Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 54



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Selamat hari senin malam atau tengah malam reader 😘😘


Author 2 minggu ini sepertinya random deh update ,, gak nentu soalnya sebagian anak author banyak ganti jadwal les katanya PTMnya berkloter,, ada yang masuk pagi ada yang masuk siang ,,, author dan staf kantor sampai bingung πŸ˜… tapi syukurlah sudah fiks 😁


Jadi updatenya gak nentu ya 😘


Insiden mati lampu πŸ˜‚


Pagi hari sekitar pukul 8 pagi di rumah sederhana, Pulau R terdapat dua manusia yang berpelukan dan terdampar di pulau empuk dengan selimut tebal sebagai penutup tubuh polos mereka, siapa lagi kalo bukan bulan madu antara Darel dan Neira.


Suara deburan ombak, angin laut, serta kicauan burung hanya sebagai pengantar tidur bagi pasutri muda ini. Tadi malam dua pasutri itu sedang melakukan ritual yang biasa dilakukan pasutri pada umumnya. Bahkan keadaan ruangan mereka dipastikan sudah seperti tsunami.


Kepala Neira berada di lengan kanan Darel sehingga Neira memperat pelukannya serta menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami, Darel yang merasakan pergerakan kecil dari Neira sedikit terusik. Perlahan-lahan kedua mata Darel terbuka sempurna. Dia tersenyum manis dan hangat ke Neira yang masih tertidur pulas.


Darel melihat jam dinding menunjukkan pukul 8.15 pagi, membuatnya menekan salah satu telpon khusus agar seseorang menyiapkan sarapan untuknya dan Neira.


"Tanganku kebas ya Allah,, tapi gak apa-apa deh demi istri tercinta. Tunggu 15 menit lagi." pikir Darel mencium pucuk kepala Neira dan mengambil beberapa helai rambut yang menutupi wajah sang istri tercinta.


Pukul 08.30 pagi, Darel dengan hati-hati mengambil bantal untuk kepala Neira agar Neira bisa tidur lebih lama lagi. Selimut tebal yang dikenakan mereka sudah melorot memperlihatkan punggung mulus dan stempel membuat Darel tersenyum amat lebar.


"Hasil karya ku ternyata bagus juga." pikir Darel melihat stempel yang bertebaran dari punggung dan leher.


Darel mencium kening dan bibir Neira lalu mengatakan: "tidurlah yang nyenyak sugar."


Darel bangkit dari ranjang kingsize dengan perlahan-lahan menuju kamar mandi dengan keadaan tubuh benar-benar polos.


Setelah Darel berada dalam kamar mandi, perlahan-lahan Neira membuka matanya karena waktu Darel memindahkan kepala Neira ke bantal, Neira sedikit terusik.


Neira berusaha untuk duduk walau rumahnya masih sakit dan ngilu bahkan tubuhnya remuk redam akibat pertempuran tadi malam: "Sssshhh ... rumah gue sakit sekaligus ngilu, tubuh gue berasa diinjak-injak. Bayi besar, staminamu sungguh luar biasa tadi malam."


Neira melihat sekitar ruangan yang seperti tsunami dan angin ****** beliung bahkan Neira langsung bersembunyi di balik selimut karena kejadian tadi malam membuatnya selalu membayangkan.


"Iiihhhh ... Neira, loe omes banget sih. Jangan diingat dong kejadian tadi malam itu." pikir Neira menggelengkan kepalanya dibalik selimut.


Darel yang baru saja keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandi sambil menggosokan rambutnya dengan handuk kering hanya mengernyitkan dahinya heran karna melihat kelakuan Neira yang menurutnya aneh dan ajaib.


"Istriku kenapa?!" pikir Darel.


Darel bergegas berjalan ke arah ranjang kingsize dan menarik selimut Neira tiba-tiba sehingga sang empu berteriak dengan sangat melengking dan membahana.


Aaaaaaaa


Teriakan Neira membuat Darel langsung menutup telinganya langsung. Bersyukurlah Neira menahan selimut tebal itu agar tubuh polosnya tidak terekspos dari sang predator πŸ˜‚


"Bayi besar, kamu ngapain tarik selimut hah?! Bikin aku kaget tau gak?!" Ucap Neira ngegas.


"Sugar, seharusnya aku yang nanya kamu lagi ngapain? Tutup selimut sambil geleng-geleng kepala?" tanya Darel balik.


