LIEBER SKLAVENMEISTER

LIEBER SKLAVENMEISTER
{21}



Yohan mencengkram bahu Casely kuat membuat gadis itu berlutut seketika dan memegang bahunya sebelah, rasa-rasanya cengkraman Yohan membuat kulit bahunya seakan ditarik paksa. Ini pedih dan sakit sekali, bahkan Yohan mengetatkan cengkramannya itu sampai-sampai mengenai bagian tulang bahu Cansu, jika di biarkan bisa-bisa tulang bahunya remuk redam karena Yohan.


Tidakkah ia punya rasa toleran terhadap wanita? Tidak! Tidak! Itu bukanlah ciri khas seorang Yohan Amor, ia terlalu sadis dan kejam tanpa memandang bulu, mau itu wanita ataupun orang tua sekalipun.


“Katakan,” ujar Yohan dingin. Casely masih enggan memberitahukannya kepada Yohan, karena di sini masih ada Jovan yang melihatnya meremehkan, ia tak mau Jovan berfikiran buruk padanya, walau ia tau akibat ulah perbuatannya.


Ia juga tak mau mengaku salah dan tetap mempertahankan aktingnya yang sebagai korban saat ini.


Lebih baik bertingkah bodoh, agar citranya terselamatkan.


“Bu,... Bukan,... Aku,... Tuan,” ujar Casely ketakutan seranya menahan rasa sakit dibahunya, Yohan menaikan alisnya sebelah lantas mencekik leher Casely kuat hingga kaki-kakinya kini tak bisa memijak dasar lantai lagi.


Semua orang terkejut, mereka berada di pihak Casely namun tak bisa melakukan apa pun karena Yohan bukanlah orang yang mudah untuk dihadapi.


Yohan menyunggikan senyumnya kejam, menaikkan satu alisnya curiga. “Tampang-tampang pembohong sepertimu! Deluan aku ketahui, jadi jangan mencoba-coba bermain denganku!!!” bentak Yohan marah.


Casely meraih lehernya untuk segera dilepaskan oleh Yohan, nafasnya tercekatan, Yohan semakin kuat mencekik lehernya membuat Casely kehabisan oksigen, wajahnya bahkan sampai memerah karena tak tahan.


Yohan bukanlah orang yang bisa diajak berbicara, bahkan Casely saja tak bisa berlama-lama untuk membohongi Yohan, ini terlalu sulit.


“Aa,... Aaak,... Aakk,” erang Casely tak bisa berbicara, nafasnya tersegal-segal karena sesak, Yohan melepaskan cekikkannya membuat Casely tersengkur ke bawah lantai sampai terbatuk-batuk.


“Uhukk,... Uhuk,... Uhuk....” Pegang Casely dibagian lehernya. “Auwww,” ringisnya kesakitan, lehernya perih sekali, amat perih, Bahkan ini bisa dikatakan memar karena warnanya yang berubah menjadi biru membuat goresan kecil yang terukir indah di leher Casely yang membekas karena kuku tajamnya Yohan.


“Katakan untuk kali terakhirmu, atau kubunuh kau!” seranya mengarahkan pistolnya kekepala Casely, hampir saja pelatuk itu tertacap ke dahi Casely, tapi gadis itu buru-buru mengatakannya.


Ia tak mau berujung dengan mati mengenaskan seperti ini, Yohan bukanlah orang yang bodoh yang mudah ia tipu hanya dengan air mata palsunya, pria itu bahkan tak segan-sega membunuhnya, lebih baik ia ikuti saja permainan Yohan dan mencari rencana barunya yang lain.


Iya! Seperti itu lebih baik sekarang, mencari aman dulu.


Walau ia akan merima kesekuensinya yang akan dipandang wanita bermuka dua oleh orang yang berada di dalam gedung ini.


‘SIAL! AWAS SAJA KAU JESY’ batin Casely menggeretakkan giginya geram memandang sinis Jesy.


