
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat malam atau tengah malam reader π
Seketika dapat jatah libur π
Karena 2 hari lagi tahun baru jadi author kumpul sama keluarga dan metime π
H-5 Pernikahan Neira dan Darel
Setelah hari kemaren perginya Anton dan Ratih keluar kota, keesokan harinya tepatnya pagi hari Neira dikejutkan dengan kabar tidak menyenangkan pasalnya Bintang, sang adik bungsu tengah mengambek membuat Neira, Darel, Bonanza, Abyan, Alfa, paman Karim, paman Ben dan bibi Anita sedang berusaha merayu.
"Tang, sudah dong ngambeknya ya." rayu Neira sambil memeluk sang adik.
Bintang hanya diam tanpa kata dengan wajah datar dan dingin. Neira mengamati wajah Bintang seperti kecewa, marah dan kesal.
"Seharusnya gue ngomong aja ya sama Bintang, jadikan gak akan seperti ini?! selama inikan nih anak yang selalu stay bersama gue." pikir Neira merasa bersalah kepada Bintang.
"Bintang, maafkan abang ya. Seharusnya abang Darel dan kakakmu membicarakan ini bersamamu." sahut Darel lembut berusaha merayu Bintang tetapi tetap sama.
Alfa, Bonanza dan Abyan juga diam karena masalah ini lebih baik diselesaikan oleh Neira, Darel dan Bintang langsung.
"Tang, kamu kecewa sama aa?! kamu marah sama Aa?! atau kamu kesal sama aa? ngomong dong, biar aa tau, jangan diam aja bak patung?" tanya Neira beruntun dengan nada lesu dan merasa bersalah.
"lebih tepatnya kecewa, marah dan kesal sama aa dan abang Darel." ketus Bintang menatap lurus kedepan.
"maafin aa ya tang, seharusnya aa memberitahukanmu terlebih dahulu setelah aa diberitahukan Darel sudah cerai dengan mantan suami aa." Neira menangkup wajah Bintang dan menatap mata Bintang dalam.
Mata Bintang dan Neira saling bertatapan dan Neira kaget saat Bintang mengeluarkan air matanya membuat Neira memeluk sang adik kecil.
"Seharusnya aa bilang ke Bintang kalo aa cerai dengan mantan suami aa. Aa tau kan Bintang sayang banget sama Aa. Bintang merasa gagal buat ngelindungin aa. Apalagi Bintang mendapat kabar bahwa aa ditampar oleh si nenek sihir itu. Mama dan papa aja tidak pernah memukul atau menampar kita, paling cuman menghukum di ruang hukuman." sahut Bintang mengeluarkan isi hatinya.
"Iya, aa tau. tapi bagi aa kamu itu sudah melindungi aa, tang. Kamu disini aja menandakan kamu selalu ada buat aa jika aa terkena masalah." ucap Neira membenarkan sambil memeluk Bintang.
Neira dan Bintang tidak tau kalo Darel sejak tadi sudah terbakar cemburu dan matanya selalu menatap tajam Bintang seperti musuh.
"Sugar sudahan dong pelukannya, seharusnya di posisi kamu itu aku, bukan pria lain." batin Darel cemburu dan selalu menatap Bintang bak elang diketahui oleh Alfa dan Abyan.
"Tuan muda Darel, tolong dikondisikan wajah anda. Tuan muda Bintang bukan pria lain tapi calon adik ipar anda." batin Abyan cemas.
"Ternyata selain si bayi besar, anda ternyata pencemburu akut ya tuan muda Darel. Apa salahnya sih kalo tuan muda Bintang dan nona muda Neira pelukan, lagipula mereka saudara kandung juga." batin Alfa menggelengkan kepalanya.
"Kapan berangkat ke kota sebelah A? Tangtang kangen sama mama papa?" tanya Bintang bermanja ria dan ceria.
"Besok pagi kita berangkat ke kota sebelah. Gak kamu aja kangen sama papa mama, aa juga kangen sama mereka." balas Neira memeluk Bintang.
Bintang merasakan perasaan yang tidak nyaman dari belakang. Dia menolehkan kepalanya dan menatap tajam Darel. Dibalas tatapan tajam oleh Darel.
"Kalian berdua bisa gak sih sehari saja akur? Heran deh aku sama kalian berdua seperti tom and jerry tau gak kalo ketemu." sahut Neira kesal.
