LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{45}



“Nona, anda ternyata di sini, ayo makan dulu Nona.”


Bibi Petty menarik lengan Cansu untuk turun ke ruang makan, sedangkan Cansu dengan muka malasnya ia hanya mengikuti Bibi Petty yang berjalan.


“Bibi senang Nona akhirnya pulang.”


“Lebih tepatnya aku di paksa Bi.”


“Nona tau tidak?”


“Tidak,” jawab Cansu ogah-ogahan.


“Kalau Tuan Yohan sampai frustasi Nona di bawa Tuan Jovan.”


“Itu karena dia frustasi tak bisa menyiksaku lagi.”


“Bukan Nona, Tuan saat itu sampai rela mabuk-mabukkan demi tidak memikirkan Nona, nyatanya ia malah kepikiran terus,” terang Bibi Petty.


‘Benarkah seorang Yohan bisa merasa bersalah sampai seperti itu?’ batin Cansu.


Di sisi lain, seorang Yohan sedang melipat kaki dan kedua tangannya duduk di meja makan menunggu Cansu.


“Kenapa lama sekali heh? Kau mau aku menunggumu?”


Cansu hanya memutar bola matanya malas.


‘Lagian ngapain juga kau harus menungguku? Jika ingin makan, ya makan saja?!’ batin Cansu.


Cansu tersenyum paksa. “Hehehe maafkan aku,” sinisnya, mimik wajahnya kembali seperti semula.


“Aku hanya ingin makan bersama anjingku, menurut psikolog hal ini bisa menerapkan keakrapan hewan peliharaan dan majikan.”


‘Sialan!’ batin Cansu.


“Wajahmu tampak tak sesenang itu heh? Apa kau tak ingin makan bersama Tuanmu?”


“Tentu saja aku mau,” jawab Cansu dengan muka palsunya.


“Hahaha, sekarang kau bisa juga bersikap tidak kurang ajar lagi, walau aku tau itu susah, tapi biasakanlah.”


“Sekarang boleh aku makan? Kau terlalu banyak mengoceh Tuan.”


“Tentu, makalah yang banyak anjingku.”


Mengambil garpu dan menusuk daging steak di depannya, Cansu memakan makanannya lahap mengoyak dagingnya ganas di depan Yohan.


“Hati-hati, gigimu bisa tumpul jika mengoyak daging dengan gigimu seperti itu.”


“Aumpah yurussampmuy heh? (Apa urusanmu heh?)”


Yohan tersenyum smirk, ia lalu makan bersama Cansu yang bertingkah lain dari biasanya.


Seperti contohnya, gadis itu tidak pernah memakinya walau dalam sorot matanya yang paling dalam Yohan tau gadis itu memaki dalam hatinya.


Andai saja ada alat yang bisa mendengar suara hati manusia, mungkin Yohan harus membelinya.


Cansu bukan karena apa bersikap seperti ini, ia terlalu malas kalau Yohan menggila lagi seperti kemarin-kemarin.


•••


Di sisi lain Jovan yang masih di rawat di rumah sakit harus menunggu sampai keadaannya benar-benar pulih.


“Kau ingin makan Jo?”


“Tidak, makanan rumah sakit benar-benar sangatlah buruk.”


“Tapi kau harus makan makanan ini agar cepat pulih.”


“Aku ingin muntah makan makanan lembek seperti itu Jesy.”


“Baiklah bagaimana dengan buah? Aku akan mengupaskannya untukmu.”


Kreatt~


Suara pintu terbuka membuat Jesy dan juga Jovan menoleh.


“Casely? Kenapa kau bisa di sini?”


Setahu Jesy ia tidak memberi taukan keadaan Jovan yang berada di rumah sakit sekarang, bahkan dengan keluarganyapun Jesy tak memberi tahunya. Kenapa sekarang Casely malah tau hal ini.


“Jangan begitu, aku ke sini karena ingin melihat kondisi Jovan, bahkan gara-gara Jovan syuting dibatalkan,” terang Casely, “Tenang hanya sutradara dan aku yang mengetahui hal ini, jadi aku tidak akan memberi tahukannya pada siapapun.”


Casely menaruh buah tangan berupa roti dengan berbagai varian rasa di meja, lalu Casely duduk di samping kabin Jovan.


“Jovan kau baik-baik saja 'kan? Kenapa ini bisa terjadi? Siapa yang membuatmu begini?” tanya Casely.


“Berhenti bertanya pada orang yang sakit Casely, jika niatmu ingin mengunjungi Jovan jangan banyak bertanya, keadaannya sedang tidak sehat sekarang,” sambung Jesy.


“Aku bertanya dengan Jovan, kenapa kau yang menyambung heh?”


“Cukup! Jika kalian ingin berdebat maka silahkan keluar dari sini, aku tak ingin mendengarnya,” ujar Jovan.


“Maafkan aku Jo,” ujar Jesy.


“Maaf sayang,” sambung Casely.


“Casely, terima kasih sudah menjenguk, jadi karena tak ada hal lain yang mesti dilakukan sebaiknya kau pergi saja, karena aku yang akan menjaga Jovan,” ujar Jesy.


“Tidak! Aku yang akan menjaga Jo, kau pasti sudah sangat lelah 'kan Jesy, sebaiknya kau pulang ke rumah dulu, untuk sementara biarkan Jo bersamaku,” jawab Casely.


“Apa yang di bilang Casely ada benarnya Jesy, kau pasti lelah karena di sini terus menerus, kau bisa pulang sebentar ke rumah sekarang,” ujar Jovan.


Jesy menatap Jovan tak percaya, sedangkan Casely? Jangan ditanya lagi, gadis itu tersenyum dengan penuh kemenangan.


“Iya Jesy kau lelah 'kan? Ayo pulanglah dulu sana,” sambung Casely, padahal disetiap nada bicaranya ia sedang mengusir Jesy lebih tepatnya.


Jesy melototkan matanya jengkel melihat Casely. “Aku tidak apa jika sampai seminggu penuh di sini.”


“Jangan begitu, kau pasti lelah seharian ini menjaga Jo.”


“Tak masalah, bahkan aku bisa menjaga Jo lebih baik darimu, aku tak mau mengambil resiko dengan seorang yang pernah mencelakai seorang gadis bernama Cansu.”


‘Sialan kau Jesy!’ batin Casely mengumpat.


“Baiklah-baiklah! Aku akan pergi dari sini, puas kau heh?!” Menghentakkan kakinya, Casely berdiri dari kursinya dan beranjak dari ruang inap Jovan.


Jesy tersenyum dengan penuh kemenangan saat Casely yang pergi begitu saja.


“Kau ini.”


“Biarkan saja dia Jo, aku terlalu kesal dengannya kalau bukan karena dia kau tak akan mendapat masalah waktu itu.”