
Aroma green thai tea adalah kesukaannya, rasanya yang membuatnya kalah menarik dengan rasa alkhol di bar.
Jovan menyesap nikmat secangkir minuman itu digelas kesukaannya, gelas bergambar pohon beringin dengan sebuah ayunan gantung.
Ia juga masih mengingat kata-kata seorang anak perempuan saat memberikan cangkir itu kepadanya.
Dengan senyuman yang manis anak perempuan itu memberikan cangkir itu kepada Jovan di hari ulang tahunnya.
Gambar cangkir bergambar pohon itu memiliki arti tersendiri bagi Jovan, yakni tempat bermain mereka berdua.
🐾“Untuk Jojo yang sudah baik padaku, aku cuman bisa memberikan Jojo gelas yang ku lukis ini, maaf aku tak bisa membeli barang yang lebih mahal,” ujarnya tersenyum manis.🐾
Itu adalah hadiah pertama yang ia dapat dari Caca dan merupakan pemberiannya yang terakhir setelah kematiannya, bahkan kata-kata gadis itu masih tergiang dalam ingatannya selalu.
Sehingga wajar Jovan sangat mem-favorite-kan gelas itu.
Para pelayan juga tau seberapa harus hati-hatinya mereka saat mencuci gelas itu.
Di bawah balkon kamar Jovan yang langsung ke arah taman membuatnya menyipitkan matanya tak kala melihat Cansu berada disana.
Berjongkok, sambil berbicara sendiri.
“Apa sedang dia lakukan?” guman Jovan semakin memperhatikan Cansu.
Di sisi lain, Cansu sedang berjongkok memaikan tanaman putri malu.
“Wah tertutup!” girangnya.
“Rasakan ini!” sentuhnya lagi. “Aisss,... Kenapa sebelah sini terbuka lagi! Kuperintahkan kau! Aku adalah Ratu, cepat tertunduk!”
“Hahaha.”
Ini memang menyenangkan, dulu saat ia berada di panti asuhan, ia sering memainkan tanaman ini dan berperilaku seolah-olah ia adalah penguasa dan tanaman putri malu itu adalah rakyatnya.
Jovan menaruh gelasnya di meja, lalu berlalu menyusul Cansu.
Ia penasaran dengan yang apa gadis itu perbuat sampai terkekeh geli seperti orang gila.
Saat ia melihat tingkah konyol gadis itu, Jovan tertawa geli, membuat Cansu menoleh kebelakang mendapati Jovan yang tertawa senang.
“Kau melihat yang tadi ya?” gelagap Cansu malu.
“Tidak.”
“Bohong! Kau pasti melihatnyakan?”
“Tidak kok, aku hanya melihat Yang Mulia Ratu yang sedang memerintah rakyat jelatanya.”
“Hei kau—”
“Kau cocok bermain peran, aktingmu itu lumayan.”
“Lumayan bagus?”
“Bukan, lumayan konyol.”
“Jovan!” lalu Cansu secara riflek memukul lengan kekar Jovan hingga membuat Jovan meringgis. “Auwww.”
“Maaf,... Aku tak sopan.” Tunduk Cansu, lalu berlalu pergi dari hadapan Jovan.
Padahal Jovan yang melihatnya pergi biasa-biasa saja, ia kembali tersenyum geli di buat Cansu.
Sedangkan Cansu kembali menuju kamarnya dengan rasa malu yang tak tertahankan.
‘Ini dua kalinya kau betingkah konyol di depan orang yang menolongmu Cansu!!!’ batin Cansu merutuki dirinya sendiri dan menarik rambutnya sebal. Bagaimana jika besok saat ia pergi ke lokasi syuting ia semakin mempermalukan dirinya? Mau di taruh di mana wajahnya kelak?
Saat sesampainya di kamar, Cansu kembali mengintip dari jendela kamarnya, apa Jovan masih ditempatnya?
Ia hanya menduga saja.
Tapi nyatanya pria itu masih disana, lalu berjongkok melihat tanaman putri malu disana.
“Sedang apa dia?” kekeh Cansu. “Jangan bilang ia meniruku?”
“Konyol,... Prftttt” kekeh Cansu.
Disana Jovan seperti sedang berbicara, Cansu tak dapat mendengarnya, tapi melihat ekspresi Jovan saja sudah membuat Cansu yakin ia berbicara aneh.