Neira hanya cengengesan lalu menunduk malu.


"Sugar, ayo katakan? Ada apa?" desak Darel.


"Iiii ... gak bisa bayi besar, aku malu."


"Malu kenapa?"


"Tadi malam." cicit Neira membuat Darel melongo dan melihat sekitar ruangan.


Darel yang paham langsung menggoda Neira bahkan duduk di hadapan Neira membuat Neira reflek menarik selimut sampai batas leher.


"Enak gak tadi malam?" goda Darel naik turun. Neira yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya malu.


"Mau lagi gak." goda Darel sambil menaik turunkan alisnya.


Plak


Neira memukul dada Darel manja dengan tangan kanan.


Darel bangkit dari ranjang bahkan mengangkat Neira ala bridal style membuat kedua tangan Neira reflek mengalung di leher Darel.


"Saat kamu mandi sugar. aku sudah menyiapkan air hangat dan aroma khusus stroberry untukmu." sahut Darel menuju kamar mandi.


"Terima kasih." Ucap Neira mencium bibir Darel. Darel malah memperat gendongannya agar Neira bisa leluasa menciumnya.


Sampai di kamar mandi, Darel meletakkan tubuh Neira di bathup dengan hati-hati.


"panggil aku 30 menit." ucap Darel mencium bibir Neira sekilas. (Nanti banyak ciuman ya antara Darel dan Neira, apalagi nanti season 2nya, Darel dan Neira akan lebih ganas karena banyak lebah bertebaran 🀣)


Darel keluar dari kamar mandi lalu suara ketokan pintu membuatnya berjalan kearah pintu.


"Ini tuan, masakan untuk anda dan nyonya muda Emperor." sahut pelayan pribadi Darel.


Darel mengangguk saja dan mendorong stroller berisi makanan untuk sarapan pagi yang tertunda.


30 menit telah berlalu


"Bayi besar." teriak Neira dengan suara manja.


Darel yang sejak tadi menyiapkan makanan untuk mereka, bergegas ke kamar mandi untuk membantu Neira. Setelah Neira berada di gendongan Darel ala bridal style dari arah kamar mandi.


Darel meletakkan tubuh Neira di ranjang kingsize lalu membuka koper warna pink yang diberitukan oleh Embun dan Gava. Darel melihat tumpukan botol ternyata ramuan buat Neira dan dirinya. (Darel dan Neira masih menggunakan jubah mandi, belum berpakaian)


Darel mengambil salah satu salep khusus wanita dan berjalan ke arah Neira.


"Sugar."


Neira mengangkat wajahnya dimana Darel mengambil salep warna putih.


"Buat apa?"


"Gak tau, tapi ini salep khusus rumahmu deh."


"Hah?!"


"iya, khusus rumahmu."


"Sini." Sahut Neira mengadahkan kedua tangannya tetapi salep itu disembunyikan oleh Darel.


"Kenapa disembunyiin sih." lanjutnya heran.


"Aku yang akan melakukannya sugar." sahut Darel membuat wajah Neira bak kepiting rebus.


"Sugar, bisa bukanya selimut." pinta Darel.


Neira yang malu tidak membuka selimutnya sama sekali.


"kenapa?"


"Malu bayi besar. Lebih baik aku aja deh." cicit Neira.


"Emang bisa?" tanya Darel mengangkat salah satu alisnya.


Neira menggelengkan kepalanya. "Masih perih, ngilu dan sakit." cicitnya terendam selimut tebal.


"Makanya lebih baik aku saja sugar." Ucap Darel.


"Tapi kamu ingat jangan modus." ucap Neira sedikit mengancam.


"gak janji." ucap Darel tersenyum manis.


Akhirnya Darel dengan telaten mengurus Neira. Neira sesekali mendesis dan mengeluarkan suara gaib.


"Tahan Darel, tahan imanmu. Istrimu masih sakit, nanti kalo udah gak sakit lagi." pikir Darel berusaha menahan sesuatu yang bergejolak.


Setelah selesai, Darel membawa stroller ke dekat ranjang kingsize. Mereka makan saling suap-suapan di atas ranjang kingsize.


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Author bikin ini masya allah panas dingin 🀣 Jadi jangan dikomentar untuk author, komentar aja tiap paragraf 🀭...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...