
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Darel Pov On
Aku, Neira, Abyan, tuan Alfa, tuan Sarka, paman Karim, paman Athaya, Bibi Hana, paman Irsyad, paman Bob dan paman Arwan serta anak buah organisasi AZZA dan anak buahku mafia Black Blood baru saja tiba di pulau Tanpa Nama atau Pulau Perdagangan Manusia di hutan arah Utara menggunakan 3 buah jet pribadi RR.
Aku memindai sekitar area sini. Aku melihat banyak sekali jebakan bahkan aku menatap Abyan, Abyan yang paham hanya menganggukkan kepala.
Flashback On
Aku dan Abyan bersama salah satu agent pemerintah kota C berada di ruang rapat markas mafia Black Blood. Agent pemerintah itu memberikan sebuah flashdisk untuk kami. Abyan mengambil flashdisk itu dan menyerahkan ke Elton, seorang ahli IT yang aku rekrut saat berusia 15 tahun.Β
Sebelum memasang flashdisk ke komputer, Elton menurunkan layar lebar terlebih dahulu baru memasang flashdisk ke komputer. Di flashdisk itu ada sebuah video yang menampilkan pulau tanpa nama atau pulau perdagangan manusia membuat diriku mengepalkan tangan dengan wajah mengeras.
"Tuan Darel, pulau yang divideo merupakan pulau tanpa nama. Saya meminta bantuan anda untuk menyelidiki pulau itu?"
Aku menganggukkan kepala dengan wajah datar dan dingin.
"Terima kasih tuan Darel." sopannya.
"Organisasi AZZA." Singkatku. Agent pemerintah itu menatap diriku dan Darel bergantian.
"Maksudnya mafia kami akan bekerja sama dengan organisasi AZZA. Bisakah anda membubuhkan tangan diberkas ini." Abyan memberikan berkas ke agent pemerintah.
Agent pemerintah itu membubuhkan tanda tangan ke berkas itu. Setelah selesai, agent pemerintah itu pamit.
"Yan, ubah status diriku dan nona Neira menjadi sepasangan suami istri juga sebagai pelanggan baru dengan nama Indra dan Ala terus beri kamar merah muda." Titahku.
"Baik tuan muda." Angguk Abyan memahami maksud dari perintahku.
Flashback Off
"Kita bagi tugas, aku dan my sugar bersama tuan Sarka, tuan Karim, Abyan dan tuan Alfa akan lewat jalur belakang. Nyonya Hana dan tuan Irsyad memantau dari jauh. Tuan Athaya ke arah timur, tuan Bob ke arah Barat dan tuan Arwan ke arah Selatan." Perintahku dingin dan tegas.
"Tuan Darel apa maksud anda?" Tanyanya dingin saat mendengar perintahku.
Aku terus saja memindai sekitar tanpa menyahut pertanyaan Neira.
"Ra, ikuti perintah tuan Darel. Kamu jangan jauh-jauh dari dia Ra." Peringat tuan Sarka sambil menepuk pundak kanan Neira.
"Kenapa bang?" Tanya Neira.
"Kamu akan tau nanti. Pokoknya jangan jauh-jauh dari tuan Darel atau siapapun diantara kita Ra." Peringat tuan Sarka lembut.
Neira hanya menganggukkan kepala saja. Kami berpencar dengan tugas masing-masing.
Di sepanjang jalan, aku memimpin dimana Neira berada dipelukkanku, bukan modus tapi banyak jebakan untuk memasuki ruang belakang gedung yang hanya berjarak beberapa meter dari kami. Di depan kami ada tuan Alfa dan Abyan, dibelakang kami ada tuan Sarka dan paman Karim.
"Bayi besar, bisa gak sih jangan modus." Bisiknya ketus.
"Aku tidak modus sugar." Bisikku memindai area sekitar.
"Kalo tidak modus kenapa peluk gue, lo taukan kalo gue udah nikah." Bisiknya ketus.
"Kamu emang sudah nikah, sugar. Tetapi kamu belum disentuh sama suamimu, Sugar." Bisikku tepat.
"SEMUA MENUNDUK !!!" Pekikku agak keras dan memeluk Neira agar dia tidak terluka.
Tuan Sarka, tuan Alfa, paman Karim dan tuan Abyan langsung menunduk.
"Ada apa bayi besar?" Kagetnya dipelukanku.
"Ssshh." Desisku meringis karena posisinya berada dipangkuan dan menekan boyku.
"Kamu kenapa?" Paniknya.
"Sugar, kamu duduk diatas boyku." Serakku mendesis.
Dia yang baru saja sadar berusaha bangkit tetapi aku menahannya karena diatas kami ada jebakan lagi. "Jangan berdiri, ada jebakan di atas kepalamu." Bisikku.
Dia menganggukkan kepala dan tetap berada dipelukkanku. "Tahan Darel, tahan boy. Masih belum SAH ini. Tapi kalo main tanpa melepas kegadisannya gak apa-apakan." Batinku tiba-tiba terbesit ide kotor.
