Little Princess and Childish Mafia

Little Princess and Childish Mafia
Part 21



...⚠️ Warning ⚠️...


...Awas berhati-hati akibat typo bertebaran, kata kasar, vulgar atau hot...


...Berusaha menutupi dengan kata lain, tetapi kalo lupa maaf khilaf πŸ™πŸ€«πŸ€­...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada saja bikin gantung dan penasaran πŸ˜ŒπŸ€—...


...πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½πŸ“½...


Selamat malam πŸŒƒ Masih edisi author usahain buat update random untuk bulan ini 😘 soalnya di dunia nyata, author balik sore atau mau malam gitu πŸ˜‚ Tapi author ngerjain ibadah author bagi orang muslim 😊 Yuk kita ke cerita πŸ‘‰πŸ‘‰


Hari ketiga di Pulau Tanpa Nama


Pagi hari di kamar merah muda, Neira dan Alfa masih tertidur pulas berbeda dengan Abyan dan Darel yang berada di balkon kamar bersama Gesang.


"katakan." dingin dan datar Darel.


"Tuan Saguna sudah mengetahui identitas nona muda Neira tuan muda."


"😱 Apa?! Bagaimana bisa?!" Abyan syok dan kaget. Darel terdiam dengan wajah tanpa ekspresi sebenarnya di dalam hatinya mengumpat.


"Iya tuan Abyan, tuan muda."


"Tuan muda apa rencana anda?" tanya Abyan takut-takut.


Darel tersenyum amat manis membuat bulu kuduk Abyan dan Gesang meremang. Senyum amat manis bagi mereka seperti maut menjemput.


"Gesang, persiapkan." singkat Darel dengan senyum manis dan ceria.


"Baik tuan muda." angguk Gesang sedikit tercekat.


Gesang melompat balkon satu ke balkon yang lain seperti hantu. Darel dan Abyan masuk ke kamar merah muda.


"Bangunin." singkat Darel sambil menunjuk dagunya ke Alfa yang masih tertidur pulas.


Abyan berjalan ke arah Alfa sedangkan Darel berjalan ke arah Neira.


Abyan ke Alfa.


"tuan Alfa." panggil Abyan menepuk lengan kiri Alfa. Alfa yang merasa terusik perlahan-lahan membuka matanya.


"Ada apa?"


"Sudah pagi."


Alfa perlahan-lahan duduk sambil mengumpulkan nyawa satu persatu. Alfa bangkit dari kasur dan melipatnya lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Setelah tubuh Alfa masuk ke dalam kamar mandi, Abyan menolehkan kepalanya ke arah Neira dan Darel tetapi langsung berbalik kembali karena Neira dan Darel sedang berciuman panas.


"😱 ya allah, mataku ternodai dari pasangan yang belum halal." batin Abyan berusaha menghalau pikiran omesnya.


Darel Ke Neira


Darel terkekeh karena melihat Neira yang tertidur abdurd yaitu kaki berjuntai di atas ranjang, kepala beralas guling, bantal dan selimut sudah berada di bawah lantai.


"Kamu sungguh menggemaskan, Sugar." batin Darel tersenyum geli.


Darel memposisikan tubuhnya diatas tubuh Neira yang masih tertidur pulas bahkan kedua tangannya berada di sisi kanan dan kiri.


"Sugar, bangun." lembut Darel meniupkan mulutnya ke wajah Neira tetapi Neira malah merangkulkan kedua tangannya di leher Darel sehingga bertemunya bibir Darel dan Neira.


"Sugar, maafkan diriku ya. Jangan salahkan aku yang menciummu dengan sangat ganas." batin Darel bersorak gembira.


Darel menggerakkan bibirnya bahkan dengan mudah menerobos mulut Neira, hal inilah yang dilihat dari Abyan tadi. Neira merasakan pasokan oksigen yang hampir habis dan terusik perlahan-lahan membuka matanya terlihat Darel dengan mata lapar menatap mata Neira.


Dugh Bukh


Tubuh Darel terjatuh akibat tendangan Neira. Neira mengambil pasokan oksigen rakus lalu menatap tajam Darel.


"Hahahaha ... ya allah hahahaha ...." batin Abyan tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan Darel.


"Sugar, ya allah. Pantat Darel." ringis Darel.


"Salah lo sendiri, bayi besar mesum. Seenaknya mencium bibir gue saat gue masih dalam keadaan tidur." sinis Neira mengambil selimut dan bantal yang berada di lantai.


Alfa yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap hanya mengernyitkan dahinya heran saat melihat Darel terduduk di lantai dan Neira menatap sinis.


"Tuan Abyan, ada apa?" bisik Alfa datar.


Abyan menceritakan apa yang tadi di lihatnya. Alfa hanya manggut-manggut saja. "Baguslah, kenapa gak tendang asetnya saja nona muda." pikir Alfa.


Neira bangkit dari ranjang kingsize menuju kamar mandi sambil membawa pakaian lengkap. Sebelum masuk kamar mandi, tubuh Neira berbalik dengan nada mengancam : "Kalian bertiga silahkan ke balkon kamar ini terlebih dahulu, masuk lagi nanti 30 menit kemudian. Kalo kalian melanggar siap-siap saja aset kalian, gue potong."


