LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{11}



Jovan mendobrak pintu kamar Yohan menggunakan kakinya, urat lehernya seakan mencuat marah saat tau seberapa gila adiknya itu, sedangkan sang empedu yang awalnya sedang menatap kosong bintang di luar balkon kamarnyapun menoleh santai, seolah-olah ia tau akan maksud kedatangan Kakak yang tak pernah ia anggap sebagai saudara kandungnya itu.


“Sudah kupastikan kau pasti kesini,” ujar Yohan santai tersenyum kecut, namun masih dengan posisinya yang berteger di antara tiang besi balkon.


Jovan menghampiri adiknya itu dengan amarah yang memuncak. “Kenapa kau ingin membunuhnya heh? Bukankah sudah cukup kau pernah membunuh ‘dia’ juga?!” teriak Jovan.


Pria yang terkenal sangat terlalu santai dan berfikir dingin itu kini entah kenapa bisa seperti gunung berapi yang siap meletus.


Yohan yang merasa tertuding tentu saja sangat marah dengan pembicaraan yang bebau sensitif itu, bahkan ia berusaha untuk menutup rapat-rapat masa lalunya itu, dan kini Jovan datang-datang seperti ingin menunduhnya untuk mengakui hal yang tak pernah ia lakukan sama sekali.


“Sudah kukatakan padamu, bukan aku yang membunuhnya!”


“Bukan kau heh? Lalu siapa? Jelas-jelas Caca meninggal itu karena kau! Karena kau yang ceroboh!!! Kau seorang pembunuh Yohan! Bahkan kau tak punya rasa manusiawi terhadap orang yang tak bersalah!” lalu Jovan menghentakkan dada bidang Yohan sekartis dengan dadanya.


Jovan terlalu kesal dengan tingkah Yohan yang dengan mudahnya menghabisi nyawa seseorang, seolah-olah nyawa seseorang itu tak berarti baginya, hal itulah yang membuat Jovan muak dan yakin kalau sifat pembunuh Yohan itu tak lain karena dari ia pernah membunuh juga. Yakni Caca, teman masa kecil mereka.


“Lalu apa heh?!!! Kau ingin aku mengakui hal yang tak pernah kulakukan?!” bentak Yohan semakin menggebu-gebu.


“Seharusnya kau sadar Yo, jika Caca melihatmu membunuh gadis itu! Ia akan bertanya dengan roh gadis itu ‘siapa yang membunuhmu?’ dan gadis itu bilang ‘kaulah pembunuhnya!’ apa kau pikir Caca akan senang dengan hal itu? Tidak Yo! Tidak!!!!” Tunjuk Jovan ke dada Yohan menghentak. “Kau itu adalah orang yang menghancurkan segalanya! dan sekarang kau mencari-cari alasan yang kau buat sendiri hanya untuk menyatakan kalau kau bukanlah orang yang membunuh Caca? Lalu siapa heh?!”


Yohan menarik kerah baju Jovan geram, hingga dua netra hijau zambrud dan biru laut itu menatap satu sama lain. “Kenapa kau membawa-bawa Caca dalam masalah ini heh?!” bentaknya.


“Apa?! kau tak suka? Memang betulkan apa yang kubilang, hentikanlah tingkah konyolmu Yo, sebelum kau menyesal!” lalu Jovan menghempas tangan Yohan dari kerah bajunya sekartis, lalu berlalu pergi dari kamar Yohan sambil membanting pintu kamar.


“Akhhh!!! Sial! Sial kau Jo!!!” maki Yohan, urat-urat tangan Yohan menggepal geram pegengan gagang besi balkon luar kamarnya.


Apa yang dibilang Jovan ada benarnya, kenapa ia harus membawa gadis itu sebagai ajang balas dendamnya? Tapi itu semua pantas bukan untuk Cansu?


Jika bukan karena orang tuanya yang serakah itu, mungkin ia masih bisa berjumpa dengan gadis kecil itu sekarang, yakni cinta pertama Yohan dan mungkin juga,... Jovan.


Dulu sebelum semuanya berubah total, Yohan termaksud anak yang memiliki senyum yang mengembang, ia periang dan juga ramah, berbanding terbalik dengan dirinya yang sekarang. Dingin dan sadis.


Keluarganya pun dulu juga masih utuh dan lengkap, dimana Daddy nya yang masih menyanyangi Mommy nya, keluarga mereka yang harmonis dan sering pergi sebulan sekali untuk membagikan rasa bahagia mereka kepada orang-orang yang membutuhkan, termasuk memberikan donasi ke salah satu panti asuhan. Dimana ia untuk pertama kalinya berjumpa dengan gadis kecil yang memiliki senyum kelinci yang imut itu....


Yohan memejamkan matanya lelah, lelah dengan semua rasa bersalah yang ada dalam lubuk hatinya,... Ia mengingat gadis kecil itu kembali, mengingat kenangan mereka bersama, entah mengapa sebutir air kristal membasahi pipinya yang disaksikan oleh bulan purnama yang terang temaram malam itu.


‘Kuharap kau disana melihatku, terluka tanpamu, Ca....’ batin Yohan.