"Bayi besar, gue liat ada sebuah pohon aneh, seperti pintu ajaib." Bisiknya menunjukkan sebuah pohon yang tidak jauh dari jangkauan kami.
"Kita berpencar. Kalo kita bersama takutnya musuh akan mengetahui hal ini." Perintahku tiba-tiba karena pohon itu adalah jalan masuk rahasia untuk masuk ke gedung itu.
"Baiklah. Tuan Darel aku percayakan adik sepupuku kepadamu." Ucap tuan Sarka mengangguk.
"Tenanglah. Dia aman bersamaku, tuan Sarka." Ucapku paham.
"Terima kasih tuan Abyan."
Paman Karim bersama tuan Sarka, Abyan bersama tuan Alfa. Setelah terpisah dan tidak terlihat lagi, aku dan Neira merangkak bak bayi Sampai menuju pintu masuk rahasia. Aku menekan kenop pintu, tiba-tiba saja rumput yang menompang tubuh kami terbuka membuat kami langsung terjun ke bawah. 30 menit kemudian, tubuhku dan NeiraΒ mendarat ke kasur empuk.
"Ya allah terima kasih, akhirnya aku dan si bayi besar selamat." Doanya membuatku ingin menjitak kepala cantiknya. (Selebihnya baca part Neira)
Setelah aku melakukan hal itu kepada Neira, aku mengambil satu botol dot bayi besar sampai berbicara melalui earphone dengan Abyan.
"Sudah masuk?"
"Iya, tuan muda. Bagaimana dengan anda? Apa berhasil tanpa ketahuan?"
"Ya berhasil tanpa ketahuan. Mereka tidak tau kalo kita sudah mengepung tempat ini. Waktunya seminggu tidak lebih tidak kurang."
"Yaiyalah gak ketauan, apalagi diriku asyik main dengan si Sugar." Batinku tersenyum saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
"Tuan Darel, dimana adikku kenapa dia tidak menyahut saat saya menghubungi?" Tanya tuan Sarka.
"Di kamar mandi tuan Sarka. Jadi dia melepaskan earphone karena tidak mungkin membawa earphone ke kamar mandi." Jelasku dingin dan datar.
"Untuk apa?"
"Menjalankan peran yang akan kami lakukan."
"Maksud anda?"
"Peran suami istri tuan Sarka. Tuan muda dan nona muda Neira akan berperan menjadi sepasang suami istri bernama tuan Indra dan nyonya Ala. Bahkan mereka akan 3 hari berada di kamar merah muda itu." Jelas Abyan diseberang earphone.
"Apa maksud anda tuan Darel, tuan Abyan?!" Pekik tuan Sarka tidak terima.
"Tenanglah bang Sarka. Aku dan tuan Darel tidak akan melakukan hal yang membuat kami melakukan hal lain." Jelas Neira membuat aku hampir jantungan karena tiba-tiba saja duduk disebelahku.
"Baiklah. Tuan Darel kalo sampai kamu macam-macam ke adik sepupuku. Bersiap-siaplah." Peringat tuan Sarka.
"Iya tuan Sarka. Kalian lakukanlah penyamaran agar kita bisa menghancurkan dari dalam." Tegasku dan memberi perintah.
Aku dan Neira melepaskan earphone dan mini book sekaligus menyembunyikannya di balik tas kecil serba guna.
"Tuan Darel apa rencana anda selanjutnya?" Tanyanya serius.
Akupun memberitahukan rencana kepada Neira. Neira mendengarkan dengan seksama rencanaku.
"Jadi rencanamu ini aku sebagai nyonya Ala istri dari tuan Indra yang ingin memiliki seorang anak." Ucapnya. Aku menganggukkan kepala.
"Kapan rencana ini akan dimulai?"
"Hari ini."
"Pakaian kita bagaimana?"
"Liat saja dilemari, aku dan Abyan sudah mempersiapkannya dua hari yang lalu." Balasku.
Dia berlari ke arah lemari pakaian dan membukanya. Aku nenatap gemes saat melihat wajahnya yang hanya menatap syok tidak percaya.
"Bayi besar, Kamu tau darimana semua ukuranku?" Tanya menatap tajam diriku.
"Dari salah satu anak buahmu."
"Siapa?"
"Nona Jiya."
"Apa?! Wah ... kau emang bayi besar penguntit ya !!!" Ketusnya.
Aku hanya mengedikkan bahu acuh lalu rebahan telentang. Aku tau dia berjalan ke arah ranjang kingsize lalu duduk ditepi.
"Berapa hari kita disini?"
"3 hari kita disini sebagai sepasang suami istri."
"Yang lain bagaimana?"
"Mereka sudah ada tugas masing-masing."
"Pertama apa yang harus kita lakukan?"
"Berkenalan dengan para suami istri lain di kamar berbeda."
Aku dan Neira bangkit dari ranjang lalu keluar dari kamar merah muda untuk berkenalan dengan pasutri kamar lain.
Darel Pov OFF
...ππππππ...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...