Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 25



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Selamat Weekend 😘 Author update lagi reader 😊


Markas Cabang Organisasi AZZA Kota C Negara A


Puluhan jet pribadi tiba di bandara pribadi, sebagian ketua dan anak buah mafia black blood maupun organisasi AZZA keluar perlahan-lahan.


Vivi, Lusi, Nadira ~ istri Arwan dan Maria ~ istri Irsyad sedang menunggu kedatangan para suami mereka. Pasangan Hilda-Farzan dan Fidel-Sally juga menunggu kedatangan mereka.


Vivi sejak tadi bolak balik bak setrika di depan pintu bandara pribadi. Lusi dan Hilda melihat hal itu beberapa kali menegur vivi.


"mamud Vivi. Bisa gak sih diam. pamud Kenan, pasti akan baik-baik saja." ucap Lusi pusing melihat Vivi.


"Lus, gimana gue gak cemas dan khawatir?! Suami gue dan loe gak kasih kabar?!" melas Vivi sambil meremas kedua tangannya bahkan kepalanya bak jerapah terus memandang pintu bandara.


"mamud Vivi, percaya deh sama suami kita. Lagipula ada nyonya besar Ayya, tuan besar Leo, tuan Ben, tuan lucas, tuan Hide, tuan Ryker, nona Anita, tuan muda kecil Bintang dan nona muda kecil Neira." Ucap Lusi menyebutkan orang-orang penting.


"Tetap aja gue khawatir Lus. Kok mereka lama amat sih." Ucap Vivi bak setrika.


Sementara di jet pribadi khusus yang mendarat ditengah-tengah, semua orang hanya diam dan saling pandang untuk membangunkan pasangan Gava-Leo, berbeda dengan Neira dan Bintang yang digendong oleh Karim dan Ben. Sebenarnya Darel ingin menggendong Neira tetapi Alfa melarang takut si pawang ngamuk alias Leo 🀣


Mereka semua menatap Zafar dan Miya. Miya dan Zafar tidak mungkin membangun si pasutri yang tidur nyenyak.


"ayah, bunda. bangunin nyonya Gava dan tuan Leo." pinta Alfa.


"gimana ya Fa? bukannya ayah sama bunda tidak mau bangunin masalahnya tuan Leo dan nona Ayya kalo tidur nyenyak ...." Ucap Zafar tidak melanjutkan kata-katanya.


"Apa yah?" tanya Alfa penasaran.


Kenan yang paham maksud Zafar berjalan kearah tempat duduk Gava dan Leo. Mereka semua menahan napas kecuali Darel dan Abyan yang hanya bingung dan heran.


Kenan menepuk pundak Leo beberapa kali membuat Leo mengerjapkan matanya.


"Sampai." serak Leo khas bangun tidur.


"Iya, tuan." angguk Kenan datar terkesan sopan.


"Kapan?"


"30 menit."


"Karim, Anita, Ben. Kamar." singkat Leo datar dan dingin melihat kedua anaknya berada di gendongan Karim dan Ben.


Karim, Anita dan Ben berjalan kearah pintu ket pribadi diikuti Ryker, Kenan, Athaya, Alfa, Miya, dan Zafar. Darel dan Abyan mengikuti dari belakang.


Setelah tidak ada lagi tubuh ke-11 orang tersebut. Leo mengusap pipi sang istri dan berbisik: "baby, kita sudah sampai. Kalo kau tidak mau bangun jangan salahkan aku." (bangunin apa ngancem ?? 😏)


Gava sama sekali tidak terusik bahkan malah memperat pelukannya membuat Leo menatap Hide dan Lucas bergantian. Lucas dan Hide menjauh dari sana bahkan langsung menulikan pendengaran mereka.


Leo langsung mengeluarkan taringnya untuk Gava. Dia perlahan-lahan menekan tombol agar sandaran kursi jadi tempat tidur, lalu membalikkan posisi menjadi Gava dibawah dengan masih tidur nyenyak tanpa terganggu sama sekali. (Jangan diintip biarkan mereka berperang dulu πŸ˜‹)


...🎞🎞🎞🎞🎞🎞🎞🎞...


Pintu bandara pribadi terbuka Vivi, Lusi, Nadira, Maria, pasangan Fidel-Sally dan Hilda-Farzan melihat rombongan Organisasi AZZA dan mafia Black Blood tanpa Leo, Gava, Lucas dan Hide. Vivi, Lusi, Nadira dan Maria langsung memeluk suami masing-masing.


Pasangan Vivi-Kenan


"Aku kembali yang." lembut Kenan sambil memeluk Vivi.


"Iya, terima kasih sudah kembali dengan selamat." Ucap Vivi mempererat pelukannya.


Pasangan Athaya-Lusi


"Akhirnya kamu kembali dengan selamat tanpa terluka." Ucap Lusi bersyukur.


Pasangan Arwan-Nadira


"kangen." manja Arwan.


"Aku juga." cicit Nadira sambil memeluk Arwan.


Pasangan Maria-Irsyad


"Selamat datang kembali mas." lembut Maria. Irsyad hanya memeluk sang istri tanpa mengeluarkan satu kata pun.


Pasangan Hilda-Farzan terutama Hilda langsung memeluk kakak sepupunya dan kakak ipar sepupu, Zafar dan Miya bersamaan. Farzan malah memeluk sang keponakan, Alfa.


"Bagaimana keadaan kalian?"


