
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat siang atau sore reader ππ
Author update lagi π€
Setelah kepergian Gava dan Leo dari pintu kamar pengantin. Darel menutup pintu kamar dan berjalan ke arah ranjang kingsize sekaligus merebahkan tubuhnya tengkurap di atas ranjang kingsize. Neira kembali lagi ke meja rias untuk melepaskan beberapa perhiasan kecil seperti gelang, anting dan kalung yang belum semua dilepaskan.
"Bayi besar, lebih baik kamu mandi deh. Setelah itu baru aku." Ucap Neira tanpa melihat Darel yang sejak tadi menatapnya.
"Kamu kapan selesai banjirnya Sugar?" tanya Darel membuat Neira mengalihkan wajahnya dari meja rias.
"Ini hari ke-4, mungkin 3-4 hari lagi. Kenapa?" balas dan tanya Neira.
"Gak bisa DP dulu gitu." sahut Darel ambigu.
"DP, maksudnya?" tanya Neira benar-benar tidak mengerti perkataan Darel.
Darel bangkit dari ranjang kingsize, berjalan ke arah Neira. Neira memutar tubuhnya ke arah Darel.
Setelah Darel tepat berada di depan Neira, tangan kanan Darel membelai pipi Neira.
"Kamu puasin aku dari atas sampai bawah, sugar. Terus aku akan puasin kamu tapi cuman diatas, karena dibawahmu masih banjir."
Blussshhh
Pipi Neira tiba-tiba merona merah. Kedua tangan Darel menuju punggung Neira dan menarik resletingnya kebawah.
"Berdirilah sugar."
Neira berdiri dan gaun itu lolos meninggalkan pakaian dalam saja. Neira menutup wajahnya karena malu. Kedua tangan Darel menggengam tangan Neira dan mengarahkan ketubuhnya.
"Lepasin sugar." manja Darel denga suara serak basah.
Neira dengan wajah bak kepiting rebus bercampur semerah tomat dan cabe melepaskan satu persatu pakaian Darel sampai tubuh Darel polos tidak tersisa.
Neira memejamkan mata saat melihat boy Darel menggantung. Darel kekeh dan mengangkat dagu Neira lalu mencium bibir Neira.
Perang bibir terjadi bahkan terdengar suara lirih dari Neira membuat Darel semakin khilaf, bahkan kain pembungkus gunung kembar sudah gak tau kemana dan tangannya terus asyik bermain disana.
Tubuh Neira yang lemes hampir saja terduduk jika tidak ditopang kedua tangan Darel. Darel menuntunnya ke ranjang kingsize. Tubuh Neira dan Darel sudah terduduk di atas ranjang kingsize.
Neira memberikan kode ke Darel bahwa dia kehabisan napas membuat Darel melepaskan ciumannya. Darel merasakan nyeri karena boynya sudah tiap tempur.
"Sugar, lakukan sesuatu." lirih Darel dengan wajah menahan sakit.
Neira yang paham langsung melakukannya dan keluarlah suara Darel membuat Neira terus saja melakukannya.
Hampir 30 menit, mereka melakukan itu membuat Darel lega dan puas akibat servisan Neira. Tubuh Neira banyak sekali stempel dari Darel.
"Mandilah bayi besar." Suruh Neira membuat Darel bangkit dari ranjang kingsize menuju kamar mandi dengan tubuh polos.
"Bayi besar, pake handuk atau apapun buat nutupin boymu !!!!" teriak Neira sambil menutup kedua matanya.
"Gak perlu sugar. Kamu sudah liat semuanya !!!" goda Darel menutup pintu kamar mandi.
"Ck ... punya suami bikin istri selalu darah tinggi." gerutu Neira bangkit dari ranjang kingsize dan memasang kemeja pengantin Darel.
Bahkan Neira mengambil pakaian santai Darel di koper warna hitam. Hampir 10 menit, akhirnya Darel selesai mandi membuat Neira menoleh dan membulatkan matanya sekali lagi.
"Bayi besar !!! aku bilang pake handuk atau pake jubah mandi !!!" teriak Neira menutup kedua matanya sekali lagi dan jantungnya berdebar kencang.
"Malas sugar, lagipula kita hanya berdua di kamar ini." sahut Darel memasang pakaian yang sudah disiapkan Neira.
"Biarpun berdua di kamar tapi ditutupi boy gantungmu." sarkas Neira bergegas menuju kamar mandi.
Darel hanya mengedikkan bahu acuh saja. Dan duduk di ranjang kingsize sambil melihat email yang dikirim Abyan beberapa menit yang lalu.
20 menit kemudian, Neira yang berada di dalam kamar mandi hanya mengeluarkan kepalanya.
"Bayi besar." panggil Neira manja.
"Apa?"
