LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{42}



Rebecca terlalu kesal dengan sifat Jovan yang berubah dalam beberapa hari karena Cansu, bahkan dirinya sendiripun enggan memberhentikan mobilnya walau ia bisa melihat dari kaca spion mobilnya kalau Jovan mengejarnya sambil berteriak.


“Apa Rebecca marah denganmu Jo? Maaf gara-gara aku kalian berdua harus bertengkar, mungkin tak seharunya aku berada di sini,” ujar Cansu. Ia memainkan jarinya gelisah sambil menundukkan kepala.


Jovan menggeleng. “Tidak, ini sepenuhnya salahku, jadi kau tak perlu meminta maaf sampai begitu.”


Cansu mengangkat kepalanya. “Tapi kalau bukan karena aku, kalian mungkin tak akan begini.” Sendunya.


Jovan menuntup mulut Cansu dengan jari telunjuknya. “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri mengerti?”


Cansu mengangguk, ia terlalu gerogi melihat wajah Jovan yang terlalu dekat dengan wajahnya.


“Ayo kuantar kau ke kamarmu, kau masih belum pulih total.”


•••


Ruangan yang redup, kamar yang berantakan dengan botol-botol minuman keras berserakan di sana, frustasi dalam beban pikiran yang semakin menumpuk di kepala Yohan.


Meneguk Minuman itu kembali, Yohan menatap bingkai foto antara dirinya Caca dan juga Jovan.


Selama Jovan membawa Cansu pergi dari mansion nya maka selama itu pula Yohan memikirkan rasa bersalahnya tentang kematian Caca.


Ada apa ini? Kenapa ia harus seperti orang gila hanya karena seorang wanita? Ini biasanya bukan sifat Yohan, tapi bayang-bayangan itulah yang selalu menakuti dirinya.


Bayangan akan sosok Caca yang menyerupai Cansu. Seberapa kerasnya Yohan melupakan Caca selalu ada sosok Cansu yang membuatnya terbayang-bayang akan Caca.


Yohan tahu Caca itu bukanlah Cansu dan Cansu itu bukanlah Caca, makanya kerap kali Yohan menjadikan Cansu untuk ajang balas dendamnya, dendam di mana ia yang pernah tak sengaja merenggut nyawa Caca.


“Argh!!!” Membanting botol di tangannya, Yohan menangis sejadi-jadinya, dadanya terasa perih dan sakit, ia bahkan ingin mengakhiri hidupnya begitu saja namun Jika ia mati sekarang dendam ini belum juga terbalaskan. Di mana kematian Caca itu disebabkan oleh orang tuanya Cansu sendiri.


Yohan masih punya rasa toleran untuk dirinya, ia tau gadis itu tidak bersalah oleh sebab itu Yohan menjadikannya budak di mansion nya.


Tapi gadis itu— tidak tau terima kasih!


Prang!


Lemparan botol kaca itu mengenai dinding, airnya yang masih tinggal setengah keluar dan membasahi dinding dan juga lantai.


“Yohan?!” pekik Bibi Petty, mendapati keadaan Yohan yang memprihatinkan.


Tanpa di titah, Bibi Pet memeluk tubuh yang jauh lebih besar itu darinya.


Bibi Pet mengelus pucuk kepala Yohan lembut. “Tak apa sayang, jangan menangis seperti ini, ada Bibi di sisimu.”


Yohan amat merasa terpukul, dipeluknya erat Bibi Pet seperti ia memeluk erat Mommy nya sendiri.


Selama ini hanya Bibi Petty, ketua pelayan mansion yang mengerti tentang dirinya. Bahkan wanita tua itu juga menganggap Yohan layaknya anak sendiri.


“Apa yang harusku lakukan Bibi Pet?! Hiks,... Ini semua salahku, salahku!”


“Nak, semua orang punya salah, yang salah itu diri kita yang terlalu menyalahkan diri dengan masalah itu. Jadi nak, lupakanlah,... Lupakan.” Tenang Bibi Pet.


“Seberapa kuat aku melupakannya maka semakin lekat pula bayangan rasa bersalah itu Bi....”