"Syukurlah, gue cemas banget bang, kak. Saat kalian tiba-tiba saja kehilangan kontak. apalagi sama keponakan gue."


"Disana tidak ada sinyal sama sekali kecuali memakai peralatan khusus, bibi Lya."


Hilda memeluk sang keponakan. Sebenarnya Hilda dan Farzan memiliki 2 orang anak dan semuanya laki-laki.


Bobby yang tidak memiliki pasangan hanya memasang wajah memelas dan iri saat 6 pasangan saling memeluk dan memendam rindu.


"Tuan Ben, tuan Karim, apa yang terjadi dengan tuan muda Bintang dan nona muda Neira?" tanya Hilda kaget saat melihat Neira dan Bintang berada di gendongan Karim dan Ben.


"Tuan muda dan nona muda tertidur nyonya Hilda." balas Karim datar.


"Terus dimana tuan Leo dan nona Ayya?" tanya Hilda menatap pintu bandara markas.


"Biasalah, lya. Kamu tau sendiri bagaimana cara bangunin nona Ayya dari tuan Leo seperti biasa." balas Zafar ambigu. Hilda yang paham hanya menganggukkan kepalanya.


"Kita ke markas dan istirahat terlebih dahulu." Ucap Irsyad ke mereka.


Mereka semua keluar dari pintu bandara pribadi meninggal Gava, Leo, Hide dan Lucas.


...🎞🎞🎞🎞🎞🎞...


2 jam kemudian, ruangan rapat penuh dengan pasangan Gava-Leo, Zafar-Miya, Kenan-Vivi, Athaya-Lusi, Reiner-Hana, Irsyad-Maria, Fidel-Sally, Irwan-Nadira, Neira, Bintang, Alfa, Darel, Abyan, Bobby, Ben, Anita, Ryker, Lucas, Hide dan Darius, jangan lupakan Zalfa.


"Tuan Darel menenggelamkan pulau itu?! nona muda Neira memutilasi tuan Saguna? Arwan bermain dengan si bos dan dua anak buahnya?" cerocos Fidel bak kereta api. Mereka semua menganggukkan kepala tanda membenarkan.


"Wow ... Daebak." Ucap Fidel mengangkat dua jempolnya.


"Na." bisik Bobby ke Nadira yang berada ditengah dirinya dan Arwan. Nadira menoleh. "Apa?"


"Lo gak ngeri gitu punya suami psikopat?" tanya Bobby seperti memanasi.


"Gak tuh, gak sama sekali. Lagipula dia hanya melakukan itu jika orang yang dihadapannya salah." balas Nadira menggelengkan kepalanya.


"Iya juga sih. Ooo ya apa pusaka Arwan sering diri?" vulgar Bobby memancing. Nadira mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah.


Interaksi Nadira dan Bobby tidak luput dari Neira dan Bintang kemudian saling pandang dan menyeringai jahil. Jiwa jahil Bintang dan Neira berkobar dan semangat 45.


"Paman bobby." panggil Neira. Semua orang menoleh ke Neira termasuk Bobby.


"Paman gak lagi nyuri rumput tetanggakan?" tanya Neira menaik-turunkan alis.


Gava dan Leo yang paham menampilkan wajah menahan tawa karena Bobby kena sasaran dari Neira dan Bintang.


"Rumput tetangga? Saya gak nyuri, nona muda Neira." polos Bobby.


"Terus kalo gak nyuri kenapa ngobrol dengan bibi Nadira, apalagi tadi wajahnya menggoda lagi." timpal Bintang.


Arwan langsung menatap tajam Bobby dan menyuruh istrinya duduk dikursinya. Bobby meneguk saliva kasar saat melihat tatapan tajam Arwan.


"Lo mau jadi pebinor?" sarkas Arwan diliputi amarah.


Bobby pucat pasi dan menggelengkan kepala, Neira dan Bintang terkekeh.


"Kalo loe gelengkan kepala kenap loe bicara sama istri gue?"


"Cuman ngobrol aja kok." jawab bobby terbata-bata.


Gava melihat hal itu merasa kasian kepada Bobby.


"Arwan, Bobby jangan bertengkar. Kalian berdua terkena kejahilan Neira dan Bintang."


"Yaaaahhhh .... mama gak asyik." rengek Neira dan Bintang manja.


"Bagaimana dengan Zalfa, gadis berusia 14 tahun itu nyonya besar?" tanya Athaya datar.


"Bob, loe rawat dia ya. Lagipula anak didik loe kan banyak." pinta Gava puppy eyes.


"Baik, nyonya besar. Serahkan saja kepada aike." balas Bobby mendayu.


"kok paman Bobby mah?" tanya Bintang heran.


"Kalian emang tidak tau?" tanya Gava balik membuat Neira dan Bintang menggeleng. "nanti mama ceritain ya. Gak apa-apakan Bob?" lanjutnya lembut lalu bertanya ke Bobby.


"Saya tidak masalah nyonya besar." yakin Bobby.


"Tuan Darel, Tuan Abyan. Mau menginap disini apa mau pulang? Saya dan kedua anak saya akan ke mansion Oliver Sanjaya beberapa hari?" tanya Gava ke Darel dan Abyan.


"Kami akan pulang bibi Ayya." ramah Darel tersenyum tipis.


"Baiklah, semuanya rapat hari ini selesai sampai disini, kita bubar." perintah Gava. Semuanya keluar dari ruangan rapat.


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...