
Jovan Amor pria tampan berusia 25 tahun itu tersenyum merekah sambil berpose dengan barang-barang brand endors nya, karirnya sebagai model dan juga aktor berbakat nomor satu didunia itu kini sedang melejit didunia entertaiment. Namanya tersohor hingga seluruh penjuru dunia, sosoknya yang banyak dikagumi karena bakatnya itu juga hampir membuat seluruh wanita belahan dunia menjadikannya idol pujaan. Paras tampan, kekayaan, ketenaran, seolah-olah hal itu melekat dari dalam diri Jovan sejak lahir. Memang ketenarannya sekarang tak main-main, banyak job dari bebagai commpany group entertaimant menginginkannya untuk menjadi pemeran utama dalam syuting, visual dalam iklan, model dalam majalah, dll. Tenar! Itulah kata yang selalu melekat dalam dirinya, dari dulu hingga sekarang.
Semua orang tau itu, aktor berbakat yang mencapai karir sebagai penobat aktor dan model terbaik, berbakat, dan terpepoler, selalu diraih Jovan setiap tahunnya.
Di umurnya yang kian matang, banyak gadis yang melekat disampingnya berharap akan membuat hati seorang Jovan tertaklukkan.
Tapi tak ada satupun yang bisa mencairkan hati Jovan yang telah membeku sejak lama.
Jovan itu ramah, baik, pengertian, dan dermawan, jadi jangan heran banyak orang yang menyukainya walaupun dari golongan kelas bawah.
Tapi hatinya yang selalu menutup membuat orang tau, bahwa sosok itu susah untuk digapai.
Senyumnya yang semanis senja, membuat wanita mana yang tak meleleh walau cuman disenyum sekilas tanpa sengaja?
"Yaps! Sekali lagi Jo, dengan pose yang berbeda sekarang," ujar fotografer itu takala puas dengan hasil jepretan kameranya.
Memang pesona seorang Jovan tak ada yang bisa menolaknya, walau di ambil gambarnya dari sudut manapun. Benar-benar tampan!
Jovan langsung berpose sesuai yang fotografer arahkan.
"Yaps! Bagus seperti itu!"
"Okay sekali lagi!"
"Bagus!"
"Next pose yang lain."
"Ya! Ya itu sangat-sangat keren!"
"Sekarang tersenyum, dengan gaya yang lebih natural namun terkesan sexy ya."
"Nice!!!"
"Coba tambah sedikit riasannya di ujung rahang!" titah seorang seponsor, para awak make-up artis berhaburan mengerubungi Jovan, ada yang memperbaiki riasan Jovan, ada yang menyetel kembali baju Jovan, ada yang menyetel ulang rambut Jovan.
Wajah yang tampan itu tersenyum sexy, kali ini dandannya bertema horor, make-up dengan warna mendominasi warna gelap dan merah darah menghiasi wajah Jovan yang layaknya vampir. Tema ini dipakai karena barang brand endors yang Jovan tampilkan adalah make-up, sehingga tema yang unik ini diangkat agar memberikan kesan menarik bagi konsumen, apa lagi dengan paras Jovan membuat kalangan wanita dan pria pun cocok memakainya.
Kulit pucat, membuat warna yang terhias di wajah Jovan begitu tampak sempurna.
Selesai merias Jovan ulang para awak make-up artis itu kembali ke tempatnya masing-masing, fotografer kembali memgambil gambar Jovan tak henti-hentinya.
Kilatan cahaya yang membakar kulit hingga berjam-jam lamanya membuat kulit Jovan sedikit memerah, tapi seolah tak memikirkan hal itu, Jovan sudah terbiasa dengan kilatan cahaya itu dan lampu sorot yang membuatnya gerah dan panas.
"Okay, selesai! Itu foto yang terakhir!" teriak fotografer itu membuat manager Jovan, beberapa seponsor dan juga orang-orang yang berada dalam studio bersorak senang karena hasil kerja mereka yang sukses dan terkesan cepat.
"Yak! Karena kerja kita telah selesai lebih awal, mari minum anggur sambil memakan daging!" ajak manager Jovan berseru hingga membuat orang dalam studio bersorak senang.
"Owh wah,... It's a party? I like a party!" ujar salah satu kru didalam studio yang memang terkesan melambai, ia bernama Alexsa, tapi nama aslinya lebih terkesan gagah dari pada nama transgendernya, nama aslinya adalah Markques.
"Gogo! Jo, ayo ke restoran, kau hari ini kutraktir sepuasnya," ujar manager Jovan, yakni Jesy seorang wanita muda yang seumuran dengan Jovan.
Jovan menggeleng. "Maaf Jes,... Aku tak bisa."
"Bukan itu yang kukhawatirkan, tapi aku punya urasan mendesak, aku harus pergi Jesy, maaf," ujar Jovan menyesal karena tak bisa bergabung dengan rekannya yang lain. "Teman-teman maaf aku tak bisa ikut, aku punya urusan mendesak," ujarnya sebelum pergi kepada rekan-rekan kerjanya yang lain.
"Oh,... Jo ayolah,... Tak asik tanpamu, kerja ini cepat selesai 'kan karena kau juga."
"Maaf teman-teman tapi aku harus pergi sekarang."
"Ya apa boleh buat kalau begitu pergilah sekarang."
