Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 18



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Selamat hari Senin 😘😘 Rencananya mau update pagi tapi bab ini belum selesai karena kemaren author lagi metime tanpa dunia perhaluan πŸ˜…


Yuk kita ke cerita πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


Pagi hari terjadi kericuhan di Perusahaan MD Com karena tiba-tiba saja mengalami colaps dan penurunan saham mendadak membuat Pablo, beberapa direktur dan karyawan disana berusaha menangani masalah ini.


"Tuan Pablo, tiba-tiba saja saham perusahaan merosot?"


"Tuan Pablo, sistem perusahaan kita diretas?"


"Tuan Pablo, para pemegang saham banyak mengadukan protes?"


Beberapa pengaduan yang diajukan ke Pablo membuat Pablo terdiam.


"Tuan Pablo, kita harus menghubungi tuan Anton atau tuan Omar ?"


"Biarkan saya yang hubungi tuan Anton, jangan ada menghubungi tuan Omar. Tunggu perintah saya." Ucap Pablo tegas dan mutlak.


Pablo mengambil ponselnya dan menelpon Anton yang sedang berlibur di villa pribadi arah Selatan bersama Ratih.


Tut tut tut


"halo." sapa Anton dengan suara merdu membuat Pablo menghela napas dan membatin : "Tuan Anton dan nyonya Ratih pasti sedang bertempur."


"pablo, ada apa?" lanjutnya lagi dengan suara merdu.


"Sayang siapa yang ganggu kita?" tanya Ratih dengan suara merdu.


"Pablo sayang."


"Sayang, kita ganti posisi."


"Baiklah."


Pablo mendengar percakapan antara Anton dan Ratih. Bersyukurlah hanya Pablo mendengarnya diponsel dan tidak meloudspeaker.


(Disini Pablo menelpon Anton dan Ratih waktu yang tidak tepat alias lagi bertempur habis-habisan 🀭)


"Pablo, ada apa menelponku?"


"Tuan muda, saya ingin menyampaikan kabar buruk."


"Kabar buruk apa?"


"Tiba-tiba saja saham perusahaan merosot membuat pemegang saham mengajukan protes dan sistem perusahaan kita dibobol."


"Apa?! Bagaimana bisa Pablo? Kemaren keadaannya baik-baik saja? Urus semuanya Pablo, aku dan Ratih akan kesana 2 jam lagi. Siapkan helikopter."


"Baik tuan Muda."


Tut


Pablo hanya bisa menghela napas saat ponsel dimatikan secara sepihak oleh Anton.


...🎞🎞🎞🎞🎞🎞🎞...


Di kamar hotel AG kota C


Kedua pasangan pasutri mendengar percakapan antara Pablo dengan Anton hanya memasang berbagai wajah.


Siapa lagi kalo bukan Radith, Resmi, Intan dan Akbar yang baru saja datang beberapa jam yang lalu ke kota C. Tidak ada yang tau kedatangan mereka karena mereka datang dengan cara diam dan sembunyi.


"Hahahaha ..... kasian sekali tuan Pablo, dia mendengar suara gaib dari Anton dan Ratih. Hahahaha ...." Tawa Resmi.


"iya lo benar, Res. Gue aja kalo denger suara gaib bin merdu itu udah gak kuat gue." tawa Intan dengan nada mesum.


"Buang jauh-jauh pikiran omes lo, Tan. Kita jalani misi bukan bulan madu." Ucap Resmi bergidik ngeri.


"Kenapa bee?" tanya Akbar dengan menyeringai.


Resmi meneguk salivanya kasar saat mendengar seringai Akbar. Radith dan Intan hanya saling pandang dan tersenyum.


"Gak apa-apa kok honey." rayu Resmi bergelanyut manja di lengan Akbar.


Akbar langsung menggendong ala bridal style tubuh Resmi. Resmi reflek melingkarkan salah satu tangannya di leher Akbar.


Resmi menatap puppy eyes Radith dan Intan dibalas mereka dengan mengedikkan bahu.


"Gue serahin ke lo, Dith." Ucap Akbar tersenyum tipis.


Radith menganggukkan kepalanya. "Jangan kasar dan beri jeda, Bar."


"ya."


"Gempur terus Bar, jangan kasih kendor." Ucap Intan menyemangati.


Akbar menyeringai dan Resmi yang berada di gendongan Akbar hanya berdoa dalam hati. Akhirnya, Akbar dan Resmi keluar dari kamar Intan dan Radith.


🎞🎞🎞🎞🎞🎞


Pulau Tanpa Nama


Setelah pertemuan di gedung Timur berlangsung 3 jam, para pasutri keluar dan diarahkan menuju ke kamar masing-masing. Sepanjang jalan, Darel merasakan kalo Neira hanya diam tanpa kata.


