
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Masih di Pulau Tanpa Nama
Neira berjalan kearah tubuh Saguna yang sudah tidak bernyawa. Wajah Neira yang tenang dan santai, wajah Darel apalagi malah seperti anak kecil mendapat mainan baru juga berjalan kearah tubuh Saguna sambil meminum susu coklat di dot botol bayi.
Saat berada di hadapan tubuh Saguna dengan wajah tanpa dosa dan bersalah, Neira menatap Darel dengan puppy eyes.
"Mau apa?"
"Pisau." binar Neira.
Darel mengambil pisau kecil yang sangat tajam dan kuat dibalik pergelangan kaki kanannya lalu memberikannya ke Neira.
"Terima kasih." Neira tersenyum manis dan langsung memutilasi tubuh Saguna di tonton oleh Darel, Athaya, Abyan, Sarka, Karim, Alfa, Irsyad, Hana, Arwan dan Bobby serta beberapa anak buah organisasi AZZA dan mafia Black Blood.
Bobby mendekati Arwan alias memeluk lengan Arwan, Arwan yang risih beberapa kali melepaskan lengan Bobby.
"Lo apaan sih Bob? Lepasin gak?" bisik Arwan kesal.
"Aike takut Wan. Lo lihat gak wajah nona muda kecil Neira?" bisik Bobby sedikit gemetar dan bertanya.
"iya, gue liat Bob. Wajah nona muda Neirakan emang seperti itu." bisik Arwan yang tidak tau maksud dari perkataan Bobby.
Aaaakkkkhhh
Teriakan Arwan akibat dicubit pinggangnya oleh Bobby membuat semua orang menoleh.
"Lo ngapain cubit gue, Bob?" marah Arwan menahan sakit.
"Gue gemes setan." sarkas Bobby.
"Paman Arwan, paman Aily ganggu kesenangan Neira tau gak." dengus Neira dengan wajah cemberut dimana pisau kecil berlumuran darah itu menetes di jari-jari tangan Neira.
Arwan hanya memasang wajah santai karena dia juga psikopat haus darah berbeda dengan bobby meneguk saliva kasar saat melihat pisau itu. Neira yang tau kalo wajah Arwan dan Bobby berbeda, ide jahil Neira tiba-tiba muncul.
"Paman Arwan, ada kerjaan untuk paman." Neira memasang senyum manis dan ceria membuat Arwan berbinar. "Tuan Abyan, Alfa dan paman karim serahkan bos dan 2 orang anak buahnya itu ke paman Arwan." lanjutnya memberi perintah.
Abyan menatap Alfa seperti meminta pendapat. Alfa menganggukkan kepalanya tanda menyetujui. Bos dan kedua anak buahnya meneguk saliva kasar saat diserahkan ke Arwan, si psikopat haus darah.
Darel yang sudah selesai meminum susu coklat dari dot bayi menyerahkan dot bayi itu ke Abyan lalu menghampiri Neira yang asyik dengan mainannya.
"Sugar, berhenti. Dia sudah tiada."
Neira menghembuskan napasnya beberapa kali saat dihadapan tubuh Saguna tidak terbentuk lagi. Neira bangkit dari tubuh Saguna dimana ada darah dimana-mana.
"Ternyata mama sama papa terlambat ya baby girl." Ucap seorang wanita paruh baya diikuti pria paruh baya menggendong seorang pemuda berusia 16 tahun memakai penutup mata diikuti sepasang pasutri paruh baya, seorang pria berusia 34 tahun dan 3 manusia robot.
"mamah, papah, tangtang."
"bunda, ayah."
panggil Neira dan Alfa bersamaan ke arah Gava, Leo, Bintang, Miya dan Zafar.
Miya merentangkan tangannya karena Alfa bak anak kecil berlari dan langsung memeluk Miya dengan erat. Zafar menghampiri kedua orang kesayangannya.
"Bunda, ayah. Kapan kalian datang?"
"Baru saja boy."
Berbeda dengan Neira yang ingin memeluk Gava tetapi Gava mengangkat telapak tangannya kedepan denga mengatakan: "berhenti."
"mama kenapa?" Neira mengerucutkan bibirnya.
"Mama gak mau dipeluk, kamu bau darah baby girl." jelas Gava lembut lalu mengedarkan pandangannnya dan melihat Arwan sedang bermain dengan para tawanan dimana bos dan dua anak buah diikat di 3 pohon.
"Wow, Arwan." takjub Gava. Arwan menoleh ke sumber suara dan menunduk hormat.
"Apa tawananan itu dikasih Neira?" tanya Gava memastikan.
"Iya, nyonya besar." angguk Arwan membenarkan.
Sementara Darel dan Leo saling berhadapan. Bintang diserahkan ke gendongan Ben. Bintang yang kedua matanya masih ditutupi kain hanya diam saja karena perintah kedua orang tuanya.
"Tuan Darel."
"Tuan Besar Leo."
Sapa Darel dan Leo sambil berjabat tangan dan tersenyum sangat tipis.
"Anak ini sangat berbeda dari Embun dan Arlo, sangat berbahaya." pikir Leo menatap wajah Darel dengan seksama.
"Begini ya rasanya berjabat ke calon papa mertua, berasa berjabat dengan pak penghulu." pikir Darel dengan jantung berdisko ria.
"Sudah dilakukan?" singkat Leo dingin dan datar.
