
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...
...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf ππ€«π€...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran ππ€...
...π½π½π½π½π½π½...
Selamat malam atau tengah malam reader π
Author kasih bonus yee padahal author tepar π
Masih Alfa Pov On
Paman Karim menjemput kami menggunakan mobil taksi saat hari sudah menjelang sore menuju rumah sederhana.
"Nona muda, dua mobil yang berada dibelakang kita, sejak tadi mengikuti." Ucap paman Karim selalu melihat kaca spion. Aku mendengar hal itu hanya menampilkan wajah tenang dan teduh.
"Biarkan saja paman Karim. Dia bayi besar penguntit." ketus nona muda Neira.
"Maksud anda?"
"Alfa, lo jelasin ke paman Karim. Gue lagi malas bahas si bayi besar penguntit itu." Ketus nona muda Neira sekali lagi.
Paman Karim menatapku lewat ekor mata membuatku menjelaskan pertemuan antara tuan Darel dan nona muda Neira di Cafe Ardhias.
"Apa yang akan anda lakukan sekarang?"
"Entahlah, paman Karim. Aku juga gak tau." Jawab nona muda Neira menggelengkan kepalanya.
45 menit kemudian kami sampai di rumah sederhana dimana sudah ada tuan muda Bintang bersama bibi Anita dan paman Ben. Kami juga kedatangan keluarga bibi Lusi, paman Athaya dan nona muda Gaby saat malam hari.
...πππππ...
Di ruang keluarga, tuan muda Bintang dan nona muda Gaby layaknya tom and Jerry karena tuan muda Bintang sangat suka menggoda nona muda Gaby tetapi hanya di acuhkan saja dimana diriku dan paman Athaya hanya sebagai pengamat.
"Gaby, gaby, gaby." Panggil tuan muda Bintang berulang kali.
"Apaan sih bang?! Dari tadi panggil Gaby terus π" Jutek nona muda Gaby kesal.
"Kamu terlalu cantik." goda tuan muda Bintang.
Nona muda Gaby yang mendengar hal itu hanya memutar matanya malas. Aku dan paman Athaya melihat tubuh nona muda Neira yang berdiri dibelakang sofa kedua bocah itu berdiri dan langsung menyapa. "Nona muda Kecil."
Kedua bocah itu langsung menoleh ke belakang dengan wajah cerita nona muda Gaby bangkit sekaligus berlari memeluk nona muda Neira. Dibalas pelukan oleh nona muda Gaby. Tidak lama tuan muda Bintang mengacau acara pelukan antara kedua nona muda tetapi dibalas godaan dari kedua nona muda.
Perang mulut pun terjadi dengan kedua bocah berbeda gender membuat diriku, paman Athaya dan nona muda Neira hanya terkekeh.
Bahkan terdengar suara pekikan yang berasal dari bibi Lusi: "Gaby, tuan muda kecil. Kalian ngapain peluk nona muda Neira? Kasian nona muda Neira kejepit." Membuat kami menoleh dengan wajah bertanya-tanya.
"Masakannya sudah siap sayang?" Tanya paman Athaya lembut.
"Sudah. Ayok kita makan malam." Ajak bibi Lusi lembut.
Diriku dan paman Athaya bangkit dari sofa sedangkan nona muda Neira ditarik oleh kedua bocah.
Di ruang makan, nona muda Neira duduk ditengah-tengah kedua bocah bahkan saling berebut untuk mengambil makan malam buat nona muda Neira membuat kami menyimak saja tanpa melerai kedua bocah tersebut. Karena perang mulut masih berlanjut, nona muda Neira memberikan perintah dengan adil kepada kedua bocah tersebut. Bahkan perang mulut terjadi kembali karena hanya ingin tidur bareng sama nona muda Neira.
...ππππππ...
Markas cabang Organisasi AZZA kota C Negara A
Pagi hari diruangan rapat aku, nona muda Neira, tuan muda Bintang bersama para paman (Kenan, Irsyad, Fidel, Athaya, Arwan, Bob, Ben, Karim dan Darius) serta para bibi (Hana dan Anita) sedang membicarakan masalah serius.
"Ada apa paman Darius? Tiba-tiba saja paman mengabarkan kami semua untuk ke ruang rapat segera?" Tanya nona muda Neira dingin dan datar.
Kalian tau kami bertiga memakai baju apa? Aku memakai pakaian joging sedangkan nona muda Neira dan tuan Muda Bintang memakai pakaian tidur dan mereka belum mandi cuman cuci muka dan sikat gigi saja.
"Paman, bisa dijelaskan apa maksud paman tentang pulau itu?"
