Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 10



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Di dalam kabin Jet Pribadi RR Neira sejak tadi merasa risih karena dipandang oleh Darel. Sarka yang berada disebelah Neira sesekali meminum kopi dan sandwich tanpa ikut campur antara Neira dan Darel.


"Bayi besar penguntit bisa gak sih mata lo dikondisikan, jangan liatin gue terus. Risih gue lama-lama." Sinis Neira dengan tatapan tajam.


"Gak bisa Sugar, melihatmu yang berada dihadapanku, wajahmu yang cantik dan manis membuat diriku tidak bisa berpaling darimu." Rayu Darel mengucapkan kata-kata puitis.


Abyan menutup wajahnya malu berbeda dengan Alfa yang hanya menatap tak percaya rayuan puitis si ketua mafia Black Blood.


Bbyyuuurrr


Uuuhhuukkk


Sarka menyemburkan kopi dan terbatuk saat mendengar rayuan puitis Darel membuat Neira langsung menepuk punggung Sarka.


"Abang gak apa-apakan?" Cemas Neira sambil menepuk punggung Sarka.


"Abang tidak apa-apa Ra." Balas Sarka terbata-bata.


"Makanya bang kalo minum dan makan harus hati-hati supaya tidak tersedak." Bijak Darel membuat Abyan dan Alfa melongo, Neira menatap tajam, dan Sarka hanya menatap datar Darel.


Kemana Paman Karim, Paman Athaya, Bibi Hana, Paman Irsyad, paman Bob dan paman Arwan? Mereka semua berada di jet pribadi yang sama tetapi di kabin yang berbeda.


"ini semua gara-gara lo tau gak?" sarkas Neira.


"aku." tunjuk Darel kepada diri sendiri.


"hem."


"yang mana?" polos Darel menggoda padahal dia tau maksud dari Neira.


"Ck .. dasar aneh." cibir Neira dengan wajah kesal dan ngambek.


"aneh, aneh gini. kamu sukakan." pede Darel sambil menurun turunkan kedua alisnya.


Kedua tangan Neira ingin memukul Darel tetapi Darel dengan sigap menangkap kedua tangan Neira dan menggenggamnya.


"Lepasin kedua tangan gue bayi besar penguntit." ucap Neira berusaha melepaskan kedua tangan dari genggaman Darel.


"Boleh tapi ada syaratnya?"


"Apa?!"


Darel memonyongkan bibirnya membuat Neira melototkan matanya, Abyan dan Alfa juga sama. Sarka malah tersenyum tipis sambil teringat pesan Gava : "Putra mahkota Sarkara, adik sepupumu putri Neira sepertinya akan menjadi istri dari orang berpengaruh dan misterius. Jadi bisakah kamu membantu bibi dan paman melakukan hal kecil saja kepada orang itu."


"Bibi, paman. Apa benar tuan Darel yang akan menjadi pasangan Neira? Jika iya, apa yang akan paman dan bibi lakukan? Gak mungkin paman dan bibi melakukannya seperti bang Akbar." Batin Sarka menatap Darel dan Neira bergantian.


"Bayi besar penguntit, lo apa-apaan sih?!" pekik Neira tidak terima.


"kalo tidak mau ya tidak apa-apa. Kedua tanganmu akan terus aku genggam." Ucap Darel keras kepala.


Neira menatap Sarka dengan pandangan memohon.


"Tuan Darel, lepasin tangan adik saya. Saya tau anda menyukai adik saya. Tetapi bukan gini caranya. Saya selaku kakak sepupu dari Neira tidak terima kalo anda melakukan seenaknya pada adik saya." peringat Sarka halus membuat Darel melepaskan kedua tangan Neira dengan tidak terima.


"Tuan Sarka, apa yang harus saya lakukan agar anda menerima saya?" tanya Darel lesu dan tidak bersemangat.


"Pikirkan sendiri tuan Darel. Saya tau anda paham perkataan saya." ambigu Sarka.


Darel memahami perkataan Sarka bahwa Neira bukan wanita yang dijaga bagai mutiara di 3 keluarga besar sama halnya dengan Resmi.


Darel yang merasa haus memberikan kode ke Abyan meminta botol dot bayi besar. Abyan yang paham mengeluarkan botol dot bayi besar rasa teh manis dari tas punggung yang biasa dipakai.


Abyan menyerahkan botol dot bayi besar dihadapan Darel. Darel langsung meminumnya tidak luput dari penglihatan Sarka yang sedang makan sandwith tanpa sengaja melihat hal itu tersedak kembali.


