Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 09



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Anton Pov On


Pagi hari di kamar hotel AG lantai 20 aku terbangun karena mendengar suara ponsel berdering. Aku melihat layar ponsel ternyata Neira, istri pertamaku menelponku.


Aku mengangkat telepon dengan suara serak khas bangun tidur. Neira memberitahukan kalo dia akan pergi menjenguk paman Irsyad yang sedang sakit di kota kecil. Awalnya aku ingin ikut ke rumah paman Irsyad tetapi Neira memberitahukan kalo sampai diriku ngotot ingin ikut maka Neira akan meninggalkanku. Mau tidak mau aku pasrah dan mengiyakan saja.


Setelah selesai bertelepon ria, tiba-tiba saja Ratih memelukku dari belakang dengan suara serak : "siapa mas?"


"Neira, sayang." Dia menduselkan kepalanya di punggung polosku. Aku pun berbalik dan memeluknya.


"Apa katanya mas?"


"Dia dan Bintang akan pergi kota kecil untuk menjenguk paman Irsyad yang sedang sakit selama seminggu." Ucapku mencium pucuk kepala.


Ratih langsung mendongakkan kepalanya lalu tersenyum manis. "Mas, bagaimana kita liburan juga?" Usulnya memberi ide.


"Liburan?" Beoku.


"Hem ... liburan mas. Selama 4-5 hari sekaligus bulan madu. Lagipula Neira juga menjenguk pamannya jadi kita tidak perlu khawatir akan ketauan." Usulnya manja.


"Ide yang sangat bagus." Batinku bersorak.


"Sebaiknya kita berangkat ke Villa sebelah Barat sayang. Disana suasananya sungguh sejuk dan nyaman bagus untuk kita yang sedang bulan madu." Usulku teringat villa keluarga disebelah Barat.


"Pakaiannya?"


"Sudah ada disana. Ayok kita liburan." Ucapku mengangkatnya ala bridal style menuju kamar mandi.


Anton Pov Off


...🎞🎞🎞🎞🎞🎞...


Neira Pov On


Aku, Alfa, Paman Karim, Paman Athaya, Bibi Hana, Paman Irsyad, paman Bob dan paman Arwan berada di bandara pribadi cabang organisasi AZZA bersama Darel, si bayi besar penguntit dan Abyan, tangan kanan serta anak buah Organisasi AZZA dan anak buah Mafia Black Blood.


"Aa, tangtang ikut ya." Manja Bintang sambil memeluk tubuhku.


"Gak ya tang. Kamu disini menjaga markas untuk memantau pergerakan kami." Ucapku memberi pengertian.


"Tapi tangtang pengen ikut Aa. Liburan tangtang berasa sia-sia A. Masa izin seminggu cuman dimarkas." Ucapnya cemberut.


"Mau gimana lagi tang? Kalo kita dua-dua turun ke pulau itu. Siapa yang jaga markas terus nanti siapa yang ngurus perusahaan Robot RR dan perusahaan cabang AG com dan perusahan cabang Ramos com?" Tanyaku beruntun.


"Bintang. Neira." Suara bass membuat atensiku dan Bintang menoleh ke arah pintu masuk.


"Bang Sarka !!!" Girangku dan Bintang bangkit dari kursi tunggu lalu berlalu. Bang Sarka merentangkan tangannya.


Sarkara Tarangga Ramos, disapa Sarka. Pria berusia 21an. Putra mahkota Ramos, anak dari kaisar Ali dan Permaisuri Kamala. Pemilik mata merah darah.


"Abang kapan datangnya?" Manjaku.


Aku tidak menyadari kalo ada seseorang cemburu dengan kedekatanku dan bang Sarka.


"2 jam yang lalu saat kalian lagi rapat." Lembutnya.


"Kenapa gak ke ruang rapat aja?" Tanyaku.


"Malas, abang capek."


"Abang ikut aa atau sama Bintang?" Tanya Bintang.


"Abang ikut aa Neira, tang."


"Yah." Lesu Bintang.


Aku dan bang Sarka terkekeh melihat wajah Bintang tidak bersemangat.


"Abang kesini atas inisiatif sendiri atau papa mama?"


"Papa mama kalian. Abang dihubungi oleh papa mama kalian sehari sebelum kalian dikabari oleh paman Darius."


Aku dan Bintang menatap paman Darius seperti meminta penjelasan.


"Maaf nona muda Neira, tuan muda Bintang. Saya melakukan ini karena pulau itu sangat berbahaya." Jelas paman Darius datar.


Aku dan Bintang menganggukkan kepala. Selama misi berat organisasi, aku maupun Bintang akan dikawal oleh anggota keluarga Rajendra, Ramos atau Atmaja berbeda dengan bang Radith dan Kak Resmi sejak usia 15 tahun sudah bisa bermain sendiri tanpa pengawalan.


"Nei, Bin. Siapa dia?" Tanya abang Sarka dengan tatapan dingin dan datar menunjuk Darel dan Abyan dengan dagunya.


"Rekan kerja. Dia ketua mafia Black Blood." Balasku santai dan acuh.


Kkyaaa


Aku teriak saat Darel langsung melepaskan pelukanku dari abang Sarka.


"Jangan ganggu gadisku." Dinginnya.


"Gadismu." Dingin Abang Sarka.


"Ya dia gadisku." Ucapnya mutlak.


Perang dingin antara Darel dan abang Sarka membuatku acuh pada sekitar. Bintang juga sama bodo amat dan acuh pada sekitar.


