LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{1}



‘Jika aku bisa membalas dendam ini, maka akan kulakukan walau aku tau jika aku akan menyesal nantinya.’


~Yohan Amor~





‘Jika aku bisa memilih aku lebih ingin mati ditangannya dari pada hidup dikandangnya.’


~Cansu Yan Rasly~





‘Tak peduli dimana asalmu, dan siapa kamu, ingat aku selalu ada disisimu sebagai malaikat pelindungmu.’


~Jovan Amor~








Hamburg, German.


       03.48 Uhr.


Cansu Yan Rasly •


Bau anyir darah menyegrap indra penciumanku, tenggorokkanku seakan kering tak kala melihat percikan darah yang memuncrat di sekitar wajahku, bau anyir ini,... Baunya seakan memuntahkan semua isi dalam perutku. Aku mual!


Sial! Mereka semua kejam! Jangan tanya mereka siapa, yang jelas aku pun tak tau asal mereka, yang kutahu mereka semua adalah manusia iblis yang tak memiliki hati.


Beberapa jam sebelumnya kami semua baik-baik saja.


Namun, tiba-tiba segerombolan orang datang memasuki rumahku dengan paksa, mereka membuat kericuhan dan menembak semua orang yang kusayangi secara beruntun. Orang-orang yang berpakaian serba hitam-hitam itu menembak seluruh penghuni rumah tanpa belas kasih sedikitpun.


Dor! Dor! Dor!


“Bunuh semua! Jangan sisakan sedikitpun!” tutur pria berperawakan tegap gagah itu, kuyakin dialah bos dari orang-orang yang berpakaian serba hitam-hitam itu.


Tentu saja aku ingin menjerit dan berlari tak kala bunyi tembakkan mengarah keseluruh penjuru sisi ruangan membantai habis penghuni rumah, penjaga, pelayan, semua mereka bantai habis.


Darah segar mengalir dilantai marmer menghiasi kekejian pria itu. Saat kakiku mencoba berlari, kakiku seolah dijegat olah makhluk tak kasat mata, badanku lemah saat melihat darah-darah itu mengalir begitu saja, dan yang mampuh aku lakukan adalah? Berdiam diri menatap betapa biadapnya pria hasus darah itu, lidahku keluh, badanku bergetar hebat dan sialnya lagi kakiku melemas tak berdaya, aku begitu ketakutan, walau diriku berusaha untuk lari dari sini, tapi percuma... Tubuhku seolah lumpuh seketika, dan yang dapat ku lakukan hanyalah membekap mulutku sendiri agar tidak ketahuan bersembunyi dibawah kolong meja, menutup indra pendengaranku, walau itu percuma! Suara tembakkan itu tetap terasa begitu keras digendang telingaku memekakkan bagian organ gendang telingaku.


“CANSU LARI NAK! DADDY, MOMMY TAK BISA MENJEGATNYA LEBIH LAMA!” lanjut Daddy, sesekali melirikku yang memeluk lutut.


“Ck, ck keluarga Yan Rasly yang begitu harmonis,” seringai pria didepan kami, “tapi keharmonisan itu tak akan berjalan lama,” ujarnya licik.


“Siapa kau heh? Jangan berani-beraninya macam-macam dengan keluargaku!” teriak Daddy ku geram, lalu ia menarik senapan yang tertempel dinding dan menembakkannya ke arah pria misterius itu.


Dor! Dor! Dor!


MELESET! Tak satupun dari peluru Daddy ku tertancap ditubuh pria berperawakan tegap gagah itu.


“Beraninya kau bermain-main denganku!” geram pria itu lalu menarik pelatuknya dan menembak isi kepala Daddy ku hingga terpental kebelakang.


“Daddy!” jeritku dalam hati, aku tak ingin pria itu tau kalau aku bersembunyi di bawah kolong meja.


Mommy memelukku, mencium keningku lembut. “Cepat lari sayang,” setelah berkata begitu Mommy mengambil senapan yang sempat di pakai Daddy untuk membalas pria itu.


Namun, tak sempat Mommy menembak, pria itu lebih cepat menembak Mommy ku beberapa kali.


Dor! Dor! Dor!


Tidak!!! Aku tak ingin mendengar tembakkan itu, dan melihat warna merah kental itu, Ya Tuhan....


Dan saat suara yang memekakkan ditelingaku itu berhenti, aku bisa melihat, melihat semuanya,... Ya! Semua kenyataan yang berada didepan mataku, bahwa orang tuaku telah tiada.


Air mataku terjatuh begitu saja, lidahku keluh seolah tak mempunyai suara untuk menangisi kepergian mereka.


