
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat malam π Author sepertinya akan mengusahakan tetap update π Jangan tanyakan karena di dunia nyata dan dunia perhaluan tumpang tindih membuat kepala author kadang mumet π΅
Yuk kita ke cerita πππ
Anton Pov On
Tepat pukul 11 siang mobilku dan Ratih berada di pintu utama perusahaan MD Com.
"Sayang turun lebih dulu biarkan aku memakirkan mobil kita." Lembut Ratih manja.
"Terima kasih sayang." Lembutku mencium bibir Ratih.
Aku keluar dari dalam mobil bergegas masuk ke perusahaan kemudian Ratih membawa mobilku ketempat parkiran khusus Ceo.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan rapat, banyak karyawan menyapaku dan aku balas dengan senyum manis dan ramah. Aku memasuki lift khusus ceo dan menekan tombol angka 12 untuk ke ruang rapat.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai 12, aku bergegas menuju ruangan rapat. Saat di ruangan rapat ada Pablo dan beberapa direktur serta beberapa IT memasang wajah lesu, lemes dan putus asa.
"Tuan muda Anton." Sapa Pablo hormat membuat orang yang berada disana menghormatiku.
"Bagaimana perusahaan tiba-tiba saja kolaps dan saham juga turun mendadak? Bukannya kemaren baik-baik saja?" Tanyaku berusaha tenang.
"Saya sedang berusaha mencari tau tuan muda. Tetapi sistem IT kita tiba-tiba di retas?"
"Apa?!" Pekikku kaget.
"Iya, tuan muda Anton. Itu terjadi beberapa jam lalu."
"Sebaiknya kita berusaha untuk memulihkan sistem IT perusahaan terlebih dahulu baru yang lain." Perintahku lalu duduk di kursi kebesaran.
Aku dan yang lain berusaha membersihkan virus perusahaan IT terlebih dahulu, baru mencari tau yang lain. Ratih berada disebelah tempat dudukku. Dia juga melakukan hal yang sama. 4 jam kemudian, kami selesai membersihkan virus itu. Lalu mencari tau kenapa tiba-tiba saja saham merosot.
8 jam kemudian, permasalahan selesai satu persatu membuat keadaan perusahaan MD com kembali seperti semula. Aku bernapas lega dan bersandar di sofa dengan dasi dan jas yang sudah ku lepaskan sejak 6 jam yang lalu.Β Β
Aku melihat pukul 11 malam di pergelangan tanganku dan melihat wajah lelah pablo, beberapa direktur dan beberapa IT.
"Kalian semua pulanglah. Sisanya biarkan saya yang menangani." Perintahku.
"Baik tuan muda Antonio."
Beberapa direktur dan ahli IT keluar dari ruangan rapat tersisa aku, Ratih dan Pablo.
Ratih duduk dipangkuanku dan memeluk tubuhku manja. Pablo yang biasa melihat pemandangan ini hanya diam dan acuh.
"Capek gak?" Tanyanya manja bahkan membuat pola abstrak di dada bidangku. Aku menganggukkan kepala.
"Kita ke apartemen aku yang lama ya." Ajaknya manja.
"Mau apa kesana?"
"Lebih dekat, lagipula bajumu dan bajuku masih ada di apartemen itu." Manjanya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum manis.
"Pablo, pulanglah."
"Bagaimana dengan Tuan muda dan nyonya muda."
"Kami akan ke apartemen yang lama."
"Baiklah."
Aku, Ratih dan Pablo keluar dari ruang rapat. Aku dan Ratih menuju apartemen dulu yang ditempati Ratih.
Anton Pov Off
...πππππππ...
Kamar hotel AG kota C
Resmi dan Intan berada di ranjang kingsize sedangkan Radith dan Akbar berada di sofa panjang.
"Ternyata si Anton, Anton ini termasuk pria yang tergolong cerdas ya. Masalah perusahaan hanya 12 jam saja dia menanganinya." Celetuk Intan.
"Cerdas dari mana?! Ini kan permainan yang sangat ringan dan mudah." Decak dan Sarkas Resmi.
"Serah lo lah. Otak lo dan otak gue berbeda." Dengus dan decak Intan.
"Kita cuman ini aja kan?" Tanya Intan menatap ketiganya. Mereka menganggukkan kepala.
"Yahhh .... gak seru !!! Permainannya terlalu ringan." Decak Resmi cemberut.
"Lo mau permainan seperti apa?! Lo lupa pesan mama, kita hanya menyentil sedikit aja." Ucap Intan bangkit dari ranjang kingsize mengambil 4 botol berbagai jenis minuman soda. Resmi hanya cengengesan.Β
"Bisa gak Neira melakukannya?" Pikir Resmi lalu menatap Radith, Intan dan Akbar. Mereka hanya mengedikkan bahu dan meminum soda.
"Kita berkemas. Jet pribadi akan tiba 30 menit lagi." Ucap Radith.
Akbar bangkit dari sofa dan Resmi bangkit dari ranjang kingsize. Pasangan itu keluar dari kamar Radith dan Resmi.
...ππππππ...
Darel Pov On
Saat ini aku berada di ruangan perawatan pulau tanpa nama. Neira, gadisku masih terbaring lemah di ranjang pesakitan. Aku terus saja menggenggam tangan gadisku yang tidak di infus. Abyan dan tuan Alfa duduk di sofa pojok.Β
"Sugar, kapan kamu bangun? Kata dokter 4 jam lagi kamu akan bangun. Kenapa masih saja tertidur?" Lirihku.
