
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat Hari Senin πππ
Markas Pusat Organisasi AZZA tepatnnya ruang rapat Gava, Leo, Radith dan Intan serta Chan sedang duduk menunggu kedatangan Resmi dan Akbar.
"Mah, mereka main lama juga. Kita sudah menunggu hampir 2 jam loh disini." Protes Intan.
"Tunggu aja. Kamu tau sendiri pasangan itu kalo sudah main bisa lama." Ucap Gava santai sambil menyesap teh herbal.
Leo dan Radith hanya menyimak saja tanpa ikut campur maupun protes. 10 menit, 20 menit, 30 menit kemudian Gava dan Intan yang sudah gregetan bangkit dari kursi.
"Mama, Intan kalian mau kemana?" Tanya Resmi yang baru saja datang dengan rambut basah, disampingnya Akbar memeluk pinggang Resmi.
"Mau bawa kalian." Ketus Intan.
Resmi mengernyitkan dahi dan duduk di kursi yang sudah disiapkan samahalnya Akbar. "Bawa kami kemana?" Tanyanya polos dan tidak peka.
Gava yang kesal sejak tadi menjewer telinga kanan Resmi membuat Resmi mengaduh kesakitan.
"Mama aduh duh duh ... teling resmi kenapa dijewer sih aduh duh duh ... sakit mah ..." ringis Resmi sambil menahan telinga kanannya.
Gava melepaskan jewerannya lalu duduk dikursi kebesarannya dekat Leo dengan nada mencibir : "Kamu ini ya Res, kan kita mau bahas masalah adikmu, Neira. Ternyata kamu malah asyik dengan Akbar. Mana lama lagi?! Mama, papa, Radith, Intan dan Chan sejak tadi menunggu kalian?"
"Kapan mah?" Tanya Resmi melototkan matanya.
"2 jam yang lalu." Kesal Gava sambil meminum teh herbal. Maklum sudah berusia 41an tahun π€
Seketika wajah Resmi dan Akbar memerah malu karena orang tua dan saudaranya sudah menunggu selama itu.
"Kalian ini kalo mau main ingat waktu? Gak kasian apa sama Sagar dan Morgan, usianya masih setahun. Nanti kalo mau nambah nunggu 3-4 tahun." Omel Gava khas ibu-ibu.
"Mama gak sadar diri apa?! kalo main bareng papa lebih lama dari kami. Bahkan mama sampai gak bisa jalan selama seminggu." Ucap Resmi tepat sasaran.
Jleb
Gava dan Leo langsung mengalihkan pandangan ke arah lain karena malu.
"Ya allah,, gue lupa kalo Leo ngajak pasti tubuh gue remuk dan berasa patah-patah bahkan bisa sampai seminggu gue terbaring diranjang." Batin Gava.
"Ya allah princess, bisa gak sih jangan buka kartu." Batin Leo menghembuskan napas.
"Papah dan Resmi kalo sudah urusan ranjang number one. Kasian kamu Bar, punya istri yang mesumnya luar biasa dan membuat dirimu kadang-kadang kelelahan." Batin Radith prihatin.
"Ya allah, aku bersyukur punya suami seperti Radith, tidak pernah buat diriku kelelahan." Batin Intan tersenyum manis.
"Pah, mah, bang, tan." Sapa Resmi membuat Gava, Leo, Radith dan Intan tersadar dari lamunan mereka. "Apa yang akan kita bahas?" Tanya Resmi serius.
"Chan." Panggil Gava. Chan mengetik di keyboard dimana data Darel si mafia Black Blood dan ceo perusahaan EV com terpampang di layar besar.
Kedua pasangan muda itu membaca satu persatu data Darel. Lalu ada sebuah video agent pemerintah yang berada di pulau tanpa nama membuat kedua pasangan muda itu menahan napas tidak percaya apa yang dilihat divideo itu.
"Mah, pah. Apa maksudnya ini? Hubungan pulau tanpa nama dengan data tuan Darel apa?" Tanya Resmi dan Intan bersamaan.
"Pulau tanpa nama atau pulau perdagangan manusia adalah pulau tersembunyi dan berbahaya. Agent pemerintah kota C meminta pertolongan dengan tuan Darel, ketua mafia Blackblood lalu tuan Darel meminta persetujuan agar Neira, adik kalian ikut dalam misi ini." Jelas Gava menatap satu persatu anak dan menantunya.
Awalnya mengangguk seketika :"apa?!"
"Mah, mamah tidak ngeprank kami kan?"
"Mah, Neira sudah nikah dengan si Anton, Anton itu?"
"Mah, kok mamah mengiyakan saja sih?"
"Mah, kalo terjadi apa-apa sama Neira gimana?"
