LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{12}



Jovan Amor•


Hari ini aku terpaksa tinggal di kediaman mansion Yohan karena suatu alasan, apalagi kalau bukan tingkah gilanya yang bisa kapan saja membunuh gadis itu lagi.


Aku tak tau, gadis mana yang ia bawa ke mansionnya ini, biasanya Yohan itu sangat anti dengan namanya wanita kecuali mommy kandung kita, dan juga Caca, orang yang kami sayangi.


Hati Yohan itu sekeras batu, jika mungkin tadi malam aku tak mengeluarkan unek-unek dalam kepalaku ini, kurasa ku yakini ia akan menghajarku, nyatanya ialah yang semakin lemah jika aku menyebut nama gadis yang ia bunuh.


Biarkan saja ia merasa bersalah, memang nyatanya begitu, lagian untuk apa ia membunuh seorang gadis yang tak bersalah? Apa ia pikir hal itu sebagai penguji tingkat kebosanannya apa?! Yang benar saja!


“Bibi Pet, bagaimana dengan keadaanya?” tanyaku pada Bibi Pet, melihat gadis yang kini tertidur lemah dengan wajah pucatnya membuatku teringat akan ‘Dirinya’.


Ya, anak perempuan yang bernama Caca. Entah kenapa aku merasa sangat familiar dengan gadis ini yang mengingatkanku akan sosok Caca.


Bibi Pet selesai mengompres kening gadis itu dan berjalan menghampiriku. “Sepertinya demamnya sudah turun, mungkin dia akan cepat sadar kali ini.”


“Syukurlah.”


“Tuan....”


“Ya? Ada apa Bibi Pet?”


“Sebenarnya tak baik jika aku berbicara begini, tapi kumohon apapun yang dilakukan Yohan sangatlah keji, tapi aku sudah menganggapnya seperti anakku, jangan sakiti dia,” pinta Bibi Pet. “Kumohon,” ujarnya sekali lagi.


Aku menganggukkan kepalaku, beruntung bocah itu memiliki orang yang menganggapnya seperti anaknya, padahal setelah kematian Mommy, ia tak pernah sekalipun menganggap istri dari Daddy yang sekarang adalah Mommy nya yang baru. Ya,... Termasuk aku.


Walau Yohan mengira aku lebih memilih Mommy baru kita, tapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sebenarnya masih di pihak Yohan, cuman aku punya alasanku sendiri tetap berpihak kepada Mommy dan Daddy yang jelas membuat Yohan semakin muak denganku.


“Kalau begitu saya keluar dulu Tuan.” Permisi Bibi Pet, lalu berlalu pergi.


Aku mendudukkan diriku, di samping ranjang tempat gadis cantik ini tertidur.


Jangan salahkan aku, tapi memang itulah kenyataannya, gadis ini sangatlah cantik, kenapa Yohan sangatlah bodoh ingin menyiksa gadis ini?


“Egrrr....” erangnya, lalu terbangun dari tidurnya. “Dimana aku?”


“Kau sudah sadar?”


Akupun membantunya duduk. “Kau di mansion Yohan,” jawabku.


“Tuan? Anda siapa?”


“Aku Kakaknya Yohan, namaku Jovan, aku yang menangkapmu saat didorong Yohan dari lantai dua kemarin.”


“Yohan?” kulihat wajahnya tampak berfikir, lalu kembali menatap wajahku dengan wajah memelasnya. “Tuan,... Kumohon,... Kumohon.... Keluarkan aku dari tempat ini, aku tak sanggup Tuan,... Tak sanggup,” pintanya.


“Hai,... Tenanglah, kau aman jika aku ada disini aku jamin itu.” Tenangku.


“Sebelumnya aku sangat berterima kasih denganmu yang menolongku, tapi aku betul-betul tak ingin disini lagi Tuan, Yohan itu iblis! Dia,... Dia itu Iblis yang membunuhku secara perlahan-lahan,” ujarnya kembali sambil terisak. “Hiks,... Hikss,... Kumohonn... Keluarkan aku.”


Akupun spontan menghapus air matanya yang jatuh ke wajahnya yang cantik, entah mengapa kalau melihatnya bersedih seperti ini, aku ingin melindunginya.


