Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 23



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Baru bisa update 😭, Dua hari kemaren author sibuk di dunia nyata terus otak author terkuras 🀯 Yuk kita ke cerita πŸ‘‰


Neira Pov On


Aku, si Darel (bayi besar), tuan Abyan dan Alfa masih berada di pulau tanpa nama bahkan kami menuju gedung arah selatan untuk menemui abang Saguna di temani salah satu pelayan.


Di sepanjang perjalanan, Darel terus saja merangkul pinggangku dan berbisik: "Tenanglah, jangan gugup atau gelisah. Aku berada di dekatmu."


Aku terus menghembuskan napas dan berusaha tetap tenang agar tidak di curigai tetapi aku mendengar sesuatu kalo Darel memberikan perintah singkat kepada seseorang dibalik earphone tersembunyi : "bantu mereka."


Aku tidak tau apa maksudnya BANTU MEREKA.


"Sugar, orangtuamu sebentar lagi akan datamg ke pulau ini." bisiknya pelan agar tidak terdengar.


Aku mendongakkan kepala sambil membulatkan mata saat orangtuaku sudah datang ke pulau ini. "Kapan?"


"Kemaren sore mereka berangkat sugar bersama beberapa orang termasuk adikmu, Bintang." Sekali lagi aku hanya menampilkan wajah syok, heran dan bingung.


Beberapa menit kemudian, kami sampai di gedung Selatan tetapi kami tidak di arahkan ke ruangan melainkan di sebuah tempat terbuka dikelilingi hutan dan ada sebuah gazebo.


"bang Saguna." gumamku lirih tetapi masih didengar oleh si bayi besar.


Tangan kananku semakin kuat mencengkram tangan kanan Darel. Aku merasakan sebuah elusan seperti mengatakan tenanglah, jangan panik atau cemas.


"Selamat datang ke pulau ini, tuan Indra, nyonya Ala." sapa Abang Saguna sambil menyesap minumannya.


"Terima kasih." singkat Darel sambil terus mengusap telapak tangan kirinya di punggungku.


"Kemarilah. Kita berbincang-bincang terlebih dahulu." Ucapnya.


Darel menuntunku ke arah gazebo. Saat berada di hadapan abang Saguna.


"Duduklah." Kami duduk di kursi yang sudah disediakan abang Saguna.


"Tuan Indra, nyonya Ala, apa kalian bersenang-senang di pulau ini?" tanya abang Saguna restoris.


"ya. Kami senang." singkat Darel dingin dan datar.


"Hahahaha ... Tuan Indra, anda mengingatkan saya kepada seseorang hahahaha ...." abang Saguna tertawa tetapi dibalik tawanya menyiratkan penuh arti.


"Tuan Saguna, saudara saya emang seperti ini. Datar dan dingin kepada orang lain tetapi kalo bersama keluarga dan istrinya akan hangat dan lembut." jelas tuan Abyan dengan nada ramah.


Aku hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Lidahku terasa kelu dan bibirku susah mengeluarkan suara. Dibalik meja aku terus saja menggenggam erat tangan kanan Darel.


Neira Pov On


Darel Pov On


Aku merangkul Neira, Abyan dan Tuan Alfa saat ini sedang menuju arah gedung Selatan untuk menemui tuan Saguna ditemani salah satu pelayan.


Disepanjang perjalanan, aku berbisik : "Tenanglah, jangan gugup atau gelisah. Aku berada di dekatmu."


Dia beberapa kali menghembuskas napas agar berusaha tetap tenang. Aku memang sejak awal diperjalanan memakai earphone seperti telinga asli (buatanku sendiri) mendapat kabar dari Gesang bahwa keluarga gadisku akan tiba beberapa jam lagi membuatku memberikan perintah singkat ke Gesang : "bantu mereka."


Tanpa sengaja aku melihat dari ekor mataku kalo gadisku menatapku seperti bertanya.


"Sugar, orangtuamu sebentar lagi akan datamg ke pulau ini." bisikku pelan agar tidak terdengar.


Dia membulatkan mata saat mendengar bisikanku lalu bertanya : "Kapan?"


"Kemaren sore mereka berangkat sugar bersama beberapa orang termasuk adikmu, Bintang." Sekali lagi dia menampilkan wajah syok, heran dan bingung.


