
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat hari senin π
Author update malam demi author sendiri π€
Masih episode khusus Alfa ya π
Bandara pribadi organisasi AZZA di ruang tunggu, aku bersama nona muda Neira, paman Karim, paman Athaya, bibi Hana, paman Irsyad, paman Bob, paman Arwan, tuan Darel, tuan Abyan serta anak buah organisasi AZZA dan mafia Black Blood. Berbeda dengan tuan muda Bintang, bibi Anita dan paman Ben hanya mengantar kami.
Aku hanya dibuat geleng-geleng kepala pasalnya kemanjaan tuan muda Bintang ke nona muda Neira sudah tidak bisa dikatakan lagi. Aku melihat wajah tuan Darel yang cemburu karena hanya melihat sepasang adik kakak.
"Bintang. Neira." Suara bass membuat atensiku menoleh ke arah pintu masuk.
"Bang Sarka !!!" Girang kakak beradik bangkit dari kursi tunggu lalu berjalan ke arah putra mahkota Sarka.
Putra Mahkota Sarka hanya tersenyum tipis kepadaku, ku balas senyum tipis dan menunduk hormat.
"Nei, Bin. Siapa dia?" Tanya putra mahkota Sarka dengan tatapan dingin dan datar menunjuk tuan Darel dan tuan Abyan dengan dagunya.
"Rekan kerja. Dia ketua mafia Black Blood." Balas nona muda Neira santai dan acuh.
Aku melihat pergerakan tuan Darel yang tidak biasa ternyata tebakanku benar, tuan Darel langsung melepaskan pelukan kedua kakak adik sepupu itu bahkan putra mahkota Sarka menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.
"Jadi tumbalkan aku π." batinku membenarkan.
Akupun menjelaskan siapa tuan Darel sebenarnya ke putra mahkota Sarkara tanpa respon apapun alias datar sedatar triplek.
30 menit kemudian, jet pribadi sudah siap. Kami semua berangkat bahkan nona muda Neira memberikan petuah-petuah ke tuan muda Bintang.
...πππππ...
Di dalam kabin Jet Pribadi RR, aku hanya mengamati interaksi antara tuan Darel, nona muda Neira dan putra mahkota Sarka.
"Bayi besar penguntit bisa gak sih mata lo dikondisikan, jangan liatin gue terus. Risih gue lama-lama." Sinis nona muda Neira dengan tatapan tajam.
"Gak bisa Sugar, melihatmu yang berada dihadapanku, wajahmu yang cantik dan manis membuat diriku tidak bisa berpaling darimu." Rayu tuan Darel mengucapkan kata-kata puitis.
Aku menatap tidak percaya kalo tuan Darel ternyata bisa puitis juga.
Bbyyuuurrr Uuuhhuukkk
Putra mahkota Sarka menyemburkan kopi dan terbatuk saat mendengar rayuan puitis tuan Darel membuat nona muda Neira langsung menepuk punggung putra mahkota Sarka.
"Abang gak apa-apakan?" Cemas nona muda Neira sambil menepuk punggung putra mahkota Sarka.
"Abang tidak apa-apa Ra." Balas putra mahkota Sarka terbata-bata.
"Makanya bang kalo minum dan makan harus hati-hati supaya tidak tersedak." Bijak tuan Darel membuatku dan tuan Abyan melongo, nona muda Neira menatap tajam, dan putra mahkota Sarka hanya menatap datar.
"ini semua gara-gara lo tau gak?" sarkas nona muda Neira.
"aku." tunjuk tuan Darel kepada diri sendiri.
"hem."
"yang mana?" polos tuan Darel menggoda.
"Ck .. dasar aneh." cibir nona muda Neira dengan wajah kesal dan ngambek.
"aneh, aneh gini. kamu sukakan." pede tuan Darel sambil menurun turunkan kedua alisnya.
Terjadilah perang mulut bahkan nona muda Neira ingin memukul dengan kedua tangannya bahkan tuan Darel tetapi dengan sigap menangkap kedua tangan nona muda Neira alias menggenggam.
"Lepasin kedua tangan gue bayi besar penguntit." ucap nona muda Neira berusaha melepaskan kedua tangan dari genggaman tuan Darel.
"Boleh tapi ada syaratnya?"
Tuan Darel tanpa rasa malu malah bibirnya dimajukan seperti memonyongkan bibir membuat aku, Tuan Abyan dan nona muda Neira melototkan kedua mata.
"Bayi besar penguntit, lo apa-apaan sih?!" pekik nona muda Neira tidak terima.
"kalo tidak mau ya tidak apa-apa. Kedua tanganmu akan terus aku genggam." Ucap tuan Darel keras kepala.
