LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{28}



Suara derap sepatu high heels itu bergema di atas lantai mamer yang mengkilat, sepatu high heels itu takkala mewah karena brand ternama yang ia pakai, dari bawah hingga atas penampilan wanita itu sangatlah glamor, membuat siapa saja yang menatapnya takjup seketika. Dia Rebecca berjalan dengan anggun memasuki mansion mertuannya, ralat! Calon mertuanya.


Membuka kacamatanya elegan dengan rambut sebahunya Rebecca memeluk Fanny yakni Mommy tirinya Yohan dan juga Jovan.


“Kau menungguku diteras Mam?”  Lalu mencepika-cepiki pipi wanita paruh baya itu namun masih terlihat muda diusianya.


“Tentu saja Mami menunggumu disini lama, Sayang,... Gimana?” tanya Fanny seranya mengiringi jalan Rebecca masuk ke mansion.


“Apanya yang gimana Mami?”


“Sudah kau rayu Yohan 'kan?” girang Fanny tak sabaran.


Tak ada yang tau bahwa Rebecca itu adalah keponaan Fanny bahkan Lucas-Daddy nya Yohan dan Jovan saja tak tau bahwa Fanny memiliki keluarga, karena saat mereka menikah dulu Fanny berkata bahwa ia tidak mempunyai sanak saudara dekat lainnya.


Hal itu ia lakukan agar bisa menguras habis harta keluarga Amor, jangan tanya kenapa Rebecca bisa menyuruh Jovan melakukan perintahnya, itu bukan karena Jovan mengetahui indentintas Rebecca melainkan Jovan diam-diam menyukai gadis itu, tapi bukannya mendapatkan jawaban yang sama, Rebecca malah bilang dengan Jovan bahwa ia menyukai Yohan, hal itulah yang membuat Jovan marah, cemburu, dan kesal menjadi satu, tapi ia bukan tipe lelaki yang menuntut sesuatu, jika memang dirinya tak bisa memiliki Rebecca setidaknya ia bisa membuat gadis itu bahagia walau bukan karenanya.


Rabbeca dan Jovan dulu berjumpa disaat mereka menjadi salah satu pasangan dalam majalah model dewasa, hal itulah awalnya pertemuan pertama mereka. Tetap saja walau begitu Jovan tak mengetahui identitas Rebecca yang tak lain adalah keponaan Fanny.


Fanny dan Rebecca dulunya berkerja sebagai wanita yang melayani tamu di night club, mereka hanya berdua, dan tak memiliki sanak keluarga lainnya, hal itulah yang membuat Fanny menyayangi Rebecca seperti anaknya sendiri.


Bukannya karena apa Fanny melakukan hal ini ke keluarga Amor, hal ini tak lain karena Lucas lah yang membuat keluarganya meninggal karena dibunuh olehnya dulu, dan hanya menyisakan dirinya dan juga Rebecca.


Jadi mereka berdua berniat membalas dendam ini kekeluarga Amor.


Ya! Sifat Lucas yang kejam memang sama halnya dengan anaknya yang kedua, yakni Yohan.


Mereka kejam, sadis, dan berhati dingin.


“Jangan tanya itu Mami, kau tau Yohan itu susah orangnya, makanya itu aku menyuruh Jo untuk membantuku,” terang Rebecca.


“Kenapa kau menyuruh Jovan! Bagaimana kalau ia membaca map itu dan menayakan langsung kepada Lucas? Bisa-bisa kita ketahuan!” protes Fanny.


“Tenanglah Mami, Jovan tak akan melakukan itu, lagian dia mencintaiku.”


“Apa?! Jovan menyukaimu? Bagaimana bisa?”


“Itulah yang dinamakan, pancing satu dapat semua.” Bangga Rebecca lalu mengibaskan rambut sebahunya. “Bukannya itu lebih bagus Mami? Kita bisa menghancurkan mereka sekaligus tanpa perlu satu persatu,” lanjut Rebecca.


“Lalu apa yang kau katakan pada Jovan sampa ia mau melakukannya?”


“Aku bilang, aku berjumpa dengan Om Lucas, ia memberikanku map untuk diberikan kepada Yohan, namun aku bilang pada Jovan kalau aku takut disakiti Yohan kerena sifatnya yang anti perempuan itu, dan aku meminta agar Jovan saja yang menyerahkannya langsung, bagaimanapun juga jika Yohan sudah membaca map itu pertengakaran antara dirinya dan juga Jovan pasti semakin sengit.”


“Bagus! Jika perlu kau harus membuat Jovan selalu tetap dipihakmu.”


“Sepertinya untuk itu aku kurang yakin—”


“Kenapa?”


“Tadi aku ke tempat Jo, dan sempat mengancamnya, nyatanya ia malah marah padaku dan bersikap lain dari biasanya, aku heran dengannya, apa Jo dan Yo sedang perang dingin ya Mami?” tanya Rebecca.


“Itu lebih bagus jika mereka saling membunuh satu sama lain, jadi kita hanya bisa menonton saja,” ujar Fanny seranya tersenyum licik. “Ingat ini Rebecca! Kau tak boleh jatuh cinta dengan Jovan ataupun Yohan! Mereka itu yang telah membunuh orang tuamu, Mami yang melihatnya sendiri di depan mata kepala Mami, ingat rencana awal kita, bagaimanapun pertengkaran Yohan dan Jovan nanti itu tetap akan menguntungkan kita.”


