LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{27}



Hari ini entah sudah keberapa kalinya sikap Yohan benar-benar berbeda, bahkan Cansu pun tak mengerti dengan pria licik di depannya itu.


Yohan lebih pengertian.


Bahkan juga Yohan sekarang menyuapi Cansu setiap harinya layaknya pasien.


Cansu menatap kosong padangan matanya takkala Yohan selesai menyuapinya dan menaruh nampan bekas sisa makananya ke dapur.


Menatap nanar punggung Yohan yang menjauh dari pandanganya, tangan Cansu menggepal geram di sprai ranjangnya.


Ini aneh! Pria itu tak mungkin sebaik ini, pasti ada hal yang tak diketahuinya.


Mungkin ia tak bisa melawan Yohan dengan mulut dan kekuatannya, tapi ia bisa mencoba membuat pria itu jatuh hati dengannya dan membalas dendam kedua orang tuannya.


Cukup sudah ia menderita, walau ia sangat berterima kasih dengan Yohan yang menyelamatkannya dari Joguar tapi sama saja jika ia ujung-ujungnya tidak bebas dan kembali ke pria yang lebih kejam dari pada Joguar.


Ia adalah Yohan Amor, ketua mafia yang di juluki psycopath, mungkin dibalik sifatnya itu ia punya rencana terpendam, Cansu tau Yohan itu kejam dan licik, maka dari itu Cansu harus bisa lebih licik darinya agar bisa membuat pria itu menyesali perbuatannya itu, Cansu janji itu kepada Daddy and Mommy nya di atas surga sana.


‘sudah kubilang Yohan, aku akan membalasmu.’ batin Cansu.


•••


Yohan Amor•


Aku tersenyum smirk takkala keluar dari kamar gadis itu, kalian kira aku berlaku so sweet seperti itu agar membuatnya senang apa?


Ck! Yang benar saja! Itu bukanlah pikiranku sama sekali, jadi jangan pikir kalau aku akan menyukai gadis itu, itu tidak akam pernah terjadi!


Aku muak membuatnya patuh dengan perintahku, nyatanya gadis itu gadis pembangkang, aku juga muak jika berteriak dan selalu mengancamnya, ia lebih dari itu dihadapanku, tidak ada takut-takutnya sama sekali.


Gadis temperalmental itu lebih baik digunakan untuk umpan pancingan Jovan! Aku ingin membuat Jovan lebih menyesal dari pada diriku yang kehilangan Caca.


Ya, dari dulu aku selalu ingin membalasnya, tapi dia,... Selalu saja tau kelemahanku, yakni aku tak bisa disindir tentang masa laluku. Itu menyakitkan, rasanya pasokan oksigen menipis saat kematian Caca itu dituding karena kesalahanku yang tak menolongnya.


Walau aku tau batin gadis itu sedang sangat down karena kejadian yang menimpanya kemarin, apa peduliku? Lagian dia disisiku itu untuk kusiksa dan kusiksa seperti mainan bagiku tidak ada yang lain, tapi bukan berarti orang lain boleh turut menyiksanya, aku tak setuju dengan itu, maka dari itu aku mengambil inisiatif yang lain yang tak membuatku menguras tenagaku demi gadis itu, yakni membuat gadis itu jatuh cinta padaku dan menghancurkannya secara perlahan-lahan. Lalu membuat Jovan terpuruk. Aku tau apa yang dipikirkan Jovan, dia itu tertarik dengan anjingku, hal itu terlihat jelas dari sorot matanya yang seperti merindukan kedatangan seseorang yang ditunggunya dari dulu. Padangan mata yang sama seperti melihat Caca. Aku tau itu.


Walau aku memang anti dengan perempuan, tapi anggap saja aku akan menyembuhkan traumaku dengan diri Cansu sekaligus sebagai pencapai tujuanku untuk membuat Jovan dan Cansu semakin menderita ditanganku.


Hahaha....


Entah mengapa aku sangat senang jika membayangkan dia menangis meraung-raung memanggilku.


Bukannya wanita itu cenderung selalu membawa perasaan? Maka itulah yang akan kulakukan mengikis habis hati, jiwa, dan raganya secara perlahan-lahan.


‘Kau tak bisa kemana-mana... Ini adalah rumahmu, aku benci jika ada orang yang tak membantahi perintahku, kau peliharaanku, maka bersikaplah seperti peliharaan yang patuh pada majikannya’


“Tuan!!! Anda disini rupanya!” Hampir Famoz di hadapan Yohan, mengatur nafasnya yang tersenggat karena lelah berlari, Famoz pun bisa kembali bernafas normal.


Yohan mengerinyitkan dahinya binggung mendapati sang tangan kanannya yang terlihat frustasi seperti melakukan kesalahan yang besar.


“Ada apa?” tanya Yohan dingin dan tegas.


“Mereka,... Joguar dan juga Casely mereka kabur dari ruangan bawah tanah.”


“Maaf Tuan, sebenarnya sudah dari kemarin mereka kabur, tapi anak buah kita ternyata di sekap mereka di ruang bawah tanah juga, aku baru mengetahuinya saat salah satu dari anak buah lainnya memberi taukannya padaku.”


Yohan mengetatkan rahangnya mengeras, lantas mencekram kerah baju Famoz geram, untungnya Yohan tak menghajarnya, Yohan malah menghempas tubuh Famoz hingga terkulai di bawah lantai.


“Bodoh! Cari mereka sampai dapat atau kepalamu yang menjadi gantinya!” Dingin Yohan yang langsung di angguki Famoz dan berlalu pergi karena mendapati amarah Yohan.


Yohan meninju dinding di sampingnya hingga buku-buku jarinya berdarah karena tijuannya yang begitu kuat, seolah tak memperdulikan rasa sakitnya, Yohan menarik tangannya lantas membiarkan buku-buku jarinya mengaliri darah segar.