Nona muda Neira minta bantuan putra mahkota Sarka dengan peringatan halus : "Tuan Darel, lepasin tangan adik saya. Saya tau anda menyukai adik saya. Tetapi bukan gini caranya. Saya selaku kakak sepupu dari Neira tidak terima kalo anda melakukan seenaknya pada adik saya."
Apa yang kalian lihat? Berhasil tuan Darel melepaskan kedua tangan nona muda Neira.
Tuan Darel dengan lesu dan tidak bersemangat mengatakan: "Tuan Sarka, apa yang harus saya lakukan agar anda menerima saya?"
"Pikirkan sendiri tuan Darel. Saya tau anda paham perkataan saya." ambigu putra mahkota Sarka.
"Sepertinya anda memahami perkataan ambigu putra mahkota Sarka, tuan Darel." pikirku.
Aku hampir tertawa kencang karena tuan Darel memberi kode ke tuan Abyan meminta botol dot bayi besar bahkan membuat putra mahkota Sarka tersedak dua kali.
"Bang Sarka kenapa lagi?" tanya nona muda Neira cemas.
"Abang tidak apa-apa Ra." Balas putra mahkota Sarka terbata-bata. Lalu putra mahkota Sarka dan nona muda Neira saling berbisik satu sama lain.
"Sugar, tuan Sarka kalian lagi ngomong apa? kok bisik-bisik?" tanya tuan Darel kepo.
"Gak ngomongin apa-apa. Bayi besar lo gak boleh tau." ketus nona muda Neira.
Putra Mahkota Sarka ingin berbicara serius alias 4 mata membuat sepasang kakak beradik sepupu itu pergi ke kamar pribadi.
...πππππ...
Rombongan kami baru saja tiba di hutan arah Utara pulau tanpa nama atau pulau perdagangan manusia. Aku, nona muda Neira, tuan Darel, putra mahkota Sarka, tuan Abyan, paman Karim, paman Athaya, bibi Hana, paman Irsyad, paman Bob dan paman Arwan serta anak buah organisasi AZZA dan Mafia Black Blood. Kami keluar dari jet pribadi satu persatu.
Aku memindai area sekitar sambil mendengar nona muda Neira memberikan arahan dan perintah.
"Kita bagi tugas, aku dan my sugar bersama tuan Sarka, tuan Karim, Abyan dan tuan Alfa akan lewat jalur belakang. Nyonya Hana dan tuan Irsyad memantau dari jauh. Tuan Athaya ke arah timur, tuan Bob ke arah Barat dan tuan Arwan ke arah Selatan." Perintah tuan Darel dingin dan tegas.
"Tuan Darel apa maksud anda?" Tanya nona muda Neira dingin saat mendengar perintah dari tuan Darel.
"Ternyata anda sangat bisa diandalkan tuan Darel. Pengalaman anda sepertinya tidak bisa dianggap remeh." pikirku memindai sekitar.
"Ra, ikuti perintah tuan Darel. Kamu jangan jauh-jauh dari dia, Ra." Peringat putra mahkota Sarka sambil menepuk pundak kanan nona muda Neira.
"Kenapa bang?" Tanya nona muda Neira.
"Kamu akan tau nanti. Pokoknya jangan jauh-jauh dari tuan Darel atau siapapun diantara kita Ra." Peringat putra mahkota Sarka lembut. Nona muda Neira hanya menganggukkan kepala saja. Kami semua berpencar dengan tugas masing-masing.
Saat ini, aku dan tuan Abyan berada di depan, ditengah nona muda Neira dan tuan Darel, dibelakang paman Karim dan putra mahkota Sarka.
"SEMUA MENUNDUK !!!" Pekik tuan Darel agak keras.
Aku dan tuan Abyan yang berada di depan langsung menundukkan kepala sama halnya dengan yang lain.
"Kita berpencar. Kalo kita bersama takutnya musuh akan mengetahui hal ini." Perintah tuan Darel lagi.
"Baiklah. Tuan Darel aku percayakan adik sepupuku kepadamu." Ucap Putra mahkota Sarka lalu memandang nona muda Neira.
"Tenanglah. Dia aman bersamaku, tuan Sarka."
"Nona muda, ini tas yang berisi 5 botol dot bayi untuk tuan muda Darel." Ucap tuan Abyan memberikan tas kecil ke nona muda Neira.
"Terima kasih tuan Abyan." Angguknya.
Paman Karim bersama putra mahkota Sarka sedangkan aku bersama tuan Abyan. Sebenarnya aku sungguh khawatir dan cemas karena keselamatan nona muda Neira lebih penting dari nyawaku.
"Tenanglah tuan Alfa. percayalah kepada kedua atasan kita. Sebaiknya kita menyamar." sahut Tuan Abyan memindai area sekitar.
"Ya." balasku singkat.
Aku dan tuan Abyan sudah menyamar jadi salah satu anggota dari pulau ini agar misi kami cepat selesai.
...ππππππ...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...