Neira, dia sudah masuk ke gedung Selatan untuk mencari kamar mandi bersama Hana dan Ryker.
Beberapa menit kemudian, Gesang datang dengan membawa rombongan mafia Black Blood terlatih menghadap Darel.
"Tuan muda." Sapa Gesang datar.
"Selesai?"
"Ya."
"Kosong?"
"2 jam yang lalu."
"Berapa lama?"
"1 jam dimulai dari sekarang."
Gava mendengar hal itu seketika: "bocah, lo gak strresskan? Lo kira sekitar sejam selamat hah?" amuknya.
Darel dan Gesang mendengar amukkan Gava hanya meneguk saliva kasar, mereka lupa kalo Gava merupakan wanita yang paham arti kode-kodean tetapi gak peka dan lola.
"Sini mana remotenya, gue undur 30 menit." sarkas Gava mengangkat telapak tangannya ke arah Gesang.
Gesang menatap Darel, Darel menyetujuinya. Remote yang berisi bom waktu diserahkan ke Gava. Gava mengatur ulang bom waktu tersebut menjadi 1 jam 30 menit.
Leo tanpa disuruh sudah menyuruh anak buah organisasi AZZA yang menjadi pilot membawa jet pribadi agar ke gedung arah Selatan karena lokasinya hampir 5 km (ngarang π€£)
"Nyonya besar, apa itu?" tanya Bobby penasaran.
"Ooo ini ... remote kontrol pengendali bom waktu agar pulau ini tenggelam" jawab Gava polos dan santai.
"APA?!" teriak mereka bersamaan kecuali Leo, Bintang, Kenan, Athaya, Karim, Ben, Anita, Lucas dan Hyde.
"Nyonya besar, berapa waktu yang diperlukan?" tanya Arwan terbata-bata.
"1 jam 30 menit tapi sekarang 1 jam 20 menit." jawab Gava gak peka sama sekali.
"Nyonya besar, tempat jet pribadi kita 5 km dari arah gedung selatan."
"terus?"
"Bagaimana kita bisa selamat ke tempat jet pribadi dengan waktu segitu π" pasrah Zafar.
"Yang diatas apaan?" tunjuk Gava ke atas dimana puluhan jet pribadi tiba 10 menit.
Mereka semua menoleh ke atas dan menatap Gava dengan pandangan kagum membuat Leo kebakaran jenggot akibat cemburu : "tundukkan mata kalian dari wajah dan tubuh istriku."
Semua para pria langsung menundukkan kepala kecuali Zafar, Kenan, Irsyad, Athaya, Ben dan Lucas yang hanya menahan tawa melihat kecemburuan Leo tidak berdasar. Berbeda dengan Abyan dan Gesang yang tiba-tiba menundukkan kepala mereka tanpa alasan yang jelas.
15 menit kemudian, Neira keluar bersama seorang gadis berusia 14 tahun, Hana dan Ryker membuat Gava berjalan kearah putri bungsunya.
"Lama sekali." Ucap Gava lembut memeluk Neira dengan penuh kasih sayang.
"maaf tadi Neira bertemu seorang gadis 14 ini." balas Neira dipelukan sang ibu tercinta.
Neira dan Gava melepaskan pelukannya lalu Gava menatap gadis 14 tahun ini dengan pandangan menyelidik.
"Siapa namamu manis?"
"Zalfa Naqiyah." Ucapnya terbata-bata dan menunduk takut, kandidat calon istri Bintang.
"Jangan takut, bibi gak gigit kok." lembut Gava kepada Zalfa.
Zalfa mendongakkan kepalanya dan tersenyum khas anak kecil membuat Gava tersenyum lembut.
"Baby, sebaiknya kita masuk ke jet pribadi. Waktu yang diperlukan tersisa 50 menit." Ucap Leo agak keras sambil menggendong Bintang.
"Iya, baby." sahut Gava agak keras. "Manis, ikutlah dengan kami. mau kan?" tanya Gava.
"Iya." lirih Zalfa.
"Hana bawa anak ini ke jet pribadi." titah Gava.
"Baik nyonya besar." angguk Hana. "Ayok ikut bibi." ajaknya ke Zalfa.
Mereka semua masuk ke jet pribadi masing-masing. Di dalam jet pribadi khusus untuk Gava-Leo, Zafar-Miya, Bintang, Neira, Alfa, Abyan, Darel, Kenan, Athaya, Anita, Ben, Lucas, Hide dan Ryker sangat tenang dan damai.
Tempat duduk Leo dan Gava. Gava tidur dipangkuan Leo bahkan selimut membungkus tubuhnya sampai sebatas leher Gava. Kedua kaki Leo diluruskan. Dibalik selimut itu, Leo membuka kancing bajunya agar Gava tetap nyaman dan hangat.
Tempat duduk Miya dan Zafar. Miya juga tidur dipangkuan Zafar bedanya tubuh Miya dimiringkan agar kepalanya bersandar didada bidangnya.
Tempat duduk Kenan dan Athaya lebih leluasa karena dijadikan tempat tidur. samahalnya Darel dan Abyan juga ikut tertidur. Neira dan Bintang tidur di kamar jet pribadi berbeda dengan Alfa, tidur di kursi yang sama dengan yang lain. Para manusia robot hanya memantau para tuan dan nyonya mereka.
...ππππππ...
...Baru update ya guys π€ Author kemaren istirahatkan otak dulu π€£...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...