LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{6}



Srettt~


Darah segar mengalir mulus di pipi Cansu, padahal pisau lipat itu hanya tergores sedikit di pipi Cansu, tapi bisa membuat Cansu meringis kesakitan saat wajahya mengeluarkan warna merah kental itu.


Cansu menyapu darah yang berada dipipinya dengan telapak tangannya.


“Masih kurang berani?” tantang Yohan.


“Hahahaha,” tawa Cansu membuat Yohan memundurkan tubuhnya menatap gadis yang aneh didepannya, bukannya ia sangat merasa takut tadi? Kenapa sekarang seperti ini?


“Yohan! Yohan! Kau ingin membunuhku heh? Ayo sekarang kau tancapkan pisau lipat itu kesini,” tunjuk Cansu ke dadanya. “Aku lebih tak sabar jika kau langsung membunuhku, itu rasanya sangat-sangat sempurna, karena aku bisa bersama dengan orang tuaku lagi nanti,” terang Cansu tersenyum semeringah, Yohan tak berkutik, niat awalnya ingin membuat gadis itu semakin takut dengannya malah membuat decak bahagia Cansu karena akan segera mati, tentu saja Yohan tak akan membiarkan itu! Ia ingin menyiksa Cansu sampai puas terlebih dahulu.


“Kenapa berhenti TU-AN?” tekan Cansu di ujung kalimat. “Ayo bunuh aku,” titah Cansu.


“Ikut aku!!!” Yohan menarik Cansu kasar hingga gadis cantik itu meringis kesakitan saat berjalan, bagaimana tidak? Pergelangan sebelah kanan kakinya sekarang lecet gara-gara borgol rantai itu, dan sekarang pria yang bernama Yohan ini malah menariknya seenak jidatnya.


“Auhh,... Bisakah kau berjalan santai saja dan berhenti menarikku kasar heh?! Lebih baik kau langsung membunuhku saja!” tapi Yohan seakan enggan untuk ingin mengetahui keadaannya dan malah membawanya entah kemana, lagian ia tak akan membuat Cansu mati dengan begitu cepat. “Lepaskan aku!” bentak Cansu meronta-ronta untuk dilepaskan dari lengan kekar milik Yohan.


“Bagaimana? Apa itu terasa sakit hah? Atau sakit sekali?” ujar Yohan seakan merasa senang dengan kesakitan pergelang kaki Cansu yang sakit karena berjalan.


“Kau pria gila!!!”


“Terima kasih atas sanjunganmu, tapi aku lebih gila dari yang kau bayangkan.” Yohan berhenti berjalan membuat Cansu kini menabrak dada bidang Yohan tak sengaja saat berbalik menghadapnya. “Oh kau ingin menggodaku ya?” senyum Yohan devil.


Kini mereka berada di halaman belakang mansion, di mana tempat Yohan sering berenang di kolam kesukaannya.


“Jangan harap! Aku lebih jijik saat kau menyentuhku!”


“Benarkah? kalau begitu aku lebih jijik saat aku dengan sengaja menyetuh tanganmu, bagaimana kalau begini—”


BYUR!!!


“AKH...!” pekik Cansu.


Yohan mendorong Cansu kedalam kolom yang dalam itu tanpa rasa bersalah sedikitpun, ya, Yohan sengaja melakukannya, apalagi saat melihat data-data diri Cansu yang diberikan Famoz, sang tangan kanannya.


Bahwa gadis itu fobia terhadap air kolam.


Mungkin Yohan tak bisa membuat Cansu takut dengan pisau lipat kesayangannya yang sering membuat korbannya tewas mengenaskan, tapi mungkin ia bisa menyiksa Cansu dengan traumanya sendiri, dan kali ini Yohan tak akan memberi ampun dengan perempuan pembangkang itu lagi.


Ia terlalu muak dengan Cansu yang tak lekas memakinya, bahkan tak ada takut-takutnya. Menyebalkan! Mungkin jika dibilang Cansu adalah satu-satunya musuh yang teramat sangat ingin dibunuh olehnya.


Dan hal inilah yang dilakukan Yohan, membuat Cansu semakin ketakutan dengannya, membuat Cansu memohon ampun dibawah kakinya dengan ketakutan yang amat sangat.


