
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat pagi atau siang reader π
Author kemaren kesana kemari, padahal anak-anak author mau liburan dan jadwal author longgar π
Neira Pov On
Hari sudah mulai sore, aku yang masih berada di perusahaan calon suamiku, jiyah calon suami ππ Aku duduk santai di sofa tamu sambil menonton drama action dari laptop si bayi besar. Lalu seseorang menepuk pundak kananku membuat kepalaku menoleh ke arah kanan.
"Ada apa?"
"Kita pulang sugar."
"Pulang?"
"Iya, Kamu keasyikan menonton film action."
"Emang pukul berapa?"
"Pukul 3 sore."
"Bukannya kantormu pulang pukul 5 sore ya. Ini 2 jam lebih awal. Kerjaanmu emang sudah beres ya?"
"sudah semua sugar, 30 menit yang lalu."
Sekarang aku dan bayi besar memanggil aku-kamu, kalo memanggil gue-loe bisa-bisa diriku jebol karena ancaman yang dikeluarkan setelah makan siang.
Sebelum keluar dari ruangan ceo, aku memasang masker dan topi sekaligus hoodie agar tidak ada orang yang melihat wajahku. Setelah itu dengan manjanya aku merentangkan kedua tanganku ke arah si bayi besar, disambut dengan senyum manis dan lembut bak permen dan gula.
Si bayi besar menggendongku ala koala sekaligus menyelimuti tubuhku dengan jasnya. Kepalaku berada diceruk leher kanan si bayi besar.
Bayi besar berjalan kearah pintu keluar dimana Bonanza dan tuan Abyan sudah menunggu. Bonanza dan tuan Abyan sudah biasa melihat pemandangan pasangan di depannya ini. Aku, si bayi besar, tuan Abyan dan Bonanza berjalan kearah lift khusus ceo.
Di dalam Lift menuju lantai dasar perusahaan. Aku yang berada di gendongan si bayi besar mendongakkan kepalanya lalu wajahku dan si bayi besar berhadapan.
"Bayi besar, apa yang akan kamu lakuin kepada mantan suamiku agar dia tidak curiga?" tanyaku penasaran.
"nanti kamu akan tau sugar." sahutnya tersenyum manis.
Aku memasang wajah cemberut karena gagal mengetahui rencana si bayi besar. "Bilang aja susah banget sih?! pake rahasian segala."
Ting
Pintu lift terbuka membuatku menyembunyikan wajahku diceruk leher si bayi besar. Di lobby perusahaan, aku melihat para karyawan memandang diriku dengan kebingungan dan penasaran.
"hati-hati kepalamu sugar." lembutnya saat ingin memasuki mobil. Aku dan si bayi besar duduk dikursi belakang bahkan kami duduk berpangkuan. Di kursi depan tuan Abyan menjadi supir disebelahnya Bonanza.
Mobilpun bergerak keluar dari perusahaan EV com. Ditengah-tengah perjalanan, tiba-tiba saja ide jahil terlintas di kepalaku. Aku yang berada dipangkuan si bayi besar, pinggangku bergoyang menbuat si bayi besar menggeram dan menahan pinggangku dengan kedua tangannya.
"Apa yang kamu lakukan sugar?" seraknya menatapku tajam.
Aku hanya memandang polos dan berkedip beberapa kali ke si bayi besar sebenarnya di dalam hati: "kepancing gak loe, siapa suruh pangku gue."
Akupun gak kehabisan akal lalu dengan nakal dan menggodanya aku membuka kancing tengah celana si bayi besar sehingga si boy sudah tiap tempur.
"Kamu pengen hem?! tenang aku servis dulu sebelum pulang. Buat kenang-kenangan. Jangan mengeluarin suara gaib, tahan ya agar MP kita nanti aku akan lebih dari ini." bisikku menggoda dan agresif sekaligus mengancam.
