LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{15}



Sinar matahari memasuki kaca jendela besar itu, Cansu kini telah selesai mandi sambil berjalan ia mengelap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, kebiasaanya yang selalu membiarkan rambutnya kering sendiri membuat hal itu terbawa hingga dewasa.


Membuka pintu balkon, Cansu bisa menghirup udara segar karena banyaknya beberapa pohon yang ditanam di sekeliling mansion.


Di bawah sana Cansu juga bisa melihat seorang pria yang tengah berolahraga di sana. Di ruangan yang berbeda dengan kaca bening yang tembus transparan membuat posisinya kini sangat pas! Di mana Cansu bisa melihat otot-otot milik Jovan yang kini berkeringat karena lelah mengangkat beban.


Glek.


Cansu susah payah meneguk selivanya sendiri, mencoba membalikkan tubuhnya tak kala pandangan mereka berjumpa. Dari dasar lantai Jovan tersenyum smirk melihat Cansu yang malu-malu ketahuan melihatnya.


Sedangkan Cansu? Ia kini jadi salah tingkah dibuat Jovan, ia berfikir kalau Jovan bisa saja menganggapnya sebagai wanita penguntil.


Cansu memasuki kamarnya, menutup pintu balkon rapat-rapat tak lupa ia menutup gorden jendela kamarnya dengan terburu-buru.


Padahal disitu Jovan semakin terkekeh geli melihat tingkah Cansu.


Kenapa juga ia harus menutup pintu balkon dan gordennya? Padahal ini masih terlalu pagi bukan? Dan alasan itu tak lain dan tak bukan karena Jovan.


Di atas sana Cansu mengintip di balik celah gordennya.


Bagaimana bisa Jovan masih terkekeh geli dengan tubuh yang bertelanjang dada seperti itu di depan seorang gadis? Tentu saja itu memalukan! Pikir Cansu.


Cansu menyenderkan tubuhnya dibelakang jendela kaca. “Ya ampun,... Kenapa Tuan Jovan dari tadi terkekeh ya? Apa dia tau kalau aku melihatnya? Atau dia ilfil karena aku tak sengaja melihatnya bertelanjang dada?!” serasa wajahnya ingin ia hantukkan kedasar laut samudra saja! Cansu benar-benar malu! Ia bahkan menutup wajahnya yang kini memanas bak kepiting rebus.


Disisi lain? Jovan mengambil sebuah telepon khusus yang memang untuk menyuruh pelayan di mansionnya.


Suara nada tersambung disana membuat Jovan yakin, telpon diangkat.


“Geo.”


“Ya Tuan ada yang bisa saya bantu Tuan?”


“Suruh wanita itu ketempatku sekarang,” perintah Jovan ditelpon, lalu mematikannya secara sepihak.


Jovan tersenyum smirk tak kala mematikan sambungan telponnya sambil menatap pintu balkon kamar Cansu yang kini tertutup rapat.


“Nakal,” gumannya.


Sedangkan Cansu kini ia terperanjat dari lamunannya tak kala pintu kamarnya diketuk.


Tok-Tok-Tok.


Menoleh kepintu kamar, Cansu berdiri dari duduknya yang bersilah dilantai.


“Iya sebentar,” ujarnya seranya membukakan pintu kamar. “Tuan Geo?”


Geo membungkuk hormat. “Tidak perlu memanggil saya Tuan Nona.”


“Akh,... Kau lebih tua dariku, tentu saja aku harus memanggilmu Tuan,” terang Cansu yang mendapati anggukan Geo.


“Baiklah Nona terserahmu, tapi saya kesini diperintahkan Tuan Jovan untuk membawa anda kesuatu tempat.”


Cansu mengerinyitkan alisnya bingung, kesuatu tempat? Bukannya Jovan kini sedang berada di ruang gym? Jika benar ia memanggil Cansu, itu tak lain dan tak bukan pasti untuk memergoki dirinya yang tak sengaja mengintip Jovan yang berolahraga dengan bertelanjang dada bukan? Cansu harap bukan itu.


“Kemana?” tanya Cansu.


“Ikuti saja saya Nona,” lalu Geo berjalan deluan yang dibelakangnya Cansu.


Dalam hati Cansu berharap ia tak dibawa keruangan gym tempat ia tak sengaja melihat Jovan berolahraga.


Mereka memasuki lift, lalu turun kelantai dasar, sesampainya didepan pintu Geo menyuruh Cansu masuk kedalam tanpa ditemani lagi olehnya.


“Masuklah Nona.”


Cansu memasuki ruangan itu, ruangan serba putih dengan benda-benda olahraga lengkap, membuat Cansu hanya bisa meneguk selivanya sendiri dengan susah payah.