Beberapa menit kemudian, kami sampai di gedung Selatan tetapi kami tidak di arahkan ke ruangan melainkan di sebuah tempat terbuka dikelilingi hutan dan ada sebuah gazebo.


"bang Saguna." gumamnya lirih tetapi masih didengar oleh telingaku.


Aku memandang ke depan ternyata melihat seorang pria yang dipastikan bernama Saguna Osric. Aku merasakan cengkraman tangan yang sangat kuat dari gadisku. Tangan kiriku yang menganggur langsung kuusap punggungnya agar dia lebih tenang.


"Selamat datang ke pulau ini, tuan Indra, nyonya Ala." sapa tuan Saguna sambil menyesap minumannya.


"Terima kasih." singkatku sambil terus mengusap punggung gadisku.


"Kemarilah. Kita berbincang-bincang terlebih dahulu." Ucapnya.


Aku menuntun gadisku ke arah gazebo. Saat berada di hadapan tuan Saguna. "Duduklah."


Kami duduk dikursi yang sudah disediakan tuan Saguna.


"Tuan Indra, nyonya Ala, apa kalian bersenang-senang di pulau ini?" pertanyaan retoris tuan Saguna.


"ya. Kami senang." singkatku dingin dan datar.


"Hahahaha ... Tuan Indra, anda mengingatkan saya kepada seseorang hahahaha ...." Tuan Saguna tertawa hambar.


"Tuan Saguna, saudara saya emang seperti ini. Datar dan dingin kepada orang lain tetapi kalo bersama keluarga dan istrinya akan hangat dan lembut." jelas Abyan dengan nada ramah.


Aku sebenarnya sangat mencemaskan gadisku yang sejak tadi diam tanpa mengeluarkan suara bahkan dibalik meja gadisku terus saja menggenggam erat tangan kananku.


Darel Pov Off


...🎞🎞🎞🎞🎞🎞...


Gazebo gedung arah Selatan Pulau Tanpa Nama


"Berapa lama kalian menikah?"


"15 tahun."


"15 tahun?! Lama sekali. Apa anda mencintainya?"


"Ya saya sangat mencintainya."


"Apa kalian sering melakukannya?"


"Ya."


"Jadi kalian ingin membeli seorang bayi agar dijadikan anak?"


"Ya."


Percakapan singkat antara Saguna dan Darel tetap tidak ada suara dari Neira yang sejak tadi diam.


"Ternyata kamu sudah dewasa ya, Aneira. Apa kamu masih ingat denganku atau kamu sudah lupa." pikir Saguna menatap Neira lapar.


Darel melihat tatapan lapar Saguna berusaha menahan emosinya.


"Dasar 🀬." pikir Darel mengumpat dan sumpah serapah.


"Nyonya Ala, kenapa anda diam?" pancing Saguna agar Neira tidak diam.


Neira yang mendengar suara tidak asing seketika mendongakkan wajahnya. Mata Saguna dan Neira bertemu. Neira bisa melihat tatapan melecehkan untuknya tiba-tiba saja tubuhnya bergetar. Darel yang tau hal ini tidak bisa mengendalikan emosinya.


BRAK


Meja kayu dihadapan mereka tiba-tiba terbelah menjadi dua yang disebabkan oleh Darel. Neira seperti mendengar perintah : "Gesang, sekarang."


Baru setelah itu Darel mencengkram kerah baju Saguna dan menempelkan ditembok bahkan membenturkan kepala Saguna kearah tembok agak keras.


Akkkhhh


Teriakan kesakitan Saguna saat kepalanya dibenturkan dan ditempelkan ketembok dimana kedua tangan Darel masih berada di kerah bajunya.


"Sakit hem?" tanya Darel dingin dengan aura membunuh yang pekat.


Bos dan kedua anak buahnya ditahan oleh Abyan, Alfa dan Karim, tidak tau datang darimana. Neira merasakan usapan dipunggungnya membuatnya mendongak.


"Abang Sarka." lirih Neira dengan suara seperti tikus kejepit.


"Lawan Ra. Jangan lemah, jangan terjebak dengan masa lalu. Apa kamu tidak ingat bagaimana perjuangan bibi Gava dan paman Leo untuk menyembuhkanmu?! Lalu bagaimana brutalnya seluruh keluarga besarmu saat dirimu terpuruk?!" tanya Sarka seperti mengingat memori masa lalu Neira.


