
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat malam dan Hari Senin π
Mengusahakan author update dikala-kala kesibukan didunia nyata π
Yuk kita ke cerita ππ
Markas Cabang Organisasi AZZA kota C
Di ruangan rapat Bintang, Darius, Kenan, Vivi, Lusi, Anita, Fidel serta Ben sedang melihat sebuah video yang dikirim oleh rombongan Neira dan Darel di pulau tanpa nama.
Bintang yang masih dibawah umur diberikan earphone dan penutup mata, berbeda para orang tua menonton sambil mengamati video itu.
Vivi dan Kenan berpelukan bahkan tubuh Vivi terhalang jas Kenan yang kebesaran padahal tangan Kenan sudah bergerilya ke tubuh Vivi tanpa sepengetahuan yang lain. Vivi menahan suara gaib yang ingin keluar dari mulutnya.
"Paman, bibi. Sudah selesai belum?" tanya Bintang.
"Sebentar lagi tuan muda kecil, tunggu sampai 20 menit." balas Anita datar.
"Ya allah, video apaan ini?! kenapa nona muda Neira mengirim video yang tidak boleh di lihat oleh anak yang masih dibawah umur." batin Lusi mengumpat.
"Ya allah, bersyukurlah istriku ada disebelah jadi bisa pegang-pegang." batin Kenan yang asyik main gunung kembar.
"Ya Allah, tahan Vi. Tahan, jangan keluarin suara gaib. Ada tuan muda kecil, masih dibawah umur." batin Vivi berusaha menahan suara gaib.
"Hafla, sayang. Si boy butuh lo." batin Fidel memanggil istrinya, Haflani Ananda, disapa Hafla.
20 menit kemudian, video yang ditonton berakhir lalu Anita melepaskan earphone dan penutup mata bintang.
"Videonya apaan sih? kok Bintang gak dibolehin lihat?" kepo Bintang.
Para orang tua saling pandang. Anita, Ben dan Darius hanya diam karena tidak mungkin memberitahukan kalo video itu ada unsur plus plusnya.
"Video yang dikirim sangat sadis tuan muda kecil. Jadi hanya para orang tua yang diperbolehkan." alibi Anita.
Bintang yang masih polos dan dibawah umur hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Siapa mengirim video itu." Sahut seorang wanita berusia 41 tahun paruh baya dengan nada kesal diikuti seorang pria berusia 46 tahun.
Semua orang menoleh dan para orang tua memasang wajah terkejut berbeda dengan Bintang memasang wajah berbinar.
"Mama/nyonya besar."
Gava dan Leo diikuti Zafar, Miya, Ryker, Hide dan Lucas memasuki ruangan rapat tersebut. Bintang bangkit dari kursi kebesarannya dan berlari memeluk tubuh sang ibu, Gava. Leo juga mengusap kepala sang putra bungsu yang masih dipelukkan sang ibu.
Saat berada dipelukkan Gava, Bintang dengan nada manja dan ceria : "mama, papa. Kalian kesini kok gak bilang-bilang Bintang?"
"Maaf ya baby boy, soalnya mama papa tidak ada rencana untuk kesini." lembut Gava mengusap kepala Bintang.
"Benarkah?! Yah ....." Lesu Bintang. "Tapi kok tumben ayah Zafar, Bunda Miya, dan paman Ryker ikut?! biasanyakan paman Hide dan paman Lucas?!" lanjutnya bertanya. Gava dan Leo saling pandang.
"Baby boy, kita duduk dulu ya." Ucap Gava lembut.
Akhirnya Bintang menuntun Gava dan Leo menuju kursi khusus pemimpin organisasi AZZA. Setelah Gava dan Leo duduk, Bintang mengambil kursi kebesarannya dan duduk diantara kedua orang tuanya.
"Siapa yang mengirim video tadi?" tanya Gava serius.
"Nona muda kecil, nyonya besar." jawab Darius datar. Gava menaikkan salah satu alisnya.
"Iya." angguk Kenan membenarkan.
"Ada kiriman lagi Darius, nyonya besar. Tuan besar." Ucap Lusi melihat layar komputer di hadapannya.
"Dari siapa?"
"Tuan Darel." balas Lusi.
"Darius." Darius langsung mengetik keyboard dan tersambung ke layar besar.
Sebelum video itu ditonton, Gava mengucapkan ke Bintang : "Baby boy, bisakah kamu keluar dari ruangan rapat ini?"
"Kenapa ma?"
"Video ini bukan tontonan untuk anak kecil sepertimu." jelas Gava lembut sambil mengusap pucuk kepala Bintang.
Bintang bangkit dari kursi lalu mencium kedua pipi orangtuanya lalu tersenyum manis dan polos. "kalo tangtang sudah dewasa, Tangtang bisa lihat video itukan."
Gava dan Leo menganggukkan kepalanya. Bintang berjalan kearah pintu keluar di ikuti Anita dan Ben. Setelah itu, para orang tua melihat video yang dikirim oleh Darel.
Gava mengepalkan tangannya saat tau dalang dari semua ini adalah Saguna Osric, mantan putra mahkota Atmaja. Sedangkan Zafar dan Miya memasang wajah syok dan kaget, berbeda dengan Leo memasang wajah datar khasnya.
Video bedurasi hampir sejam itu, membuat para orang tua memasang berbagai macam ekspresi.
"Baby, lebih baik kita segera ke pulau itu. Masalah pulau itu tidak boleh dibiarkan terlalu lama."
"iya, baby. Jet pribadi kita sudah siap sejak kita datang ke kota ini. Sebaiknya kita bawa Bintang, baby.."
"Iya, kamu benar. Kenan, lo ikut gue. Bantu jaga putra gue bersama Anita dan Ben." Gava mengangguk sekaligus memberi perintah.
"Baik, nona besar." hormat Kenan.
"Hide hubungi Karim, Lusi hubungi suami lo dan yang lain, Zafar hubungi putra lo." Perintah Gava dingin lagi.
Gava dan yang lain bangkit dari kursi masing-masing menuju jet pribadi.
...ππππππ...
...Dikit ya ??? Maaf ya author capek dan gak kuat lagi π΅Author kasih visualnya deh π...
Neira (sering bilang Darel si bayi besar π€£)
Darel (Si bayi besar dengan botol dot bayi)
Anton (Suami Neira dan Ratih)
Ratih (Istri kedua Anton sekaligus Sahabat Neira)
Alfa (Asisten, tangan kanan sekaligus saudara)
Bintang (Sibungsu tiga keluarga kerajaan)
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...