Paman Darius mengetik lagi dan memutar sebuah video tentang pulau membuat kami bertiga serta para orang tua menahan napas dan membelalakkan kedua mata.
"Pulau perdagangan organ tubuh manusia." Gumam bibi Hana tak percaya.
"Kamu benar Hana. Itu adalah pulau perdagangan organ tubuh manusia."
Paman Darius mengetik keyboard kembali lalu muncullah sebuah video dimana salah satu agent pemerintah memberikan videonya sebelum meninggal ditangan seorang lelaki.
Di video itu ada banyak sel yang diisi pria, wanita, anak-anak dan para orang tua dengan pakaian putih. Bahkan ada para wanita dan para gadis yang sedang hamil juga berada di dalam sel. Ternyata mereka diculik untuk di ambil organ tubuh mereka bahkan para wanita dan para gadis yang hamil hanya diambil bayi untuk dijual kepada orang yang ingin memiliki anak.
Brak
Nona muda Neira menggebrak meja dihadapannya bahkan mengumpat saat melihat video itu sampai tubuhku dan tuan muda Bintang tersentak kaget.
"Aa/nona muda !!!!" Teriakku dan tuan muda Bintang kesal sambil mengelus dada yang hampir saja lepas dibalas cengiran nona muda Neira.
"Paman Darius, apa ini dari pemerintahan?" Serius nona muda Neira dengan aura intimidasi.
Para paman dan bibi hanya menahan napas, tuan muda Bintang juga melakukan hal yang sama.
"Iya, nona muda kecil. Para petinggi pemerintah meminta organisasi kita untuk membantu mengatasi pulau itu. Tetapi kita harus be-" BRAK
Ucapan paman Darius terpotong karena tuan Darel membuka pintu ruangan rapat dengan keras membuat tuan muda Bintang mengumpat kata-kata sumpah serapah. Aku menatap datar dan dingin ke arah tuan Darel sedangkan tuan Abyan hanya terdiam.
Nona muda membulatkan matanya sekaligus memekik:"bayi besar penguntit, lo ngapain kesini?".
Jangan tanyakan para paman dan bibi membulatkan matanya saat ketua Black Blood datang ke markas organisasi AZZA.
Paman Darel berjalan kearah nona muda Neira dengan aura intimidasi yang kuat membuat para paman dan bibi meneguk saliva kasar. Tubuhku sedikit gemetar dan detak jantungku berdisko ria karena aura tuan Darel berbeda dari aura kedua majikanku.
"Hai sugar." Lembutnya dengan tersenyum manis.
Nona muda Neira hanya mendengus berbeda dengan tuan muda Bintang terlihat bodo amat. Aku hanya memasang wajah biasa saja karena pernah bertemu tuan Darel walaupun hanya sekali berbeda dengan para paman dan bibi menampilkan wajah cengo, kaget dan syok.
"Ngapain kamu kesini bayi besar?" Ketus nona muda Neira tidak bersahabat.
"Membantumu menyelesaikan permasalahan di pulau itu." Tunjuknya santai.
"Aku tidak perlu bantuanmu bayi besar penguntit."
Tuan Darel tertawa. "Organisasi AZZA dan mafia Black Blood bekerja sama sugar." Lanjutnya santai seperti dipantai.
"APA !!!" Pekik nona muda Neira syok.
Tuan Darel menganggukkan kepalanya dengan watados. Lalu duduk ditengah antara kedua majikanku. Lalu mengedipkan matanya ke arahku membuatku mengalihkan pandangan.
"Tuan Darel, semoga anda masih normal bukan suka sesama pisang." batinku berdoa.
Tuan Darel juga mencolek dagu dan merangkul tubuh tuan muda Bintang.
"Bayi besar, bisa lepaskan rangkulanmu dari adik kesayanganku." Ketus nona muda Neira tidak terima.
"Jangan ketus dan benci dong, sugar. calon istriku. Nanti kamu jatuh cinta sama aku." Pedenya membuat nona muda Neira pengen muntah.
Tuan muda Bintang menahan tawa saat mendengar nada pede tuan Darel. Aku dan tuan Abyan saling pandang kemudian tersenyum tipis.
"Mimpi di siang bolong." Sarkas nona muda Neira mencibir.
Perdebatan itu menurutku lucu karena nona muda Neira yang super duper ketus tetapi masih bisa diajak ngobrol. Aku tidak menyadari bahwa pergerakan kami diawasi tuan besar Leo dan nona muda Ayya.
...ππππππ...
...Baru dua episode part Alfa, masih belum selesai ya π€£ Jadi jangan tanyakan kapan selesainya π€...
...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote β€β€, like ππ dan komentar π¬π¬...