Dipikiran Neira teringat masa-masa kelam dimana dirinya dilecehkan oleh Saguna dan berusaha untuk menghilangkan trauma Neira.


Sementara aura Darel bak iblis saat ini membuat Saguna tidak bisa berkutik. Darel terus saja menekan tubuh Saguna ke tembok.


"Tuan Darel." Ucap Saguna terbata-bata. "ternyata apa yang dikatakan orang-orang anda sangat berbahaya dari bibi Gava dan paman Leo."


Bibir Darel hanya tersenyum manis, Abyan melihat hal itu meneguk saliva kasar. Kemudian mengedarkan pandangannya ke Neira.


"Nona Neira saya mohon, sadarkan tuan Darel. Saya takut dia akan membunuh tuan Saguna." mohon Abyan menahan si bos.


Neira yang baru saja keluar dari masa lalu tiba-tiba aura malaikat dan iblis dimana wajahnya yang tenang dan santai diliputi kekecewaan dan kemarahan yang mendalam.


Neira bangkit dengan bersiul membuat Alfa, Karim dan Sarka menghubungi rombongan Irsyad dan Athaya agar secepatnya keluar gedung arah Selatan.


Saat Neira tepat berada dibelakang Darel. Dia dengan santai menepuk pundak kiri Darel membuat Darel menoleh dengan senyum manis bak anak kecil.


"Sugar, mau diapakan?"


"Hem. Bermain yok bayi besar." ajak Neira.


Darel mengangguk setuju kemudian tersenyum manis ke arah Saguna. Alfa, Abyan dan Sarka hanya meneguk saliva kasar saat mendengar kata BERMAIN.


"Apa ini akhir dari diriku." pikir Saguna saat melihat mailakat dan iblis berada dihadapannya ini.


Neira dengan santai mengambil obat berwarna hitam dari saku Sarka membuat Sarka gelagabakan. "Ra, sejak kapan kamu ambil obat hitam itu?"


"Maafkan Neira ya bang Sarka. Dan terima kasih bang atas nasigatnya." mohon dan ucap Neira semangat 45.


"Bayi besar, bisa minta tolong buka mulutnya agar gue bisa memberikan obat hitam ini?" pinta Neira manja.


Darel hanya menganggukkan kepalanya saja dan tangan kanan membuka paksa mulut Saguna yang terkatup rapat. Saat mulut Saguna terbuka, Neira langsung saja meminumkan obat hitam itu dan langsung saja menutup rapat mulut Saguna yang berusaha ingin memuntahkan obat itu.


Sebelum obat itu bereaksi dengan wajah tanpa dosa, Darel beberapa kali menghantamkan wajah Saguna ketembok, Neira hanya diam dengan wajah santai dan tenang. Beberapa menit kemudian, obat itu bereaksi dimana mata Saguna berwarna putih. Sementara hidung, mulut dan telinganya mengeluarkan darah segar. Lalu dengan santainya Neira dan Darel sama-sama meleparkan tubuh Saguna tanpa rasa kasihan.


Baru saja rombongan Irsyad dan Athaya datang mereka disuguhkan tubuh Saguna yang berlumuran darah tergeletak begitu saja. Hana dan Irsyad langsung berjalan kearah Neira sambil memeriksa keadaan Neira terlebih dahulu.


"Neira baik paman Irsyad, bibi Hana. Semuanya." Ucap Neira tersenyum hangat dan lembut.


Mereka semua baru pertama kali melihat Neira tersenyum hangat dan lembut ada yang mengeluarkan air mata karena terharu.


"Abyan, susu rasa coklat ada gak?" rengek Darel khas anak kecil. Abyan langsung memberikan dot botol susu rasa coklat.


"Bayi besar, tubuhnya mau diapain? lalu pulau ini mau diapakan?"


"Hem,, tubuhnya kita mutilasi aja." binar Darel. "Terus pulau ini kita bom agar tenggelam." lanjutnya.


Mendengar hal itu Neira setuju saja, yang lain jangan ditanyakan hanya menatap ngeri dan merinding melihat percakapan Neira dan Darel terkesan Neira.


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Segini dulu nanti dilanjutkan lagi...


...part ini panjang loh 🀣...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...