
“Tuan Yohan Amor, apakah kau sedang mencari seorang gadis bernama Cansu itu hem?”
Yohan menoleh ke belakang, ia mendapati Joguar melipat kedua tangannya sambil bersender di dinding.
Yohan ingat! Pria itu adalah orang yang berani-beraninya melecehkan Cansu, bahkan ia dan Casely juga berhasil kabur dari mansion nya.
Yohan mencengkram kerah baju Joguar. “Kau yang menculiknya lagi heh?! Katakan atau kau mati di sini.”
Joguar tersenyum sinis. “Ck, jangan melihatku dengan tampang itu Tuan, kau menakutiku.”
“Katakan bedebah!!!” Emosi Yohan yang tak sabaran.
“Mengatakan padamu? Itu sama saja aku menyerahkan diriku pada malaikat maut,” jawab Joguar enteng.
“Jangan bermain-main denganku.”
“Bagaimana begini saja Tuan, padahal aku akan memberi tau 'kan nya sebelumnya, bukan aku yang membawa gadismu,” Menatap Yohan nyalang, Yohan melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Joguar.
Joagur merapikan kerah bajunya yang berantakan. “Kau kira karena aku tau masalahmu, terus aku yang membawanya? Aku tidak sebodoh itu, yang akan masuk kedalam lubang yang sama!” desis Joguar di kuping Yohan. “Tapi aku, akan memberi tau 'kan hal menarik untukmu Tuan Mafia yang terhormat. Aku mengetahui di mana gadis itu.”
“Di mana dia heh?!”
“Ais tak sabarannya,... Tentu saja sebuah pertanyaan harus ada imbalan untuk sebuah jawaban.”
“Kau ingin bernego denganku heh?!” Yohan menarik pistolnya dari dalam jas nya dan menodongkannya ke arah kepala Joguar.
Joguar menurunkan pistol Yohan dari dahinya. “Tidak perlu marah begitu Tuan, aku hanya punya satu syarat yang tak terlalu berat. Lagian jika kau membunuhku disini, semua orang akan tau bahwa sosok Trillionaire yang di kagumi semua orang adalah sang ketua mafia yang paling di takutkan.”
Yohan menarik nafasnya sabar, menurutnya apa yang dikatakan Joguar ada benarnya.
Yohan menurunkan pistolnya. “Kalau begitu apa yang kau mau? Uang? Kekuasaan?”
“Itu memang hal yang sangat ingin aku punya, namun aku tak membutuhkannya karena aku bisa mencarinya sendiri, yang aku inginkan adalah agar kau membebaskan aku dari kejaran anak buahmu, aku tak mau kau menjadikan aku dan Casely sebagai buronanmu, aku mau kau membebaskan kami? Bagaimana Tuan? Itu permintaan yang mudah bukan?”
“Baiklah aku setuju, sekarang cepat beri tau aku, dimana gadis itu.”
“Gadis cantik itu, dibawa oleh seorang aktor bernama Jovan Amor. Ouhhh apakah dia Kakakmu? Marga kalian ternyata sama—”
“Cukup omong kosong ini! Katakan sekarang Di mana!!!”
“Hahaha kau ini—”
Yohan menodongkan kembali pistolnya, sungguh berbicara dengan Joguar membuat rasa sabarnya habis dan mendidih menjadi emosi yang ingin diluapkan.
“Baiklah, gadis itu berada di luar gedung utama, aku tak tau mereka sudah pergi atau belum, setahuku, aku melihat mereka terakhir kali disitu.”
Yohanpun berlari mencari Cansu di luar gedung utama yang dimaksud Joguar, dalam hati ia sudah merutuki gadis itu jika berani-beraninya ia kabur dari genggamannya.
“Lihat, setelah ini apa yang akan kuperbuat untukmu Cansu Yan Rasly.”
Di sisi lain Joguar tersenyum merekah. Langkah pertama meloloskan diri menjadi burona Yohan sudah berhasil, dan kali ini ia harus merencanakan langkah kedua.
Drrrtttt... Drrrrttt....
Sebuah panggilan membuat Joguar mengangkat panggilan itu dan menempelkan benda pipih itu ditelinganya.
“Hei, bagaiamana apa berhasil?” ujar seorang dari disebrang sana, dia Casely.
“Tentu, langkah pertama kita berhasil, selanjutnya langkah kedua, apa mereka berdua masih di luar gedung utama?” tanya Joguar.
“Masih, aku masih mengintai mereka dari atas sini, tapi aku tak bisa mendengar pembicaraan mereka dengan sangat jelas.”
“Tak perlu, karena rencana kedua kita bukan untuk mendengar obrolan mereka, sebentar lagi Yohan akan kesana. Kita lihat apa adegan selanjutnya.”
“Kalau begitu kameraku akan merekam aksi ini hahaha,” ujar Casely di sana.
Joguar mematikan ponselnya. Ia juga tak sabar melihat adegan selanjutnya, sehingga ia berniat menonton film ini bersama Casely. Ralat perseteruan ini bersama Casely.
•••
“Ayo pergi denganku Cansu, kita kabur, aku tak mau adikku selalu menyiksamu,” terang Jovan menarik pergelangan lengan Cansu.
Namun, Cansu melepaskan tangan Jovan lembut dari tangannya. “Maaf Jovan aku tak bisa, lagian Yohan tak akan menyiksaku lagi karena aku akan membuatnya jatuh cinta denganku dan membalaskan dendam ini,” ucap Cansu sendu.