Uuuhhhuuukkk


Sarka terbatuk beberapa kali membuat Neira langsung menepuk punggung Sarka.


"Abang tidak apa-apa Ra." Balas Sarka terbata-bata.


Sarka mendekatkan kepalanya kepada Neira seperti berbisik : "tuan Darel kok minumnya pake dot bayi?"


"Neira juga tidak tau bang. Kata asistennya, Abyan kalo Darel sangat suka minum berasal dari botol dot bayi." bisik Neira memberitahukan.


"abang harus bilang apa ke mama papamu Ra. Masa iya abang bilang kalo calon suami ini unik bin ajaib." bisik Sarka bingung.


"bilang aja gitu bang. Papa mama pasti sudah tau siapa tuan Darel dihadapan kita." bisik Neira menganggukkan kepalanya.


"Sugar, tuan Sarka kalian lagi ngomong apa? kok bisik-bisik?" tanya Darel kepo.


"Gak ngomongin apa-apa. Bayi besar lo gak boleh tau." ketus Neira.


Sarka tiba-tiba ingin berbicara serius ke Neira. "Ra, abang ingin bicara 4 mata denganmu?"


"Oke. Kita ke kamar kabin ya bang." Angguk Neira.


Sarka dan Neira bangkit tetapi lengan kiri Neira dicekal oleh Darel.


"Kemana?"


"Mau bicara empat mata sama bang Sarka."


"Ikut?" Rengeknya bak anak kecil.


"Mmm ... tuan Darel, saya dan adik saya Neira ada yang dibicarakan tentang keluarga kami. Jadi tuan Darel jangan ikut dulu ya." acuh Sarka.


Darel pun melepaskan lengan kiri Neira dengan tidak terima. Sarka menarik Neira kearah kabin kamar untuk membicarakan masalah hal yang serius.


...🎞🎞🎞🎞🎞🎞...


Ratih Pov on


Sore hari, aku dan mas Anton baru saja tiba di villa keluarga Mahadewa sebelah Barat. Aku langsung saja menuju kamar kami di lantai 2 bahkan aku langsung menuju arah balkon kamar dimana dimanjakan dengan pemandangan kebun dan taman yang sangat sejuk dan nyaman. Mas Anton memelukku dari belakang bahkan kepalanya berada dipundak kiriku.


"Suka?"


"Suka mas."


Mas Anton melepaskan pelukannya lalu membalikkan tubuhku.


Cup


Bibirku sekilas di cium oleh mas Anton.


"Gak mau main mas?" Godaku.


"Nanti malam saja sayang." Lembutnya.


"Selama kita liburan, kamu mau hadiah apa mas?" Tanyaku menggoda.


"Selama kita liburan, jangan memakai apapun karena kita akan bermain sampai puas. Mas juga meliburkan semua maid dan pengawal untuk tidak masuk ke villa ini." Ucapnya menggodaku.


"Hahahaha ternyata mas Anton, mesum juga." Anggukku manja.


"Kita harus berusaha sayang, agar kamu cepat hamil. Jadi mommy dan daddy tidak terus menerorku." Ucapnya mencium pucuk kepalaku.


Aku menganggukkan kepala tanda setuju. "Cepatlah hadir sayang biar daddymu bisa menjadi milik mommy seutuhnya." Batinku licik.


"Mas, mandilah aku akan masakkan makan malam untuk kita." Ucapku.


Mas Anton menganggukkan kepala lalu mencium bibirku sekilas. Setelah mas Anton berada di kamar mandi, aku langsung melepaskan semua pakaianku lalu keluar dari kamar dengan tubuh polos menuju dapur di lantai 1.


Beberapa menit kemudian, sarapan sudah tersiap di meja makan. Aku duduk sambil menunggu mas Anton. Aku mendengar suara langkah mas Anton.


Aku tersenyum ternyata tubuh mas Anton juga polos. Dia duduk disebelahku sambil tersenyum manis. Kami makan dengan canda tawa bahkan saling bermain disela-sela makan malam. Setelah makan malam selesai, hanya meletakkan peralatan makan di wastafel, mas Anton langsung menyerangku habis-habisan diberbagai sudut dapur sampai aku lemas tak berdaya dan mengangkat tubuhku ala bridal style menuju kamar kami dilantai 2. (Jangan mengintip ya, Anton dan Ratih asyik bulan madu selama 4-5 hari 🀣)


Ratih Pov Off


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...