Tanganku asyik dengan si boy membuatnya memasang wajah datar dengan napas memburu. Dia yang tidak tahan langsung menyembunyikan di ceruk leher kananku.
"Sugar, percepat." seraknya lirih dan mengeluarkan suara geraman.
Aku terus saja melakukan dengan tanganku sampai 25 menit, dia mengeluarkan dimana aku sudah menyiapkan tisu untuknya.
"Bagaimana? kamu suka?" godaku.
Dia menganggukkan kepala.
"Kita sudah sampai tuan muda Darel, nona muda Neira." sahut tuan Abyan menghadap kebelakang.
Akupun memasukkan kembali boy si bayi besar dan mencium bibir si bayi besar sekilas lalu keluar dengan wajah merah padam.
Aku dan Bonanza berjalan sekitar 50 meter dari gerbang mansion MD. Di sepanjang perjalanan aku sungguh malu karena aku tiba-tiba saja agresif ke Darel.
"Nona muda sakit?" tanya Bonanza datar terkesan khawatir membuatku menoleh dan menggelengkan kepala. "Terus kenapa wajah nona muda seperti kepiting rebus?" lanjutnya.
"Gue agresif gak sih Bona?" tanyaku.
"Maksud anda?"
"Tadi di mobil gue cium bibir Darel walaupun sekilas." maluku dengan pipi merona merah.
"Saya tidak tau karena saya belum pernah menyukai pria." jawabnya datar terkesan polos. Akupun menepuk jidat karena lupa kalo Bonanza sangat polos dalam hal cinta.
"Bona, apa kamu menyukai seseorang?" tanyaku memancingnya. Aku melihat respon wajahnya yang datar tetapi ada semburat merah dipipinya.
"Siapa?" pancingku lagi.
"Tuan Alfa." ceplosnya langsung menutup mulut.
"Alfa, loe menyukai Alfa. Sejak kapan?" tanyaku kaget.
"Saat anda memperkenalkan saya kepada tuan Alfa waktu di cafe."
"Cinta pandangan pertama." anggukku paham.
Aku dan Bonanza sudah tiba di gerbang mansion MD lalu satpam membuka gerbang. Baru saja beberapa langkah aku dan Bonanza memasuki mansion. Aku melihat 2 mobil terparkir di depan pintu mansion dengan bagasi terbuka dan beberapa koper di dalamnya.
"Mas Anton." sapaku.
Mas Anton melihatku dan berjalan kearahku lalu menggenggam tanganku.
"Ada apa?"
"maaf sayang, aku akan pergi keluar kota karena ada proyek bersama perusahaan EV com."
"Berapa lama?"
"Sebulan sayang."
Seketika aku teringat perkataan si bayi besar.
"Ternyata ini yang kamu maksud bayi besar agar dia tidak curiga."
"Sama siapa?"
"Ratih, sayang."
Aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Lalu dia mencium keningku dan pergi dimana Ratih sudah dulu berada di dalam mobil.
Neira pov Off
...ππππππ...
Darel Pov On
Hari ini aku sungguh senang, selain hari pernikahanku seminggu lagi. Aku juga mendapat servis dari calon istriku.
Aku bahkan membayangkan kalo Neira memakai pakaian lucknut saat MP. Saking asyiknya di dunia fantasy, aku tidak menyadari kalo Neira ada dihadapanku bahkan aku tanpa sadar menarik tubuh Neira dihadapanku sehingga aku memangkunya. "sugar, aku mencintaimu. Kenapa kamu selalu ada disekitarku."
Aku langsung mencium bibir Neira secara intens. Akupun merasakan manis dan kenyal bahkan berusaha menerobos Neira.
"Auuu sakit." ringisku yang baru saja sadar dari fantasy.
"su-sugar, ke-kenapa ka-kamu di-disini?" tanyaku terbata-bata.
"loe nyuruh gue kesini bayi besar. katanya ada yang mau loe omongin." decaknya kesal.