"Sugar, ada apa?" tanya Darel berbisik dengan nada khawatir dan cemas.


Neira hanya menggelengkan kepalanya dan tiba-tiba terduduk membuat Darel panik.


"Sugar." Neira mengangkat kepalanya dan hanya mengatakan sesak dan menekan beberapa kali dadanya.


Darel panik langsung saja mengangkat Neira ala bridal style dan meminta bantuan beberapa pelayan disana Para pelayan mengantar Darel dan Neira ke ruangan pemeriksaan.


Di ruangan pemeriksaan, Neira sudah tidak sadarkan diri dan dibaringkan di ranjang. Perawat menyuruh Darel keluar terlebih dahulu.


"Abyan." kode Darel.


"Baik tuan muda."


Hampir 30 menit, Neira diperiksa oleh dokter membuat Darel bolak balik bak setrika. Abyan dan Alfa datang dengan tergesa-gesa.


"Bagaimana keadaan nyonya Ala, tuan Indra?" tanya Alfa cemas sebenarnya canggung.


"Aku tidak tau apa yang terjadi dengan istriku." geleng Darel. Alfa melihat kerapuhan yang berada di dalam diri Darel.


"Bukannya tuan dan nyonya pergi ke gedung Timur?"


Darel menyerahkan sebuah video dari ponsel mini ke Alfa dan Abyan. Abyan dan Alfa menonton video tersebut hanya beberapa menit saja, tubuh Alfa bergetar.


"Ada apa Andy?" tanya Abyan cemas ke Alfa.


Alfa hanya menatap Darel dan Abyan bergantian lalu menatap Neira yang berada di pintu ruangan perawatan.


Alfa mengingat kejadian 4 tahun yang lalu dimana Saguna kabur dari pulau terpencil kerajaan Moonlight dan menculik Neira membuat 3 keluarga besar langsung turun tangan untuk menangkap Saguna tetapi mereka tepat waktu untuk menyelamatkan Neira karena hampir saja Saguna mengambil mahkota Neira membuat Gava dan Leo kalap bahkan Saguna berhasil lolos dari penjara markas cabang organisasi AZZA dengan muda karena memiliki anak buah yang setia dengannya alias penghianat. Sejak saat itu Neira mengalami trauma berat dan membutukan waktu 2 tahun untuk memulihkan traumanya.


"Tuan Andy." sapa Abyan menepuk pundak Alfa.


Alfa yang sadar dari flashback 4 tahun yang lalu hanya menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saja."


"Nona muda, anda harus kuat dan jangan mengingat kenangan menyakitkan itu lagi." batin Alfa berdoa.


"Rahasia apa yang anda simpan tuan Alfa, apa ini menyangkut sugar." batin Darel penasaran.


30 menit kemudian, dokter yang merawat Neira keluar. Dokter itu mengernyitkan dahinya saat melihat Alfa dan Abyan.


"Perkenalkan dokter saya Dana dan ini Andy, kami orang kepercayaan tuan Indra dan nyonya Ala." Ucap Abyan yang paham dari tatapan dokter.


"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Darel dingin.


"Istri anda tidak apa-apa tuan Indra, hanya kelelahan saja." balas dokter itu tersenyum. "Tuan Indra, kalo mau tempur tolong jangan terlalu keras. kasian istri anda." lanjutnya menasehati.


Alfa menatap Darel tajam, yang ditatap hanya memasang wajah dingin dan datar berbeda dengan Abyan hanya memasang wajah syok dan kaget.


"kalo begitu saya pamit, silahkan masuk."


"baik dokter." ramah Abyan.


Darel, Alfa dan Abyan masuk ke ruangan perawatan Neira. Neira terbaring dengan infus dan selang oksigen. Darel ingin menggenggam tangan kiri Neira yang tidak diinfus tetapi di tepis oleh Alfa.


"Apa maksud dokter tadi tuan Darel?" dingin Alfa dengan aura tidak biasa.


"Ya Allah, kenapa aura tuan Alfa berbeda ya." batin Abyan meneguk saliva kasar.


"Aku tidak melakukan apa-apa tuan Alfa, aku hanya memberi tanda di leher saja agar tidak ada curiga. Lagipula nona muda mu masih tingting." balas Darel santai dan panjang lalu menggeser tubuh Alfa.


Alfa menatap leher Neira dan membenarkan ucapan Darel berbeda dengan Abyan melongo tidak percaya kalo mendengar kalimat ucapan terpanjang Darel.


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...