Jovan menghentikan aktivitasnya yang menyetuh daun putri malu, lalu ia menoleh kesamping, disana ia bisa melihat seorang gadis yang tertawa geli melihatnya dari atas jendela balkon.
Cansu menegang.
Ia tak berniat sama sekali menertawai Jovan lagi.
Jovan melambaikan tangannya kearah Cansu, diikuti Cansu yang membalasnya.
Lalu keduanya tersenyum hangat.
Tak ada yang tau itu, tapi keduanya memang diawasi oleh mata-mata orang yang berada dalam kediaman Jovan.
Apalagi saat Cansu yang memukul lengan kekar Jovan, membuat orang yang memotret mereka tersenyum merekah.
Ia yakin kalau Tuannya akan sangat senang dengan hasil kerja kerasnya itu.
•••
Dentuman musik DJ memenuhi ruangan germelap dengan lampu kelap-kemelip itu, di lantai dance banyak orang yang bergoyang menikmati dentuman music ditelinga mereka, dengan menengadahkan gelas bening berisi wine ke atas, mereka menikmati sisa hidup di dunia layaknya surgawi.
Di sebuah ruangan VVIP dengan dentuman musik yang lebih slow, seorang pria meminum wine yang ia teguk nikmat.
Di sana pria tampan itu tak ditemani dengan wanita-winita penggoda layaknya pelanggan yang lain.
Dialah pemilik night club terbesar di Hamburg.
Pemilik kasino, club night yang paling mewah dan terbesar di Hamburg.
Yohan Amor, pria itu memutar gelasnya yang berisi wine kualitas tinggi sambil memikirkan Cansu.
Budaknya yang berani-beraninya melawanya kini malah dibawa kabur oleh Jovan, tentu saja ia geram dengan Cansu dan Kakaknya itu, yang kini membuatnya malah menyewa orang dalam kediaman Jovan untuk memata-matai gadis itu disana.
“Tuan, anda terlalu mabuk, apa ada ingin saya antar pulang?” Famoz memegang bahu Yohan yang hampir saja terjatuh kelantai.
Yohan menepis tangan Famoz dari bahunya. “Tidak! Bawakan aku satu gelas lagi!”
“Tapi Tuan—”
Tak sempat berkata Yohan menatap tajam Famoz yang diangguki pria itu.
Famoz menepuk tangannya dua kali.
Beberapa pelayan berdatangan menghampirinya hormat.
“Sediakan lagi yang sama,” titah Famoz.
“Baik Tuan.” Tunduk pelayan pria itu, Famoz terlalu hapal dengan sifat Tuannya yang sangat enggan dilayani oleh pelayan wanita dari pada pria.
“Famoz kau sudah menyuruh seseorang mengintainya 'kan?” tanya Yohan mabuk.
“Tentu Tuan, apa Tuan mau mengambil Nona anda sekarang?”
“Cih! Sudahlah!!! Kau ini tau apa heh?! Dia bukan Nonamu dia itu budakku!” racau Yohan.
“Aku mau besok foto Jovan dan Cansu berada di tanganku mengerti?”
“Baik Tuan.” Tunduk Famoz berdiri.
Seorang pelayan pria menaruh gelas berisi wine ke meja Yohan, Yohan kembali meneguk wine dari gelasnya.
Meminumnya hingga tandas dan hampir tak sadarkan diri, jika saja Famoz tak menghentikannya.
“Besok kau, aku, kita akan menjemput budak pembangkang itu,” titah Yohan lalu berdiri dari kursinya.
“Tuan,... Anda yakin ingin pulang sendiri?”
“Tidak, kau bawalah mobilku ini,” lalu Yohan melempar kunci mobilnya yang langsung riflek ditangkap Famoz.
Keduanya berlalu pergi dari night club, udara dingin menerpa wajah Yohan saat mobil pintu terbuka untuknya.
Para penjaga dan pelayan menyambut kedatangan Tuan mereka.
Bibi Petty yang khawatir dengan Yohan yang mabuk langsung membopong Yohan untuk masuk kekamarnya.
“Tuan terlalu banyak minum, kau urus dia, beri air hangat agar meredakan mabuknya itu,” titah Famoz.
“Baik Tuan.” Angguk Bibi Pet.