“Baiklah, aku akan mengeluarkanmu, tapi tidak sekarang, Yohan itu orang yang tak bisa menerima kesalahan apapun, walalaupun aku saudara kandungnya, jika aku membawamu dia bisa kapan saja membunuhku.”


Gadis itu menutup mulutnya terkejut. “Bagaimana dia bisa sekejam itu?”


Aku tersenyum lembut namun sedikit pahit. “Masa lalu yang membuatnya begitu,” ujarku pelan. “Oh iya, kalau boleh tau, siapa namamu? Bagaimana kau bisa dibawa Yohan kemari? Seinggatku ia adalah anak yang anti dengan namanya wanita.”


“Na,... Namaku Cansu Yan Rasly, keluargaku,... Dibunuh secara kejam oleh Yohan dan anak-anak buahnya....” ujarnya melemah. “Kini aku tak punya siapa-siapa, dan yang lebih membuatku tersiksa,... Yohan mengurungku di mansion nya hanya untuk menjadikanku budaknya di sini, ia ingin kedua orang tuaku di atas sana merasa tersiksa dengan aku yang menderita ditangannya hiksss,... Hiks,” isaknya kembali.


Aku pun mengelus punggungnya untuk menenangkan, bagaimana Yohan bisa sekejam itu? Hatinya dan pikirannya itu sudah tak bernyawa lagi, yang ia pikirkan hanyalah dendam dan dendam!


“Bagaimana kalau begini saja....” Aku pun membisikkan sesuatu dikuping Cansu yang di balas anggukan olehnya.


Lalu gadis itu tersenyum merekah didepanku. “Terima kasih Tuan,” balasnya, sedangkan aku mengangguk.


“Kalau begitu selama aku tak disini kau jangan pernah mencari masalah dengan Yohan, mengerti?”


Cansu mengangguk. “Mengerti.”


•••


Pria berusia kepala lima itu memasuki gedung pencakar langit, dibelangkangnya tubuh pria berbadan kekar menemani setiap langkahnya.


Pria tua yang masih saja terlihat gagah dan beribawa membuat seluruh pegawai menunduk hormat takkala pria itu melewati tubuh mereka.


“Guten Morgen Mr. Lucas, {Selamat pagi Tuan Lucas,} ” sapa mereka serentak.


Mr. Lucas adalah nama panggilannya, sosok yang berpangaruh itu adalah seorang milliader di era eropa di zamannya.


“Mr. Lucas, Nyonya Fanny menunggu anda diruangan anda,” bisik salah satu seketaris yang menghampirinya.


Mr. Lucas tersenyum lalu memasuki ruangannya.


Terlihat wanita paru baya berkepala empat dengan pakaian dan dandanan glamor menghiasi tubuh dan wajahnya yang masih terlihat berumur tiga puluhan.


“Sayang~” senyum Fanny manja menghampiri Mr. Lucas.


Lucas tersenyum sinis, wanita didepannya selalu saja pandai berakting.


“Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?” tanya Fanny sok perhatian lalu memperbaiki kerah baju suaminya.


Pria yang telah lama menjadi bagian hidupnya namun tak ada seberkaspun cinta walau hanya secuil saja.


Ia tersenyum karena Fanny yang selalu pandai berbuat licik dibelakangnya.


Sosok Fanny ini adalah sosok pembunuh mendiang istrinya, Gresi. Mediang istrinya yang paling ia cintai.


Bukan tanpa apa Lucas tak membalasnya, ia terlalu dendam dengan Fanny. Tapi ia tak begitu saja membunuhnya seperti musuh-musuh yang lain.


Ia akan melakukannya setelah rencananya berjalan sesuai alurnya.


Dan memang ini sudah beberapa lamanya ia tak kunjung membalaskan rasa sesak didadanya.


Ia akan membuat Fanny lebih menderita dari apa yang ia buat sebelumnya, termasuk dengan kedua anak-anaknya yang juga terkena ibasnya.


Bahkan gara-gara ia membela Fanny hanya untuk rencananya, salah satu anaknya malah membencinya seumur hidup dan itu tak akan pernah Lucas biarkan.


Fanny akan menerima ganjarannya lebih berat lagi dari yang Lucas alami.