Diriku teringat 2 hari yang lalu saat terbang ke kota sebelah untuk menemui kedua orang tuaku dan calon istriku untuk mempersiapkan pernikahannya yang tinggal 10 hari lagi. Bibi Gava dan Anne sangat antusias bahkan acaranya diselenggarakan di mansion Evangelion.
"Halo, bayi besar. Jangan melamun dulu." sahutnya sambil mengusap kedua telapak tangannya ke wajahku.
Aku tersadar kembali langsung menenggelamkan ke gunung kembar favoritku dan menghirup aroma parfum stroberynya.
"Pernikahan kita tinggal 6 hari lagi sugar." gumamku manja.
"iya, gue tau. kapan kita berangkat ke kota sebelah?"
"lusa, sugar. Kita akan berada di kota sebelah sekaligus bulan madu selama sebulan."
"Sebulan?! lama sekali?! bagaimana dengan mantan suami gue. Loe tau sendiri, dia masih belum tau kalo sudah cerai?!"
"Itu sudah aku pikirkan sugar. Kamu tenang saja. Nanti saat kamu pulang ke mansionnya, kamu akan tau apa yang akan aku lakukan."
"baiklah."
Kepalaku merasa nyaman saat dielus oleh Neira bahkan aku makin mengeratkan pelukanku dan menyembunyikan wajahku di gunung kembar. Aku juga tidak sadar kalo pinggulku bergoyang dan boyku membengkak dibalik celana.
"Bayi besar." lirihnya sambil mengeluarkan suara gaib. Aku sudah kepalang tanggung langsung saja melepaskan celanaku dan celana Neira. Bahkan diri kami hanya memakai pakaian atas.
"Loe mau gue jebol hem?" sarkasnya sambil melirik boyku bak tiang.
"Gak akan sugar, main diluar aja, jepit." serakku. menahan sakit.
"Gak, gue gak mau."
"sugar, tolong aku." mohonku puppy eyes.
Aku melihat ekspresi wajahnya seperti bingung dan dilema. Aku yang tidak tahan langsung menarik tangannya sehingga tubuhnya berada di atasku bahkan rumahnya tepat diatas boyku. Aku menekan pinggangnya bahkan menggerakkan perlahan sehingga kami sama-sama mengeluarkan suara gaib.
"Sungguh jepitanmu enak sugar." pikirku keenakan dengan mata merem melek.
Kami melakukannya hampir 2 jam, Neira yang kelelahan hanya bersandar di dada bidangku dengan mengambil napas sedangkan aku hanya mengusap punggung Neira.
"terima kasih sugar. Coba kita nikah dipastikan kamu tidak bisa jalan." Ucapku sambil mengelus pucuk kepala Neira.
kkkrrrruuucccuuukkk
Suara perutnya yang berbunyi membuatku langsung menekan ponselnya dan menyuruh Abyan serta Bonanza membelikan makanan dan pakaian wanita.
Tok tok tok
"masuk." sahutku dengan suara dingin dan datar karena ada yang mengetok pintu.
Ceklik
Abyan membuka pintu, tubuhnya dan Bonanza memasuki ruangan dan melihat pemandangan dimanaku sedang di kursi kebesarannya sambil mengerjakan berkas dengan jas berada di belakang.
"lama. Bona, masuklah. Bantu Sugar."
"Baik, tuan muda Emperor."
Bonanza melangkah ke ruangan pribadiku. Lalu melanjutkan mengerjakan berkas yang tertunda dihadapanku. Aku sama sekali tidak sadar bahwa Neira menutup berkas lalu menarikku untuk makan terlebih dahulu. Setelah makan siang, aku mengeluarkan ancaman jangan memakai loe-gue, harus aku-kamu.
Aku baru saja selesai mengerjakan berkasku dimana jam menunjukkan pukul 3 sore. Aku melihat kalo calon istriku sedang fokus menonton film action. Akupun bangkit dan berjalan kearahnya lalu menepuk pundak kanannya membuatnya menoleh.
