Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 41



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Selamat sore atau malam reader 😘😘😘


"Tanpa iman, hati akan mati. Hari ini adalah kenyataan, kemarin adalah kenangan, hari esok adalah impian. Sucikan hati, jernihkan pikiran. Sambutlah tahun baru dengan penuh harapan dan semangat yang baru." Happy New Year 2022 πŸŽ‰πŸŽŠ


Alfa Pov On


Akhirnya setelah sampai part 40 gak ada pov sendiri, ternyata author mengabulkan doa dan harapanku πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


Awalnya kita ke part berapa gitu yang ada akunya 🀭, karena authornya bingung di mulai dari mana 🀣 (cepat woy,, jangan banyak omong langsung sikat πŸ˜’ ~ Author)


Saat ini aku berada di ruangan asisten ceo perusahaan cabang AG Com kota C. Aku melihat ada 3 kardus yang berisi berkas penting dan harus benar-benar persetujuan nona muda Neira. Jadi akupun memanggil asistenku yang bernama Hilal untuk membantuku membawa 3 tumpukan kardus ke perusahaan Robot RR kota C.


Hilal, ini manusia robot kedua yang diciptakan oleh nona muda Neira setelah Jiya yang merangkap menjadi asistenku di perusahaan cabang.


Aku dan Hilal bergegas keluar ruangan asisten dan menuju lift karyawan. Di dalam lift banyak sekali karyawan menegurku dan Hilal, aku hanya tersenyum ramah saja.


Setelah lift terbuka tepat di lobby perusahaan, aku dan Hilal langsung saja menuju mobil yang sudah terparkir rapi. Hilal langsung menuju kursi kemudi berbeda denganku yang duduk di kursi belakang karena menjaga 3 kardus agar tidak jatuh.


30 menit kemudian, mobil yang aku dan Hilal tumpangi sudah sampai di perusahaan Robot RR dimana aku sudah menghubungi paman Karim agar membantuku.


Paman Karim langsung bergerak cepat dimana aku menyuruh Hilal untuk kembali ke perusahaan. Aku dan paman Karim memasuki jalur khusus agar tidak ada yang tau siapa yang akan menemui nona muda Neira.


Akupun memasuki ruangan ceo dengan sekardus dimana nona muda Neira menunjukkan wajah memelasnya.


"Alfa, tuh kardus kok banyak banget?! Ada 3 kotak lagi?!" Ringis nona muda Neira.


"Mau bagaimana lagi nona muda, ini berkas penting yang harus anda tanda tangani apalagi anda jarang ke perusahaan cabang AG." sindirku.


"Bintang." polosnya.


"Jangan terlalu sering menyuruh tuan muda Bintang, nona muda. Perusahaan cabang AG tugas anda bukan tugas tuan muda Bintang. Apalagi sekarang tuan muda Bintang dihukum oleh guru kesayangan (BK) karena habis memecahkan kaca jendela ruangan kepala sekolah dengan sepak bola." Ucapku menghembuskan napas.


"Apa?! Memecahkan kaca jendela ruangan kepala sekolah?!" pekiknya keras membuatku menutup kedua telinga.


"Bagaimana bisa Bintang memecahkan kaca jendela ruangan kepala sekolah?" Tanyanya penasaran.


Akupun menjelaskan ke nona muda Neira bahwa tuan muda Bintang bermain sepak bola saat jam pelajaran olahraga, karena tuan muda Bintang menendang bola tersebut sangat keras sehingga melayanglah ke kaca jendela ruangan kepala sekolah dan hampir kena piala.


"WOW !!! ADEK GUE SUNGGUH LUAR BIASA !!!" Pekiknya melengking. "terus Bintang sekarang gimana?" Lanjutnya bertanya.


"Ya Allah, punya majikan suara toa gini ya rasanya, mudahan kedua telingaku baik-baik saja." Batinku menutup telinganya.


"Paman Ben mengurus semuanya nona muda."


"Syukurlah. Tapi kepala sekolah gak ngebocorin kan siapa Bintang?"


"Tidak nona muda. Paman Ben sempat mengancam jika kepala sekolah disana membocorkan siapa tuan muda Bintang, bersiap saja karier dan sekolah disana akan ditutup selama-lamanya."


Aku sangat tau kalo nyonya besar Ayya dan tuan besar Leo selalu banyak mata-mata termasuk akupun dijaga juga padahal aku bisa bela diri tetapi orang tuaku dan para majikanku menganggap aku, nona muda Neira dan tuan muda Bintang masih bayi.


Nona muda Neira berjalan ke kursi kebesarannya untuk mengerjakan 3 kardus berkas yang menumpuk dengan bantuanku, Jiya dan paman Karim sampai jam menunjukkan makan siang. (maksudnya ini cuman bantuin nyusun berkas yang sudah diperiksa saja 🀭)


Aku merasa minder dan malu saat nona muda Neira, anak yang tergolong jenius saat mengerjakan 3 kardus berkas selesai tanpa bantuan kami.


"Ayok kita ke cafe lo. Cacing yang berada di perut gue berdemo minta diisi."


"Baik nona muda. Saya sudah menyediakan ruangan VVIP untuk anda agar bisa makan dengan tenang tanpa gangguan."


"Terima kasih, Alfa. Lo emang asisten, bawahan sekaligus sahabat gue yang selalu saja paham apa yang gue maksud."


"Anda tidak perlu berterima kasih, itu sudah merupakan tugas saya sebagai asisten sekaligus sahabat anda."


Aku dan nona muda Neira menggunakan lift khusus untuk ke cafe Ardhias, cafe yang aku bangun saat usia 17 tahun.


...🎞🎞🎞🎞🎞...


