
Cansu terbangun dari tidurnya takkala cahaya matahari mengusik indra penglihatannya yang terpejam, samar-samar ia berusaha membuka matanya dan menyesuaikan cahaya yang masuk kematanya, saat matanya terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah wanita tua dengan pakaian pelayannya sedang membukakan gorden di kamar ini.
“Nona, anda sudah bangun?” girang seorang pelayan wanita tua itu mendapati Cansu yang telah siuman.
“Dimana aku?” tanya Cansu.
Seranya berusaha duduk di atas ranjangnya, ia melihat sekelilingnya, kamar ini tampak begitu asing dengannya, kamar dengan lapisan emas di berbagai sisi dindingnya membuat kamar ini tampak mewah dan terkesan glamor, bahkan interior dalam kamar ini tak kalah membuat Cansu tercengang dibuatnya, rumahnya memang mewah tapi tidak semewah ini, dan ia yakin ini bukanlah kamarnya, lantas dimana sekarang ia?
“Aauw,” ringis Cansu memegang kepalanya yang merasakan pusing di sebagian kepala.
Cansu berusaha untuk mengingat sesuatu kenapa ia bisa berada di mansion ini, saat sebeset ingatan yang berputar layaknya kotak kaset siaran ulangan, Cansu kini bisa mengingat kejadian demi kejadian yang ia alaminya sekarang, yang membuatnya kembali bersedih, kenyataan yang harus ia terima dengan lapang dada, bahwa ia kini tidak memiliki orang tua lagi, air mata Cansu tiba-tiba jatuh begitu saja dipipinya yang putih dan mulus, bahkan untuk bersuara menangisi kepergian kedua orang tuanya saja ia tidak mampu karena tenggorokannya yang tiba-tiba saja seperti tersangkut duri, padahal ia berharap ini hanya mimpi buruk belaka, dan ia bisa bangun seperti sedia kala dengan kedua orang tuanya yang menatapnya kala pagi dengan senyuman mereka, tapi mungkin pikiran itu harus Cansu hilangkan karena pria kejam itu! Ia merenggut semua yang Cansu miliki, bagaimana tidak?! Dari dulu hal yang ia inginkan adalah diadopsi dari panti asuhan dan mendapatkan kasih sayang orang tua, tapi saat ia mendapatkannya pria misterius itu datang dan membunuh orang kesayangannya, dan hal itu tentu tak ia relakan, orang tuanya yang mati begitu saja membuat Cansu berfikir ia harus membalaskan dendam orang tuanya itu! Ia harus! Ia mau pria itu juga bertanggung jawab atas perbuatan bejatnya itu.
Bahkan dengan seenak hatinya pria itu membawanya kemari hanya untuk menjadi budaknya?! Jangan harap! Cansu terlalu membenci pria itu, ia takkan membiarkan pria itu memperbudaknya setelah apa yang ia lakukan padanya.
Dan apa yang harus ia lakukan sekarang? Tentu saja lari dari mansion ini, dan membalaskan dendamnya, dari pada pria itu kembali lebih dulu kesini dan membuat hidupnya semakin tersiksa karena menjadi budakknya. Tentu saja hal itu takkan pernah terjadi sama sekali!
Pelayan wanita tua itu berjalan khawatir mendekati ranjang Cansu karena melihat gadis didepannya tiba-tiba saja menangis dalam diam, sorot matanya menampakkan kepedihan mendalam.
“Kau tak apa Nona?” tanyanya.
Cansu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak apa-apa,” jawab Cansu, “kau tau aku ada dimana?” lanjutnya.
“Anda tidak ingat Nona? Tuan Yohan yang membawa anda,” terang wanita tua itu lagi.
Kini Cansu yakin, amat-amat yakin bahwa orang yang bernama Yohan seperti yang di katakan pelayan didepannya itu tak lain adalah pembunuh kedua orang tuanya.
“Nona, apa anda lapar? Ingin makan sesuatu?” tawar Pelayan wanita tua itu.
Cansu menggeleng. “Tidak,” tolaknya. “Aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus segera pergi.” Cansu hendak turun dari ranjangnya namun wanita tua itu malah menghalangi jalannya dan mencekal lengannya.
“Tidak bisa Nona! Tuan Yohan bisa marah besar jika anda keluar,” terangnya lagi.
Apa pedulinya pria itu marah atau tidak heh? Yang ia pedulikan adalah rasa balas dendam ini sekarang!
Cansu melepaskan cekalan tangannya dari pelayan wanita tua didepanya itu. “Aku tidak peduli dengan dia marah atau tidak! Aku lebih peduli jika aku bisa bebas dari tangannya, minggir!” sargas Cansu lalu menggeser tubuh pelayan yang menghalangi jalan keluarnya itu.
“Ya?” Angkat suara dingin itu diujung telpon sana.
“Tu...Tuan... No...Nona anda kabur!”
