Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 32



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Selamat malam atau tengah malam πŸŒƒ


Author update jam segini di karenakan di dunia nyata author dapat kabar gak mengenakkan kemungkinan menunggu kabar baik di dunia nyata baru author bisa update kembali πŸ™


Gak lama kok sekitar beberapa hari kedepan 😊


Author juga menunda cerita baru alias 2 novel yang akan datang setelah novel ini tamat ,, author hanya bisa mengerjakan 1 novel. Kalo nambah lagi otak author udah 🀯🀭


Siang hari ruang keluarga mansion MD, Anton bersama Ratih, Juwita dan Omar baru saja tiba sampai membawa beberapa bahan makanan untuk ibu hamil. Dengan wajah tersenyum bahagia Ratih terus saja mengelus perutnya, Juwita yang berada disamping kanannya juga tersenyum bahagia.


"Mommy senang dan bahagia sekali sayang. Akhirnya mommy akan memiliki cucu darimu dan Anton." binar Juwita tersenyum bahagia.


"Iya, mom." angguk Ratih tersenyum manis.


"Bibi kepala?" panggil Juwita.


Kepala maid yang dipanggil bergegas. "Ada apa nyonya besar?"


"Bawa barang ini ke dapur selebihnya bawa ke kamar menantuku." perintahnya.


"Baik nyonya." angguk kepala maid lalu mengambil 20 paperbag itu.


Setelah kepala maid berlalu, Juwita tanpa rasa bersalah: "Anton, mommy ingin kamu menceraikan Neira secepatnya."


"Apa maksud mommy?" tanya Anton mengernyitkan dahi.


"Mommy ingin kamu menceraikan Neira, Anton. Karena pernikahan kamu dan Neira sudah berjalan 8 bulan tetapi Neira tidak kunjung hamil juga. Sedangkan Ratih yang sudah kamu nikahi selama 3 bulan sekarang sedang mengandung anakmu." Ucap Juwita.


"Tidak mom. Aku tidak akan pernah menceraikan Neira mom. Aku mencintainya. Kami saling mencintai mom." tolak Anton halus dan keras kepala.


"Jangan keras kepala Anton. Kamu tidak kasian sama Ratih, dia hamil anakmu pasti akan selalu membutuhkanmu selama kehamilannya." Ucap Juwita dengan wajah tidak bersahabat.


"Kalo itu tenang saja mom, mommy tidak perlu khawatir. Anton bisa mengatasinya." yakin Anton.


"Sudahlah sayang, biarkan saja. Lagipula keinginan kita sudah tercapai dimana perusahaan MD Com sudah memiliki pewaris." terang Omar.


"Tapi mas, mas tau sendiri pernikahan Anton dan Ratih tanpa melibatkan menantu mandul kita." sinis Juwita.


"Maka dari itu, kita akan memberitahukan Neira perlahan agar Neira bisa menerima kehadiran Ratih dan anaknya." jelas Omar.


"Ckck... ayah sama anak sama saja." dengus Juwita.


Perdebatan itu di ketahui oleh Neira dan Bonanza yang tiba dimansion MD bersamaan keempat orang tadi tetapi bersembunyi di tembok ruang keluarga.


"Ini yang anda maksud nona muda?" tanya Bonanza datar terkesan sinis.


"ya, ini yang gue maksud Bona. Permainan akan segera dimulai." jawab Neira smirk.


"Anda benar-benar berbahaya nona muda Neira. Sangat cocok berpasangan dengan tuan muda Darel, emperor." batin Bonanza bangga.


"Anda tidak mau masuk agar memberi mereka senam jantung terlebih dahulu?"


"Nanti saja Bona tunggu sampai mantan sahabat gue masuk ke kamar baru kita masuk. Loe siapkan?"


"Ya, saya selalu siap nona muda Neira."


Kembali ke ruang keluarga dimana Anton, Ratih, Juwita dan Omar berada.


"Mommy." manja Ratih.


"Iya, menantu mommy. Ada apa?"


"Ratih ingin istirahat ya mom." manjanya.


"Iya, lebih baik kamu perbanyak istirahat. Anton antarkan istrimu ke kamar." angguk dan perintah Juwita.


...🎞🎞🎞🎞🎞🎞...


Neira yang mengintip dari balik tembok bersama Bonanza hanya melihat kalo Juwita menyuruh Anton untuk mengantar Ratih ke kamar di lantai 2.


"Permainan baru akan segera dimulai." batin Neira menyeringai. "Loe siap untuk drama kali ini hem?" tanyanya ke Bonanza.


"Saya siap nona muda." angguk Bonanza menyakinkan.


