LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{38}



Selepas turun dari podium, Casely turun dan melambaikan tangannya pada awak wartawan yang sudah berkumpul di didepan gedung.


Namun, Casely tidak keluar gedung ia memutar arah dan berjalan ke wc umum, ia terlalu malas ditanya ini dan itu.


Apalagi dengan sikap Jovan, pria itu bahkan sama sekali tak marah dengan apa yang ia bilang di atas podium, jelas-jelas pria sangat cuek, seolah-olah tak terjadi apa-apa antara mereka berdua.


“Casely!” panggil seorang gadis cantik, dia Rebecca jalannya terburu-buru menyusul Casely.


Casely menoleh sinis, ia terlalu tidak menyukai perempuan seperti Rebecca.


“Kau memanggilku Nona?” Ubah raut Casely polos, ia terlalu menjaga imag nya itu.


“Tak usah berlagak menjijikan di depanku wanita ular! Ingat ini baik-baik, jangan pernah dekat-dekat lagi dengan Jovan ku, mengerti!” tegas Rebecca ia hendak saja berbalik.


Namun Casely malah meludahi lantai, siapa dirinya? Berani sakali mengatur-ngatur hidupnya. Jelas-jelas Jovan itu hanya untuk dirinya.


Dan kini Casely tau bahwa Rebecca adalah gadis yang sama yang pergi bersama Jovan ke acara ini. Pantas sekali lagaknya sok hebat.


“Cuih! Siapa kau heh?” Tatap Casely meremehkan, Rebecca membalikkan badannya menatap Casely marah.


“Jangan pernah sok kecakepan Nona, kau itu tidak jauh beda denganku.” Tunjuk Casely ke bahu Rebecca gretak. “Kau itu tidak jauh beda dengan wanita rubah!” desisnya.


“Apa kau bilang?!” geram Rebecca menarik rambut Casely kebelakang.


“Kau itu wanita rubah!!!” teriak Casely. “Auwhhh lepaskan rambutku sialan!!” Lalu Casely menarik rambut dan juga baju Rebecca kencang.


“Dasar wanita bedebah! Lepaskan tanganmu.”


“Kau yang bedebah brengsek!!! Dasar sialan!” Casely menginjak kaki Rebecca dengan hak tingginya. Otomatis jambakkan Rebecca terlepas dari Casely. Casely memanfaatkannya untuk kembali menarik rambut Rebecca.


“Kurang ajar!!!” teriak Rebecca tak kalah, mereka saling menjambak dan memaki.


“Lepaskan aku!”


“Kau yang lepaskan aku!!”


“Sakit gila!”


“Tak waras enyalahlah kau!!!”


“Bajuku!!!”


“Hahaha rasakan itu!”


“Sialan! Kemari kau!”


“Ahhhh,... Make up ku!!!!”


Tak ada satu orang pun yang lewat di sini, jadi jangan heran kalau tak ada yang merelai mereka.


Sampai di mana, ada Joguar yang mencari Casely ke sana kemari, saat ia mendapati gadis itu.


Casely malah bertengkar dengan,,, Joguar tak tau mau bilang apa! Tapi itu Rebecca! Gadis yang pergi ke sini bersama Jovan, jika Jovan tau tingkah Casely otomatis habislah mereka.


Joguar berjalan ke arah kedua gadis itu dan merelainya. “Hentikan!!!” teriaknya memisahkan dan berdiri di tengah-tengah Casely dan juga Rebecca.


“Hei pindah kau Joguar, ini perkelahian antara wanita saja.” ancam Casely.


“Pindah atau masa depanmu habis dengan sepatuku,” ancam Rebecca.


“Hei aku hanya—”


“Rasakan ini sialan!!!” teriak Casely


“Mati kau!!!” teriak Rebecca.


Keduanya berperang habis-habisan.


Pergelutan panas mereka berakhir dengan Joguar yang menjadi obat nyamuk, ia babak belur karena kedua gadis itu.


‘Ya Tuhan masa depanku habis’ batinnya memegang miliknya yang kesakitan dan nyeri karena hak tinggi Casely dan juga Rebecca yang tepat memukul di **** *****


•••


“Sudah ku bilang apa! Jangan ikut campur, dasar! Lihat sekarang! Ku jamin kau tak bisa menjadi Raja dalam permainan rajang lagi,” dumal Casely membopong Joguar.


“Diamlah, bawa aku yang benar ini sakit sekali."


Mereka berjalan keluar gedung belakang dengan baju yang sudah seperti gelandangan Hamburg.


Ckretk!


Sebuah flash, membuat Casely kalang kabut.


Ckretk!


Cahaya itu kembali membuat Casely menoleh ke sana dan ke sini, tapi tak menemukan apapun.


“Joguar,” desis Casely. “Kau masih bisa berlari 'kan? Kurasa ada paparazi di sekitar sini.”


“Omong kosong?! Kau bercanda heh? Jika kau melihat milikku sekarang benar-benar lecet saat ini, jangankan untuk jalan, lari saja seakan ingin copot!”


Casely memukul kepala Joguar kuat. “Bodoh! Kau mau wajah mesummu itu jadi tranding toping heh?”


Ckretk!


Cahaya itu lagi! Tanpa peduli dengan rasa sakitnya Joguar, Casely membopong Joguar untuk berlari kencang.


“Lari!!!”


