
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat malam π ternyata besok senin ya, ya othor update deh buat besok π
Ada sebuah lagu untuk para pembaca:
Pagi ku cerah ku, Matahari bersinar
Ku genggam ponselku di kedua tangan
Selamat pagi pembaca, kunantikan dirimu
Di depan ponselku, menantikan bab berikutnya
Reff :
Pembacaku tersayang pembaca tercinta
Tanpa kalian apa jadinya aku
Selalu kasih semangat dan komentar lucu
Pembacaku terimakasihku
Nyatanya diriku hanya manusia biasa
Kadang bisa tak update karena sibuk
Namun juga mau metime
Kalo tau ini lagu apa? Komentar ya π€
Sebulan kemudian, sekitar pukul 10 pagi di ruangan ceo perusahaan cabang EV Com Bonanza berdiri tegap dan tegak bak prajurit dihadapan Darel dan Abyan.
"Bagaimana?" tanya Darel dingin dan datar.
"Semuanya aman terkendali tuan muda Darel, tuan Abyan. Mantan suami nona muda Neira sama sekali tidak ada celah sedikitpun untuk tidur bareng dengan nona muda Neira." jelas Bonanza SPJ.
Respon Darel hanya diam seperti menunggu penjelasan dari Bonanza. Bonanza kembali menjelaskan secara singkat dan jelas bagaimana hubungan Neira dan Anton mulai renggang, bahkan Bonanza pernah mendengar suara gaib dari kamar utama Anton dan Neira dipastikan itu adalah Anton dan Ratih sedang melakukan olahraga ranjang.
"Sebentar. Kabar baik." singkat Darel dingin dan datar dengan senyum smrik.
Abyan dan Bonanza saling pandang dan tersenyum penuh arti bahwa ada kehidupan baru yang akan tumbuh di diri Ratih, istri kedua Anton. Disaat itulah drama sebenarnya dimulai antara Neira, Anton dan Ratih.
"Jaga." perintah Darel singkat.
Bonanza permisi untuk keluar ruangan dengan menutup wajahnya dengan masker dan topi serta hoodie keluar dari perusahaan EV Com.
...ππππππ...
Neira Pov on
Sebulan tidur dengan Bonanza di kamar tamu membuat diriku bernapas lega dari mantan suami yang suka sekali *****-***** diriku. Selama sebulan ini aku malah merasa nyaman dan aman dengan Darel, si bayi besar penguntit yang mengklaim diriku sebagai calon istrinya.
Selama sebulan juga aku mendengar suara gaib di kamar utama kami atau dikamar Ratih. Bahkan aku sempat memasang CCTV tersembunyi di dua kamar tersebut ternyata mas Anton dan Ratih sedang melakukan aktivitas panas dan hot.
Aku dan Bonanza hanya menonton sambil memasang wajah datar dan dingin. Bahkan aku menunggu drama sebenarnya yang akan terjadi antara diriku, Ratih dan mas Anton di mansion MD.
Saat ini aku berada di ruanganku yaitu perusahaan robot RR bersama Jiya dan Paman Karim tanpa Bonanza karena dipanggil si bayi besar itu.
"Nona muda, bagaimana numpang di mansion mantan suami anda?" ejek Jiya menggoda dengan wajah datar.
"Mau tau gak isi hati gue, ji." melasku menatap Jiya.
Jiya yang penasaran hanya menganggukkan kepala dengan wajah datar khasnya. (namanya aja robot manusia π€)
"Jijik." Ucapku berlagak mau muntah membuat Jiya ketawa khas suara robot manusia.
"Benar, Ji. Jijik sumpah. Loe tau apa yang gue lihat selama sebulan disana, mantan suami gue ternyata lagi asyik dengan Ratih, istrinya tersembunyi itu." Curhatku bergidik ngeri.
"Wow ... pasti si Ratih, Ratih itu kewalahan melayani Anton yang main selalu over."
"Ya, loe benar Ji. Bersyukurlah diri gue tidak sampai disentuh seutuhnya oleh mantan suami gue."
"Nona muda Neira, saya mendapat kabar bahwa nona Ratih pingsan." Ucap Paman Karim membuatku dan Jiya menghentikan aktivitas kami.
"Kenapa paman?"
"Nona Ratih hamil, nona muda Neira. Bahkan kandungannya berusia 2 minggu."
"Wow .... bravo,,, bravo,,, prok prok."
Disaat itu pula Bonanza baru saja tiba dengan wajah datar dan dingin khasnya. Dia duduk di sofa yang biasa jika para tamu datang.
"Bona, loe siap." dingin dan datarku. Bonanza hanya memasang wajah penuh tanda tanya. "Loe akan mendapatkan pertunjukan yang sangat mengejutkan." lanjutku menyeringai. Bonanza hanya diam tanpa ekspresi.
Neira Pov Off
Anton Pov On
Sebulan sudah aku tidur tanpa istri pertamaku, Neira akibat Bonanza, sepupu istriku selalu menempel bak anak kucing. Setiap aku dan Neira berduaan selalu saja Bonanza menjadi penghalang diantara kami akibatnya aku sering melampiaskan ke Ratih, istri keduaku.
