
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat malam π Masih edisi author usahain buat update π Author bulan ini sungguh padat di dunia nyata, kalo mau dunia perhaluan disela-sela author curi saat kerja π Yuk kita ke cerita πππ
Setelah pertemuan di gedung Timur, di ruangan kerja di lantai 3, tubuh Saguna berdiri sambil memandang jendela besar ditemani oleh bos dan dua anak buah serta beberapa pengawalnya.
"Siapa wanita itu? Kenapa wajahnya tidak asing untukku?" pikir Saguna memandang pemandangan hijau.
"Bos." Ucap Saguna membalikkan tubuhnya dari jendela.
"iya tuan Saguna. Apa ada masalah?"
"Iya. Saya menanyakan ada berapa orang pasutri yang mendaftar?"
"Hampir 10 pasang yang terakhir tuan Indra dan nyonya Ala."
"Tuan Indra dan nyonya Ala?!"
"Iya tuan Saguna."
"Identitas pasangan itu?"
"Tuan Indra, berusia 34 tahun dan seorang direktur dari perusahaan EV com sedangkan nyonya Ala, istri dari tuan Indra berusia 34 tahun. Mereka disini karena ingin membeli seorang bayi." jelas bos.
"Tuan Saguna apa ada masalah?"
"Tidak ada." Ucap Saguna menggelengkan kepalanya.
"Tuan Saguna." panggil salah satu pengawal yang baru saja datang. Saguna, bos dan dua anak buah hanya diam menunggu ucapan dari pengawal.
"Saya mendapat kabar bahwa perusahaan MD com sempat colaps." ucapnya.
"Colaps?! Kapan?!"
"Tadi pagi tuan Saguna. Sekarang perusahaan MD com sudah stabil karena campur tangan tuan muda Antonio."
"Bagaimana keadaan Ratih, putriku?"
"Nona muda Ratih juga tidak apa-apa tuan Saguna. Tapi saya mendapat kabar bahwa nona muda Ratih dan tuan muda Antonio sedang berada di apartemen lama. Bahkan selama 2 hari, saya tidak melihat nona muda Neira, istri pertama tuan muda Antonio."
"Kemana perginya istri pertama Antonio?"
"Ke kota seberang karena pamannya sakit, jadi selama seminggu nona muda Neira akan disana."
"Aneh?! Seminggu. Ada yang tidak beres." pikir Saguna. Saguna mendapat kabar dari mata-matanya bahwa dia menjalankan misi disuatu tempat.
"Bos, apakah ada foto pasutri tuan Indra dan nyonya Ala?" tanya Saguna ke bos.
Bos menyerahkan berkas pasutri Indra dan Ala. Saguna membuka berkas itu dan melihat Ala dengan seksama.
"Aku mendapatkanmu Neira. Ternyata kamu berada di pulau tanpa ini menjalani misi. Tetapi siapa pria ini?! Kenapa aku tidak mengenalnya?! Saguna jangan dipikirkan lebih baik fokus ke Neira agar bibi Gava dan paman Leo menangis darah." batin Saguna dengan berbagai ekspresi.
Bos dan kedua anak buahnya melihat ekspresi Saguna yang berbeda-beda hanya saling pandang.
"Dimana kamar nyonya Ala dan tuan Indra?"
"Kamar merah muda gedung Barat tuan Saguna. Kalo boleh tau untuk apa anda kesana?" jawab dan tanya bos.
"Cuman mau berkenalan saja." balas Saguna tersenyum tipis padahal didalam tertawa.
Di kamar merah muda gedung Barat, Darel sejak tadi memasang wajah datar dan dingin karena Alfa dan Abyan mengikuti mereka alias tidur di kamar yang sama. Neira yang berada di ranjang kingsize hanya mengedikkan bahu acuh.
"Kalian tidak keluar?" tanya Darel dingin dan datar bahkan auranya sama sekali tidak bersahabat. Alfa dan Abyan menggelengkan kepala tanda menolak. "Ganggu." dengus Darel datar dan dingin.
"Maafkan saya tuan Darel, saya melakukan ini karena saya tidak mau terjadi apa-apa sama nona muda Neira." Ucap Alfa datar membuat Darel memutar matanya malas dan menatap tajam. (Gak bisa tempur akibat gangguan upin dan ipin π€£)
"Sepertinya kalo di kerjain asyik juga." batin Neira. "Kalian nanti tidur dimana?" tanya Neira yang akhirnya buka suara menatap ketiganya.