“Tidak! Kau tak bisa membalas Yohan, jika dia tau kau begini karena balas dendam, dia tak akan melepaskanmu Cansu!”
“Jadi apa? Aku harus pasrah? Atau aku kabur bersamamu dengan rasa sesak ini karena kematian kedua orang tuaku?” teriak Cansu frustasi. “Kau tak tau rasanya ditinggal orang yang kau sayang Jovan, maaf,... Aku sebenarnya ingin sekali kabur, tapi aku tak bisa mengikhlaskan kematian orang yang kusayang.”
Dilain sisi Yohan yang dari tadi mencari Cansu di berbagai sudut gedung akhirnya menemukan gadis itu bersama Johan di luar gedung. Sesuai apa yang di katakan Joguar.
Ternyata apa yang ia pikirkan salah, ia pikir Cansu kabur, tak taunya gadis itu berniat sama sepertinya, membuatnya jatuh cinta dan meninggalkannya, tapi hal itu tak akan pernah terjadi!
Dan kini yang semakin membuat Yohan marah, gadis naif itu beniat membalaskan dendamnya padanya.
‘Kita lihat siapa yang akan terkena perangkapnya sendiri.’ batin Yohan.
Lalu ia menghampiri Cansu dan Jovan.
“Di sini rupanya?” Senyum Yohan manis. “Kukira ke mana.”
“Yohan?” Cansu terkejut, saat melihat Yohan berada di sini tiba-tiba.
“Kau dari tadi di situ?” tanya Jovan curiga.
“Tidak, aku baru saja di sini, kukira Cansu kenapa-kenapa karena lama sekali kembali, tak taunya bersama Kakakku,” tekan Yohan diujung kalimat. “Oh iya, kau tak masuk Jovan? Ku dengar mc akan mengumumkan penobatan aktor terpopuler tahun ini, kuharap Kakakku ini menang lagi.” Senyum Yohan licik.
Jovan menatap Cansu sebelum ia berlalu masuk ke gedung.
“Sudah tinggalkan saja dia 'kan ada aku disini,” lanjut Yohan kembali, Jovan sama sekali tak menaruh curiga bahwa Yohan mendengar semua pembicaraan mereka.
“Baiklah, Cansu aku pergi dulu.” Selepas Jovan pergi, kini mata Yohan berubah menjadi tajam.
“Ayo kita pulang,” ujar Yohan dingin menarik Cansu kasar.
“Awww sakit Yohan!!!” ringis Cansu.
•••
Di sisi lain Casely dan Joguar kedua manusia licik itu tesenyum jahat. Mereka melihat semua kejadian itu, sambil mengabadikannya di layar ponsel mereka.
“Bagus, vidio ini akan menjadi boomerang buat mereka.”
“Kau tau apa yang ku pikirkan?” tanya Joguar tersunging.
“Tentu saja tidak, tapi aku yakin itu hal yang jahat.”
“Benar sekali, hal jahat yang akan ku tampilkan di layar ponsel setiap orang.”
“Ck kau ini tak sabaran sekali!”
•••
“Rebecca!” panggil Fanny berjalan ke arah Rebecca dan saling bercepika cepiki.
“Mami, kau pergi dengan siapa?” tanya Rebecca melepaskan pelukan mereka. “Dengan Mr. Lucas?” tebak Rebecca.
“Jadi kau pikir dengan siapa lagi heh?”
“Oh iya di mana Jovan? Kau tak pergi dengannya?” tanya Fanny melirik ke samping kanan dan kiri Rebecca.
“Katanya dia ke toilet tapi belum balik-balik,” terang Rebecca.
“Itu dia!” Tunjuk Fanny ke arah Jovan yang menghampiri mereka.
“Kenapa kau lama sekali jo?” tanya Rebecca.
“Apa sudah dimulai acaranya?” tanya Jovan dingin, ia bahkan mengalihkan topik pembicaraan dan mengubah mimik wajahnya menjadi masam karena tadi.
“Balum, tapi Jo kau tak apa?” tanya Fanny sok khawatir, bukankah seorang Mommy harusnya begitu? Atau lebih tepatnya pura-pura khawatir.
“Aku baik-baik saja.” Cuek Jovan dingin.
Mr. Lucas datang menghampiri Fanny istrinya.
“Rebecca kau menemani Jovan juga?” tanya Mr. Lucas.
“Iya Om, aku menunggu saat-saat Jovan yang akan kembali terpilih nanti.”
“Yohan tak datang?” Sendu Mr, Lucas. Ia terlalu merasa bersalah dengan Yohan, gara-gara ingin membalaskan dendamnya pada Fanny yang telah membunuh istrinya, mau tidak mau ia harus bersikap seperti mencintai Fanny, padahal itu tidak sama sekali.
“Yohan, tadi ada di sini tapi aku tak tau ia ke mana lagi,” terang Rebecca.
“Dia pulang,” jawab Jovan dingin.
“Apa dengan gadis itu sial itu?” ujar Rebecca spontan. Ia terlalu menyukai Yohan namun tak bisa melepaskan Jovan begitu saja.
Jovan yang selalu menatap hangat Rebecca, kini merubah raut wajahnya tajam menatap Rebecca tak suka karena menghina Cansu.
“Akh,... Maksudku Cansu,” gelagap Rebecca.