Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 49



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Selamat hari Senin lagi 😘😘


Author update siang atau sore reader 😘


Jadwal author mengalami perubahan karena anak didik author yang sudah besar sudah masuk PTM 😘


Darel Pov On


Masih ingatkah part 40 πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ dimana aku bersama kedua orangtuaku, Abyan dan Bonanza di jamu di mansion tamu keluarga calon istriku.


Bayangkan saja bibi Gava dan anne menyepakati aku dan sugar tidak diperbolehkan 3 hari untuk bertemu sampai waktu pernikahan Neira.


Di mansion tamu RR, aku sungguh cemburu karena sepupu calon istriku berada di dekat calon istriku alias calon istriku diapit oleh dua sepupu laki-lakinya. Sedangkan aku diapit oleh kedua orangtuaku.


"Sabar nak ,,, biarkan mereka melepas rindu. Nanti saat Neira sudah menikah denganmu, dia akan susah memeluk sembarangan pria berbeda kecuali ayah dan saudara kandung laki-lakinya. " sahut baba menenangkanku sambil menasehati.


"Tapi ba-" "Jangan sekarang nak, baba tau kamu cemburu tetapi kalian masih belum menikah. Kamu tau sendiri bagaimana sikap calon mertuamu terutama tuan Leo. Tuan Leo sangat berbahaya ketimbang nyonya Ayya." Ucapanku dipotong oleh Baba yang terus saja memberiku petuah.


Aku hanya menghela napas pasrah lalu mengambil botol dot bayi di tas yang aku pangku kemudian meminumnya membuat seorang pria paruh baya langsung tersedak.


"sayang kamu kenapa?" tanya bibi Grace menepuk punggung tangan pria paruh baya itu.


"tidak apa-apa." jawab pria paruh baya itu. "Kamu, kenapa minumnya pakai botol dot bayi?" tanyanya memperhatikanku.


Semua orang menoleh ke arahku, aku yang ditatap hanya memasang wajah polos sepolos bayi yang baru lahir membuat bibi Ayya langsung tertawa terbahak-bahak.


"Hahahahahaha." tawa bibi Ayya sambil memegang perutnya sementara bibi Grace, paman Lou, tuan Amzar dan tuan Ahsan ~ saudara sepupu calon istriku hanya melongo tidak percaya.


"Nei, ternyata benar ya kalo dia disebut bayi besar." sahut tuan Ahsan ceria. Neira hanya menganggukkan kepala.


Sedikit flashback aja ya 🀭


...🎞🎞🎞🎞🎞🎞...


Pagi hari sekitar pukul 7 pagi, tubuhku berada dibalkon kamar lantai 3 menghirup udara sekaligus berjemur. Aku hanya memakai celana panjang tanpa kaos sehingga otot perut, tangan dan dada bidangku terlihat begitu hot dan terlihat akibat sering ngegym.


"3 hari lagi sugar. Kita akan SAH menjadi suami istri. Aku sungguh tidak sabar." pikirku tersenyum bak orang tidak waras sambil memandang langit cerah.


Seseorang menepuk pundak kananku membuatku tersadar dari lamunanku dan wajahku menoleh kesamping kiri ternyata baba tersenyum lembut dan hangat.


"Apa yang kamu pikirkan son? sampai kamu memandang langit?"


"Neira, ba." jawabku membuat baba tersenyum simpul. "3 hari lagi hari pernikahan kami. Aku sungguh tidak sabar untuk membawanya ke kastil Evangelion." lanjutku memandang lurus kedepan.


"Ya, kamu benar." angguk baba. "Son, saat pernikahanmu berlangsung. Seseorang tetua dari beberapa tetua akan melihat masa depan Neira dengan cara menyentuh tangan dan menatap dalam matanya." jelasnya.


"ya, baba. Kai tau itu." balasku memahami maksud dari penjelasan baba.


Baba menepuk pundakku lalu berlalu keluar dari kamarku. Akupun mengambil ponselku yang terletak di meja dekat cemilan dan teh hijau. Saking kangen dan rindunya aku memakai VC karena 3 hari kami tidak diperbolehkan ketemu.