“Aku tau Mami, aku tidak akan pernah jatuh cinta diantara salah satu dari mereka, rasa dendamku lebih besar dari pada itu.”


“Bagus, Mami menyanyangimu Rebecca kau cuman yang Mami punya jadi jangan mengecewakanku mengerti.” Fanny memeluk Rebecca.


Rebecca membalasnya. “Aku lebih menyayangi Mami.”


•••


Cuaca kali ini tak bersahabat, hujan lebat tak membatasi Lucas untuk tetap menatap batu nisan di bawahnya.


Mendiang istrinya yang amat ia cintainya itu, kematian yang terjadi sejak berpuluh-puluh tahun.


Kematian yang terjadi di salah satu panti asuhan.


Dulu itu keluarga mereka sering berkunjung ke salah satu panti asuhan yang dulunya mereka sebagai donatur di sana.


Ada seorang anak perempuan bernama Caca yang menjadi teman baik Yohan dan juga Jovan, itulah kenapa mereka betah di sana bahkan kedua putranya itu pernah menginap selama beberapa hari di sana.


Lucas juga senang dengan itu, ia menyayangi Caca layaknya anaknya sendiri.


Bahkan mendiang istrinya juga, ia bahkan berencana mengangkat Caca sebagai putri angkat mereka karena Jovan dan juga Yohan.


Namun, na'asnya saat mereka ke panti untuk mengurus data-data diri Caca. Sebuah kebakaran hebat di gudang panti merabat cepat melalap panti asuhan kala itu.


Untungnya semua orang berhasil selamat kala itu, namun Yohan berlari dan memanggil dirinya untuk menyelamatkan Caca yang terjebak di dalam gudang.


Semua orang panik, Gresia yang kala itu sangat menyanyangi Caca layaknya anak sendiri buru-buru berlari tanpa berfikir panjang menerobos kobara api dalam gudang.


Para pemadam kebaran yang cukup lama sampai membuat Lucas langsung menerjang kobaran api karena tak mendapati Caca dan juga Gresia yang tak kunjung-kunjung keluar.


Saat dirinya menemukan Grisia yang tak sadarkan diri di dalam gudang, Lucas menyelamatkannya, tapi ia terlambat.


Istrinya meninggal dunia saat itu juga, Lucas sangat terpukul kala itu.


Yohan dan Jovan juga menangis histeris.


Caca? Gadis malang itu tak ditemukan, Lucas pikir anak perempuan yang malang itu sudah menjadi abu bersamaan dengan gudang yang runtuh tak bersisa.


Kejadian itu membuat dunia maya turut berduka karena seorang milliader yang kehilangan istrinya dan meninggalkan dua buah hati mereka.


Sejak saat itulah Lucas merasa ada yang janggal dengan kejadian yang menimpa istrinya, seolah-olah kejadian itu sudah direncanakan dengan baik.


“Tuan Lucas, anda tak pulang?”


Lucas menaruh sebuah mawar putih di depan batu nisan, menciumnya lembut dan membisikkan sesuatu bahwa ia akan kembali lagi besok.


“Tuan, ini sudah hampir satu jam lebih, jika anda begini anda akan sakit.”


Lucas berdiri. “Kalau begitu kita pergi sekarang.” Berlalu masuk kedalam mobil.


Para boyguard membuka pintu mobil dan menunduk saat Tuan mereka masuk.


Lalu mobil itu melaju dengan kecepatan sedang kembali ke mansion.


Sesudah kepergian Lucas, batu nisan itu kembali ditatap oleh seorang yang kembali menaruh sebuah mawar putih.


Ia tau Mommy nya sangat suka dengan mawar yang satu itu.


Dia Yohan, hampir setiap hari ia mengunjungi Mommy nya sama seperti Daddy nya, namun mereka tak pernah berpaspasan karena Yohan yang tak menginginkannya.


“Mommy semoga kau bersamanya di sana selalu bahagia, aku titip salam juga untuknya,” ujar Yohan menatap makam Mommy nya.


Jika bukan karena ia yang mengurung Caca di gudang, mungkin saja Mommy nya dan juga Caca tidak akan mati.


Tapi apa ini memang salahnya sepenuhnya? Ia tak tau kebakaran itu bisa terjadi, dulu itu Yohan hanya berfikir untuk membuat Caca tau rasa akan kedekatan dirinya dan juga Jovan.


Ya, Yohan melakukan itu karena ia cemburu dengan Jovan.


Kalau saja Jovan tak membuatnya cemburu, Caca tak mungkin ia kunci di gudang, dan Mommy nya? Mungkin masih hidup sekarang.


Atau bisa dibilang keduanya masih bersama disini, hidup dengan tenang dan bahagia. Dan juga masih dengan Daddy nya yang menyayangi mereka dengan rasa hangatnya.


Jujur, Yohan merindukan kehangatan masa kecilnya itu.


Hujan tak membuatnya bergeming untuk tetap pergi dari sana, seolah air matanya ikut turut terbawa air hujan.


Sisi lemah inilah yang hanya ia tunjukkan kepada Mommy nya saja.


Rasa sesak dan penyesalan selalu menghantui Yohan, ia kadang malu berjumpa dengan Mommy nya dengan pengakuan seperti ini, seolah-olah memang ialah yang menyebabkan kematian Mommy nya.


“Maafkan aku— Maafkann,... Maafkann aku Mom,” sesal Yohan memeluk nisan, hatinya begitu terpukul sekarang.