"Okay, thank's untuk good job keras kalian semua guys, aku pergi dulu bye." Dadah Jovan dan menghilang dibalik pintu.
"Bye!!! Maleng sakali nasib si Jo, padahel masih mude, eh tyapi tak pernah tyu sedikitpunz merasaken kesyenangen seperti eyke! Iwhh... Pria gagah bujang lapuk!" ujar Alexsa mencibir, yang sontak membuat semua orang dalam studio tartawa karena bahasa aliennya.
•••
"Nona! Ais! Anda tidak perlu membantu saya untuk mencuci piring itu, jika Tuan Yohan tau ia akan marah sekali dengan saya, lagian andakan belum terlalu sembuh total," tegur pelayan disampingnya.
"Tak apa Bi,... Aku sudah merasa lebih baik, lagian aku di sini juga karena aku tak lain adalah budak Yohan, dan anggaplah aku berterima kasih karena dia mau menolongku waktu itu," ujar Cansu tersenyum manis lalu kembali mencuci piring di westafel, sebenarnya Cansu bukannya menyerah dengan balas dendamnya kepada Yohan ataupun pasrah untuk menjadi budaknya, itu apalagi! Hanya saja ia tidak ingin merasa berhutang budi nantinya dengan pria kejam seperti Yohan. Gini-gini Cansu juga memiliki hati yang selembut salju. "Dan tak perlu merasa berhutang budi dengan manusia sampah itu lagi." sambungnya.
Walau ia tau Yohan sengaja mendorongnya masuk ke dalam kolam, tapi setidaknya Yohan mau mendengarkan pertolongannya, jika diberi dua pilihan antara dikurung di ruang bawah tanah atau masuk ke dalam kolam, ia lebih memilih dikurung saja, karena jika sudah bersangkutan dengan traumanya, Cansu jujur tak sanggup sama sekali.
Tanpa penolakkan, wanita tua yang menjabat sebagai ketua pelayan itu membantu aksi mencuci piring Cansu, ia adalah pelayan wanita tua yang sama yang menghalangi aksinya untuk kabur dari mansion waktu itu.
"Kau gadis yang baik," ujarnya.
"Namaku, Petty, kau bisa memanggilku Bibi Pet, aku sudah lama menjadi ketua pelayan di mansion ini, dan aku juga tau seberapa kejamnya Yohan dengan orang-orang yang dulu menyakitinya, orang bilang dia itu tak memiliki hati, tapi kau takkan bisa melihat sisi baik seseorang tanpa melihat lebih dalam isi hatinya yang sebenarnya," lanjut Bibi Pet.
Cansu menatap Bibi Pet lakmat. "Anak itu sebenarnya memiliki hati yang selembut malaikat," terang Bibi Pet lagi.
Sontak saja Cansu menaruh piring yang di cucinya sedikit membanting. "Aku kurang setuju denganmu Bibi Pet, asal kau tau saja! Mungkin didepanmu ia sangat baik, tapi dia itu iblis Bibi Pet!!! Iblis yang membunuh kedua orang tuaku!!! Hiksss,... Hiksss,... Hiksss...." isak Cansu.
Bibi Pet mengelus pundak Cansu menenangkan. "Mungkin dia punya alasan lain nak, dan lihat sekarang apa yang dia lakukan denganmu? Ia merasa kau bukan ajang untuk balas dendamnya, ia hanya membunuh kedua orang tuamu karena alasan lain, tapi kau yang tak bersalah, kau tidak dibunuhnya sama sekali, kalau Yohan itu iblis seperti yang kau bilang, dia sudah membunuhmu dari awal."
"Tidak Bibi Pet! Dia ingin menyiksaku secara perlahan-lahan agar kedua orang tuaku diatas sana semakin menderita!"
"Yohan,... Dia anak yang mudah marah, dan memiliki gengsi yang tinggi, ia selalu meremehkan seseorang, tapi coba kau pikirkan, kanapa waktu kau tenggelam karena didorong olehnya kau malah diselamatkan kembali olehnya?"
"Tunggu! Kenapa Bibi Pet bisa tau itu?"
"Yohan, Dia sudah kuanggap seperti anakku sendiri, jelas aku tau semuanya, walaupun ia memiliki segalanya ia tetaplah anak yang kurang kasih sayang orang tua dari kecil, dan aku sudah lama menganggapnya seperti anakku sendiri." Senyum Bibi Pet merekah.
"Kau tau nak? orang tua mana yang anaknya mau diburuk-burukkan oleh orang lain? Termasuk aku. Tapi aku mengatakan ini, karena itu memang kenyataannya,... Jika kau tak percaya dengan kata-kataku, coba kau pahami karakter sifatnya dulu baru hatinya yang sebenarnya."
Cansu termenung, walau ia tak sepenuhnya yakin dengan kata-kata Bibi Pet yang tampak ngaur menilai Yohan, jelas-jelas dia itu iblis apanya yang malaikat?! Mungkin saja malaikat pencabut nyawa! Itu baru benar.
Selesai mencuci piring Bibi Pet menyuruh Cansu kembali ke kamarnya.
"Ayo Nona, kau belum cukup istirahat, aku antar kau kemarmu," ajak Bibi Pet.
Cansu mengangguk karena memang tubuhnya sangat lemah sekarang, jadi ia tak bisa menolak lagi.
"Baiklah Bibi."