“Kau harus berlajar untuk mengendalikannya Nak,” menangkup rahang kokoh itu, Bibi Pet menatap wajah yang tak biasa ditampakkan Yohan. “Dan, tak ada yang salah juga kalau seorang laki-laki menangis.”


•••


Di kediaman Jovan Amor•


Hari ini adalah hari ke tujuh di mana sejak Cansu yang sudah sadarkan diri.


Menatap ke arah jendela, Cansu mengingat bagaimana dirinya untuk pertama kalinya berada di mansion ini.


Cansu tersenyum, bayangan itu tak mudah untuk dilupakkan.


Di mana saat tanpa sengaja ia malah melihat Jovan yang sedang berlatih di ruang gym. Itu lucu bagi Cansu.


Sebuah pintu terbuka menampakkan seorang pria tampan yang mengenakan baju casual nya membawa sebuah coklat di tangannya.


Cansu menoleh, alangkah bahagianya ia saat melihat Jovan di sana.


“Jovan kau sudah pulang?” girang Cansu, ia memeluk tubuh Jovan riflek.


Deg! Deg! Deg!


Debaran itu bergemuruh kencang di hati Jovan, perutnya seakan di geletik saat Cansu memeluknya.


“Ah maaf—” Melepaskan pelukannya, Cansu tampak malu karena terlalu senang, ia tanpa sengaja malah memeluk Jovan.


“Aku membawakan coklat ini untukmu.” Lalu memberikan sebuah coklat ditangannya kepada Cansu.


Cansu menerima coklat itu.


Cansu memang sangat menyukai coklat, apalagi hal-hal yang berbau manis dan juga pedas.


“Bukannya kau harus ke lokasi syuting Jo? Kenapa masih di sini?”


“Ya, sebenarnya aku sudah pergi, kukira sebentar lagi akan syuting, namun karena sutradara ada keperluaan mendadak, kami break dua jam, makanya aku pulang dan tak lupa membawakanmu coklat.”


“Kau sangat baik Jo, terima kasih ya.”


Cansu tersenyum, kali ini seperti tadi dada Jovan berdegup kencang saat melihat paras manis Cansu yang tersenyum untuknya.


“Cantik,” guman Jovan.


“Hah? Kau bilang apa Jo?”


“Akh tidak, aku rasa kau salah dengar,” gelagapnya. “Karena aku break sampai dua jam, bagaimana kalau kita berjalan-jalan di luar?” usul Jovan.


“Wah bolehkah? Tapi kata dokter aku harus banyak-banyak istirahat.”


“Banyak-banyak istirahatpun bisa membuat tubuhmu jadi gampang sakit, ayo! Akan ku ajak kau ke tempat yang pasti sangat kau suka.”


Jovan menarik pergelangan tangan Cansu lembut. Ia tak sabar menunjukkan tempat favorite nya kepada orang yang pertama kali ia ajak ke sana.


Ya, tempat itu spesial, makanya Jovan kadang sering ke sana sendiri untuk menenangkan pikirannya.


Bisa dibilang Cansu adalah orang yang pertama kali ia ajak ke sana, bisa dipastikan bahwa gadis itu adalah orang yang spesial dimata Jovan, benar 'kan?


Kini Jovan dan Cansu berada di dalam mobil. Yohan mengambil dua kaca mata hitam yang ia simpan di dalam kotak yang selalu berada di dalam mobilnya, itu adalah barang dari lokasi syuting yang tak sengaja ia bawa, jadi anggap saja itu Jovan pinjam.


Lalu Jovan menyerahkan kacamata itu kepada Cansu. “Pakai.”


Tak lepas dari itu Jovan sudah deluan memakai kacamatanya, benar-benar sangat keren.


“Prftt— Apa aku harus?”


“Tentu.”


Cansu mengambil kacamata itu dan memakainya.


“Bagaimana?”


“Benar-benar swag.”


“Hahaha jauh lebih swag dari pada kau 'kan?”


“Ya kau adalah orang yang paling swag.”


“Hahaha.”