Jovan menaruh alat bebannya di lantai, lalu tersenyum manis ke arah Cansu. “Kenapa kau hanya diam saja hem? Bukankah lebih puas kalau kau melihatnya secara dekat begini, ayo kemarilah.” Jovan menyuruh Cansu menghampirinya dengan jarinya.


Cansu memajukan tubuhnya tegang. “Bukan,...Bukan begitu Tuan,” tolak Cansu, ia merasa Jovan memang benar-benar salah paham tadi, ia tak bermaksud mengintip Jovan malahan itu bisa di bilang tak sengaja, karena awal niatnya Cansu membukakan pintu balkon hanya untuk menghirup udara segar saja, hanya itu! Tak lebih!


“Ekmmm,... Benarkah?” tanya Jovan sok serius.


“Tentu saja! Itu tak seperti yang kau bayangkan Tuan,... Aku tadi, hanya ingin membukakan pintu balkon untuk menghirup udara segar dipagi hari namun,... Aku tak sengaja melihatmu,” cicit Cansu seperti tikus sambil memainkan jarinya.


Jovan berusaha menahan senyumnya melihat wajah Cansu yang amat merasa bersalah, entah kenapa dalam hati Jovan ia semakin ingin mengerjai gadis didepannya itu yang menurutnya begitu imut.


“Baiklah,... Aku terima alasanmu itu, namun aku tak bisa memaafkanmu begitu saja karena sejak diatas sana kau memandangku tak berkedip sama sekali, benarkan?”


Tepat sasaran! Kini Cansu tak tau harus membalas apa, karena apa yang dibilang Jovan semuanya memang betul.


“Melihat kau terdiam, ku anggap iya darimu.”


“Maaf,... Aku mengakui kesalahanku Tuan,” sesal Cansu.


“Aku memaafkanmu.”


“Banarkah?” girangnya.


“Tidak semudah itu, aku memaafkanmu jika kau mengikuti syaratku.”


“Apa itu Tuan?”


“Temani aku besok ke lokasi syuting, dan kau akan menjadi asisten pribadiku mulai sekarang,” jelas Jovan.


“A,... Asis,... Ten?” igau Cansu.


Jovan mengangguk. “Iya, tenang saja, kau akan kugaji jika kau berkerja dengan baik.”


Digaji? Jika benar begitu Cansu bisa membeli rumahnya kembali yang telah dijual oleh Yohan, benarkah? Jika begitu, itu ide yang bagus untuknya! Lagian menjadi asisten pribadi artis itu termasuk pekerjaan yang lumayan keren bagi Cansu.


Apalagi dari dulu ia ingin bercita-cita menjadi sutradara film, hal ini bisa ia manfaatkan dengan baik untuk pengalaman tambahan untuknya.


Mengingat sejak kejadian pembunuhan itu, seluruh harta mereka diregut paksa oleh Yohan membuat Cansu tak memiliki uang sepeserpun. Tentu pekerjaan ini tak boleh ia sia-siakan bukan?


“Bagaimana kau mau kan? Kalau kau tidak maupun kau harus mau.” Paksa Jovan, “karena aku tak terima tubuhku dilihat begitu saja,” cicit Jovan.


Cansu menganggukkan kepalanya senang. “Tentu,... Tentu saja aku mau Tuan,” girang Cansu semangat membuat Jovan tersenyum merekah.


“Oh iya,... Untuk yang satu itu! Berhentilah memanggilku Tuan, panggil saja aku Jovan.”


Cansu mengangguk senang. “Baiklah Jovan.”


“Ya, besok bersiap-siaplah, aku akan membawamu kelokasi syuting, dan kau akan ku arahkan untuk menjadi asisten yang cekatan, mengerti?”


Cansu mengangguk layaknya anak anjing yang membuat Jovan tak tahan melihat wajah imutnya itu.


“Baiklah Tuan,... Akh, Maksudku Jovan.”


Jovan tersenyum lembut, lalu ia mengelus pucuk kepala Cansu sayang layaknya anak anjing yang menggemaskan.


Lalu Jovan berlalu pergi, meninggal Cansu yang mati kutu ditempat.


Tak beberapa lama, hanya bisa dihitung dalam beberapa detik saja, Cansu lalu berlalu pergi dari ruangan itu menuju kamarnya.


Ia tak mau besok dihari pertamanya menjadi asisten seorang artis membuat Jovan menilainya kurang cekatan dan terampil.


Makanya dari itu, ia harus tunjukkan pada Jovan kalau ia bisa diandalkan dan tak lagi membuat hidupnya kepikiran sebagai seorang yang tinggal di mansion Jovan tapi tak ada gunanya sama sekali, yang ada hanya merepotkan dirinya saja. Tentunya Cansu tak mau Jovan berfikir begitu.