"Lantai/ranjang." jawab Alfa dan Darel bersamaan kemudian menatap sengit.
"Jawaban yang benar?"
"Lantai/ranjang." Sekali lagi jawaban berbeda dari Alfa dan Darel membuat Neira dan Abyan menatap satu sama lain.
"Siapa diranjang? Siapa di lantai?" tanya Neira sekali lagi.
"Nona muda/kita." jawab Alfa dan Darel berbarengan tetapi Alfa langsung menatap tajam Darel dengan protes. "Apa maksud anda tuan Darel? Anda ingin satu ranjang dengan nona muda Neira, BIG NO. Saya tidak setuju."
"Saya hanya ingin menjalankan peran saja sebagai seorang suami." Ucap Darel tidak mengalah.
"Peran suami hanya diberkas palsu yang anda buat tuan Darel, bukan diberkas asli." sindir Alfa telak.
"Sudah, sudah. Jangan berdebat. Kalian bertiga tidur di lantai. Ada kasur cadangan dilemari. Biarkan aku di ranjang sendiri." putus Neira mutlak.
Mendengar keputusan mutlak Neira membuat Abyan dan Alfa puas berbeda dengan Darel memasang wajah puppy eyes seperti protes tetapi Neira tetap menolah halus dengan cara menggelengkan kepalanya.
Alfa, Darel dan Abyan tidur di kasur lantai berbeda dengan Neira yang tertidur di ranjang kingsize. Darel memasang wajah frustasi, Abyan memasang wajah kasian berbeda dengan Alfa memasang wajah penuh kemenangan.
3 jam kemudian Neira, Alfa dan Abyan tertidur pulas berbeda dengan Darel yang sejak tadi tidak bisa tidur. Darel melihat Abyan dan Alfa yang tertidur pulas, bangkit dari kasur dan mengendap-endap ke ranjang kingsize. Neira yang juga tertidur pulas sama sekali tidak merasakan kalo Darel sudah masuk ke dalam selimutnya.
Darel sedikit mengangkat selimut Neira dan melihat pakaian Neira tertutup hanya bisa menghela napas. "Sugar, tubuhmu sudah menjadi candu untukku jadi kita main bentar ya agar aku bisa tertidur pulas. Kamu tetap gadis kok, cuman main atas doang." batin Darel mesum.
Darel memainkan aksinya, dia menekan salah satu tombol di ranjang kingsize membuat selimut perlahan-lahan terangkat sekitar beberapa sentimeter.
Darel perlahan-lahan mengangkat kaos Neira sampai sebatan leher. Lalu salah satu tangan Darel mencari pengait kain mini pelapis gunung kembar. Setelah terlepas Darel langsung menyerang gunung kembar Neira yang sudah bebas.
Di dalam tidurnya Neira merasakan ada seseorang yang bermain dan perlahan-lahan membuka mata.
"Bayi besar." serak Neira dengan suara gaib.
Darel mendongakkan kepalanya tanpa melepaskan mulutnya dari gunung kembar Neira. Lalu terus bermain digunung kembar Neira.
20 menit kemudian, Darel melepaskan mulutnya dari gunung kembar Neira. Neira melihat wajah Darel seperti menahan sesuatu.
"Ada apa?"
"Dibawah sakit. Pengen di elus." Ucapnya manja.
"Tapi ..." ragu Neira.
"Pake tangan aja, turun naik." ucap Darel memohon.
Neira diam sambil menatap Darel. Darel sudah melepaskan celananya dan boy sudah berdiri tegak. Salah satu tangan Darel mengambil tangan Neira untuk diarahkan ke boy.
"mainin. Sakit." rengeknya. Mau tidak mau Neira memainkan boy Darel. Darel juga melakukan hal yang sama ke Neira. (Cukup sampai sini, author gak kuat π€£)
Hampir 30 menit, Darel dan Neira melakukan hal itu dan masing-masing mengeluarkan air. Darel dan Neira mengambil tisu untuk membersihkan tempat masing-masing dengan cara membelakangi.
Kemudian Darel menekan salah satu tombol dan bangkit dari ranjang kingsize menuju kasur lantai. Neira juga merebahkan diri di ranjang kingsize. Neira dan Darel sama-sama tertidur pulas. Alfa dan Abyan sama sekali tidak mengetahui kegiatan panas Neira dan Darel.
...ππππππ...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...