"Tuan Darel." Sahut paman Irsyad berwibawa membuat Darel dan Abang Sarka menatap paman Irsyad. "Tuan Darel, sebaiknya anda jangan membuat masalah dengan putra mahkota Sarkara." Lanjutnya lagi.


"Putra mahkota Sarkara?" Beonya.


Paman Irsyad menatapku agar Darel dan abang Sarka tidak berkelahi dulu karena 30 menit lagi akan berangkat ke pulau penjualan organ tubuh manusia.


"Abang. tuan Darel." Sahutku membuat Darel dan abang Sarka menoleh.


"Bayi be- tuan Darel kenalin dia Sarkara Tarangga Ramos, kakak sepupu gue dan Bintang."


"Bang, dia ketua mafia Black Blood namanya Tuan Darel."


Aku langsung memperkenalkan abang Sarka dan Tuan Darel secara singkat.


"Abang Sarkara. Sepupu." Kagetnya datar. Aku menganggukkan kepala.


Darel menggeser tubuhku lalu bersalaman ke abang Sarka membuatku sedikit tergeser. "Maafkan saya tuan Sarkara. Saya kira anda adalah teman dari gadisku." Ucapnya dengan nada lembut.


"Dasar bayi besar bunglon, tadi asal tarik tubuh gue terus saat tau siapa abang Sarka malah menggeser gue." Batinku kesal.


"Gadismu. Apa maksudmu?" Tanya abang Sarka dengan nada tidak bersahabat dan menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.


Aku yang ditatap hanya menggelengkan kepala saja. Abang Sarka pun menatap Alfa membuat Alfa menjelaskan siapa Darel sebenarnya.


"Ya Allah Alfa. Mudahan nanti bang Sarka tidak kaget atau syok ya soalnya si bayi besar penguntit memiliki sifat unik bin ajaib." batinku menahan tawa.


30 menit kemudian, jet pribadi sudah siap. Aku dan abang Sarka memeluk Bintang. Aku memberikan nasehat khas emak-emak kepada Bintang. Bintang hanya menganggukkan kepala saja.


Neira pov OFF


...🎞🎞🎞🎞🎞🎞🎞...


Markas Pusat Organisasi AZZA di depan kamar pasutri saat ini digedor oleh Resmi dengan cara bar-bar, dibelakangnya ada Akbar, suami Resmi.


Masih ingat dengan Akbar? Yap, dia Akbar Alanza Everson, putra semata wayang Vori dan Calis, suami dari Resmi. Resmi dan Akbar menikah sekitar 2 tahun yang lalu saat usia mereka menginjak 20 tahun sekarang memiliki 2 orang putra kembar, sama halnya Radith menikah dengan Intan, putri pertama Amel dan King juga memiliki 2 orang putra kembar. Radith dan Resmi menikah hanya berbeda seminggu saja. (Anak Radith dan Resmi nanti menyusul 🀭)


Tok tok tok


"Mama, papa. bangun, sudah siang, nanti olahraganya. Ya allah, kenapa sih harus punya orangtua suka sekali olahraga pada saat genting gini." Resmi berteriak sekaligus mengomel dibalik pintu kamar orang tuanya.


"Sabarlah, honey. Nanti papa mama akan keluar dari kamar." Lembut Akbar menenangkan Resmi.


"Iya, iya. Aku tau Bee." Ucap Resmi.


Ceklik


Pintu dibuka oleh Gava. Penampilan Gava sangat berantakan. Rambut singa, leher banyak sekali bekas Leo, bibir bengkak dan mata sayu.


"Ada apa?" serak Gava khas bangun tidur.


"Ya allah mama. Kenapa penampilan mama seperti itu." Pekik Resmi menutup mata Akbar. Akbar yang ditutup matanya hanya terdiam kaku pasalnya dia melihat tanda dileher Gava.


"Siapa suruh ketok pintu kamar orangtuamu dengan cara barbar." Ketus Gava.


"Mah, siap-siap gih sana. Resmi tunggu di ruang rapat keluarga." Sahut Resmi mendorong Akbar yang masih di tutup matanya.


"Iya." Ucap Gava menutup pintu kamar.


Setelah agak jauh dari kamar Gava dan Leo. Resmipun melepaskan kedua tangannya dari mata Akbar. Tubuh Akbar berbalik ke arah Resmi dengan pandangan sayu. Resmi yang paham menarik Akbar ke salah satu kamar mandi yang tidak jauh dari kamar orangtua mereka.


Di dalam kamar mandi, Resmi dan Akbar sama-sama mengeluarkan suara merdu. Tanpa sengaja Radith dan Sekar melewati kamar mandi mendengar suara merdu yang dikenal.


"Mas."


"Hmm."


"Aku kira Resmi dan Akbar memanggil papa mama ternyata sedang asyik dikamar mandi."


"Kamu mau hem?"


"Gak, tadi pagi sudah."


"Malam ya."


"Hem."


Radith dan Sekarpun ke kamar Gava dan Leo. Baru saja tiba di depan kamar, Gava dan Leo sudah berada diluar kamar.


"Papa mama."


"Radith, Sekar. Mana Resmi dan Akbar?"


"Main di kamar mandi." frontal Radith.


Gava dan Leo saling pandang kemudian menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah. Ayok kita ke ruang rapat keluarga tapi kita makan dulu."


"Iya, mah. Ayok."


Sekar menggandeng tangan Gava. Radith dan Leo hanya mengikuti dari belakang mereka melewati jalan lain agar tidak mengganggu aktivitas Resmi dan Akbar.


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...