
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat malam atau tengah malam reader π
Baru bisa update, lelah otak author berasa di peras π€―π΅
Perjalanan ke gedung tua di hutan Selatan Negara A menempuh waktu 1 jam 30 menit, mobil yang ditumpangi pasangan Gava-Leo dan Arlo-Embun serta mobil Lucas, Hide, Ryker dan Haris baru saja tiba sekitar 300 meter dari gedung tua tersebut.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam di hutan Selatan jarang sekali dilewati oleh manusia karena ada sebuah mitos mengatakan seorang wanita meninggal gentayangan akibat direnggut mahkotanya tepat di gedung tua terbengkalai selama 30 tahun.
Gava melihat sekitar hutan selatan dan gedung tua terbengkalai itu lewat jendela mobil. Gava yang emang dasarnya penakut dalam kegelapan dan satu hal yaitu hantu π€.
"Gue disini aja ya." sahut Gava dengan memasang wajah memelas membuat Arlo dan Embun mengernyitkan dahinya heran.
"Jangan bilang kamu takut gelap dan hantu." tebak Embun membuat Gava menganggukkan kepala.
"Apa!!!" Embun dan Arlo membulatkan matanya.
"Pendiri Organisasi sekaligus mafia kok takut." cibir dan sindir Embun.
"Iya, saya dengar Nona Ayya Sering disebut iblis berwajah malaikat, tetapi takut sama gelap dan hantu." cibir dan sindir Arlo.
"Gak ada hubungan ya sama pendiri dan sebutan." bela Gava agak kesal.
"Kalo gak ada hubungannya, buktikan dong. Kalo kamu tidak takut." tantang Arlo sambil menaik turunkan alis.
Gava menatap Arlo, Embun dan Leo bergantian. Dia beberapa kali menghembuskan napas.
"Baby, kalo takut lebih baik kamu disini, biar aku bersama tuan Arlo dan nona Embun." Ucap Leo tersenyum lembut dan berusaha menenangkan Gava dibalik kemudi.
Gava dilema, disatu sisi dia ingin sekali ikut dalam melakukan penyelamatan putra mahkota Evangelion sebenarnya tetapi disisi lain rasa takut akan gelap dan hantu bergentayangan membuatnya tidak ingin ikut.
"Bagaimana?"
"Gue ikut." sahut Gava mantap membuat Leo meneguk saliva kasar dengan membatin: "baby, semoga kamu tidak pingsan, tidak pipis atau menangis ya."
Berbeda dengan Embun dan Arlo tersenyum senang. Kedua pasangan paruh baya itu keluar dari mobil. Tubuh Gava bak angin sudah berada disamping Leo alias memeluk pinggang Leo seperti meminta perlindungan. Akibat geraka tubuh Gava bak angin membuat Arlo dan Embun terdiam sesaat dengan ekspresi melongo. π²π±π²π±
Leo hanya mengedikkan bahu acuh, sedangkan Gava beberapa kali menepuk punggung Embun. (Syukur emak Embun, coba baba Arlo π€£)
"Kamu pakai jurus apaan Ay?" tanya Embun polos.
"Jurus Naruto, seribu bayangan." Sahut Gava asal.
"Emang ada?"
"Ada kok, loe liat sendiri tadi."
Embun hanya menganggukkan kepalanya polos berbeda dengan Arlo dan Leo hanya tersenyum tipis karena Arlo tau kalo Gava memakai sepatu yang sudah di modifikasi.
"Ryker, Haris, Lucas. Kalian lewat belakang gedung ya. Hide, loe bareng kita. Karena hanya loe yang cepat tanggap jika kami, para orang tua yang berumur terjadi apa-apa." Gava memberikan perintah kepada Ryker, Haris, Lucas serta Hide.
Ryker, Lucas dan Haris langsung melesat menuju arah belakang gedung tua terbengkalai itu berbeda dengan kedua pasangan paruh baya dan Hide menuju arah depan gedung tua.
Sepanjang perjalanan Gava terus saja memeluk pinggang Leo. Saking takutnya sama gelap dan hantu, saat ranting ujung pohon mengenai bahu kanan Gava, kedua tangan dan kaki Gava langsung berada di tubuh Leo alias gendongan ala koala. Leo yang dasarnya peka dan siaga menahan tubuh Gava.
Gava menyembunyikan wajahnya diceruk leher kanan Leo dan terisak bahkan berbisik: "baby hiks ... aku takut hiks ... Ada yang colekin bahu kanan aku hiks ..."