Pertanyaan beruntun dari Resmi, Radith, Akbar dan Intan membuat Gava dan Leo hanya terkekeh.
"Mamah tidak ngeprank kalian."
"Mamah tau kalo Neira sudah menikah."
"Mamah mengiyakan karena ada sesuatu hal yang akan kalian ketahui tentang Neira dan tuan Darel."
"Tidak akan terjadi apa-apa sama Neira."
"Misi ini sebenarnya tentang apa mah?" Tanya Radith penasaran.
"Chan." Panggil Gava membuat Chan langsung mengetik keyboard.
Terpampang lagi data keluarga Mahadewa dari Omar dan Juwita, orang tua Anton, Anton dan Ratih, serta orangtua Ratih. Kedua pasutri muda membaca dengan seksama dan teliti membuar Resmi dan Intan menatap tidak percaya, Radith dan Akbar mengepalkan tangannya.
"Mah, jadi orang tua si Anton dan si Ratih berasal dari pulau tanpa nama?"
"Iya, Res. Kedua keluarga itu berasal dari sana." Angguk Gava.
"Baby." Panggil Leo. Gava menoleh ke arah Leo dengan pandangan bertanya-tanya. "Wajah tuan Darel kok mirip seseorang baby?" Lanjutnya.Β
Gava juga menatap Darel dengan seksama. "Baby !!! Tuan Darel anak dari tuan Arlo dan Embun !!!" Pekik Gava senang.
Kedua pasutri muda dan Leo terjengkit kaget mendengar pekikan Gava.
"Anak tuan Arlo dan Embun siapa baby?" Tanya Leo mengusap dadanya.
"Astaga baby, embun baby embun." Ucap Gava menyebutkan kata Embun.
Leo mengernyitkan dahinya heran dan bingung. Gava menepuk dahinya berbeda kedua pasutri muda hanya diam tanpa suara.
"Embun, sebutan si wajah cantik dan manis dengan keberadaan tidak terlihat alias ghost girl." Jelas Gava.
Leo yang mengingat hal itu menampilkan wajah terkejutnya. "Jadi, tuan Darel merupakan anak dari si embun, ghost girl dan tuan Arlo, si mafia bayi."
Gava menganggukkan kepalanya. "Kok bisa baby?! Bukannya tuan Arlo dan Embun sekarang berada di negara H. Bahkan keluarga mereka begitu misterius?" Ucap Leo mengetuk jari telunjuk kanannya di atas meja.
Gava hanya mengedikkan bahunya acuh saja tetapi dia teringat akan perkataan Embun :"terima kasih nyonya Ayya, putri anda sudah menyelamatkan hidup putra saya. Saya akan menyerahkan kalung mahkota ratu ke anda agar putra saya dan putri anda berjodoh."
"Baby." Ucap Leo menepuk pundak Gava membuat Gava menatap dengan pandangan bertanya-tanya. "Kenapa?"
"Embun dan tuan Arlo akan datang ke negara A ke kota C jika takdir Neira dan Darel bersatu." Ambigu Gava.
"Maksudmu?"
"Suami Neira, Anton ternyata sudah menikah dengan Ratih bahkan mereka sering bermain dibelakang putri kita." Sendu Gava.
"Berapa bulan?"
"Sebulan yang lalu baby."
Leo mengepalkan tangannya saat mendengar pernikahan suci putrinya. "Baby, perlu kah kita kesana?"
"Jangan baby. Biarkan putri kita yang akan menyelesaikan urusan rumah tangganya. Kita hanya perlu memantau saja."
"Bagaimana dengan tuan Darel mah?"
"Dia akan membantu adik kalian."
Ketiga pasutri berbeda usia itu tenggelam pikiran masing-masing.
"Jadi apa yang kalian pikirkan?"
"Mamah dan papah tau kok." Balas Resmi dan Radith terkekeh.
"Bermain ya. Ya udah, jangan sampai habis ya sisain buat adik kalian."
"Itu sudah pasti mah." Ucap dua R mengangkat jempolnya dan terkekeh.
"Mah, Resmi titip Sagar dan Morgan ya."
"Radith juga titip Lado dan Eric."
Ucap Radith dan Resmi.
"Baiklah, berapa lama?"
"2-3 hari saja, ASInya sudah Resmi dan Intan siapkan di lemari pendingin." Balas Resmi.Β
"Sekarang apa besok?"
"Besok pagi."
"Baiklah kalo begitu." Angguk Gava.
Ketiga pasutri itu keluar dari ruang rapat organisasi AZZA dan pulang ke mansion utama RR menggunakan jet pribadi karena Gava dan Leo.
...ππππππ...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...