Mendengar hal itu Bintang dan Darel mengubah wajah mereka tersenyum dipaksakan tetapi mata tetap saja mata tajam dan melotot.
Bintang juga melakukan hal yang sama yaitu memberi kode lewat mata: "biarpun jadi istrimu, gue bisa ambil perhatian kakak gue dengan cara gue."
"Aa." manja Bintang sambil menyeringai ke Darel. Neira yang mengetahui hal itu hanya bisa bersabar. "Ya Allah bantu neira, mendamaikan tom and jerry ini." batin Neira berdoa sambil mengelus pucuk kepala Bintang.
"Ya, tang." balas Neira lembut.
"Aa sudah packing belum?"
"Sudah."
"Kita tidurnya di kamar markas cabang organisasi AZZA."
"Ide yang bagus. Aa juga mau tidur disana. Lagipula kita berangkat lewat jalur udara menggunakan pesawat pribadi RR jadi gak perlu repot-repot beli tiket." Ucap Neira menatap Alfa, Darel dan yang lain.
"Sugar, kenapa tidak di mansionku saja." tawar Darel membuat Bintang dan Neira menatap tajam bak pedang ke arah Darel.
"Tuan Darel terhormat, aaku seorang wanita terhormat. Lagipula kalian berdua masih belum menikah jadi harus terpisah." Bintang mengatakan dengan nada tegas dan tidak bisa diganggu gugat.
Darel menatap Neira dengan pandangan puppy eyes tetapi Neira menggelengkan kepalanya.
"Aku setuju apa yang dikatakan Bintang, bayi besar." angguk Neira menyetujui. "Gue tau akal bulus loe bayi besar, tidur dimansion loe lalu satu kamar dan minta DP. Ooo tidak bisa." pikir Neira yang paham maksud tawaran Darel.
"Ck ... aku gagal membujuk sugar atau calon adik ipar,, kan kalo dimansion bisa minta DP dulu baru deh pas sudah SAH digempur." pikir Darel kesal.
Mereka ini berada dirumah sederhana bukan di mansion Darel atau markas organisasi AZZA. Organisasi AZZA maupun mafia Black Blood mengetahui kalo Neira dan Anton sudah cerai akibat campur tangan Darel, si calon suami dari Neira.
"Sebaiknya kita makan siang dulu baru deh kita ke markas organisasi AZZA." sahut Neira menatap mereka.
"Iya, nona muda Neira. Kita ke cafe Ardhias, saya sudah memesankan makanan untuk kalian semua baru kita ke markas organisasi AZZA." Ucap Alfa.
Mereka semua menganggukkan kepala setuju. Lagi-lagi Neira dan Darel masuk dengan mobil terpisah membuat wajah Darel tidak bisa digambarkan lagi.
...ππππππ...
Siang hari di cafe Ardhias, tepatnya di ruangan VVIP Neira, Bintang, Darel, Abyan, Alfa, dan Bonanza sedang makan siang dengan tenang dan damai kecuali Anita, Ben dan Karim.
"A" panggil Bintang.
"Hem."
"Aa, kalo nikah nanti aa akan tinggal di mansion abang Darel terus tangtang akan kesepian lagi deh." Ucap Bintang sendu dan lirih.
"Siapa bilang kamu tinggal dirumah sederhana Bintang." Sahut Darel datar membuat Neira, Bintang, Alfa, Abyan dan Bonanza menoleh. "Kamu akan tinggal di mansion kami bersama Bonanza dan Alfa. Jangan ada protes." lanjutnya mutlak dan mengancam.
"Serius?!" tanya Bintang dan Alfa bersamaan. Darel menganggukkan kepalanya.
"Tuan muda Emperor. Kenapa saya juga anda Bawa?" tanya Bonaza Datar.
Darel menatap Abyan. Abyan yang ditatap kemudian menatap Bonanza. "Bona, kamu menjadi asisten sekaligus tangan kanan nona muda Neira mulai saat ini. Jadi Bona, kamu akan selalu stay di mansion nanti."
"Terima kasih bayi besar. Loe sudah menuruti permintaan gue yang satu ini mendekatkan Bonanza dan Alfa." batin Neira tersenyum manis menatap Darel.
Setelah itu Darel dan Abyan mengantarkan Neira, Bintang, Alfa, Bonanza, Anita, Karim dan Ben ke markas organisasi AZZA karena besok pagi mereka akan berangkat ke kota sebelah menggunakan pesawat pribadi RR.
...ππππππ...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...