
“Jo!”
“Jovan!!! Ish.... Jovan!!!! Jawab aku!”
“Hemmm.”
“Kau sudah berjanjikan? Kau tak boleh mengingkarinya!”
“Tenanglah, aku tak akan mengingkarinya.”
“Tapi bagaimana dengan Yo? Apa dia bakal menandatangi kontrak itu.”
“Cepat atau lambat, aku yakin Yohan pasti menandatanginya,... Aku pastikan itu.”
“Akh,... Kau memang yang terbaik Jo!”
•••
Beberapa hari setelah kejadian Cansu yang tenggelam di kolam, gadis itu terkena demam tinggi dan gelisah di tengah malam membuat Yohan khawatir, padahal Yohan berusaha untuk tidak memikirkan hal itu, namun nyatanya hatinya lagi-lagi tak berjalan sesuai pikirannya.
Tapi, Yohan anggap ia menyembuhkan Cansu agar untuk menyiksa gadis itu lagi secara perlahan-lahan.
Ya! Karena alasan itu, tidak ada maksud lainnya.
Dendam tetaplah dendam, tak ada yang bisa menyurutkan dendam Yohan, karena hati nuraninya yang telah terpendam.
Kini Cansu dirawat oleh para pelayan mansion atas perintah Yohan.
“Bagaimana?” tanya Yohan saat Leyos sahabatnya dari masa remaja itu memeriksa Cansu.
Leyos menoleh kearah Yohan walau tangannya masih memeriksa Cansu. “Bagaimananya gimana? Maksudmu keadaannya?” tanya Leyos.
“Tentu saja bukan itu, aku tanya bagaimana apa dia sudah mati?” terang Yohan ketahuan mengkhawatirkan Cansu, ia mencoba mengecoh pembicaraan.
Leyos terkekeh dalam diam melihat sahabatnya itu seranya menggelengkan kepala. “Kau ini aneh! Kalau kau harap dia mati, tak usah memanggilku untuk kesini!”
“Atau—” tebak Leyos.
“Atau apa?!” garang Yohan.
“Kau suka dia ya!!!” seru Leyos heboh.
“Cih! Konyol!” cibir Yohan, ia terlalu gengsi jika Leyos tau kalau Yohan mengkhawatirkan gadis itu.
Ada apa dengannya? Biasanya saja ia tak punya rasa belas kasian pada siapapun.
Leyos seorang dokter muda kepercayaan Yohan, ia kini telah selesai dengan pemeriksaannya dengan Cansu yang kini wajahnya sepucat mayat itu.
“Demamnya sangat tinggi Yo,” tuturnya. “Apa yang kau lakukan sampai-sampai ia seperti ini?”
“Menyiksaanya,” terang Yohan tak berdosa, sedangkan Leyos hanya berdecih tak suka, ia terlalu hapal dengan perubahan gila yang terjadi dengan sahabatnya itu.
“Gila! Dia ini wanita! Kenapa kau bisa sebegitu teganya?!” protes Leyos.
“Dendam,” tutur Yohan enteng seolah tak memiliki beban.
Leyos hanya mengelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu. “Aku lelah membicarakan ini, tapi kenapa kau malah menyembuhkannya kalau begitu?” tanya Leyos lagi dan lagi.
“Tentu saja menyiksanya kembali, aku tak bisa membuatnya mati begitu saja,” jawab Yohan dingin.
“Kurasa dia trauma karena suatu hal, apa kau tau dia ada trauma mendalam?”
“Air kolam.”
“Kau apa 'kan dia?”
“Kutenggelamkan.”
“Ya Tuhan!!! Kau ini gila apa tidak waras?!” padahal definisi antara kalimat Leyos itu sama saja.
Yohan menatap tajam kearah Leyos.
“Okay-okay aku diam, dari pada besok aku tinggal kepala dan menjadi nisan,” rintih Leyos mengidik ngeri dengan tatapan Yohan
Leyos kembali menatap Cansu yang terbaring tak berdaya. “Trauma dia itu yang membuat tekanan jiwanya semakin cemas dan membuatnya menjadi demam tinggi, mengingau, dan gelisah di tengah malam, seperti sekarang, seharusnya kau tak perlu sampai membuatnya jadi sampai begini,” terang Leyos.
“Tapi tak apa sob.” Leyos memukul pundak Yohan tegar. “Jika gadismu kau rawat baik-baik, satu atau tiga hari lagi demamnya akan turun, tapi tidak untuk rasa panik karena traumanya, itu mungkin akan membuatnya semakin ketakutan jika hal yang membuatnya takut terulang kembali,” terang Leyos lagi, tak mendapat sahutan dari pria yang sangat dingin didepannya itu, membuat Leyos membereskan barang-barangnya dan berlalu pergi.
Leyos menepuk bahu Yohan lembut. “Jaga dia Yo, bukan sebagai seorang dokter, malainkan sebagai sahabat aku harus bilang ini untukmu, mungkin saja dia bisa menghilangkan trauma didalam dirimu juga.” ingatnya, lalu berlalu pergi.
Yohan memang memiliki trauma tersendiri, ia terlalu anti bersentuhan dengan makhluk yang bernama ‘Wanita’ trauma itu ia dapat dari sang Mommy tirinya, yang dulunya pernah melecehkannya dari kecil hingga remaja, yang berakhirlah Yohan yang di usir oleh sang Daddy karena fitnahan istri baru Daddy nya itu, hal itulah yang membuat Yohan enggan berurusan dengan namanya wanita dan menganggap semua wanita itu sama saja! Penjilat, menjijikan, rendahan, dan juga tidak memiliki harga diri. Kecuali Mommy kandungnya.
Yohan menarik rambutnya kebelakang karena frustasi. “Itu tidak akan pernah Leyos! Diriku yang dulu telah mati,” guman Yohan yang hanya didengarkan oleh dirinya sendiri.
“Jaga dia,” titah Yohan kepada pelayan yang menjaga Cansu.
“Baik Tuan”
Lalu Yohan berlalu pergi dari kamar Cansu.