Hampir 10 menit baru VC antara diriku dan Neira, calon istriku.


"Ha-" "Wajahmu kenapa sugar?! Kamu Sakit?!" Aku memotong salamnya dengan nada panik dan cemas karena aku melihat wajahnya pucat bak zombie.


"Aku ba-" "baik-baik bagaimana?! Wajahmu pucat sekali?! Sugar dimana mama dan papa?!" Sekali lagi aku memotong ucapannya.


Mendengar suara geraman seperti marah membuatku mengangguk seperti anak kecil dan menutup mulut.


"Ya Allah mulut, nanti ya bicaranya. Jangan asal semprot. MP nanti gagal." pikirku mengingat 3 hari lagi hari pernikahan kami.


"Tamu gue datang makanya gue jadi lemes gini." lirihnya menjelaskan membuatku bingung dengan kata tamu.


"Hah?! Tamu? Mana sugar, kamu dikamar sendirikan?" tanyaku polos dengan dahi mengkerut lalu melihat sekitar kamarnya yang tidak ada orang sama sekali.


Aku semakin bingung saat dia malas menjelaskan tanpa menjawab. "iya, tamu gue datang. Gue di kamar sendiri. Kalo pria asing atau teman masuk kamar gue sudah di jadikan makanan para hewan buas oleh orang tua gue."


"Terus kalo kamu sendiri? Kenapa tadi kamu bilang tamu sugar?" tanyaku lagi dengan nada gemes dan pengen nabok calon istriku.


Dia hanya terkekeh membuatku memasang wajah cemburu: "Sugar, jangan melamun. Jawab mana tamunya?"


"Loe pernah mendengar istilah sebulan sekali kalo semua cewek pasti tamu datangkan?" kodenya.


Aku terdiam sambil memikirkan kodenya.


"Cewek sebulan sekali, tamunya datang. Apaan?!"


30 menit kemudian, aku baru sadar yang dimaksud oleh Sugar adalah masa periodenya. Wajahku pun menatap bawah dimana boy berada.


"Kalo tamunya datang masa iya MPku nanti gagal saat hari pertama menikah."


Lalu aku pun kembali ke layar dengan wajah memelas: "Jadi si boy gak akan bisa masuk sarangnya dong?"


Dia membenarkan perkataanku dengan cara menganggukkan kepala.


"Berapa hari sugar tamumu selesai?" tanyaku lesu.


"7-8 hari bayi besar. Jadi sabar ya." sahutnya seperti menggoda biarpun wajahnya pucat membuatku tidak tega.


Aku hanya mengangguk lesu, lemas, letih dan lunglai karena MPku bisa di hari 4-5 pernikahan. Aku terus memandang wajah calon istriku yang lemas dan pucat. "Istirahatlah sugar. Apa kamu sudah makan?"


"Sudah. Mama, mommy Grace dan bunda Miya melakukannya untukku bayi besar."


"Baiklah, kamu tidurlah. Apa perlu aku menyanyikan sebuah lagu untukmu?"


"Iya, aku mau."


Akhirnya aku bernyanyi lewat VC membuatnya lama kelamaan tertidur nyenyak. Kemudian aku mematikan VCan kami dan bergegas mengambil kaos press body lalu keluar dari kamarku.


Aku bergegas menuju lift karena kamarku berada di lantai 3. Setelah memasuki lift, aku menekan ke tombol lantai dasar. Tidak sampai 5 menit, aku sampai di lantai dasar.


Aku menuju ruangan dapur dimana Anne ada berada disana.


"loh, Kai. Kenapa kamu disini?" tanya Anne heran.


"Anne, bikinin jamu buat orang lagi yang sedang masa periode tiap bulan."


"Tumben, emang siapa? jangan bilang calon menantu anne ya?"


Aku menganggukkan kepala membuat Anne tertawa terbahak-bahak bahkan mengatakan : "gagal deh bikinin anne cucu di hari pertama pernikahan kalian hahahaha."


Aku yang malu hanya menutup wajahku. Setelah anne puas tertawa, dia membuat jamu khusus untuk calon istriku.


Darel Pov Off


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...