
Sesampainya Yohan di mansionnya, Yohan langsung membopong Cansu yang keadaannya memprihatinkan, Yohan membawanya ke kamar tidur Cansu sebelumnya.
Para pelayan yang melihat gelagat Yohan memberikan tanda tanya yang besar.
Tapi mereka seolah membukam tak ingin terlibat lebih jauh, takut akan ketahuan Yohan.
Yohan menelepon Leyos dokter pribadinya yang termasuk temannya itu, beberapa minggu yang lalu juga Leyos yang menangani Cansu yang demam.
Sekitar 20 menit menunggu, Leyos datang ke mansion Yohan.
Leyos bahkan mengenakan pakaian santai karena Yohan yang menyuruhnya cepat-cepat datang, jika tidak kepalanya yang akan jadi taruhannya, yakni di gantung di tiang listrik oleh Yohan. Tentu saja Leyos tak mau itu terjadi.
“Kenapa lama sekali heh?!” bentak Yohan.
“Jangan salahkan aku! Salahkan sendiri mansionmu yang jauh dari kota,” dumal Leyos seranya memeriksa detak jantung Cansu.
“Bagaumana? Ia baik-baik saja 'kan?”
“Kau beri bius gadis ini?!”
“Kenapa? Memangnya itu aneh?”
“Yohan! Yohan! Kau ini pintar tapi kenapa disaat begini kau tak memakai otakmu itu heh?!”
“Katakan yang benar! Aku tak mengerti!”
“Jika kau memberinya bius, tekanan dalam jiwa traumanya yang minggu lalu bisa bangkit kembali, hal ini semakin memperburuk keadaan, bisa-bisa dia menjadi depresi berat dan berujung-ujung gila.”
“Tapi jika aku tak membiusnya dia akan meminta sesuatu yang lebih.”
“Maksudmu?” tanya Leyos tak mengerti.
“Ada seorang pria yang hampir menodainya dan memberikannya obat perangsang berdosis tinggi.”
“Astaga! Kalau bigini bisa lebih ruyam lagi keadaannya.”
“Ya, makanya itu, aku serahkan padamu.”
“Baiklah, aku akan berusaha.”
•••
Jovan menatap mansion Yohan dari luar, seranya menilik keatas kamar Cansu, ia harap Yohan akan menyembuhkan gadis itu mengingat ada Leyos yang datang ke tempatnya.
Drttttt,... Drrrttt,...
Sebuah benda bergetar dari saku celana Jovan membuatnya mengangkat panggilan dari orang yang membuatnya harus menghela nafasnya kesal, namun ia mencoba untuk mengaturnya.
Jovan mengangkat panggilan itu. “Ya.”
“Bagaimana Jo? Kau sudah berjanjikan?”
“Sabarlah Rebecca,... Jika kau selalu mengulang-ngulang pertanyaanmu itu, lama-lama aku bisa muak!”
“Hahaha, kau marah Jo? Oh ayolah! Aku cuman hanya membuatmu mengingatnya saja, kau 'kan akhir-akhir ini sangat sibuk sekali, aku tak mau kau malah melupakan janji kita.”
“Iya aku mengerti.”
“Ingatlah Jo, kau tak bisa mendekatiku lebih dari ini jika kau tak menepati janjimu!”
Tut,,, tut,,, tut~
Nada sambungan terputus membuat Jovan menggeram lantas mencampakkan ponselnya ke samping tempat duduk kemudi.
“Sial! Sial!”
•••
Disisi lain Yohan melihat mobil Jovan yang berada di teras mansionnya. Menutup gorden kamar Cansu, pria itu berjalan turun menghampiri mobil Jovan yang berada dibawah.
Tok tok tok.
Ketukan dari luar kaca pintu mobil membuat Jovan menoleh, Yohan berdiri di luar pintu kemudi Jovan, ia menatap Kakak nya tak suka.
“Sudah cukup bermain-mainnya Jovan, sekarang kau bisa pulang.” Persilahkan Yohan.
Jovan membuang muka, tersenyum kecut. “Ck! Meninggalkan Cansu? Bersamamu? Itu sama saja memasukkan Cansu ke neraka setelah keluar dari penjara!” ujar Jovan. “Aku akan menunggu Leyos memeriksa Cansu dan setelah itu aku akan membawanya ke mansionku kembali.”
Yohan menarik kerah baju Jovan kesal. ”Sebenarnya kau ini mau apa heh?! Dia itu anjingku, aku yang berhak mengaturnya, bukan dirimu! Dasar bedabah!” menghempas kerah baju Jovan sekartis Jovan tersungging.
“Yohan,... Yohan,... Asal kau tau, dia bukan binatang peliharaanmu!” Tatap Jovan tajam lalu mendorong bahu Yohan kuat. ”Kau pria yang brengsek Yohan, kurasa Caca pun juga akan kecewa jika melihat dirimu yang sekarang, ck! Benar-benar memalukan!" desis Jovan.
Yohan hendak saja meninju Jovan, namun Jovan seperti seakan pasrah rahangnya di tinju, ia malah tak mendapatkan apa-apa.
“Kenapa berhenti heh? Apa yang ku katakan terlalu benar hingga kau mengakuinya langsung hem?” Selidik Jovan.
