LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{18}



Di lain sisi Casely mengretakkan giginya geram melihat Cansu takkala gadis yang ia jumpai kemarin keluar dari ruangan rias Jovan.


‘Bagaimana gadis murahan itu berada di sana?!’ batin Casely kesal.


Ia menghentakkan kakinya marah beberapa kali, lantas pergi menjauh dari ruangan Jovan.


Casely adalah salah satu artis di angengsi ini, namanya cukup tersohor layaknya Jovan, bahkan ia sering disandingkan sebagai pacar Jovan di dunia entertaimant.


Walau begitu, wajah dan hatinya berbanding sangat terbalik, ibarat siluman ular. Niat awalnya yang ingin menggoda Jovan kembali harus pupus sudah karena Cansu, dan hal itu tidak disukai Casely, ia sudah lama mengincar Jovan untuk menjadi miliknya. Tapi, lihatlah sekarang! Gadis bernama Cansu itu datang tiba-tiba dan merebut semua perhatian Jovan padanya, dan Casely takkan membiarkan hidup Cansu tenang begitu saja.


Casely menyunggingkan senyumnya jahat takkala sebuah ide lewat dipikirannya.


“Kenak kau gadis sialan!” ujarnya menyeringai licik.


“Casely? Dari mana saja kau ini! Kau dipanggil sutradara, cepatlah kesana! di ruang X-06 ya!” ujar seorang staf atau kru dalam film yang ia mainkan bersama Jovan, dari tadi ia mencari Casely yang entah dimana.


“Baiklah kakak Alesxa.” senyumnya ramah, seperti itulah Casely, dimata publik ia harus menjaga imagnya baik dan kalem, padahal dibalik itu ia sangatlah berbeda 180° dari sifat baiknya yang biasa.


Hati busuk! Bagaikan nenek lampir, tapi demi seorang Jovan Amor yang ia cintai, apapun akan ia lakukan demi merebut miliknya kembali.


•••


“Bagaimana bisa ia melakukan hal yang menjengkelkan seperti itu hufttt.” Menyembulkan pipi, Cansu mengambil makanannya dan berjalan di meja kantin, perusahan ini begitu besar, banyak orang juga berlalu-lalang hanya untuk memesan makanan di sini.


Menduduki salah satu kursi, Cansu memakan makanannya lahap sambil membayangkan perkataan Jovan barusan.


Pipinya kembali memerah, Cansu menepuk pipinya agar kembali sadar dan berhenti memikirkan kejadian yang membuatnya malu setengah mati.


“Permisiy,... Hey yow,... Boleh I dudukz di syini?”


Cansu menengadahkan kepalanya melihat seseorang di sampingnya berbicara.


Hampir saja ia menyemburkan makanannya keluar semua. “Prttt....” Tapi buru-buru ia telan sebelum terlambat. “Uhukk,... Uhuk.” Memukul dadanya tersedak.


“You tak aype 'ken?” Tanya pria/Wanita itu khawatir, yang jelas Cansu meragukan jenis kelaminnya.


‘Gila! Gila ini ngoplasnya di mana?’ batin Cansu yang menahan tawanya.


“Ah, aku tak apa, silahkan duduklah, lagian kantin ini punya perusahaan jadi tak perlu minta izin.”


Pria/Wanita itu duduk di hadapan Cansu. “Danke, (Terima kasih,)” ujarnya.


“You anekz magangz keh?”


‘Oh, apa makhluk ini berbicara barusan? Tapi dia bilang apa? Aku tak mengerti bahasa aliennya,” batin Cansu.


Cansu mengangguk walau ia sedikit bingung, tapi tak sepenuhnya.


“Aiss,... Syantikz deh cucok meong, buylan di tengah malem syantik bangetz deh you,” ujarnya manja, tapi itu seperkian detik, saat suara jantannya keluar.


“Kalau cuman magang kayaknya kau bakal dapet lebih deh.” Senyumnya yang hampir membuat bulu kuduk Cansu meremang.


“Oh iye, I lupez kenelay duluy dong.” Seranya mengulurkan tangannya di hadapan Cansu.


Cansu menyambut ularan tangan Pria/Wanita di depannya.


“Alexsah, tidakz pake ‘h’.”


“Ha hah Alexsa, aku Cansu Yan Raslyi tidakz pakek ‘I’, ” tiru Cansu.


“Ih,... Cucok deh kita!!!” girang Alexsa membekap tangan Cansu dengan kedua tanganya.


“Siapa yang cucok?" tanya suara rendah itu yang tiba-tiba sudah di samping meja mereka memperhatikan dari tadi.


“Jovan?”


“Eh, my darling?”


“Cansu kau di panggil Jesy, katanya ada satu hal lagi yang ingin dia suruh untukmu, kau ditunggu di ruangannya,” ujar Jovan lalu memperhatikan Alexsa yang mengedipkan matanya manja kepadanya. “Sekarang.”


Seakan tau ketidak nyamanan Cansu bersama Alexsa membuat Jovan tau rasanya bagaimana saat berada di lingkungan dengan pasokan udara yang sama dengan makhluk transgender didepannya.


“Ah,... Aha iya, baiklah aku akan kesana.” Cansu Berdiri. “Kakak Alexsa aku deluan ya.” Lalu berlalu pergi meninggalkan Jovan dan juga Alexsa.


“Dah!!! Besok lagi ya” Lambai Alexsa.


Jovan yang hendak menyusul Cansu tiba-tiba saja merasakan aura yang menegangkan, tangannya seperti di pegang oleh makhluk tak kasat mata.


“Jovan mau lari ke mana?” mengunakan nada suara jantannya, bulu kuduk Jovan meremang.


“Ayo temaniy Alexsa miynum duluz, Jovan paysti syapek 'kan?” tawar Alexsa.


“Ah, tidak perlu Alexsa, aku sudah minum, lagian aku kesini hanya ingin memanggil gadis barusan, itu saja.”


“Oh anak magang itu?”


“Dia asisten pribadiku.”


“Whatz?! Tapi tadiz dia bilangz iya anek magengz?!”


Kalau begini caranya, bisa-bisa hak Alexsa yang selalu mengganti pakaian Jovan akan di ahlikan oleh Cansu dengan sebegitunya.


Tentu saja Alexsa tak setuju.


Matanya menatap Jovan murka.


“Alexsa aku pergi dulu dah.” Kabur Jovan.


“Jovan!!!” menggema, suara laki-laki terjantan itu membuat satu ruangan kantin bergoyang dengan suara barintonnya.