Tiba-tiba saja aku merasakan jari-jari Neira bergerak dan perlahan-lahan membuka matanya, membuatku tersenyum lebar dan bernapas lega.
Aku mengambil gelas air putih dan membantu Neira meminumnya. Setelah minuman gelas itu habis. Aku membaringkan Neira kembali.
"Dimana? Kenapa?" Tanyanya lemah.
"Ruang perawatan sugar. Kamu pingsan saat kita kembali ke gedung utama."
"Alfa." Lirihnya menatap tuan Alfa membuat wajahku masam dan cemburu.
Tuan Alfa mendekat ke sisi sebelahnya. "Ada apa?"
"Bang Saguna Alfa. Dia masih hidup." Lirihnya mencengkram tanganku.
Aku merasakan dari cengkraman tangannya Neira seperti ketakutan yang sangat luar biasa.
"Tenanglah nona muda. Anda akan baik-baik saja."
"Tapi aku takut kejadian itu terulang kembali." Isaknya.
"Kejadian apa?"
"Tidak akan nona muda. Anda sekarang sedang menyamar jadi kita tidak akan ketauan."
"Semoga saja. Tapi aku tetap takut Alfa."
"Nona muda, hilangkan ketakutanmu. Percayalah semua akan baik-baik saja." Neira hanya menganggukkan kepala.
"Sugar, ada apa dengan dirimu? Kenapa kamu begitu ketakutan ketika melihat tuan Saguna?"
"Ehem-ehem ... asyik bener ya saling genggaman tangan padahal belum jadian dan SAH." Sindir Abyan membuat genggamanku dan Neira terlepas.
Aku menatap dingin dan datar ke arah Abyan. Yang ditatap hanya memutar kepalanya kesana kemari.
"Bayi besar terima kasih." Lirihnya tulus. Aku hanya tersenyum lembut ke arahnya.
Darel Pov OFF
...ππππππ...
Neira Pov On
Di alam bawah sadar, aku mengingat kejadian 4 tahun yang lalu dimana diriku di culik oleh abang Saguna setelah pulang dari sekolah. Aku perlahan-lahan membuka mata dan melihat sekeliling seperti gedung tua yang tidak layak pakai bahkan tubuhku diikat di sofa panjang.Β
"Sudah bangun manis." Ucap suara yang tidak asing ditelingaku. Aku mendongakkan kepala dan melotot tidak percaya bahwa abang saguna melakukan penculikan ini.
"Abang." Lirihku sendu.
Dia bersmirk ria dan tersenyum misterius. "Berapa usiamu?"
"16 tahun mau jalan 17 tahun bang beberapa bulan lagi." Balasku lirih.
"Wow ... usia yang pas ya." Ucapnya ambigu.
"Maksud abang?" Polosku tidak mengerti.
Dia mendekatiku dan berbisik. "Bersiaplah manis. Gara-gara orang tuamu diriku jadi sebatang kara."
Aku hanya bingung dan tidak mengerti maksud dari ucapannya. Dia langsung menciumku secara brutal dan kasar. Aku yang baru pertama kali mendapatkan serangan ini menampilkan wajah syok dan kaget.
Aku berusaha melawan tetapi tidak bisa karena tubuhku diikat. Aku terus berteriak meminta pertolongan tetapi tidak ada yang menolong saat ini. Aku tidak sadar bahwa tubuhku tidak memakai apapun dan mengeluarkan suara gaib sampai tubuhku lemes tidak berdaya. Saat abang Saguna ingin melakukan sesuatu, tubuhnya terlempar yang disebabkan oleh tiga gadis cantik yang mirip sekali dengan wajah keluargaku.
"Kalian siapa?"
"Kami kembaran bang Bintang."
Aku menatap tidak percaya bahwa kembarang Bintang alias ketiga adikku yang meninggal saat dilahirkan menyelamatkanku.
"Bangunlah aa. Ada seseorang yang menunggumu bahkan dirinya layaknya zombie."
"Ikuti cahaya itu aa."
Aku mengikuti cahaya itu. Perlahan-lahan ku gerakkan jari-jari terlebih dahulu baru membuka mata. Aku melihat Darel tersenyum lebar dan bernapas lega.
"Air."
Darel mengambil gelas air putih dan membantuku meminumnya. Setelah minuman dari gelas itu habis. Dia membaringkanku kembali.
"Dimana? Kenapa?" Tanyaku lemah.
"Ruang perawatan sugar. Kamu pingsan saat kita kembali ke gedung utama."
"Alfa." Lirihku menatap Alfa.
Alfa mendekat ke sisi sebelahnya.
"Ada apa?"
"Bang Saguna Alfa. Dia masih hidup." Lirihku mencengkram tangan seseorang.
"Tenanglah nona muda. Anda akan baik-baik saja."
"Tapi aku takut kejadian itu terulang kembali." Isakku mengingat kejadian itu.
"Tidak akan nona muda. Anda sekarang sedang menyamar jadi kita tidak akan ketauan."
"Semoga saja. Tapi aku tetap takut Alfa."
"Nona muda, hilangkan ketakutanmu. Percayalah semua akan baik-baik saja." Aku menganggukkan kepala.
"Ehem-ehem ... asyik bener ya saling genggaman tangan padahal belum jadian dan SAH." Sindir tuan Abyan membuat genggamanku dan Darel terlepas.
"Bayi besar terima kasih." Lirihku tulus. Dia hanya tersenyum lembut ke arahku.
Neira Pov OFF
...ππππππ...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...