"Aku lupa bawa bantal bayi besar." sahut Neira. Darel bangkit dari ranjang kingsize dan mengambil bantal yang berada di dekatnya lalu memberikan ke Neira membuat Neira heran.
"Ngapain kamu bawa bantal ini?"
Neira menepuk dahinya karena mendengar jawaban polos Darel.
"Bukan bantal untuk tidur tapi bantal untuk wanita."
"Bantal untuk wanita?"
"Lebih baik kamu cari mama Gava, biasanya mama banyak stok bantal." balas Neira gemes.
Darel yang polos dan tidak mengerti hanya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari kamar pengantin.
Di dalam kamar mandi, Neira hanya terkekeh karena Darel dengan polosnya mengikuti saran Neira.
10 menit kemudian, Darel sudah tiba di depan pintu kamar Gava dan Leo.
Tok tok tok
Ceklik
Gava membuka pintu kamar diikuti Leo dibelakangnya.
"Ada apa?"
"Mah, kata Neira Darel disuruh ngambil bantal." Ucap Darel membuat Gava paham dan masuk kembali. Leo dan Darel ditinggal begitu saja.
Beberapa menit kemudian, Gava menyerahkan bantal khusus malam hari membuat Darel mengernyitkan dahinya.
"Mah, Neira bilang bantal. Kok di kasih pelapis khusus wanita? Lebih baik mama simpan kembali deh, Darel gak mau diamuk oleh istri Darel karena salah bawa bantal." Darel bertanya dan menyerahkan kembali bantal yang diberikan Gava.
Gava dan Leo saling pandang kemudian terkekeh.
"Darel, maksud istrimu bantal itu pelapis khusus wanita." jelas Gava.
"Hah?! Jadi ini bantal yang dimaksud." Darel menatap kedua pasutri itu. Kedua pasutri itu menganggukkan kepalanya.
"Makasih ya mama." ceria Darel bak anak kecil dan
cup
Darel mencium pipi kanan Gava sekilas dan berlari kencang menghindari amukan sang pawang.
"Dasar menantu kurang ajar !!!! kembali kamu !!! seenaknya cium pipi istri papah !!!" teriak Leo mengamuk tetapi di tahan Gava.
Gava menarik Leo ke dalam kamar. Berbeda dengan Darel tertawa kencang karena berhasil mengerjai ayah mertuanya.
Tidak sampai 10 menit, Darel memberikan bantal yang sudah dipesan Neira ke Neira sendiri. Neira yang sudah menerima bantal langsung saja bergegas berganti pakaian.
Darel dan Neira akhirnya tidur dengan cara berpelukan tanpa melakukan apa-apa akibat sudah diservis sekitar 2 jam yang lalu.
...ππππππ...
Pagi hari kamar gedung mansion lebih tepatnya kamar pengantin baru, Neira dan Darel masih tertidur pulas.
Darel perlahan-lahan membuka kedua matanya karena mulai terusik suara burung berkicau. Dia memandang istrinya tertidur dengan damai dan pulas. Dia mengelus wajah istrinya kemudian mengecup seluruh wajah istrinya.
"Bayi besar, jangan ganggu. Aku masih ngantuk." Serak Neira dengan protes.
"Bangunlah. Kita hari ini akan ke mansion Evangelion." Lembut Darel.
"Kamu duluan ke kamar mandi. Aku nanti setelah kamu." Sahutnya memeluk guling.
Darel bangkit dari ranjang kingsize dan berjalan ke arah kamar mandi lalu di lanjutkan oleh Neira. Hampir 30 menit, kedua pasutri itu keluar dari kamar pengantin dengan pakaian santai dan kasual.
Baru saja membuka pintu, sudah ada seorang pengawal yang mengambil koper mereka berdua. Saat di tempat makan, semuanya menoleh terutama Leo menatap Darel tajam. Neira melihat tatapan sang ayah berbeda dari biasanya langsung duduk disebelah ibunya, Gava.
"Mah, kenapa tatapan papah tajam gitu ke suami aku?" bisik Neira bertanya. Gava menjelaskan ke Neira kejadian tadi malam membuat Neira tertawa.
"Terus mama gimana sekarang? Apa bisa jalan?" bisik Neira menggoda.
"Gak bisa, baby girl. Nunggu 3-4 hari lagi mama bisa jalan. Gara-gara suami kamu yang tiba-tiba saja jahil, jadi mama harus melayani papahmu yang cemburunya luar biasa." bisik Gava menghela napas pasrah.
"Kalian bisik apaan?" tanya Leo dan Darel bersamaan.
Gava dan Neira kompak menggelengkan kepalanya lalu mereka makan dengan tenang tanpa bicara satupun. Kemudian mereka berangkat menuju mansion Evangelion layaknya istana.
...ππππππ...
Mansion Evangelion
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...