"Jangan dengerin omongan mantan mertua gue ya. Loe cukup diam dan berakting ketakutan aja." saran Neira.


Setelah menunggu 15 menit, Neira dan Bonanza masuk ke ruang keluarga dimana Anton melihat Neira. "Sayang."


"Mas." balas Neira lembut dan hangat masih menggenggam tangan Bonanza.


"Masih ingat punya rumah?" sindir Juwita, mantan mertua Neira.


Neira hanya diam tanpa kata sambil menunduk dimana Bonanza juga melakukan hal yang sama menunduk.


"mom." peringat Anton. "Bagaimana perkembangan Bona?" tanyanya Lembut ke Neira.


Neira mendongak dan tersenyum agak dipaksakan: "Bona, perkembangannya makin bagus mas."


"Syukurlah." Ucap Anton bernapas lega.


"Siapa wanita disampingmu itu?" tanya Juwita penuh selidik.


Neira menatap Anton seperti meminta pertolongan membuat Anton mengatakan: "Dia Bona, mom. sepupu dari Neira."


"Numpang apa nginap? Apa dia bekerja?"


"Bukan numpang mom, dia menginap sebulan lebih disini karena menjalani perawatan buat sakit mentalnya kurang lebih 2 bulan lagi."


"Apa?! Itu namanya menumpang bukan menginap. Sudah tidak bekerja terus menjalani perawatan, orang kismin mana punya uang buat berobat. Langsung bawa aja ke RSJ." Ucap Juwita tanpa difilter.


Neira merasakan kalo tangan Bonanza menahan cengkraman agar tidak meledak.


"MOM !!!" bentak Anton tiba-tiba.


"S0N !!!" bentak Omar, mantan mertua Neira yang tidak terima kalo istrinya dibentak oleh anaknya.


"Kamu bentak mommy sayang." Ucap Juwita berkaca-kaca. Sedangkan Neira dan Bonanza tersenyum amat tipis.


"KAMU BENTAK MOMMY HANYA KARENA MOMMY BILANG ITU KEPADA MEREKA?! KAMU DURHAKA ANTON !!!" Ucap Juwita menangis dan menutup wajahnya.


Anton langsung mengusap rambutnya kasar saat kelepasan membentak Juwita. Omar menenangkan Juwita yang sedang menangis tersedu-sedu.


Juwita mendongakkan kepalanya sambil menatap tajam Neira dan Bonanza. Juwita bangkit dari sofa.


Plak


Wajah Neira kearah samping kiri karena pipi sebelah kanan ditampar oleh Juwita. Neira mendapat tamparan itu berusaha menahan amarahnya.


"Hei ... wanita mandul ,,, gara-gara kamu putraku Anton jadi durhaka dan berani membentakku !!!" murka Juwita.


"Dasar nenek sihir sialan beraninya dia menampar gue." batin Neira berusaha menahan amarahnya.


"Mommy !!! Kenapa mommy menampar istriku !!!" bentak Anton tidak terima. "Sayang, kamu tidak apa-apakan?" lanjutnya lembut. Neira hanya menganggukkan kepala saja lalu menarik Bona untuk ke kamar tamu.


Setelah Neira dan Bona tidak terlihat, Anton memandang Juwita dengan kecewa: "Mom, apa salah Neira, istriku?! Sehingga mommy menamparnya?"


"BANYAK ANTON !!! Dia itu banyak salahnya, sudah asal usulnya tidak jelas, mandul, pembawa sial lagi !!! terus kamu berani melawan mommy, membentak mommy hanya karena wanita tidak jelas itu !!! mommy sunguh SANGAT MENYESAL memiliki menantu yang tidak punya sopan santun dan akhlak seperti dia !!!" marah dan murka Juwita sambil merendahkan Neira.


"Ya Allah mom. Nyebut mom, nyebut nama Allah mom." Ucap Anton mengelus dada sabar. "Mom, Anton dan Neira menikah karena saling cinta lagipula kalo Anton dan Neira belum dikasih berarti Allah belum mengabulkannya, Mom." lanjutnya berusaha menyadarkan Juwita.


"Seterah kamu Anton. Tapi mommy mengingatkan prioritaskan Ratih ketimbang istrimu Anton. Awas saja jika Ratih dan kandungannya kenapa-kenapa kamu dan Neira harus PISAH, ingat PISAH." Ucap Juwita memberi saran sekaligus menekan kata "Pisah"


Juwita dan Omar bangkit dari sofa lalu keluar dari mansion MD. Anton terduduk disofa dengan tubuh lemas dan pikiran yang kacau. Dia sungguh dilema menghadapi permasalahan rumah tangganya karena kedua orangtuanya terutama ibunya.


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...