”Aku, aku,” ucap Casely terbata-bata karena takut.


“CEPAT!!!” amuk Yohan.


“Aku menyekapnya di apartement Joguar!!!” ucap Casely cepat, takut-takut Yohan langsung menembaknya karena tak usai berbicara.


”Tunjukkan jalannya.” Lalu Yohan mengayunkan pistolnya kepada anak buahnya untuk menarik Casely masuk ke mobil. “Bawa dia.”


“Baik Tuan.”


•••


Disebuah apartement mewah, Cansu merasakan kepalanya yang bagitu berat bukan main, bahkan ia sedikit susah membuka matanya karena energinya yang seperti terkuras habis.


Gila!


Ini ruangan atau club bar? Botol-botol penuh di bawah lantai, pakaian kotor dan bersih bercanpur aduk menjadi gunung.


Dipintu lainnya Cansu bisa mendengar suara gemericik air seperti ada seseorang yang sedang mandi.


“Dimana ini?” guman Cansu merasakan pusing di kepalanya, ia juga teringat ini bukalah mansion Yohan ataupun Jovan, lantas dimana ia? Setahunya, ia habis ke ruangan rias Jovan untuk mengambil kotak rias Jovan seperti arahan Jesy, namun tiba-tiba saja sesuatu dari belakang menariknya dan membekap hidungnya dan disaat itulah Cansu sadar kalau ia sedang diculik.


Ini tidak bisa terjadi, ia harus keluar dari tempat ini, namun saat Cansu berusaha bangun, kaki dan tangannya malah diborgol disisi ranjang, tantu saja hal ini mempersulit dirinya untuk keluar dari kamar ini.


Cansu menoleh kekanan dan kekiri mencari barang yang bisa ia gunakan untuk membuka borgol ini.


Saat matanya melihat sebuah kunci di atas nakas, ia tak tau itu kunci borgol ini atau kunci yang lain, tapi tak ada salahnya untuk mencoba bukan?


Cansu berusaha meraih kunci itu, tangannya sedikit lagi hampir saja menggapainya, namun tak sengaja ia malah menjatuhkan lampu tidur di samping nakas.


Prang!!!


Suara lampu tidur terjatuh itu membuat orang yang berada dalam kamar mandi itu pun seperti menghentikan aktivitasnya.


Celaka! Ia ketahuan.


Cansu berhasil mengambil kunci itu buru-buru, namun ia tak sempat untuk membuka borgolnya dan malah menyembunyikannya di bawah bantal takkala suara pintu kamar mandi terbuka menampakkan seorang pria muda manis keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang terikat di pinggangnya.


“Oh,... Gadisku sudah bangun rupanya, kau sudah tak sabar untuk ku masukkan ya?” seringainya licik.


Gila! pria ini membuat bulu kuduk Cansu serasa merinding karena arah pembicaraannya.


“A,... Apa maumu heh?!” teriak Cansu. “Lepaskan aku brengsek! Lepaskan!!!”


“Oh sayang, tak perlu berteriak sekuat itu, berteriaknya nanti saja saat kau merasakan adik ku dan menyebut namaku sepuasmu.”


“Kurang ajar! Lepaskan aku!!!”


Cansu berusaha melepaskan borgol dari tangannya secara diam-diam dari bawah bantal dengan menggunakan kunci yang ia dapat barusan, sedangkan pria itu berjalan mendekati ranjangnya dengan tersenyum mengerikan.


“Hei!!! Jangan macam-macam kau ya!”


Pria itu menyeringai senang, mendapati hal itu, ia lalu langsung melompat ke atas ranjang Cansu dan menindihnya.


Sontak saja cansu menendang-nendangkan kakinya, namun pria itu malah tak mempedulikannya dan tertawa senang.


“Percuma, kau sudah ku ikat sayang.”


“Lepaskan,... Hiks,... Kumohon,... Lepaskan,... Aku,” isak Cansu.