Hatiku hancur berkeping-keping. Mereka cuman yang ku punya, hanya mereka! Kenapa Kau mengambil mereka juga Ya Tuhan?! Kenapa? Sejak aku yang dititipkan ke panti asuhan tanpa mengetahui bagaimana rasanya mempunyai kedua orang tua, Kau memberikan mereka untukku, mereka yang membuatku tau betapa sebahagia itukah mempunyai kedua orang tua, tapi kebahagianku,... Tak pernah Kau buat untuk selamanya, terakhir Kau juga yang mengambil mereka. Aku hanya bisa berucap, berucap dalam doa di dalam hatiku seranya memohon kepada-Mu ‘Semoga ini hanya mimpi buruk saja, semoga....’


Mereka, Orang-orang yang ku sayangi, kini telah di tembak tak manusiawi hingga organ dalam mereka berceceran entah kemana-mana, bahkan itu semua kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Kenapa mereka seberutal itu melakukan semua ini kepada kedua orangtuaku? Kenapa!!!


Apa salah kami?!


Cipratan darah itu kembali menodai wajahku, tapi hal itu tak membuatku berkedip sedikitpun untuk bisa lari dari kenyataan ini semua.


Bahwa kini aku ditinggal pergi oleh mereka dan hidup sebatang kara seperti sedia kala.


“Dad, Mom,” gumanku, nyaris tak bersuara, air mataku menetes begitu saja membasahi wajahku, tubuhku membeku dengan pandangan kedua mataku yang berkaca-kaca mengarah kepada ke kedua mayat yang mati mengenaskan itu, bahkan lidahkupun sangat keluh untuk bisa menangisi kepergian mereka.


“Tuan ada satu gadis yang tertinggal, apa aku perlu menembakkanya juga?” ujar salah satu pria berpakaian hitam yang kini telah menemukan persembunyianku di bawah kolong meja, dia kini berdiri disampingku tapi pandanganku tetap saja mengarah pada kedua mayat yang tak lain adalah orang tuaku sendiri, kini ia telah mengarahkan pistolnya didepan kepalaku, dan siap untuk menembakkannya.


Aku hanya bisa menarik nafasku tak beraturan, memejamkan mataku erat-erat jika saja aku akan mati karena ditembak hari ini, maka tembaklah, setidaknya aku bisa bersama-sama dengan kedua orang tuaku nantinya di sana.


“Sisakan dia Famoz! Biarkan aku yang membunuhnya sendiri,” ujar pria bertubuh tinggi dan tegap itu, aku tak jelas melihat wajahnya karena ia memakai topeng hitam.


Suaranya yang dingin dan tegas membuatku semakin merinding tak kala dia berjalan kearahku dan berjongkok menyamakan tinggi tubuhnya denganku.


Seluit, bayangannya yang mengerikan dari balik topengnya itu membuatku bisa melihat iris mata hijau terangnya yang indah yang terkena lampu sorot, kini mata itu menatapku sendu, tapi mata itu tak seindah sifatnya yang membunuh anggota keluargku! Aku benci pria ini! Dan aku yakin dialah dalang dari semuanya.


“Menarik sekali,” seringainya, aku tak bisa membaca raut wajahnya yang dingin. Tapi, entah kenapa aku semakin menggidik ngeri mendengarnya berkata begitu dari pada ia menembak kedua orang tuaku, “mulai dari sekarang kau akan menjadi budakku, bawa dia ke mansion,” titahnya kepada anak buahnya.


Apa budak?! Tentu saja aku tak mau setelah apa yang dia lakukan terhadap keluargaku, aku memberontak saat tanganku ditarik paksa oleh anak-anak buahnya.


Namun, mengingat kekuatanku berbanding sangat jauh dengan mereka, membuatku nampak seperti gadis lemah sekarang. Sial!.


“Lepaskan aku!” pekikku, “kubilang lepaskan aku! Kalian mau apa heh?! Lepaskan! Jangan beraninya macam-macam denganku, kalau mau bunuh saja aku langsung brengsek!” teriakku kembali memberontak, alih-alih terlepas, kini hidungku dibekap oleh sebuah kain yang dibekap oleh salah satu anak buah pria itu, yang saat kucium aroma kain itu membuatku pusing, mataku kabur, tubuhku lemah dan tak berdaya, rasa-rasanya nyawaku sudah meninggalkan tempatnya, energiku seperti terkuras abis dan tanpa kusadari itu adalah bius yang membuat pandanganku gelap dan kesadaranku menghilang seketika.