“Kau sudah makan?” tanya Mr. Lucas memeluk erat pingang ramping wanita rubah disamping.


Fanny menautkan tanganya di leher suaminya. “Belum.”


“Kau mau makan, atau aku yang memakanmu?”


“Cih! Pria tua tak ingat umur! Ini kantor! Bagaimana jika ada yang melihat?”


“Biarkan saja, ini kantorku, aku boss-nya, jadi itu terserahku.”


“Aku tak mau!”


“Lalu? Kau mau apa?”


“Ekm,... Aku kangen dengan kedua anak kita,” ujar Fanny, seolah-olah ia merasa bersalah karena salah satu anak Lucas yang membencinya.


“Lupakan itu, yang lalu biarlah berlalu,” jawab Lucas dan sebentar lagi mungkin rencananya akan berjalan sesuai recana.


“Tapi— Walau itu sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu, aku tetap saja memikirkannya.”


“Tak perlu kau pikirkankan, Yohan memang keras kepala, ia akan kembali seperti semula jika mengetahui seberapa tulusnya dirimu,” senyun Lucas palsu.


‘Lebih tepatnya mengetahui seberapa busuknya hatimu.’ batin Lucas.


Tok-Tok-Tok!


Ketukan pintu dari luar ruangan membuat Lucas dan Fanny melepaskan pelukan mereka.


“Masuk,” ujar Mr. Lucas.


“Mr. Lucas, Tuan Jovan ingin menemui anda,” ujar sekertarisnya.


“Tak perlu izin denganku, izinkan dia jika ingin masuk, dia anakku, pasti ada hal penting yang ingin ia bicarakan.”


“Baik Mr. Lucas,” lalu seketaris itu berlalu keluar.


Selang beberapa menit, Jovan datang memasuki ruang kerja Daddy nya.


“Anakku.”


“Dad,” lalu mereka berpelukan layaknya anak dan Daddy nya.


“Sayang, kenapa kau kesini?” tanya Fanny lembut layaknya Mommy yang baik.


“Kenapa Mommy bertanya begitu? Aku ini 'kan anak Daddy.” tekan Jovan diujung kalimat. “Tentu saja aku tak perlu punya alasan untuk berjumpa dengan Daddy ku sendiri, apalagi ia adalah  Daddy kandungku sendiri, jika itu Mommy baru aku mungkin minta izin terlebih dahulu.”


“Kenapa juga kau harus meminta izin Mommy dulu nak?” tanya Lucas.


“ 'Kan Mommy bukan Mommy kandungku,” sindir Jovan yang membuat Lucas tertawa.


“Fanny jangan di bawa hati, Jovan memang suka bercanda,” ujar Lucas.


Fanny hanya tersenyum kecut, dalam hati ia sudah sangat merutuki Jovan yang datang.


“Jovan anakku, kau pasti lelahkan sehabis pulang syuting 'kan?” tanya Fanny.


“Bagaimana Mommy tiri bisa tau?”


“Ku dengar kau memainkan film terbaru lagi.”


“Ah itu, tidak selelah itu juga.”


“Kau pasti belum makan, ayo pergi ke restorant, Mommy yang meneraktirmu,” ajak Fanny.


“Tidak Mommy tiri, aku kesini karena kangen Daddy, kenapa Mommy malah seperti mungusirku secara halus begitu? Apa Mommy ada merencanakan hal licik lagi di belakang Daddy hem?” tanya Jovan sekartis membuat Fanny menatap tak percaya.


“Hahaha,... Bercanda Mommy tiri, bagaimana? Aktingku? Kurang bagus atau sudah?”


“Kau ini membuat Mommy mu takut tu!” ujar Lucas.


“Hahaha,... Maaf Daddy, aku sedang menghapal naskah dramaku yang berceritakan seorang Mommy tiri yang mempunyai niat licik, untungnya anaknya mengetahui hal itu deluan,” ujar Jovan, padahal nada bicaranya itu sekarang sedang terang-terangan menyinyir Mommy tirinya.


“Hahaha,... Aktingmu semakin bagus anakku,” elus Fanny di pucuk kepala Jovan sambil memasangkan wajah baiknya.


‘Kurang ajar!’ batin Fanny.