"Ada apa?"
"Kita pulang sugar."
"Pulang?"
"Iya, Kamu keasyikan menonton film action."
"Emang pukul berapa?"
"Pukul 3 sore."
"Bukannya kantormu pulang pukul 5 sore ya. Ini 2 jam lebih awal. Kerjaanmu emang sudah beres ya?"
"sudah semua sugar, 30 menit yang lalu."
Sebelum keluar dari ruangan ceo, dia memasang masker dan topi sekaligus hoodie agar tidak ada orang yang melihat wajahnya. Setelah itu dengan manjanya dia merentangkan kedua tangannya ke arahku, ku sambut dengan senyum manis dan senang hati.
Aku menggendongnya ala koala sekaligus menyelimuti tubuhnya dengan jasku yang agak besar. Kepalanya berada diceruk leher kananku.
Aku berjalan kearah pintu keluar dimana Bonanza dan Abyan sudah menunggu. Aku, Neira, Abyan dan Bonanza berjalan kearah lift khusus ceo.
Di dalam Lift menuju lantai dasar perusahaan. Dia mendongakkan kepalanya dimana wajah kami saling berhadapan.
"Bayi besar, apa yang akan kamu lakuin kepada mantan suamiku agar dia tidak curiga?" tanyanya penasaran.
"nanti kamu akan tau sugar." sahutku tersenyum manis. "Maaf ya sugar." Dia memasang wajah cemberut karena gagal mengetahui rencanaku.
Ting
Pintu lift terbuka membuatnya menyembunyikan wajahnya diceruk leherku. Di lobby perusahaan, aku hanya memasang wajah datar dan dingin khasku lalu melihat mobil sudah terparkir di lobby.
"hati-hati kepalamu sugar." lembutku saat ingin memasuki mobil. Aku dan Neira duduk dikursi belakang bahkan kami duduk berpangkuan. Di kursi depan Abyan menjadi supir disebelahnya Bonanza.
Mobilpun bergerak keluar dari perusahaan EV com. Ditengah-tengah perjalanan, aku merasakan kalo Neira menggoyangkan pinggulnya membuatku menggeram keenakan dan menahan pinggulnya.
"Apa yang kamu lakukan sugar?" serakku dengan tatapan tajam. Dia memandang polos dan berkedip beberapa kali ke arah ku.
Sepertinya aku merasakan kalo salah satu tangannya membuka kancing tengah celanaku sehingga boyku sudah keluar dari sarangnya.
"Kamu pengen hem?! tenang aku servis dulu sebelum pulang. Buat kenang-kenangan. Jangan mengeluarin suara gaib, tahan ya agar MP kita nanti aku akan lebih dari ini." bisiknya menggoda dan agresif sekaligus mengancam.
Tangannya asyik dengan si boyku membuatku memasang wajah datar dengan napas memburu. Karena aku tidak tahan langsung menyembunyikan di ceruk leher kananku.
"Sugar, percepat." serakku lirih dan mengeluarkan suara geraman.
Dia terus saja melakukan dengan tangannya sampai 25 menit, aku mengeluarkan dimana sudah ada tisu untuk menampung airku.
"Bagaimana? kamu suka?" godanya.
Aku menganggukkan kepala.
"Kita sudah sampai tuan muda Darel, nona muda Neira." sahut Abyan menghadap kebelakang.
Dia memasukkan kembali boyku dan mencium bibirku sekilas lalu keluar dengan wajah merah padam. Aku melihat ke agresifnya hanya menggelengkan kepala saja. Aku dan Abyan menunggu sekitar 15 menit agar Neira pulang dengan selamat. Setelah 15 menit, mobil kami berjalan kembali ke mansion.
Darel pov Off
...ππππππ...
...Part terpanjang ya π...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...