Makan siang kali ini aku dan nona muda Neira berada diruangan VVIP Cafe Ardhias. Semua makanan favorit sudah tersedia di atas meja. Aku dan nona muda Neira memakan semua makanan tersebut habis tidak tersisa.


"Nona muda." panggilku membuatnya berdehem saja. "Sekitar pukul 2 siang nanti, nona muda harus menghadiri rapat dengan tuan muda Darel, ceo perusahaan EV Com."


Setelah dia membaca pesan tersebut: "Alfa, setelah rapat dengan perusahaan EV com. Kita ke rumahku ya?" Aku mengernyitkan dahi heran saat mendengar kata rumahku. "Mas Anton lembur jadi kemungkinan nginap di kantor bersama pablo dan Ratih." lanjutnya.


"Nona muda, apa anda tidak merasa curiga sama tuan Anton dan nona Ratih?" sahutku curiga terhadap hubungan antara Ratih dan suami nona muda Neira.


Nona muda Neira mengatakan dia selama seminggu ini sudah curiga tentang hubungan Nona Ratih dan tuan Anton. Ternyata terbukti bahwa Nona muda Ratih dan tuan Anton menikah diam-diam selama sebulan tanpa persetujuan nona muda Neira.


"A-apa mak-maksud anda? Tuan Anton dan Nona Ratih sudah menikah?" Gagapku syok.


"Ya, mas Anton sudah menodai pernikahan kami selama hampir sebulan." sahutnya dengan mata berkilat marah dan terluka bersamaan.


"Apa nona muda memiliki langkah selanjutnya? Apa perlu saya turun tangan?" Desisku dengan wajah datar dan dingin.


"Ada. Lo ikuti aja rencana gue, Alfa."


"Baiklah, kalo ada apa-apa kabarin saya nona muda. Saya bertanggung jawab atas keselamatan nona muda dan tuan muda Bintang." hormatku menunduk.


Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang saatnya bekerja kembali, aku dan nona muda Neira keluar dari ruangan VVIP menuju lift khusus, ternyata tanpa sengaja nona muda Neita bertabrakan dengan seorang pria dan jatuh bersamaan.


"Nona muda/tuan muda" Ucapku dan seorang pria lain bersama pria yang ada dihadapanku.


Aku membantu nona muda Neira berbeda dihadapan kami mendengar suara rengekan anak kecil.


"Abyan hiks ... dotku hiks ..." rengek pria itu bak anak kecil.


"Cup cup ... tenanglah tuan muda cup cup ..." Ucap seorang pria bernama Abyan berusaha menenangkan pria itu.


Wajahku yang tenang dan teduh menatap pria itu dengan pandangan syok dan kaget. Nona muda Neira berjongkok ternyata mengambil satu dot bayi berukuran besar.


"Ya allah,,, sudah dewasa masih saja pake dot bayi." pikirku mengerjapkan mata beberapa kali.


Nona muda Neira menyerahkan botol dot bayi besar itu ke pria yang merengek itu disambut dengan senyum sumringah dari pria bak anak kecil itu.


"Terima kasih nona muda." Tulus tuan Abyan berusaha membantu seorang pria tampan bak anak bayi.


"Sama-sama, tuan." singkat nona muda Neira..


Jantungku hampir saja copot karena pria yang memakai botol dot bayi itu langsung saja mencium bibir nona muda Neira dan mengatakan: "Milik Darel."


"Tuan muda Darel, kenapa anda mencium bibir wanita sembarangan." Ucap tuan Abyan merasa tidak enak. "Maafkan saya nona muda atas kesalahan tuan muda Darel." Lanjutnya meminta maaf.


"Tuan muda Darel?" Beo nona muda Neira lalu menatapku, aku balas menggelengkan kepalanya.


Perkenalanpun terjadi bahkan tuan Darel sudah tau siapa diriku dan nona muda Neira membuat nona muda Neira mengumpat dengan wajah kesal.


Terjadilah percecokkan antara nona muda Neira dan tuan Darel yang dimenangkan oleh nona muda Neira membuat tuan Darel menangis bak anak kecil. Tuan Abyan berusaha menenangkan tuan Darel.


"Yang dikatakan nona muda benar, anda emang bayi besar penguntit." pikirku membenarkan.


Saking tuan Abyan tidak bisa menenangkan Tuan Darel dengan terpaksa nona muda Neira meredakan tangisan tuan Darel ternyata berhasil.


"Susu." Binar tuan Darel.


"Iya, iya permen susu." Ucap nona muda Neira..


"Mana?" Kedua tangan tuan Darel meminta ke arah nona muda Neira.


"Nanti tuan Darel." Jawab nona muda Neira lalu melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul setengah 2 siang. "Sebaiknya kita meeting di cafe ini saja. Karena sebentar lagi jam menunjukkan pukul 2 siang." Lanjutnya menatap tuan Abyan dan diriku bergantian. Aku dan tuan Abyan bergegas mengambil berkas yang tertinggal.


10 menit kemudian, baik aku dan tuan Abyan sudah membawa berkas masing-masing ke ruangan VVIP. Hampir 1 jam setengah meeting dilakukan akhirnya selesai.


"Nona Neira, Darel senang bekerja sama denganmu." Ucap tuan Darel dengan senyum manis.


"Iya, tuan Darel. Saya juga senang bekerja sama dengan anda." Ucap nona muda Neira tersenyum tipis.


"Setelah ini nona Neira mau kemana?" tanyanya basa basi.


"Nona muda kami akan pulang tuan Darel." Balasku yang paham akan kode nona muda Neira yang tidak terlalu suka basa basi.


"Baiklah. Saya mengerti." Angguk tuan Darel tersenyum tipis. Setelah tuan Darel dan tuan Abyan keluar baru kami keluar.


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Part Alfa masih belum selesai ya jadi harap bersabar πŸ˜‰...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...