuat Neira mencubit pinggang Darel.
"Kamu kira aku kucing apa? Satu kali ngelahirin bisa sampai 3-4 anak." omel Neira.
Gava dan Leo terkekeh berbeda dengan Darel yang hanya senyam senyum malu.
"Ya sudah, mamah dan papah ke kamar ya. Kalian istirahatlah. Rel, jagain istrimu kalo bisa kekepin sekalian." Ucap Gava memberi nasehat.
Darel dan Neira menganggukkan kepala. Gava dan Leo berlalu dari kamar pasutri itu.
...ππππππ...
Neira Pov On
Sebelum Gava dan keempat wanita muda menguping kita ke kamar pengantin baru dulu. Aku berada di depan kaca hias dimana sejak masuk ke kamar terus saja mengomel tidak jelas karena aksesoris di atas kepalaku yang ribet jadi kepalaku pusing dan leherku pegal.
Suamiku, si bayi besar juga melepaskan jasnya kemudian berjalan ke arahku untuk membantu melepaskan hiasan kepalaku.
"3 kali ganti gaun, 3 kali kepala aku ganti hiasan. Ternyata hiasan kepala dari keluarga kamu sungguh ribet. Rasanya kepalaku ingin lepas dari leher. Apalagi tadi 3 kali ganti high heel menyesuaikan dengan gaun. Aku bersyukur kalo gaun pengantinku tidak seribet hiasan kepala." cerocosku memberikan protes dan omelan.
"Aaauuuu ... sakit bayi besar." teriakku sambil menahan kepala karena si bayi besar sedikit agak kasar mengambil salah satu mahkota yang kecil di kepalaku.
"Maaf sugar. Maafkan aku" sahutnya merasa bersalah.
"Makanya kalo mau lepasin pelan-pelan, sakit ini." omelku sambil meringis.
"iya, sugar iya" angguknya berusaha kembali melepaskan perhiasan lain dari kepalaku.
"Hiks ... sakit ... hiks ... sakit bayi besar." Isakku membuat bayi besar menghentikan untuk sementara lalu setelah itu langsung melepaskan hiasan kepala tetapi agak kasar karena agak besar dan berat.
"Aaaa .... sssshhhhh .... sakit bayi besar..." tangisku pecah.
"Maafkan aku sugar. Maaf." Ucapnya mengusap kepalaku.
Setelah beberapa menit kemudian, Darel bertanya sambil mengusap kepalaku: "Bagaimana keadaanmu sugar, masih sakit?"
"Iya, masih sakit. Tapi ini gimana dong? Banyak banget lagi?" anggukku dan melihat ada beberapa perhiasan lagi.
"Ya sudah, pelan-pelan saja." Ucapnya berusaha membantu melepaskan perhiasan lain dari kepalaku.
"Ternyata gini ya pernikahan Anne Embun dulu. Perhiasan kepalanya sangat ribet. Lantas mamah dan mommy Grace mengajukan protes." pikirku saat mengingat gaun ketiga, gaun khas marga Evangelion.
Setelah semua perhiasan terlepas semua, rambutku yang sebahu terurai indah dan aku langsung membersihkan make up diwajahku.
Tok tok tok
Suara ketokan pintu membuat ku dan bayi besar saling tatap.
"bayi besar, ada yang ngetok pintu." Sahutku memberi kode.
Bayi besar yang paham berjalan kearah pintu dimana aku juga mengikuti.
Ceklek
Bayi besar membuka pintu kamar dimana aku berada disebelahnya. Aku dan bayi besar saling tatap lewat ekor mata karena mamah dan papah berada di depan pintu kamar kami.
"Mamah, papah ngapain di depan kamar kami?" tanyaku heran.
"Kalian kok masih memakai pakaian pengantin?" tanya mamah balik sekaligus memasang wajah kaget.
"Hah?! Maksud mama apa? Kami emang masih memakai pakaian pengantin." jelasku heran sekaligus bingung.
"Mama kalian menguping baby girl." sahut papah memasang watados.
Kami saling pandang kemudian membulatkan matanya.
"Mama, ngapain nguping?" todongku.
"Mama kira kalian sudah ngelakuin bikin adonan." balas mama santai.
"Hah?!"
"Mah, bukannya Neira banjir ya. Lagipula Neira unboxingnya nanti saat bulan madu." jujur si bayi besar polos membuatku menutup wajah malu berbeda dengan mamah dan papah tersenyum manis.
"Darel, nanti mau anak berapa?" goda mamah.
"maunya 12 sih mah." jawab bayi besar polos membuatku mencubit pinggangnya.
"Kamu kira aku kucing apa? Satu kali ngelahirin bisa sampai 3-4 anak." omelku.
Papah dan mamah terkekeh berbeda dengan si bayi besar yang hanya senyam senyum malu.
"Ya sudah, mamah dan papah ke kamar ya. Kalian istirahatlah. Rel, jagain istrimu kalo bisa kekepin sekalian." Ucap mamah memberi nasehat.
Kami menganggukkan kepala. Lalu mamah dan papah berlalu dari kamar kami.
...ππππππ...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...