
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Baru bisa update π
Author kemaren sibuk di dunia nyata π
Pulau Tanpa Nama atau Pulau Perdagangan Manusia
3 buah Jet pribadi RR baru saja tiba dan mendarat sempurna di hutan arah Utara. Neira, Darel, Sarka, Abyan, Alfa, Karim, Athaya, Hana, Irsyad, Bob dan Arwan serta anak buah organisasi AZZA dan mafia Black Blood.
Mereka semua memindai area sekitar, Neira memberikan arahan kepada beberapa anak buah organisasi AZZA untuk menyembunyikan jet pribadi RR.
"Kita bagi tugas, aku dan my sugar bersama tuan Sarka, tuan Karim, Abyan dan tuan Alfa akan lewat jalur belakang. Nyonya Hana dan tuan Irsyad memantau dari jauh. Tuan Athaya ke arah timur, tuan Bob ke arah Barat dan tuan Arwan ke arah Selatan." Perintah Darel dingin dan tegas.
"Tuan Darel apa maksud anda?" Tanya Neira dingin saat mendengar perintah dari Darel.
Darel memindai sekitar. Sarka juga melakukan hal yang sama bahkan dia memahami maksud dari perintah Darel.
"Sungguh kecepatan dan keakuratan luar biasa dalam memindai area sekitar, kalo pulau ini sangat berbahaya dan bisa saja banyak jatuh korban." Batin Sarka tersenyum tipis.
"Ra, ikuti perintah tuan Darel. Kamu jangan jauh-jauh dari dia, Ra." Peringat Sarka sambil menepuk pundak kanan Neira.
"Kenapa bang?" Tanya Neira.
"Kamu akan tau nanti. Pokoknya jangan jauh-jauh dari tuan Darel atau siapapun diantara kita Ra." Peringat Sarka lembut.
Neira hanya menganggukkan kepala saja. Mereka semua berpencar dengan tugas masing-masing.
...ππππππ...
Neira Pov On
Saat ini aku mengikuti si bayi besar penguntit yang sedang memimpin jalan, didepannya Alfa dan tuan Abyan. Dibelakangku ada abang Sarka dan paman Karim.
"Bayi besar, bisa jangan modus." Bisikku ketus.
"Aku tidak modus sugar." Bisiknya memindai area sekitar.
"Kalo tidak modus kenapa peluk gue, lo taukan kalo gue udah nikah." Bisikku ketus.
"Kamu emang sudah nikah, sugar. Tetapi kamu belum disentuh sama suamimu, Sugar." Bisiknya tepat.
Jleb
Akupun terdiam saat dia membisikkan kata yang tepat. Aku sudah menikah tetapi belum pernah disentuh oleh mas Anton.
"SEMUA MENUNDUK !!!" Pekik Darel agak keras yang langsung memelukku.
Aku, Alfa, abang Sarka, Paman Karim dan tuan Abyan langsung menunduk.
"Ada apa bayi besar?" Kagetku dipelukannya.
Aku tidak sadar bahwa aku berada dipangkuan bahkan sudah berada diatas boynya.
"Ssshhh." Desisnya.
"Kamu kenapa?" Tanyaku panik.
"Sugar, kamu duduk diatas boyku." Desisnya serak.
Aku yang sadar berusaha bangkit tetapi ditahannya. "Jangan berdiri, ada jebakan di atas tubuh kita." Bisiknya.
Aku menganggukkan kepala dan tetap berada dipelukkannya.
"Jadi ini yang dimaksud oleh abang Sarka, ternyata si bayi besar ini sudah memiliki rencana yang matang. Baiklah, aku akan ikuti rencanamu, bayi besar." Batinku.
Aku juga memindai sekitar lalu melihat sebuah pohon memakai pintu di dekat kami. "Bayi besar, gue liat ada sebuah pohon aneh, seperti pintu ajaib." Bisikku menunjukkan sebuah pohon yang tidak jauh dari jangkauan kami.
"Kita berpencar. Kalo kita bersama takutnya musuh akan mengetahui hal ini." Perintah Darel.
"Baiklah. Tuan Darel aku percayakan adik sepupuku kepadamu." Abang Sarka mengangguk dan menatapku.
"Tenanglah. Dia aman bersamaku, tuan Sarka."
"Nona muda, ini tas yang berisi 5 botol dot bayi untuk tuan muda Darel." Ucap tuan Abyan memberikan tas kecil untukku.
"Terima kasih tuan Abyan." Anggukku.
Paman Karim bersama abang Sarka, tuan Abyan bersama Alfa. Setelah terpisah dan tidak terlihat lagi, aku dan Darel merangkak bak bayi.
Saat aku dan Darel tepat berada di depan pohon berpintu. Darel menekan kenop pintu, tiba-tiba saja rumput yang menompang tubuh kami terbuka membuat kami langsung terjun ke bawah. 30 menit kemudian, tubuhku dan DarelΒ mendarat ke kasur empuk.
"Ya allah terima kasih, akhirnya aku dan si bayi besar selamat." Doaku.
Aku dan Darel berusaha duduk dan memandang sekitar. Tiba-tiba saja aku memeluk tubuh Darel karena aku melihat ratusan organ tubuh manusia dan darah manusia di dalam tabung.
"Ruang penelitian dan eksekusi." Ucapnya. "Sugar, ayok kita bergegas keluar dari sini. Tempat ini lebih berbahaya." Lanjutnya berusaha menahan tubuhku agar tidak jatuh.
Darel berusaha memasukkan angka dari pintu agar keluar dari ruangan ini. Tidak sampai 5 menit, Pintu ruangan terbuka aku dan Darel bisa keluar.