“Pergi dari mansion ku sekarang juga!"
“Tidak sudah ku katata—”
Yohan menarik pelatuk pistolnya dan menodongkannya tepat ke dahi Jovan. ”Atau kubunuh kau disini.”
Jovan tersunging, apapun yang berbau masa lalu Yohan, Jovan pasti membuatnya marah besar seperti sekarang.
Tak membuang waktu, Jovan memasuki mobilnya dan melaju pulang ke mansionnya, mungkin akan ada waktu lain kali ia membawa Cansu nanti.
•••
“Sialan! Jika aku tau akan berurusan dengan pria psycopath itu, aku tidak akan mengikuti rencana busukmu ini Casely!” menatap tajam Casely, kedua orang itu kini di sekap di ruang bawah tanah dengan obor sebagai penerang. Ruangan yang begitu menyeramkan dengan berbagai alat penyiksaan tertepel di sisi dinding, lantai yang kasar bahkan membuat Casely meringis jijik karena adanya kecoa dan serangga aneh lainnya.
“Diam! Lebih kau bantu aku mengusir kocoa menjijikan itu, iuwww.”
“Tak ada waktu untuk mengurus masalahmu itu! Kita disini tidak akan lama, ayo berfikirlah! Otakmu itu kenapa buntu disaat seperti ini heh?”
“Apa kau bilang buntu?” ulang Casely. “Dengar ya kau penjahat kelamin! Seorang Casely tidak akan pernah terkurung disini untuk selamanya.”
Joguar menggeretakan giginya geram karena perkataan Casely. “Kalau begitu cepat berfikirlah untuk bisa keluar dari sini, dan setelahnya aku juga akan menghabismu sang penjahat kelamin ini,” ringis Joguar.
“Tak tau malu.” Membuang muka, Casely berjalan ke pintu jerusi besi, memukulnya dengan tangan hingga membuat anak-anak buah Yohan yang berjaga menoleh kearahnya.
“Hei, jangan berulah atau aku akan memisahkan kepalamu dari tempatnya,” ancam salah satu dari mereka.
Casely meneguk selivanya sendiri, kenapa harus dia yang menjadi umpan ayam?
“Tuan-tuan izinkan aku untuk keluar dari jeruji besi ini, aku kebelet buang air kecil,” cicitnya polos layaknya anak kecil, menampakkan pupil besarnya kepada para penjaga.
“Kalau kau mau, buang saja di sudut ujung dinding,” ujar salah satu dari mereka.
“Hei-hei! Kalian gila? Dia ini wanita, kenapa kalian malah menyuruhnya melakukan itu disini? Apa kalian pria bermata keranjang dan hanya melihat tontonan gratis saja heh?” ujar Joguar membantu.
“Hei anak muda, yang seharusnya lebih cocok dikatakan mata keranjang itu adalah kau bukan?” sinis salah satu dari mereka.
Joguar hendak saja memaki kepada para penjaga itu, namun Casely buru-buru mencengkram tangannya untuk tetap tenang.
“Berhenti berbuat gila yang akan membuat kita semakin susah keluar!” desis Casely lalu kembali beralih kepada dua penjaga bertubuh tegap itu.
“Tuan kau tega, bagaimana kalau aku ini istri atau anak perempuanmu? Apa kah kau akan melakukan hal yang sama dan membiarkan aku buang air kecil di hadapan pria mesum ini.” Menunjuk Joguar, pria itu hampir terlihat bodoh di buat Casely.
‘Wanita ini sengaja heh? Awas saja jika tidak berhasil!’ batin Joguar.
“Anak muda, pikiran naif kalian yang ingin keluar itu sudah banyak kami ketahui, jadi kalian tak bisa menipu kami,” ujar salah satu dari mereka.
“Baiklah cukup sudah aku tak tahan lagi, hei kau! Kau penjaga 'kan coba kemari, akan ku bisikkan sesuatu yang membuatmu akan terkejut,” ujar Joguar memainkan tangannya sebelah keluar dari jeruji besi menarik simpati penjaga.
Salah satu penjaga itu berjalan mendekat ke arah Joguar, toh menurutnya hanya dengan dibisikkan tidak akan membuat mereka berdua kabur.
Tapi saat penjaga itu mendekatkan kupingnya ke bibir Joguar, pria manis itu mengigit kuping penjaga dan menghantukkan kepalanya ke jeruji besi hingga berceceran darah.
Penjaga satunya lagi berjalan mendekati temannya, tak taunya Casely mengeluarkan kakinya sebelah hingga penjaga itu terjatuh, Joguar menarik tubuh pria satunya lalu membenturkan kepala pria itu ke jeruji besi juga, menumpuk dua tubuh pria tegap gagah itu seperti gunung, lalu mengambil kunci dari salah satu dari mereka yang berada di pinggang.
Joguar membuka jeruji. “Seharusnya aku sudah menggunakan rencana ini, dari pada rencana konyolmu itu.”
“Kau ingin marah denganku heh? Tak banyak waktu kita harus pergi sebelum penjaga ini terbangun, dan mungkin akan banyak di luar mansion yang berpatroli mencari kita, Yohan itu gila! Dia tidak akan melepaskan kita.”