
Menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya, Yohan kini harus belajar bersabar dengan sikap tempralmentalnya Cansu. Walau ia sudah hampir naik darah dibuatnya.
Agap saja gadis itu masih shock dengan kejadian kemarin. Pikir Yohan.
Yohan memangku mangku bubur ditangannya, kali ini ia mengalah, ia akan mencoba cara yang tak pernah ia gunakan seperti biasanya.
"Aaa,,," ujarnya menirukan cara seorang Mommy yang memberikan anaknya makanan.
Cansu yang melihat Yohan yang berperingain lain sekali dengan dirinya kali ini membuatnya jadi tampak kelihatan aneh sekarang, ya tentu saja aneh, kalian bayangkan saja seorang pria gagah, dengan tampang wajah garangnya kini lebih seperti Mommy yang frustasi karena anaknya tak makan-makan.
Dah lihatlah wajah tampan itu mengerut tak kala Cansu tak melahap sendokkan Yohan dari tadi dan malah menatapnya bingung.
"Tunggu apa lagi heh? Kau ingin tanganku kebas gara-gara menunggumu?"
"Prtffff-" tawa Cansu menahan. "Hahahahah...." Ia pun tak sanggup melihat wajah Yohan yang seperti itu dan tertawa terbahak-bahak.
Yohan merasa aneh dengan gadis di depannya yang tadinya seperti manusia tak bernyawa, tapi sekarang seperti gadis yang tak pernah mengalami apa-apa.
Tawa Cansu menghipnotisnya sekejap mata, tawa itu membuatnya bernostalgia dengan bayangan anak perempuan masa kecilnya, yakni Caca.
'Tunggu! Mereka tidak mirip Yohan!' batin Yohan menyanggah.
Baguslah jika Cansu tertawa seperti itu, setidaknya ia bisa melupakan traumanya walau cuma sementara.
Cansu mengelap air matanya karena habis menertawakan Yohan habis-habisan bahkan perutnya sampai kram sekarang, jika tidak tentu saja ia lanjutkan tawanya.
"Sudah puas menertawakanku hemmm?" Dingin Yohan, walau ia berusaha untuk bersikap dingin dengan Cansu itu sekarang tak mempan lagi.
"Kau ketua mafia atau calon mommy yang akan mengurus anak hemmm? pfttt,... 'unyu,... unyuu anak Mommy makanlah sayang aaaa.' " Tiru Cansu. "Jika kau berbicara seperti itu aku akan makan sendokkanmu," lanjut Cansu.
Apa? Dikasih hati minta jantung! Bagaimana bisa Yohan melakukan itu? Bisa-bisa imag nya sebagai ketua mafia hancur sudah karena menjadi baby sisternya Cansu.
Jika bukan karena Leyos yang mengatakan padanya agar tidak menambah pikiran Cansu, sudah di pastikan gadis di depannya berlumuran darah sekarang.
"Aku tak mau, makan atau kau-" belum sempat Yohan berbicara Cansu langsung memotongnya.
"Menyiksaku? Membunuhku? Dengar ya Tuan Yohan Amor sang ketua mafia yang paling menakutkan di dunia, kau memang mengerikan, tapi untukku kau sama sekali tak mengerikan! Jadi jangan harap kau bisa mengancamku lagi, sudah tak mempan!" Jengkel Cansu lalu melipat tangannya dan memajukan mulutnya imut layaknya anak kecil.
Dalam hati Yohan tertawa melihat sikap Cansu, namun ia hanya bisa tersenyum simpul yang menampakkan lesum pipitnya yang dalam, menarik nafasnya dalam-dalam, mungkin untuk kali ini saja tak akan apa-apa bukan? Ia berusaha menahan malunya itu.
"Unyu,... Unyuu anak Mommy makanlah sayang aaaa-" Tiru Yohan lalu memutarkan sendoknya layaknya pesawat dan mendaratkannya di depan mulut Cansu.
"Seperti itukan? Aku sudah melakukannya buka mulutmu cepat!" ujar Yohan dingin.
Ais, baru saja pria itu terlihat seperti Ibu peri yang imut dimata Cansu, sekarang malah kembali sepeti gorila.
Cansu langsung terkekeh geli melihat Yohan yang begitu gampang di tipunya. "Garang-garang ternyata kau bodoh juga ya hahahah." Tawa Cansu. "Mau saja kena tipu pfffrttt."
"Buka mulutmu aku sudah melakukan apa yang kau mau, lihat saja jika kau sudah sembuh, habis sudah kau kubuat," gretak Yohan lalu mendapatkan mulut Cansu yang memakan bubur yang disendokkannya lahap.
Cansu masih dengan menahan tawanya.