Bak anak kucing kepada sang induk kucing. Darel, Abyan dan Alfa mengangguk bersamaan dan meneguk saliva kasar. Mereka langsung saja menuju balkon kamar dan duduk di sofa yang sudah disediakan, jangan lupakan cemilan dan minuman hangat yang sudah disiapkan Abyan.


Selama Neira mandi, Abyan mengeluarkan laptopnya untuk melihat bagaimana rencana yang disusun oleh Darel. Alfa melihat hal itu hanya mengamati saja sebenarnya dirinya takjub akan rencana Darel. Darel meminum susu rasa vanilla di botol dot bayi terakhir.


"Nih manusia satu, kalo sudah ada botol dot. Wajahnya polos banget seperti anak kecil. Coba botol dotnya gak ada, yang ada wajahnya datar dan dingin." batin Alfa mengamati Darel.


"Selesai." singkat Darel dingin.


"Anda tau?" tanya Alfa datar dan singkat.


"Ya."


"Anda dan Neira?"


"Cinta pertama."


"Serius?"


"Ya."


"Anton?"


"Tenang."


Abyan lagi-lagi hanya menggaruk kepalanya saat mendengar percakapan singkat itu.


"Kalian ngo-" "Lo serius bayi besar?" Ucapan Abyan terpotong karena Neira baru saja tiba dengan pakaian lengkap. Darel hanya menganggukkan kepala saja.


"Tunggu, tunggu. Tuan muda, nona muda, tuan Alfa kalian ngomong apaan? Saya sama sekali tidak mengerti?" tanya Abyan bingung.


"Lo gak ngerti mereka ngomong apa tuan Abyan?" tanya Neira memastikan. Abyan menganggukkan kepala saja.


"Lo berapa tahun bekerja dengan si bayi besar?"


"9 tahun, saat usia tuan muda Darel 16 tahun."


"Ckckck ... 9 tahun bekerja sama si bayi besar, lo gak ngerti omongan singkatnya." Cibir Neira.


"Nona muda Neira, apa anda mengerti?" tanya Abyan balik.


"Mau gue jelasin gak mereka ngomong apa?" Ucap Neira menaik turunkan alisnya. Abyan dengan semangat 45 menganggukkan kepala.


"Oke. Dengerin baik-baik penjelasan gue ya. Gue hanya jelasin singkat aja." Ucap Neira duduk disofa dekat Darel. "Alfa nanya ke tuan muda lo itu, gue siapanya? dijawabnya ya cinta pertama, terus mas Anton, suami gue gimana? dijawab lagi kalo gue dan mas Anton sebentar lagi akan cerai."


"Ooo begitu." paham Abyan.


Abyan tau kalo Anton sudah menikah dengan Ratih, sahabat dari Neira. Makanya Abyan mendukung Darel untuk merebut Neira dari Anton.


"Anda tidak sedih?"


"Buat apa sedih? dia sudah menodai pernikahan suci kami. Jadi gue akan pernah sedih atau menyesal jika gue dan dia bercerai." Jelas Neira sambil meminum susu hangat rasa stroberi.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Alfa, Neira, Darel dan Abyan mengalihkan pandangan mereka.


"Siapa?" teriak Neira.


"Pelayan nyonya Ala."


"Ada apa?"


"Tuan Saguna ingin bertemu dengan nyonya Ala dan tuan Indra."


Neira mematung saat mendengar nama Saguna memasuki telinganya. Dia menatap Alfa dan menggelengkan kepalanya.


Darel melihat hal itu dengan mengeluarkan suara dingin dan datar. "Kemana?"


"Ke gedung Selatan, tuan Indra."


"Baik, sejam lagi kami akan kesana."


"Baiklah saya permisi."


Setelah pelayan itu berlalu, Alfa dan Neira menatap tajam Darel.


"Maksud, anda. Tuan Saguna. Nona muda disini." singkat Alfa dingin dan datar sekaligus tidak terima.


"Tidak. Bersama." tekan Darel dingin dan datar.


"Gak bayi besar, gue gak mau." geleng Neira kuat sambil mencengkram ujung baju.


"Sugar, lawan masa lalumu. Jangan terjebak. Ingat kamu seorang putri dari tuan Leo dan nyonya Ayya." Lembut Darel sekaligus menyemangati.


"Tetapi ..."


"Tenanglah nona muda Neira, tuan muda Darel sudah memiliki rencana." Ucap Abyan menyakinkan.


Neira menatap Darel lekat kemudian menganggukkan kepala. Alfa hanya tersenyum tipis saat Darel menyakinkan Neira untuk melawan masa lalunya.


Darel bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah Neira. "Sugar, tetaplah berada disampingku agar aku bisa melindungimu."


Neira seakan-akan mendapat kekuatan dari Darel langsung tersenyum manis, hangat dan lembut. Alfa melihat hal itu tersenyum makin lebar karena baru pertama kali Neira tersenyum seperti itu kepada orang asing selain dari keluarganya dan orang terdekat.


Abyan juga terpaku saat wajah cantik Neira tersenyum manis membuat Darel melihat hal itu.


"Sugar jangan tersenyum seperti itu." manja Darel cemburu membuat Alfa dan Abyan memutar mata.


Darel, Neira, Alfa dan Abyan keluar dari kamar merah muda. Para pelayan taunya kalo Alfa dan Abyan adalah saudara dari Darel dan Neira.


...πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ...


...Jangan lupa tekan Rate, Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❀❀, like πŸ‘πŸ‘ dan komentar πŸ’¬πŸ’¬...