Saat baru keluar ruangan ternyata ruangan yang lain lebih besar bahkan ada beberapa ruangan dengan pintu yang sama.
"Tempat apa ini sebenarnya?" Tanyaku.
"Semua ruangan ini semacam penjara bagi para wanita, sugar. Tajamkanlah pendengaranmu ke salahsatu kamar." Balasnya sambil menunjuk salah satu kamar dengan pintu warna biru.
Aku menajamkan pendengaran seketika wajahku memerah bak kepiting rebus karena mendengar suara merdu bersahutan-sahutan.
"Wajahmu merah, Sugar." Goda Darel.
"Ish ... jangan menggodaku." Rajukku malu.
"Kenapa kita gak melakukannya juga?" Godanya.
"Dasar bayi besar mesum." Aku mencubit pinggangnya membuatnya memohon ampun.
Suara langkah kaki membuat diriku membeku, Darel langsung menarikku kesebuah kamar berwarna merah muda.
"Bagaimana? Apa ada yang mengandung?"
"Ada bos."
"Berapa bulan?"
"5-6 bulan, bos. Selebihnya 3-4 bulan"
"Berapa orang?"
"6 orang, bos."
"Tidak ada yang hamil tua?"
"Tidak ada bos."
Aku dan Darel mendengar dengan seksama. Sebenarnya aku risih karena tubuhku terhimpit tubuh besar Darel. Bayangkan tinggiku yang 155 cm sedangkan tinggi Darel 180 cm. Perbedaan yang cukup jauh. Bahkan Darel sedikit merendahkan tubuhnya agar bisa berdekatan dengan diriku, napasnya menerpa wajahku.
"Bayi besar, apa kau punya rencana cadangan?" Tanyaku.
"Ada. Tapi ...." ucapnya tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tapi apanya?" Desakku tidak sabar.
"Kamu rencananya sugar." Tunjuknya memelas.
"Aku." Tunjukku tidak mengerti.
Darel membisikkan rencananya kepadaku. Aku membulatkan matanya.
"Bayi besar, rencanamu ini .... " Bisikku tidak melanjutkan kata-kata dengan wajah memerah menahan malu dan marah.
"Mau tidak mau, inilah rencana kita."
"Gue gak mau." Tolakku menggelengkan kepala.
Tok tok tok tok
"Tuan dan nyonya yang di dalam. Biarkan kami masuk untuk memeriksa kalian." Ucap seseorang dibalik pintu.
Kami yang kaget langsung saja ke ranjang kingsize lalu melepaskan pakaian kami dengan cepat bahkan tubuh kami hanya tersisa kain segitiga dan kain mini.
"Berpura-puralah tidur, sugar." Ucapnya menarik selimut sampai sebatas leherku.
"Lo gimana?"
"Tenanglah. Ini bisa diatasi." Yakinnya. Aku menganggukkan kepala. "Masuklah." Lanjutnya.
Ceklik
Pintu kamar warna merah muda dibuka oleh salah satu pelayan disana.
"Tuan Indra, nyonya Ala. Maafkan diri saya sudah menganggu aktivitas tuan Indra dan nyonya Ala." Sopan pelayan itu.
"Tidak apa-apa. Ada apa kesini sehingga kau mengangguku dan istriku?" Dingin Darel.
"Saya ingin memberitahukan bahwa anda dan istri anda hanya perlu menunggu beberapa bulan lagi untuk mengambil bayi yang ingin anda adopsi."
"Berapa lama?"
"4-5 bulan lagi anda dan istri anda harus datang kesini."
"Baiklah."
"Saya permisi."
Pelayan itu permisi dan keluar dari ruanganku dan Darel. Akupun menurunkan selimut sampai sebatas dadaku.
"Sejak kapan kita jadi suami istri bayi besar?" Tanyaku curiga.
"Sejak kita masuk kesini. Aku sudah mendaftarkan kita sebagai pelanggan baru." Balasnya menatapku seperti ingin menerkam mangsa.
"Kau mau apa?" Cicitku.
Cup
Dia mencium bibirku sangat lama bahkan tubuhku sudah terbaring. Aku yang mendapat serangan tiba-tiba hanya terdiam, bingung mau melakukan apa.
Aku tidak tau bahwa tangan Darel sudah berada di salah satu gunung kembar membuatku menahannya tetapi Darel menepis tanganku membuat diriku mengeluarkan suara merdu.
Setelah puas digunung kembar, salah satu tangannya turun kebawah bahkan masuk ke celana segitigaku dan bermain dirumahku.
Darel terus saja menciumku sangat intens bahkan aku memukul dadanya karena kehabisan napas. Darel menyudahi ciuman kami tetapi kedua tangan Darel sudah bermain ditubuhku.
"Bayi besar. Tolong hentikan." Aku mengeluarkan suara merdu.
"Nikmati saja sugar." Seraknya.
Salah satu tangannya terus saja bermain di rumahku membuatku mengeluarkan suara merdu bahkan kedua tanganku mencengkram tangannya kuat sampai air yang didalam rumahku merembes keluar. Aku menarik napas dalam karena baru pertama kali melakukan hal seperti ini.
"Sugar, aku bantu melepas celana segitigamu?"
"Jangan."
"Basah sugar. Nanti kamu merasa tidak nyaman. Aku membawakan pakaian dalammu."
Aku syok dan kaget saat mendengar hal itu. Dia hanya terkekeh lalu bangkit dari ranjang dan mengambil tas kecil. Dia menyerahkan pakaian dalam yang ukuran pas untukku.
"Pakailah."
Akupun bangkit dari ranjang dengan menggunakan selimut serta mengambil pakaian luar untuk ku pakai dikamar mandi.
Neira Pov OFF
...ππππππ...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...