“Akh,...Yo,...Yo,...Yo,...Yohan,...To,...Tolong!” ujar Cansu lalu berusaha untuk menggapai tepian kolam, namun bagaimanapun juga ia sangat kesulitan menggapainya karena ia tak pandai berenang.


“Yo,...Yohan,...Ku,...kumohon....” pinta Cansu, kini air kolom memasuki paru-parunya, Cansu sudah tak tahan lagi, ia tersedak air begitu banyak.


Dan tenggelam begitu saja, mungkin ini adalah takdirnya yang mati di bunuh Yohan.


Yohan melihat gadis di depannya yang berulang kali meminta pertolongannya, bukannya dia lebih sudi mati dari pada memohon padanya? Sekarang kenapa malah memohon seperti itu?


Cih merepotkan! Entah kenapa hati dan pikiran Yohan tak berjalan sesuai keinginannya.


Ya, ia ingin menghabisi gadis itu sekarang juga, namun entah dorongan dari mana Yohan malah menceburkan dirinya kedalam air kolam dan menolong Cansu.


Yohan menggapai tubuh Cansu lalu menariknya ke tepian kolam, lalu menidurkannya ditepian kolam, wajah cantik pucat pasi Cansu kini sudah tak sadarkan diri.


Yohan menepuk-nepuk pipi Cansu agar gadis itu sadarkan diri.


“Hei! Ku perintahkan kau untuk bangun sekarang, kau belum bisa mati sebelum aku puas menyiksamu!” peringat Yohan, namun tubuh Cansu yang tak sadarkan diri lagi membuat Yohan berdecak kesal karena membuatnya repot sendiri.


Yohan buru-buru memompa dada Cansu berulang kali agar gadis itu mengeluarkan air dalam paru-parunya.


Tak mendapat respon, Yohan kembali memompa dada Cansu lebih kuat hingga gadis itu mengeluarkan air dari paru-parunya dan terbatuk.


“Uhukkk,...Uhukkkk,...Uhuk!” batuk Cansu, ia menggigil ketakutan, fobia nya dan trauma mendalamnya terhadap air kolam membuatnya tanpa sadar langsung memeluk Yohan sangking bergemetarnya dan ketakutannya.


“Aku,... Aku,...Takut,...Jo,” igaunya, nyaris tak terdengar oleh Yohan.


Bahkan Yohan tak tau, Cansu memeluknya karena ketakutan dan mengingau bahwa sosok didepannya adalah orang yang pernah menolongnya dulu dari traumanya.


Yohan terkejut, desiran didadanya tiba-tiba saja berdegup kencang saat Cansu memeluknya erat ketakutan, seolah-olah tak ingin dilepaskan.


Bukan! Ini bukan karena cinta atau semacannya, lupakan itu semua, Yohan begini karena ia yang terkenal anti menyetuh makhluk bernama ‘Wanita’ dan sekarang ia sangat terkejut saat makhluk yang paling membuatnya anti itu malah memeluknya.


Ini adalah pelukan yang kedua kalinya bagi Yohan yang ia lakukan oleh seorang makhluk bernama ‘Wanita’ selain ibu kandungnya selama ia masih hidup.


Entah kenapa tangan Yohan meraih bahu Cansu dan balik memeluknya untuk memberikan rasa aman dan nyaman, padahal Yohan sangat anti terhadap wanita, tapi apa yang dilakukannya saat ini berbanding terbalik dengan pikiran dan hatinya yang tidak sinkron.


Ada apa dengan dirinya? Kenapa ia malah melakukan hal ini?! Ini bukan cintakan? Tapi mungkin saja Yohan yang terlalu gugup.


Seolah-olah dalam dirinya yang paling dalam ia merindukan sosok ‘dia’ dan menganggap bahwa Cansu adalah orang yang sama.


Ini tidak boleh terjadi, tujuannya adalah menghancurkan keluarga ‘Yan Rasly’ sedalam-dalamnya.


Yohan melepaskan pelukan Cansu, lalu berlalu pergi dari hadapan gadis itu sendiri di tepian kolam sendirian.


“Jo,...Jojo,...Jangan, jangan tinggalkan aku,” igau Cansu kembali memeluk tubuhnya sendiri yang bergemetaran amat sangat.