•••
“Lepaskan aku! Lepaskan aku! Dasar kau pria bejat! Kau adalah dalang dari semuanya! Gara-gara kau aku tak punya siapa-siapa lagi sekarang! Kenapa kau tak punya hati seperti ini heh?! Apa yang keluargaku lakukan sampai kau membunuh semua orang-orang yang ku sayangi?! Haaaaaaa.....! Kena...pa?! Hiksss... Hiksss... Hiksss....” isak Cansu frustasi, cekalan tangannya terlepas begitu saja dari genggaman kuat anak-anak buah Yohan, dan kini ia terduduk dilantai menangisi nasibnya.
Benar, aksi kaburnya tak berjalan mulus, bahkan ia ketangkap basah dan kembali lagi ke mansion ini, saat ia berhasil keluar dari pintu utama mansion tiba-tiba saja suara alarm yang tak tau Cansu berasal dari mana membuat para pelayan, penjaga mansion, dan beberapa boyguard Cansu berlari mengejarnya, tak sampai di situ, untuk lari semakin jauh saja ia tak bisa tak kala pintu pagar mansion terkunci bergitu saja dengan otomatis. Tentu saja para penjaga lebih mudah menangkapnya dan berakhirlah ia di sini, dengan digotong para boyguard karena terlalu keras melawan.
Di depannya kini sudah ada Yohan yang berdiri menatapnya dingin, Cansu sudah tau semuanya, ia sekarang tau bahwa pria tampan yang memakai topeng hitam bernama Yohan itu yakni orang yang sama yang telah membunuh kedua orang tuanya. Tapi, bagi Cansu pria di depannya itu tak lain adalah iblis yang meyerupai wajah melaikat saja.
Yohan menyeringai senang, ia sangat menikmati dengan tangisan Cansu yang hatinya teriris-iris mengingat kedua orang tuanya yang telah dibunuh olehnya, walau Yohan awalnya sangat geram mendapat kabar bahwa budaknya berani-beraninya kabur dari mansion nya, itu sama saja ia mencari amukkan sang raja singa, tapi mendapati Cansu yang menangis sesegukkan ia sangat begitu puas, karena ia membawa gadis itu kesini hanya untuk membuatnya semakin menderita, dan sekarang hal itu terwujud sekarang.
“Hahahaha.” Yohan menertawakannya sangat keras, bahkan seisi mansion tak pernah mendapati Tuan mereka yang tertawa begitu senang seperti itu. Tapi, kini tawa Yohan bisa membuat bulu kuduk mereka merinding, itu bukan tawa kebahagian yang sebenarnya! Melainkan itu tawa sang iblis yang merasa bahagia karena usahanya membuat orang lain menderita. “Lantas? Aku harus memberikan alasannya padamu heh?” ujar Yohan yang kini raut wajahnya kembali dingin dan cuek.
Sial! Cansu menggepal tangannya kuat, ia kini begitu geram dengan Yohan, apa sebegitu senangnyakah ia sehabis membunuh orang? Dan apa katanya? ‘Harus memberikan alasan padanya untuk melakukan itu?’ Orang waras mana yang membunuh orang lain tanpa alasan yang jelas heh?! Kecuali jika memang ia tak waras alias psycopath!.
“Kau!!!” geram Cansu lalu menarik kerah leher Yohan geram, Yohan menyeringai picik dan mengangkat sebelah tangannya menolak tak kala anak buahnya ingin menyingkirkan Cansu yang berlaku kurang ajar pada Tuan mereka. “Kau pikir membunuh orang itu hanya main-main saja bagimu heh?!” teriak Cansu didepan wajah Yohan.
Yohan tersenyum senang dan semakin melebar, ia seperti menikmati setiap lontaran kata dari mulut gadis cantik didepannya, bahkan jika seorang wanita melihat senyumnya itu, mereka akan jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi tidak dengan Cansu! Senyuman Yohan itu ibarat senyuman iblis yang akan membinasakan dirinya. Saat melihat sorot mata Cansu yang mengalami kepedihan mendalam entah mengapa Yohan lebih tertarik lagi untuk menyakiti gadis itu secara perlahan-lahan.
“Bukannya aku selangkah lebih dulu dari pada malaikat maut hemm? Anggap saja aku sedang menolong malaikat maut untuk membunuh kedua orang tuamu dan kini mereka sedang melihatmu diatas sana,” tunjuk Yohan keatas langit. “Ne-re-ka,” terang Yohan tersenyum tak berdosa.
“Kurang ajar!!! Kau Yohan!!!” teriak Cansu semakin menggila, bahkan ia hendak menarik rambut Yohan kalau saja anak buahnya Yohan tak menariknya kasar.
“Apa yang kalian lakukan heh?! Lepaskan aku!!! Aku ingin menarik rambut manusia sialan itu!!!” jerit Cansu memberontak untuk dilepaskan.
“Ck! Tak tau terima kasih! Seharusnya kau senang karena aku menolong tugas malaikat maut lebih cepat!”
“Kurung dia di ruang bawah tanah dan ikat lehernya,” titah Yohan dingin lalu berlalu pergi meninggalkan Cansu tak peduli walau gadis itu beberapa kali menyupahi namanya.
“Akanku balas kau Yohan!!!”