Ada beberapa hari yang lalu saat aku lagi onfire dan ingin menyentuh Neira seutuhnya dengan sangat lancangnya Bonanza menganggu waktu berduaku dan Neira membuat diriku langsung menyerang Ratih bahkan sampai tubuh kami kelelahan hebat. Saking lelahnya aku tidak perduli lagi tentang Neira.
Saat ini di perusahaan MD com aku bersama Ratih dan Pablo sedang berada di ruangan ceo sedang mengerjakan berkas. Aku melihat Ratih dengan wajah sedikit pucat membuatku khawatir dan cemas.
Aku akhirnya bangkit dan duduk disebelahnya kemudian memeluknya: "Sayang, wajahmu kenapa pucat sekali?"
"Tubuhku lemas sekali sayang." manjanya.
Lalu sejurus kemudian, dia melepaskan pelukan kami dan berlari ke kamar mandi.
Hoek Hoek Hoek
Dia muntah di closet duduk dan aku langsung memijit tengkuknya. Setelah habis muntah dia langsung tidak sadarkan diri, membuatku panik dan mengangkat tubuhnya ala bridal style.
"Pablo, kita kerumah sakit sekarang !!!" teriakku cemas dan khawatir.
Pablo langsung bergegas membuka pintu ruangan ceo dimana diriku menggendong Ratih ala bridal style. Bahkan Pablo dengan cepat dan tanggap membuka lift untuk kami.
Setelah lift tiba di lantai dasar atau lobby perusahaan, aku dan Pablo dengan tergesa-gesa langsung ke mobil yang sudah terparkir rapi di lobby tanpa melihat para karyawan yang menyapaku.
Di perjalanan menuju rumah sakit RR, aku terus saja mengusap pipi Ratih agar dia cepat sadar tetapi sama sekali tidak ada pergerakan alias pingsan.
"Percepat Pablo !!!" teriakku panik dan khawatir.
Pablo mempercepat laju mobil. Tidak sampai setengah jam, mobil yang kami tumpangin tiba di halaman depan rumah sakit RR.
Aku turun dari dalam mobil dan berteriak: "dokter, suster tolong istriku!!!" sambil mengeluarkan tubuh istriku dari kursi belakang yang sedang pingsan.
Dua suster dan satu dokter langsung bergegas ke arah kami dimana para suster membawa brangkar dorong. Akupun meletakkan tubuh Ratih ke brangkar dorong dimana kami sampai ke ruang UGD.
"Tuan, tunggu diluar biarkan dokter yang akan memeriksa istri tuan." Ucap salah satu Suster menahan diriku didepan pintu UGD.
Hampir satu jam, pintu UGD ditutup rapat bahkan dua suster dan satu dokter masih di dalam menangani istriku.
"Anton, putraku." sahut seorang wanita paruh baya membuatku yang sejak tadi bak setrika langsung menoleh.
"Mommy." sahutku disambut pelukan hangat dari Juwita, mommyku.
"Apa yang terjadi Son?" tanya Omar, daddyku.
"Aku tidak tau dad, mom. Tiba-tiba saja Ratih muntah terus pingsan." jelasku bingung, cemas dan khawatir jadi satu.
Seketika mommy langsung memelukku dan berkata: "kamu akan menjadi seorang ayah, putraku."
Aku membelalakkan mata saat mendengarkan ucapan mommyku yang menurutku tidak mungkin.
"mom, Ratih pingsan mungkin kelelahan bukan lagi hamil." sanggahku tetapi didalam hati sebenarnya berdoa: "semoga doa mommy terkabulkan."
Tidak berapa lama, dokter keluar dari ruangan UGD. Dokter itu tersenyum saat melihat wajahku.
"Selamat tuan. Istri anda sepertinya sedang mengandung. Perkiraan saya sekitar 2-3 minggu." Aku, Mommy dan daddy terbelalak tidak percaya.
"Sebaiknya bawa istri tuan ke dokter kandungan agar mengetahui bagaimana perkembangan janin yang berada diperut istri tuan." lanjutnya berlalu.
Setelah mendengar hal itu aku memerintahkan Pablo langsung menuju dokter kandungan agar istriku bisa diperiksa.
5 menit kemudian, kedua suster keluar dan mempersilahkan kami masuk ke UGD. Aku melihat Ratih sudah siuman dan tersenyum kepadaku membuatku mendekatinya dan menggenggam tangan kirinya yang tidak diinfus diikuti mommy dan daddy.
"mas, mommy, daddy. apa yang terjadi denganku?" tanyanya lirih.
Tidak sampai 10 menit, dokter kandungan tiba dengan alat yang sudah dipersiapkan. Ratih bingung kenapa dokter kandungan memeriksa perutnya.
"Tuan Anton, nyonya Ratih. Selamat kalian akan menjadi orang tua." Ucap dokter kandungan tersebut.
Aku dan Ratih tersenyum bahagia apalagi kedua orangtuaku juga sama.
"Usianya berapa dok?"
"2 minggu tuan Anton."
Dokter itupun memberikan vitamin serta nasehat-nasehat untukku dan Ratih. Yang paling heboh adalah Mommy karena sebentar lagi akan menimang cucu pertama keluarga Mahadewa.
Anton Pov Off
...ππππππ...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...