“Akhhhh! Casely punyaku tergesek-gesek bedebah! Ini sakit!”


“Tidak ada yang peduli punyamu rusak atau tidak, aku lebih peduli citraku!”


Dalam hati Joguar menahan rasa sakit itu sampai air matanya keluar begitu saja. Ini jelas-jelas seperti di gergaji.


Pelan, sakit namun pasti. Sialan memang Casely.


•••


“Sakit!!! Sakit Yohan lepaskan aku!”


Yohan menarik Cansu tanpa peduli pergelangannya yang bisa saja membekas merah jadinya. Kali ini pria itu amat-amat murka dengan Cansu.


Ia kira dengan berperilaku baik dengan gadis itu semua akan berjalan sesuai rencana, nyatanya gadis itu juga diam-diam merencanakan rencana jahatnya untuk membunuhnya.


Anjing yang ingin menerkam majikannya?! Maka anjing itu harus diberi hukaman agar selalu tetap berada dalam batas kuadratnya yang ditetapkan untuk patuh dan setia pada majikannya.


Dan hal itu yang akan dilakukan Yohan. Memberikan hukaman pada Cansu agar gadis itu tahu apa yang ia dapat jika bermain-main dengan dengan dirinya.


Bruk.


Yohan membenturkan punggung Cansu ke pintu mobil, menghimpit tubuh Cansu dengan pergelangan tangannya yang semakin ditekan.


Kini Yohan menatap tajam sorot mata Cansu yang seakan ingin menangis namun berusaha untuk tidak mengeluarkan cairan bening itu.


“Arghhh,,,, saaakit... Lepasakan aku!”


“Lepas? Kau tak bisa lepas dari seorang Yohan Amor, Cansu Yan Rasly!” desis Yohan. “Di mana kau berada, sampai ke ujung duniapun jiwamu tetap terikat olehku!”


“Brengsek! Kau sebenarnya mau apa heh? Tak puaskah kau mengambil orang tuaku?” teriak Cansu membara, air mata keluar menampakkan ke murkaannya terhadap Yohan.


Yohan mencekik leher Cansu kuat. “Jangan pernah berani meneriakki ku dengan mulut busukmu! Kau pikir dengan tingkah patuhmu kepadaku, pikiran licikmu itu tidak ku ketahui heh?!” ujar Yohan meremehkan. “Membuatku jatuh cinta? Denganmu? Yang benar saja! Itu lebih menjijikan dari kotoran sekalipun.”


Lalu Yohan melepaskan cengkramannya dari leher Cansu.


Cansu terbatuk-batuk, lehernya begitu sakit karena ulah Yohan. Ternyata Yohan mendengar semua rencananya kini.


Tidak bisa! Ia harus lari dan menemui Jovan, jika ia terus berada di sini, entah hal gila apa lagi yang pria ini lakukan untuknya.


Saat Cansu berusaha meloloskan diri, rambutnya di tarik dari belakang. “Auhh.”


“Jangan kau pikir aku tak tau kau mau melarikan diri lagi bersama Jovan hem?”


Cansu tak peduli lagi, ia mengigit lengan Yohan sehingga pria itu spontan melepaskan jambakkannya.


Cansu memanfaatkan hal itu untuk lari.


Namun Yohan semakin kesal dibuatnya, Yohan mengejer gadis itu.


Sialan, hak tinggi ini membuat Yohan semakin mendekat ke arahnya.


Tanpa basa basi Cansu melepaskan sepatunya dan melemparnya ke sembarangan arah.


“CANSU!!!” teriak Yohan.


Ya Tuhan, perut Cansu seakan kram karena lelah berlari, namun ia tak bisa menyerah begitu saja.


Cansu memutar tubuhnya dan berlari ke belakang gedung, saat pintu belakang gedung terkunci, Cansu menilik frustasi.


Bagaimana ini? Yohan bisa saja langsung menangkapnya, tak berfikir panjang Cansu bersembunyi di semak-semak blukar.


“Kemana kau heh?!” Yohan melirik ke sana kemari, namun ia tak menemukan Cansu di manapun.


Apa jangan-jangan gadis itu sudah masuk ke dalam gedung melewati pintu belakang?


Yohan membuka pintu belakang gedung, namun itu terkunci. Jelas gadis itu tak bisa ke mana-mana selain bersembunyi.


“Aku tau kau bersembunyi di sekitar sini, jadi keluarlah sebelum aku menemukanmu aku pasti akan mencambukmu 100 kali,” teriak Yohan, namun hening. Suasana malam itu tak menampakkan tanda-tanda kehidupan.


Hanya ada lampu jalan yang menemani pandangan mata Yohan yang kembali menilik matanya tajam.


“Aku tak main-main Cansu, jika kau tak keluar, ku pastikan kau akan menderita nanti.”


Cansu menutup mulutnya rapat-rapat, ia ingin menangis namun ia tahan dengan membekap mulutnya sendiri.


Ia mengeleng-gelengkan kepalanya, berdoa di dalam hatinya, semoga Yohan tak menemukannya dan pergi dari sini segera.


Namun sayang, disaat itu Yohan deluan mengetahui keberadaannya, karena sebuah permata dari baju Cansu yang copot berada tepat di antara semak-semak blukar.


Tapa aba-aba Yohan menarik lengan Cansu yang bersembunyi.


“Bum, aku menemukanmu anjing sialanku.”