Embun yang berada tidak jauh dari Gava dan ranting pohon hanya mencibir: "Ya ampun ayya, sebegitu takutnya kamu sama hantu dan gelap sampai kamu tidak tau kalo bahumu terkena ujung ranting ckckck."
Gava mendengar hal itu langsung menolehkan wajahnya ke arah Embun yang sedang memegang ranting pohon dengan tangan kanannya.
"Ranting pohon ya?" tanya Gava seperti tikus kejepit. Embun dan Arlo menganggukkan kepala.
Gava memutarkan sekaligus mendongakkan wajahnya ke arah Leo. Leo melihat wajah sembab Gava yang menurutnya menggemaskan, langsung memberikan ciuman alias ******* membuat Arlo dan Embun menganga tak percaya dan saling pandang.
"Ya Allah,,, aku kira tuan Leo tidak agresif ternyata agresif juga ya." batin Embun.
"Ya allah,,, ada kejutan apa lagi yang akan kami dapatkan dari pasangan fenomenal ini." batin Arlo.
Hampir 10 menit, Leo menyudahi ciuman itu dan melepaskan dari bibir Gava. Gava mengambil napas rakus saat mendapat serangan mendadak. Wajahnya memerah malu seperti buah ceri.
"Ckckck ... sempat-sempatnya ya kalian ciuman disaat kita sedang melakukan misi." cibir Embun sambil bersidekap dada.
"Iri ya loe, kalo laki loe gak agresif seperti laki gue." sindir Gava menggoda.
"Laki aku agresif Ayya tetapi lakiku tau tempat dimana aku dan dia kalo mau bermain,,, lah kamu sendiri, laki kamu yang agresif. Kamu malah ikut-ikutan agresif." Embun tidak kalah menyindir.
"Ya wajarlah, kalo gue gak agresif, laki gue nanti jajan diluar. Gue gak mau ya laki gue nanti bawa perempuan lain." sahut Gava agak kesal.
"Tapikan bisa tau tempat ayya. Masa iya nanti kamu main disini ketimbang di rumah." sahut Embun berusaha menahan kekesalan.
Aksi sindir menyindir itu membuat Arlo dan Leo saling pandang sekaligus memberi kode.
"Ibu-ibu sudah selesai aksi debat dan sindirinya?" tegur Arlo dan Leo berbarengan.
Gava dan Embun mendengar teguran sang suami mereka hanya cengengesan. Gava yang berada di gendongan Leo meminta turun, Leo menurunkan sang istri dengan hati-hati.
Mereka berjalan kembali dan tinggal 10 meter dari pintu depan gedung tua terbengkalai. Mereka langsung bersembunyi disemak-semak sampai mengamati sekitar.
Arlo dan Leo memindai sekitar dan terdapat sedikit celah untuk mereka masuk ke gedung tua terbengkalai itu. Berbeda dengan Gava dan Embun juga memindai sekitar.
"Bun, loe lihat gak celah penjagaan di pintu depan. Penjagaannya super duper ketat dan gak ada celah sedikit pun." Ucap Gava berusaha mencari celah.
"Iya, kamu benar. Celahnya sungguh tidak ada. Anak buah tetua senior 3 sungguh luar biasa terlatih." Ucap Embun membenarkan.
"Tenang saja beauty, kita bisa masuk walaupun sedikit akan ketauan." sahut Arlo mengelus pucuk kepala Embun.
"Bagaimana?" tanya Embun penasaran.
Arlo dan Leo saling kode. Leo menyerahkan sesuatu kepada Hide dimana Hide menjalankan robot hewan berbentuk kucing ke arah penjagaan itu. Gava dan Embun seketika paham apa yang dimaksud oleh Arlo.
"Ternyata laki gue/aku pinter juga ya." pikir Embun dan Gava bersamaan sekaligus memuji.
Setelah robot kucing itu mengobrak-abrik penjagaan di pintu depan gedung terbengkalai itu. Kedua pasangan paruh baya dan hide langsung bergegas masuk.
Baru saja memasuki lolos dari pintu depan gedung tua, mereka dikejutkan banyak sekali tubuh manusia terpotong-potong bahkan sudah ditempel dinding membuat Gava memeluk Leo samahalnya Embun memeluk Arlo.
"Waktu itu kita hanya 30 menit untuk menyelamatkan putra mahkota Syamsir." sahut Leo sambil mengelus pucuk kepala istrinya.
"Ruangannya dimana?"
"Lantai 2 arah timur."
Akhirnya kedua pasangan paruh baya dan Hide bergerak walaupun Gava berada digendongan Leo ala koala. (Selama papa Leo masih nyaman kalo mama Gava digendong, jadi dibiarkan saja π€)
...ππππππ...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...