"Aku sudah memakannya, kau puas Tuan Yohan Amor."
"Bagus, sekarang kau sudah pandai bertingkah seperti anjing yang patuh pada majikannya."
"Aku bukan anjing!"
"Kalau begitu kau budakku."
"Terserah kau, kau ini menjengkelkan!"
"Bukankah aku sedikit imut?"
"Imut dari mananya heh?"
"Tapi aku baru saja menyuapimu seperti Ibu peri."
"Kau bukan Ibu peri!"
"Malaikat."
"Kau baru tau pesonaku?"
"Jangan bangga dulu Tuan, kau harus jelas mendengarnya, maksudku itu kau malaikat pencabut nyawa!"
"Ya setelah aku puas menyiksamu, aku akan mencabut nyawamu."
Perdebatan mereka berdua membuat siapa saja mengira kalau mereka terlihat akur, namun nyatanya saling menyindir satu sama lain.
Di luar pintu Bibi Petty bisa melihat Yohan dan Cansu yang kini berdebat tak karuan, ia tersenyum merekah, Bibi Pet bahagia melihat Yohan yang seperti mendapat rasa girangnya walau cuman sementara, yang ia ketahui Tuannya itu selalu menampakkan wajah dingin tanpa ekspresi layaknya patung, dan sekarang wajah lamanya kembali berkat seorang gadis yang tak di undang. Ia harap Tuannya yang ia anggap seperti anaknya sendiri itu bisa bahagia untuk selama-lamanya dan tertawa seperti itu lagi.
•••
🐾"Selamat ulang tahun Jojo,... Selamat ulang tahun Jojo,... Selamat ulang Jojo,... Selamat ulang tahun...." seranya tersenyum mereka, Caca selesai bernyanyi, ia mengambil sebuat kotak pink berpita kepada Jovan.
"Apa ini?"
"Hadiah untuk Jovan yang sudah ku anggap seperti Kakak ku sendiri."
'Kakak? Tidakkah bisa lebih dari itu?' batin Jovan.
Tapi ia tetap tersenyum, dan mengelus pucuk kepala Cansu sayang. "Kau sekarang adik perempuanku." Lalu mengambil kotak hadiah dari Caca.
"Benarkah?" girang anak perempuan itu.
"Tentu saja."
"Bolehkah aku memanggil Kak Jojo?"
"Tentu."
"Asyik! Kalau begitu, coba Kak Jojo buka hadiahku itu."
Jovan mengangguk, lalu membuka hadiah yang diberikan Caca.
Sebuah gelas putih bergambar pohon beringin dengan adanya ayunan pohon, yang menariknya di sana ada gambar seorang anak laki-laki yang mendorong ayunan seorang anak perempuan.
"Wah ini cantik sekali."
"Benarkah? Aku kira Kakak Jojo tidak akan menyukainya," ujarnya. "Maaf aku tak bisa membeli yang mahal, hanya ini yang bisa kubuat, itu gambar yang kubuat sendiri. Itu Kak Jojo, dan itu aku."
"Kau pandai sekali menggambar."
"Tentu saja, tapi Kak Jojo harus berjanji padaku suatu saat."
"Apa itu?"
"Jangan pernah merusak atau menghilangkan gelas itu, atau aku akan sangat marah denganmu!"
"Hei tenanglah, aku selalu menjaga hadiah terbaik ini."
"Hadiah terbaik?"
"Hadiah yang kau berikan padaku, adalah hadiah terbaik yang pernah kumiliki." Lalu Jovan memeluk Caca erat. Keduanya saling berbagi kasih sayang.
Dalam hati, seorang anak laki-laki yang menatap mereka sembunyi-bunyi merasa cemburu, ia tak suka miliknya diambil apalagi itu dengan Kakaknya sendiri.
"Kenapa Jovan selalu merampas milikku?!" Dengus Yohan, lalu berlalu pergi dan melempar mainan mobil-mobilan itu asal yang sebenarnya adalah hadiah untuk Jovan hingga rusak tak berbentuk.
"Aku benci kau Kak! Sangat-sangat membencimu!" gerutu Yohan.🐾
Menyesap kenikmatan kopi di malam hari, Yohan kembali membuka matanya, ingatan tentang Caca selalu membanyanginya dan juga rasa benci petama kalinya terhadap Jovan selalu membuatnya tak pernah ingin melihat Kakaknya itu lagi.
Menggepal gelas kopi yang ia pegang geram, lalu melemparnya. "Akan ku buat rasa ini lebih menyakitkan untukmu Jovan," desis Yohan.
Kali ini rencananya berbeda sekarang, ia tau Jovan seperti tertarik dengan Cansu, maka kali ini pula ia akan melibatkan Cansu sebagai umpannya.